Kamu Lagi

Kamu Lagi
Semesta Mendukung


__ADS_3

Tidak ada yang tahu pasti masalah hati, apalagi yang berkaitan dengan cinta. Betapa indahnya melihat mereka yang bercumbu dan bercengkrama dengan bahagia bersama pasangan mereka, kebahagiaan yang mereka rasakan memercikkan beribu kegembiraan dan kehangatan untuk yang menyaksikan.


Ahh, betapa menyenangkannya itu. Apa kabar hati yang sepi? Bagaimana dengan hati dan perasaan yang sulit ditebak?


Jawabannya tak lain yaitu cukup menyiksa dan sangat menyiksa. Tidak sulit untuk mengatakan "Aku Cinta Kamu" kata mereka yang memberi saran tentang hati. Tapi bagaimana dengan mereka yang akan mengungkapkannya? Ahh sudahlah.


Berbicara masalah hati tidak ada habisnya, seperti melihat aliran air yang tidak pernah berhenti saja. Menunggu seseorang menyatakan cinta ternyata sulitnya hampir menyaingi anak-anak IPS mengerjakan UAS Kimia, betapa melelahkannya itu.


"Pegel" keluhnya.


Berdiri dari duduknya dengan tujuan ingin kembali ke tenda karena pantatnya hampir lumutan karena terlalu lama duduk melamun memandangi api unggun tanpa menghiraukan yang lain.


Langkahnya terhenti melihat seseorang yang ada didepannya. "Gimana kaki lu? Udah baikan?" Kekhawatiran terlihat jelas terpahat diwajahnya.


"Udah kok Thur"


Tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya ia terus menatap kearah Grisya. "Sekarang mau balik ke tenda? Yuk gua anterin"


"Gak usah Thur, Deket kok sama tenda. Lagian kaki gue udah gak sesakit waktu didalam hutan tadi" ujarnya sedikit tak nyaman menolak tawaran Arthur.


Melihat wajar murung Arthur membuat hatinya semakin tak enak. "Yaudah yok"


Berjalan beriringan menuju tenda hingga membuat beberapa orang melihat mereka yang menjauh dari kerumunan.


"Thur, dipanggil pak Iwan"


Panggilan itu membuat Arthur berdecak sebal, mengapa semesta belum memberikannya satu kesempatanpun untuk berdekatan lebih lama dengan orang yang disukainya.


Ia berhenti menatap kecewa pada Grisya. Rasanya ia tak ingin pergi dari samping seseorang yang ada bersamanya saat ini.


"Gak apa-apa Thur, lo pergi aja sana nanti pak Iwan malah bingung kalau lo gak datang-datang"


Wajah kecewa terpampang sangat nyata diwajah Arthur. " Yaudah gua kesana dulu" pamitnya pergi meninggalkan Grisya.


Kepergian Arthur sedikit membuatnya lega, ia mulai merasa tidak nyaman berada didekat Arthur sekarang. Tidak tahu kenapa, intinya ya tidak nyaman saja.


"Cie sendirian"


"Apaan si"


"Mau kemana?"


"Tenda"


"Cuek bener Bu"


"Bodo"


"Ya ampun makin diliat tingkahnya makin lucu" batin Leo sedikit tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum gitu, kayak orang gila aja" ujar Grisya berpaling menatap Leo.


"Iya, gua memang gila" ujarnya mengiyakan setiap ucapan Grisya. "Gila karena lu" batinnya.


Hap.


Ia menggenggam erat tangan Grisya, membawanya berbelok dari arah menuju tenda. "Mending kita jalan-jalan dulu, daripada ditenda sendirian mumpung lagi terang banget bulannya"

__ADS_1


"M-mau k-kemana le?" Jawab Grisya sedikit tergagap.


Merasakan tangan lain menggenggam tangannya saat ini membuat debaran jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Gugup. Rasa itu sampai membuatnya sulit untuk bicara, ini sungguh tidak aman untuk dirinya.


"Lu kenapa?" Tanya Leo heran melihat wajah Grisya yang memerah." Sakit?" Tanyanya lagi.


