Kamu Lagi

Kamu Lagi
Marah


__ADS_3

Happy Reading 🍹


Leo mengernyitkan dahinya melihat keributan yang memenuhi pandangannya. Rahangnya mengeras ketika melihat gadis yang dikenalnya tengah berada dikerumunan beberapa perempuan.


Plak


Suara itu membuatnya melangkah lebar, punya hak dan wewenang apa sosok yang dengan beraninya melayangkan tamparan dipipi gadisnya.


Arumi, ya gadis yang selalu menghampirinya ketika ada kesempatan itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya kelantai ketika melirik kearahnya.


"Leo" Teriakan itu membuat telinganya muak, ingin rasanya menambahkan satu tamparan lagi dipipi perempuan itu.


"Dia tiba-tiba nampar gue padahal gue gak sengaja nabrak dia tadi" Ucap Arumi dengan berurai air mata menatapnya.


Dirinya menatap Arumi dan Grisya bergantian, tatapannya masih datar sejak awal kedatangannya.


"Bangun" Perintahnya menatap Arumi.


Grisya menatap bingung pada Leo sedangkan Arumi bangun dari lantai dengan perasaan yang berbunga-bunga.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Leo masih dengan wajah datarnya menatap Grisya.


"Aku nyari kamu" terang Grisya menatap Leo.


Leo memejamkan matanya menghela napas pelan "Sini kamu" Ujar Leo menarik tangannya.


"Mampus lo" batin Arumi tersenyum sinis menatap Leo.


Leo menarik pelan tangan Grisya meninggalkan Arumi dan teman-temannya, rasanya ingin sekali memarahi gadis-gadis itu.


"Kamu marah ya karena aku nampar Arumi"


Ucapan itu tak digubris oleh Leo. Diam, hanya itu yang dilakukannya disepanjang koridor kelas dengan menggenggam tangan Grisya.


"Aku cuma balas dia, dia duluan yang nampar aku" Terang Grisya yang masih setia dengan tangannya yang masih digenggam Leo.


Mereka berhenti tepat dimana awal mereka menghabiskan waktu berdua disekolah. Hamparan rumput hijau yang luas dengan satu pohon besar ditengah-tengahnya. Leo menarik pelan tangan Grisya mendudukan dirinya dibawah pohon rindang itu kemudian satu tangannya menyentuh pipi kiri gadis itu yang memerah.


"Sakit?" Tanya Leo pelan sambil menatap wajah Grisya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


Grisya mengangguk lucu "Lumayan" ujarnya ikut memegang pipinya.


"Kamu kemana aja, aku tadi nyariin kamu" Ujarnya lagi memasang wajah kesal.


Seulas senyuman terbit diwajah Leo "Aku tadi habis dari toilet, biasalah boker" Ucapnya sambil terkikik geli.


"Ih, jorok banget deh" Ucap Grisya memalingkan wajahnya.


Hening, dengan takut-takut Grisya menatap sepasang mata yang tengah beradu pandang dengannya saat ini. "Maafin aku ya" ucapnya sendu.


"Maaf untuk?" Tanya Leo pura-pura tak tahu.


"Untuk yang tadi" Grisya menunduk mengingat kejadian yang terjadi dilapangan tadi.


"Yang pasti kamu gak ada hubungan spesial kan sama si Rangga itu?" Tanya Leo menatap mata Grisya tanpa berkedip, rasanya ingin muntah ketika menyebutkan nama laki-laki yang pernah jadi musuhnya itu.


"Enggak kok, kita cuma temen waktu aku kerumah nenek doang" Terang Grisya cepat.


"Awas aja kalau ada apa-apa, aku patahin leher Rangga biar dia gak bisa noleh ke kamu lagi" Ancam Leo memalingkan wajahnya kedepan.


Ketika mendengar ungkapan itu sejenak Grisya berpikir, dia harus marah juga saat ini mengingat interaksi mesra yang dilihatnya.


"Aku kesel sama kamu tau" Ucapnya sedikit ketus.


"Menurut kamu? Masa kamu gak sadar sama kesalahan kamu?!" Kesalnya semakin menjadi


"Loh, seharusnya kan aku yang marah sama kamu, korban sakit hatinya kan aku bukan kamu" Terang Leo sedikit tak sabar.


"Oh, trus maksud kamu apa dekat-dekat sama Arumi?"


