
Happy Reading 🍹
"Dah, hati-hati di jalan" dirinya melambaikan tangannya pada pria yang sekarang memasuki taxi.
"Pacar, kok kayak judul lagu. Kukira kita asam dan garam ternyata kita sepasang insan" kelakar Leo tertawa kecil menatap gadis yang ada disamping mobil sekarang.
"Masa sih, udah sana jalan. Makasih ya udah nganterin sama perbaiki motornya" jawab Grisya tersenyum.
Ah manisnya, hingga membuat Leo sedikit lebih lama memandanginya. Dirinya sangat betah jika harus berlama-lama memandangi wajah ini.
"Kok malah bengong sih" Grisya membuat lamunan Leo buyar.
"Habisnya kamu cantik banget jadinya mataku sulit berpaling dari kamu" jawab Leo terkekeh.
"Apaan si ah, udah sana pergi" usirnya
"Dah pacar"
Kini setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, dirinya pergi kedalam kamar.
Sejenak dirinya terdiam diatas kasur sambil memegang bibirnya, pipinya memerah ah yang didapur itu tadi apa?
Malu, tapi mengapa Leo terlihat biasa saja dan tak menunjukkan reaksi lain. Apakah hanya dirinya yang baru pertama kali merasakan bibir lain menyentuh bibirnya?
Sementara kini Leo senyum-senyum sambil berjalan disamping papa Samuel, sesekali dirinya menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto dirinya bersama Grisya yang dikirim oleh Cia.
Setelah dari rumah Grisya dirinya hanya berganti baju saja kemudian langsung ke kantor sang papa.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" Cecar papa Samuel yang seketika berhenti berjalan.
"Ini pa si Liam ngirimin meme" jawab Leo pura-pura tertawa didepan papa Samuel.
Padahal dirinya sedang memikirkan kejadian didapurnya Grisya. Foto yang dikirimkan Cia kini menjadi wallpaper di ponselnya.
"Yakin kamu, apa kita perlu ke psikiater?"
Leo menghentikan tawanya, matanya melotot menatap sang ayah.
"Papa pikir aku gila?" Seru Leo tak terima.
"Bukan papa yang mikir begitu tapi kamu sendiri" papa Samuel melenggang pergi meninggalkan Leo yang masih terdiam ditempatnya.
"Cepat, sebentar lagi rapatnya mulai"
Baru memasuki lobby perusahaan desas desus tentang anak tunggal tuan Samuel Putra Bagaskara sudah terdengar diberbagai penjuru gedung perusahaan.
Seorang pemuda yang memasuki kantor bersama sang CEO dan sekretarisnya itu tampak mengenakan setelan rapi berwarna hitam.
"Tampan sekali" salah satu resepsionis menatap tiga orang itu dari awal tampak hingga menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia anak tunggal itu" ucap yang lainnya menanggapi.
"Entahlah, karena yang aku ketahui hanya wajah istrinya"
Sedangkan Leo kini berbalik ke mobil karena meninggalkan buku yang biasanya dibawa oleh dirinya.
Seorang perempuan muda menghentikan langkah kakinya.
"Em, maaf tuan jika saya lancang bertanya. Apakah tuan ini anaknya pak Samuel?" Tanya seorang perempuan itu memberanikan diri.
"Bukan, saya sopir baru tuan Samuel" ucap Leo santai menatap perempuan yang ada dihadapannya.
"Oh begitu ya, kalau begitu maaf"
Leo berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dirinya hanya mengangguk pada perempuan itu.
"Guys, bukan anaknya bos, dia cuma supir baru"
Leo tersenyum kecil mendengar penuturan yang tertangkap oleh telinganya. Dirinya tidak ingin dikenali sebagai anak papa Samuel saat ini, bukan bermaksud apa-apa dirinya hanya tidak ingin seseorang datang kepadanya karena dirinya anak orang kaya.
Kini dirinya memegang sebuah buku dan satu pulpen ditangannya dan duduk tepat disamping Dimas, dan ya Dimas adalah sekretaris papa Samuel yang menggantikan sekretaris lamanya.
Jika diluar diluar tadi Leo dikenali sebagai sopir papa Samuel yang baru, saat ini orang-orang yang ada didalam ruangan rapat mengetahui bahwa dirinya adalah seorang yang membantu Dimas dalam beberapa hal.
Padahal dirinya datang untuk mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan sebagai pembelajaran.
Sedikit sulit ketika dirinya adalah harapan satu-satunya karena tidak memiliki saudara, betapa sulitnya memikirkan bahwa dirinya adalah anak tunggal. Untung saja dirinya memang tertarik di dunia bisnis sehingga dia melakukan ini dengan senang hati.