"Ha, enggak kok"


Sementara sedikit jauh dibelakang mereka, seseorang memandangi mereka dengan raut wajah kesal, siapa lagi kalau bukan Arthur. Pemandangan itu membuatnya berhenti lalu berbalik kembali kekumpulan temannya. Rasanya dunia ini sangat menyebalkan untuknya, mengapa Leonathan selalu datang disaat ada kesempatan bahkan jika kesempatan itu sangat kecil.


"Coba lihat disana" Leo menunjuk cahaya gemerlap jauh didepan mereka.


Mereka berhenti dipinggir jalan yang ukurannya hanya bisa dilewati dua orang setelah berjalan selama beberapa menit. Sepanjang jalannya dihiasi beberapa pohon kecil. Tempat yang bahkan tidak pernah Grisya lihat sewaktu memasuki hutan tadi siang.


"Wahhhh, cantik banget" ia terkagum melihat pemandangan yang jauh dari pandangannya.


Gemerlap lampu kota terlihat sangat indah dari sini. Seperti hamparan bintang-bintang hanya saja bintangnya berada di daratan. Tidak heran mereka berjalan menanjak tadi ternyata agar bisa melihat pemandangan ini.


"Lo tau darimana le kalau bisa lihat kota darisini, kita kan baru pertama kali kesini" tanyanya antusias menatap Leo sekilas kemudian kembali menatap pemandangan kota yang indah dari atas bukit yang tidak terlalu tinggi.


"Cenayang" ucap Leo asal.


Satu tinjuan kecil mendarat diperutnya. "Gue serius Leo"


"Ehh, gua tau dari temen" jawabnya sambil terkekeh.


Melihat Grisya yang gembira memandang pemandangan yang ditunjukkannya membuatnya tidak sabar ingin mengungkapkan isi hatinya.


"Sya gue mau ngomong sesuatu sama lo" Ujarnya memandang lurus kedepan.


Sementara Grisya mulai menoleh kesampingnya. "Hm?"


Sementara Grisya yang tadinya penasaran berubah menjadi diam seribu bahasa. Kesal, itu yang dirasakannya. Tapi memang salah jika ia mengharapkan sesuatu yang serius dari Leo. "Udahlah" ucapnya cuek.


Mulut dan hatinya sudah tidak tahan untuk menahan semua ini. "Udahlah, keluarin aja" batin Leo lagi.


"Maaf sya, sekarang gua serius" ia memegang kedua bahu Grisya, membuat Grisya bertatapan dengannya. Tinggi Grisya yang hanya sebahunya membuatnya sedikit menatap kebawah. Degupan jantungnya semakin kencang sekarang.


"Sya sebenernya aku suka sama kamu. Aku gak tau kapan aku mulai suka sama kamu tapi intinya aku benar-benar suka sama kamu" Leo menatap lembut mata Grisya.


Hatinya sedikit tidak karuan memikirkan bagaimana jawaban gadis yang ada didepannya. Dirinya sungguh mengharapkan balasan yang diinginkannya. Walaupun dia ditolak dia akan berusaha membuat gadis didepannya menyukainya kembali.


"Yo sebenernya.... sebenernya.... sebenernya"


Grisya bingung apa yang harus dikatannya seolah semua kata-kata mulai hilang dari ingatannya.


"Hm?" Leo menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Aku juga suka sama kamu" jawabnya spontan menutup rapat matanya.


Rasanya seperti banyak kupu-kupu mengelilinginya sekarang. Entah mengapa sepertinya rasa bahagia membuncah didalam dadanya. Membuatnya ingin tersenyum dan berteriak sekeras-kerasnya karena apa yang baru saja ia dengar, membuatnya yakin bahwa yang dirasakannya selama ini ada perasaan suka sekaligus cinta, ya dia mencintai sosok didepannya.


"Serius? Kamu gak bohong kan?" Tanya Leo dengan mata yang berbinar, ia sungguh berharap apa yang didengarnya bukanlah mimpi belaka.


"Iya, aku serius" ujarnya tersenyum. Senyuman yang membuat sosok didepannya semakin jatuh hati.


Sungguh saat ini kebahagiaan memenuhi hati mereka berdua. Pertemuan yang tidak menyenangkan ternyata membuahkan rasa yang sulit diungkapkan oleh mereka.