"Kamu suka ya sama dia? Kalau kamu suka sama dia kita putus aja deh, aku capek sama cowok yang suka main sama banyak wanita"


"Main sama banyak wanita? Dikira gua cowok apaan?" Batin Leo tak terima


Diam, tatapan matanya tajam seolah siap menusuk jantung laki-laki didepannya "Kamu kok diam? Diam berarti gak salah lagi" Kesalnya


Leo mengusap bahu gadis itu pelan dan santai berharap kemarahan gadis itu segera reda.


"Gak gitu, aku cuma pengen kamu lupain kekesalan kamu baru aku jelasin semuanya"

__ADS_1


"Ya jangan diam dong, diam itu bukan emas"


"Kalau emas gimana?"


Grisya diam


"Dijual dong, biar dapat duit" kelakar Leo


"Ihh kamu kok gitu" Gelak Grisya tak bisa menahan tawanya, laki-laki itu selalu bisa mencairkan suasana.


Sejenak Leo diam kemudian bersuara "Aku minta maaf ya, aku salah karena udah ngabain kamu trus malah ngobrol sama Arumi" Ujar Leo pelan


"Tadi aku nyari-nyari kamu tapi gak ketemu trus dia datangin aku" Terang Leo mengingat kejadian saat Arumi memberinya air minum.


Grisya menatap dalam mata Leo "Maafin aku juga ya, aku kesalnya gak wajar banget sama kamu" Dirinya menundukkan wajahnya merasa bersalah.


Leo menarik bahu Grisya, memeluknya sejenak menumpahkan rasa sayang. Entah mengapa rasanya seperti ini, gadis ini seperti menjadi sosok perempuan kedua yang melekat dihatinya. Matanya selalu terpaku, hatinya selalu menghangat saat bersama dengan sosok ini.


"Rasanya gua enggan ngelepasin ni cewek, kalau diingat-ingat lagi dia cewek yang paling nyebelin seumur hidup gua setelah gua ketemu banyak cewek. Sekarang entah kenapa cita-cita gua pengen nikahin dia" batin Leo tersenyum


"Gue gak tau kenapa gue bisa sesayang ini sama orang, apa karena ini cinta pertama gue ya? Rasanya gue gak mau beranjak dari tempat ini, rasanya gue pengen terus-terusan dipeluk sama dia bukannya apa, gue cuma takut dia tiba-tiba ninggalin gue saat gue lagi sayang-sayangnya" Batin Grisya memejamkan matanya dipelukan Leo


Cinta pertama memang indah rasanya, ada yang berhasil ada yang gagal. Seperti kebanyakan orang yang berlalu lalang dalam kehidupan tidak tertebak kapan dia akan datang dan juga pergi.


Leo mengurai pelukannya, mencium kening sosok didepannya "Ini gua kecanduan nyium dia apa gimana" batinnya sedikit heran dengan apa yang dia lakukan.


"Kok gue masih canggih ya diperlakukan kayak gini sama dia" batin Grisya malu.


Beranjak dari duduknya, Leo mengulurkan tangannya dihadapan Grisya "Ayo kita ke kantin aja, aku laper sekalian kita kompres pipi kamu nanti minta es batu Bu Nunung aja" Ajaknya sambil tertawa kecil.


Grisya menyambut uluran tangannya "Masa minta es batunya Bu Nunung sih, kalau dia kehabisa es batu buat bikin minuman gimana?" Ujar Grisya meladeni setiap perkataan Leo


"Yaudah tutup kantinnya" Ucap Leo menggenggam tangan gadis itu.


Saling menggenggam tangan, hal sederhana yang dilakukan pasangan yang sedang kasmaran. Menapakkan kaki diatas rumput hijau dan berjalan bersama dengan seseorang yang spesial memang beda rasanya.


Jika hanya berbekal cinta pasti melelahkan ada baiknya bawa minuman sama makanan gak sih?


Kini dikantin, yah ternyata anak-anak dari sekolah tetangga itu jika berkerumun dikantin sekolah ini.

__ADS_1


"Bu Nung, Es jeruknya 2 sekalian es batu ya Bu kalau boleh buat ngompres pipi pacar saya" Ucapnya didepan etalase yang dibaliknya ada Bu Nunung.


Bersambung~


__ADS_2