"Nanti kamu sama mama dijemput sama Gabriel ya" ucap papa Sean kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Leo melirik layar ponsel papa Sean saat melakukan panggilan video tadi, wajah yang dikenalnya itu membuatnya mengintip lebih lama
"Apa dia mertua gua?" Tanyanya dalam hati.
"Sean, ayo mampir keruanganku sebentar" panggil Papa Samuel pada papa Sean yang membuat Leo sedikit terkejut.
Papa Samuel tadi sedikit bingung melihat kelakuan Leo yang seperti penguntit.
Didalam ruangan papa Samuel kini ada 4 pria ya siapa lagi kalau bukan Papa Samuel, Papa Sean, Leo, Dimas, sedangkan Gabriel sekretaris Papa Sean pergi memput Grisya dan Mama Indah.
"Ini Leo, anakku" ucap Papa Samuel menepuk pundak Leo mengenalkannya pada papa Sean.
"Oh ya, ternyata dia sudah sebesar ini" Papa Sean menatap Leo dari atas kebawah.
"Ya begitulah, silahkan diminum kopinya" ucap Papa Samuel mempersilahkan papa Sean meminum kopinya setelah seorang OB mengantarkan minuman mereka.
"Kamu bersekolah dimana Leo?" Tanya Papa Sean kembali menatapnya.
"Di SMA X Om" ucap Leo singkat dan sopan
__ADS_1
"Oh ya? Anak perempuan om juga bersekolah disana" terang papa Sean tanpa menyebutkan nama anak perempuannya.
"Oh, iya om" jawab Leo sambil tersenyum, semoga tidak ada drama perjodohan pikirnya.
"Bagaimana dengan Vino?" Papa Samuel tiba-tiba bertanya.
"Dia masih berada di California, sudah dua tahun dia tidak kembali sehingga membuat anak perempuanku terus menuntutnya untuk pulang tahun ini" ucap Papa Sean menyandarkan badannya pada sofa.
"Aku tidak sabar bertemu dengannya, anakmu itu sungguh hebat aku kagum padanya" Papa Samuel berdiri dari kursinya kemudian duduk didekat papa Sean.
Papa Sean terkekeh "Dia persis sepertiku, rasa ingin tahunya sangat tinggi"
"Kamu bisa belajar pada Vino saat dirinya kembali Leo" terang papa Sean menepuk pundak Leo.
"Ahh baik om, terimakasih" dirinya iya-iya saja walaupun tidak tahu siapa itu Vino.
Papa Sean berdiri setelah memandang arlojinya. "Aku harus pergi sekarang Sam, anak dan istriku sekarang menungguku untuk makan siang" ucap Papa Sean bersiap pergi ke restoran Jepang yang lumayan terkenal.
"Ya silahkan, selamat menikmati makan siang bersama keluargamu"
Papa Sean meninggalkan kantor Papa Samuel, dirinya tak ingin membuat anak dan istrinya menunggu dirinya terlalu lama.
"Bagaimana Leo?" Tanya Papa Samuel tiba-tiba pada Leo.
"Bagaimana apanya pa?" Tanya Leo memandang papanya yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat abstrak
"Rencanamu setelah lulus SMA"
"Tentu saja berkuliah"
"Benarkah?" Tanya papa Samuel menatap anaknya
"Kenapa? Jika papa mengizinkan tentu saja aku mau menikah" Ujar Leo yang mendapat lemparan bantal Sofa dari papa Samuel.
"Papa serius Leo, dimana?" ucap papa Samuel sedikit kesal dengan jawaban Leo tadi.
"Tentu saja ditempat dimana calon istriku menginginkan acaranya dilaksanakan dimana pa, tapi terlebih dahulu izinkan aku melamarnya" jawab Leo santai didepan papa Samuel
"Kuliahmu, bukan dimana tempatmu menikah!" Seru papa Samuel sedikit frustasi sambil memijit pelipisnya, ingin rasanya dia menggantung Leo dipohon terong.
"Belum aku tentukan" ucap Leo santai kemudian melirik layar ponselnya
"Kamu bisa belajar dari sekarang pada Dimas" Papa Samuel menatap Dimas yang duduk tak jauh darinya, sementara Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Papa Samuel.
"Siap" hanya itu saja yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi perkataan sang ayah.
"Sebaiknya manfaatkan waktu dengan baik ketika kamu masih libur sekolah"
"Siap tuan" ucap Leo bercanda yang seketika saja dilempari oleh papa Samuel dengan bantal sofa untuk kesekian kalinya beruntung masih bisa dihindari.
__ADS_1
Bersambung ~