__ADS_1


Rasa bahagia yang dirasakan Leo saat ini membuatnya seketika menarik kedua tangan Grisya, memeluknya dengan sayang. Malam ini semesta begitu mendukung mereka, sinar bulan yang semakin terang seolah tersenyum melihat kedua insan yang lega karena telah mengungkapkan perasaan mereka saat ini.


"Jadi kita sekarang mau kan jadi pacarku?" Leo bertanya dengan terus memeluk Grisya. Kata lu dan gua telah berubah menjadi aku dan kamu sekarang.


Grisya yang mendengar pertanyaan itu kembali menyunggingkan senyumannya. Anggukan dikepalanya cukup untuk mengungkapkan bahwa dia bersedia menjalin hubungan dengan Leo.


Mengurai pelukannya, ia menatap Grisya dengan dalam. Sedikit mendekati wajahnya pada wajah sosok didepannya. "Berarti aku boleh ketemu orang tua kamu sepulang camping"


"Eeh mau ngapain?" . Kalimat yang sedikit membuat Grisya terkejut. Ada apa dengan pria didepannya ini, apakah ini karena ia sangat bahagia malam ini.


"Mau minta izin buat pacaran sama kamulah" jawab Leo cepat.


"Nanti aja ih, aku malu" Grisya memalingkan wajahnya. "Tapi itu beneran cantik banget deh" jawabnya kembali menunjuk pemandangan kota yang gemerlap.


"Aku senang kalau kamu suka" ucap Leo tersenyum mengikuti arah tatapan Grisya.


Sekembalinya dari bukit menuju tenda semua orang sudah beranjak untuk kembali ke tenda masing-masing. Mereka tidak tahu kalau mereka sedikit lama memandangi pemandangan kota dari atas bukit. Tidak ada hal aneh apapun yang mereka lakukan diatas sana.


"Jawab gue, lo darimana aja sampai baru nongol sekarang waktu semua orang udah pada bubar"


Baru saja membuka tenda dan berniat untuk segera masuk kedalam karena cuaca semakin dingin ia langsung ditodong satu pertanyaan yang membuatnya kaget.


"Habis jalan-jalan ngelihatin pemandangan kota diatas sana" tunjuknya kearah dimana ia dan Leo tadi.


"Heh, ngapain? Sama siapa?" Cia tidak sabar untuk mendengar semua jawaban dari bibir Grisya. Ia sedikit khawatir karena tidak melihat Grisya dimanapun tadi.


"Sama..."


"Sama Leo kan?" Satu pertanyaan lagi sebelum Grisya menjawab pertanyaannya.


"Iya" jawab Grisya singkat.


"Kalian ngapain aja disana selain liatin pemandangan" Tanya Cia antusias, ia mengharapkan sebuah jawaban yang bisa saja membuatnya teriak saat ini.


Jujur saja Grisya masih malu mengungkapkannya saat ini. Ia malas jika Cia harus mengejeknya ketika mendengar semua yang diceritakannya. "Cuma liat pemandangan kota ihh, sana gue mau tidur ngantuk banget mana dingin lagi" jawab Grisya menghindari Cia.


"Cieee senyum-senyum sendiri pasti ada apa-apa nihh" ejek Cia sambil mencolek bahu Grisya yang sudah berbaring membelakanginya sekarang.


"Diam ih gue mau tidur sekarang, bye" jawabnya sedikit malu.


Cia tersenyum geli dibalik punggung Grisya, ia yakin sesuatu yang dipikirkan oleh otaknya telah terjadi dan apa yang menjadi harapannya telah terwujud. "Kalau ada waktu jangan lupa cerita ya"


"Cia Elisabeth diam atau mulut lo gue kasih sambel terasi nanti". Rengek Grisya sedikit memelas karena terus-menerus diberi pertanyaan yang menurutnya mengejeknya.


"Sambel terasi enak loh hahahaha" jawab Cia yang membuat Grisya menutup kupingnya tak ingin mendengar ucapan Cia lagi.


Ternyata kalimat tidak suka alias benci tidak selamanya bisa terjamin akan menetap lama dihati. Tuhan memang luar biasa membolak-balikan perasaan manusia. Tidak ada yang tahu pasti kapan setiap rasa akan datang tapi semuanya pasti terjadi. Setiap orang akan merasakan cinta.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2