
...HAI SEMOGA SUKA DAN SELAMAT MEMBACA...
...❤️...
"Ahh bangs*t" seseorang berteriak dari balik lemari tempat menyimpan beberapa peralatan olahraga. Teriakan itu membuat dua orang itu seketika menoleh kearah sumber lemari yang ada dipojok.
"Siapa, kenapa?" Tanya Arthur menghampiri lemari itu.
"Ada tawon tadi disitu" jawabnya ngasal.
"Lu ngapain disini yo?" Tanya Arthur heran.
"Disuruh pak Hardi ambil tongkat baseball" Jawabnya acuh mengambil satu tongkat baseball yang ada didekatnya.
"Tapi kan kita mau main kasti bukan baseball" celetuk Grisya heran menatap Leo.
"Suka-suka pak Hardi lah ngapain lu nyolot" Jawab Leo ketus menatap Grisya.
"Lah kapan gue nyolot bego" Grisya berkacak pinggang dihadapan Arthur.
"Tadi" jawab Leo spontan.
"Udah ayo ambil peralatan buat main kastinya sebelum pak Hardi marah" Ajak Arthur meraih tangan Grisya menuju sebuah lemari besar yang berada dipojok ruangan.
Terkejut itu yang dirasakannya saat Arthur meraih dan menggenggam tangannya. Ia terdiam mengikuti langkah kaki Arthur kemanapun Arthur menarik tangannya. Mereka berlalu tanpa menyadari satu manusia yang mengetatkan rahangnya melihat kearah tangannya yang tergenggam itu.
Ia berlalu membawa kekesalan hatinya meninggalkan lab olahraga membawa tongkat baseball kelapangan dimana pak Hardi dan teman sekelasnya berkumpul.
Tak berapa lama setelah kepergian Leo, Arthur yang menurunkun 1 box besar berisi peralatan bermain bola kasti. Sedikit keheningan tercipta sebelum Arthur mulai bertanya pada Grisya tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Leo.
"Lo ada hubungan apa sama Leo, Sya?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Arthur begitu saja tanpa basa-basi.
"Hah, Gue sama Leo?" Tanya balik Grisya yang diangguki oleh Arthur.
"Gue gak ada apa-apa sama dia Thur" Tangannya mengambil beberapa peralatan bermain kasti yang telah dikeluarkan oleh Arthur.
Arthur menatap diam Grisya sesaat setelah itu ia berdiri mengembalikan box besar berisi peralatan olahraga kedalam lemari.
"Yuk balik kelapangan udah ditungguin kayaknya" Ajak Arthur sembari membawa peralatan olahraga yang masih tergeletak dilantai.
"Sini biar gue yang bawa" Arthur mengulurkan tangannya meminta Grisya memberikan peralatan olahraga yang dipegangnya.
"Gak usah Thur gue bisa kok, yuk" ajaknya keluar dari lab olahraga menuju lapangan.
Ia memalingkan pandangannya dari Leo. Anak itu kesal tidak jelas terhadapnya saat di lab olahraga yang membuatnya ikutan kesal dengan segala tingkah Leo.
__ADS_1
Seperti biasanya permainan ini dibagi menjadi 2 regu dimana Leo dan Grisya tentu saja berada di regu yang berbeda. Tidak ada yang mengesalkan selama permainan berlangsung, Leo juga sepertinya sedang tidak ada gairah untuk mengganggu terlihat dia sangat serius mengikuti permainan.
Diwajahnya terlihat sedikit guratan marah, kesal, dan kecewa. Melihat Grisya saja dia enggan terlebih melihat Arthur. Melihat apa yang dilakukannya terhadap Arthur membuat setiap yang melihat bertanya-tanya apakah mereka terlibat perkelahian atau tidak. Leo selalu mengarahkan bola menuju kearah Arthur sehingga beberapa pukulan keras selalu didapatkan oleh Arthur.
"Lo gak apa-apa Thur?" Tanya Grisya menghampiri Arthur seusai permainan.
"Gue baik-baik aja Sya" Arthur tersenyum menatap gadis yang duduk disebelahnya.
Dibawah pohon rindang, Leo menyingsingkan lengan baju olahraganya hingga kesiku. Panas dan gerah itu yang dirasakannya terlebih kesalnya semakin menjadi melihat pemandangan diseberang sana.
Seseorang berdiri tepat didepannya menyerahkan sebotol air mineral dingin. Membuatnya menengadah menatap siapa yang berdiri didepannya. Gadis yang cantik dengan tinggi yang sekiranya sebahu Leo.
"Buat Lo" Ia tersenyum menatap Leo yang tersenyum balik menatapnya.
"Makasih ya, Lo siapa?" Tanya Leo menegak air mineral yang telah berpindah tangan padanya.
"Gue Arumi, sekelas sama Alfred" terangnya terus menatap Leo.
"Oh gitu" ucap Leo pelan tanpa menatap Arumi, pandangannya mengarah ketempat lain. Ucapannya membuat Arumi menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Hm nama lo Leo kan?" Arumi terus mengajak Leo bicara sambil sesekali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
"Iya gua Leo"
Lama melihat kearah seberang sana pandangan itu bertemu 2 pasang mata yang saling menatap dari kejauhan itu beradu seperti mengisyaratkan sesuatu. Mengisyaratkan kemarahan dan kekesalan tanpa bisa menyampaikan secara langsung apa arti tatapan itu.
Nama yang beberapa kali disebutkan oleh Arumi yang tepat berada disebelahnya yang beberapa detik kemudian membuatnya tersadar dan memutuskan pandangan itu.
"Hah,kenapa?" Tanya Leo bingung menatap kearah Arumi.
"Lo kenapa?" Tanya Arumi bingung.
"Gak kenapa-napa gua, ah itu dirambut lu" ucapnya menunjuk kearah rambut Arumi.
"Sini gua yang ambilin" ucapnya saat melihat Arumi yang mencoba meraba rambutnya mencari daun kecil yang terjatuh dirambutnya.
"Ah iya, makasih ya" Arumi tersenyum menatap Leo. Tampan, itu yang ada dipikirannya.
"Gua mau balik ke kelas dulu ya mau ganti baju" jawab Leo buru-buru meninggalkan Arumi yang masih duduk dibawah pohon.
" Oh oke, dah" Arumi melambaikan tangannya ketika Leo akan berbalik.
"Dia udah punya pacar belum ya?" Batinnya sambil tersenyum kemudian beranjak menuju dimana teman-temannya berada.
"Arumi, wah bentar lagi lo sama Leo bakal jadi gosip heboh disekolah ini kalau lo berhasil deketin Leo" celetuk temannya beberapa saat setelah kedatangannya.
__ADS_1
Ia tersenyum menatap kearah teman-temannya.
"Dia gak bakalan bisa nolak pesona gue yang cantik ini, hmh gak ada yang lebih cantik daripada gue haha" tawanya renyah.
Tidak terlalu jauh dari kerumunan itu Grisya beranjak dari duduknya.
"Gue duluan ke kelas ya Thur, mau ganti baju" pamitnya terhadap Arthur yang menatapnya.
"Iya sya, gue juga mau ke ruang guru nemuin wali kelas kita" ucap Arthur tersenyum.
Grisya tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Arthur menuju kelas yang tidak terlalu jauh dari tempatnya beristirahat.
Ia tidak mengerti tiba-tiba dia merasakan perasaan kesal dan marah mendengar suara disekitarnya dan melihat segala yang terlihat oleh matanya. Melihat Cia yang sudah menunggunya didepan pintu, sepertinya akan mengajaknya keruang ganti membuatnya bergegas mendatangi Cia.
"Nih baju lo" Cia menodongkan paper bag kearah Grisya.
"Makasih ya, yuk sebelum bel masuk" ajaknya pada Cia untuk segera menuju ruang ganti.
"Sya" panggil Cia.
"Hm?" Sahutnya.
"Si Leo lagi dekat sama Arumi ya" Ucap Cia mengingat apa yang dilihatnya saat menunggu Grisya tadi.
"Gak taulah, ngapain lo nanya gue" ucapnya ketus.
"Dih lo kok kayak gak suka gitu, cemburu yaa?" Ledek Cia.
"Gaklah, ngapain juga gua cemburu sama mereka lagian gue juga gak kenal sama si Arumi gue juga gak temenan sama Leo" celoteh Grisya dari ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Cia.
"Iyain dah" celetuk Cia menahan tawanya. Dia yakin bahwa Grisya menyimpan rasa untuk Leo hanya belum menyadarinya saja.
"Yakali gue cemburu sama orang itu hih" batinnya mengingat setiap ucapan Cia.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Haii jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, dan vote juga yaa. Setiap jejak positif yang kalian tinggalkan setelah membaca cerita ini berarti banget buat aku🌻