
Berlari pelan dengan menggendong tas kecil dipundaknya ia bergegas menghampiri Leo yang berada tidak jauh didepannya.
"Leo akhirnya kita ketemu lagi" girang Arumi menepuk pelan lengan Leo.
Sedikit terkejut karena seseorang tiba-tiba datang dan menyentuh tangannya. "Elu, Siapa nama lu tadi?"
"Gua lupa" ujarnya lagi sembari tersenyum.
Arumi menampakkan sedikit kekecewaan terhadap Leo. "Yah jahat banget lu lupain nama gue, gue Arumi Yo. A R U M I." Arumi mengeja namanya sambil terus berjalan disamping Leo.
"Ahh iya Arumi, makasih ya air minum yang waktu itu" ujar Leo mengingat hari dimana Arumi datang menghampiri dan memberinya sebotol air mineral.
"Ah lo mah air diingat nama gue malah dilupain, lagian lu udah bilang terimakasih waktu itu" ujar Arumi menunjukan wajah menggemaskannya.
Ia cukup senang mengingat bahwa Leo masih memiliki ingatan tentang hari dimana ia memberi sebotol air mineral walaupun Leo melupakan namanya.
Leo hanya diam dan tersenyum tanpa melanjutkan percakapan mereka kembali. Terus masuk kedalam hutan yang tidak menyeramkan itu bersama regunya sambil mengobrol bersama teman-teman barunya.
Sementara Cia yang sempat melihat interaksi Leo dan Arumi mencubit lengan Alfred yang tengah mengobrol dengan Dean.
"Kenapa?" Alfred spontan menatap Cia sesaat setelah menghentikan percakapannya dengan Dean.
Cia sedikit menarik tangan Alfred agar mendekat kearahnya. ia berbisik kecil karena tak ingin pembicaraannya didengar oleh teman-teman yang lain. "Leo kok keliatan deket banget sama Arumi, mereka lagi pdkt ya?"
Alfred mengernyitkan dahinya menatap kearah Leo dan Arumi yang terlihat sedang berinteraksi tidak jauh dari mereka. "Mana kutahu, biarin ajalah". Jawab Alfred meminta Cia mengabaikan apa yang ditanyakanya tadi.
Grisya berdecak sebal. "Gak bisa beb, kok kamu gak tau sih dan aku sukanya Leo sama Grisya bukan Leo sama Arumi ih" Cia cemberut dia tidak suka jika Leo didekati oleh perempuan lain karena dia tahu dan yakin bahwa sahabat baiknya pasti menyukai Leo.
Alfred berhenti sejenak dari jalannya, menatap dan sedikit mengusap rambut Cia sayang. "Gak boleh gitu, mau dekat sama siapapun itu pilihan Leo"
"Iya deh, nanti cari tau ya kalau ketemu Leo" Ujar Cia kekeh yang hanya dijawab anggukan dan senyuman oleh Alfred.
Sementara Grisya didepan sana sedang mengobrol santai dengan Arthur yang terus menanyainya tentang berbagai hal yang random hingga beberapa kali terlihat mereka tertawa bersama.
Hutan yang mereka masuki tidak terlalu lebat, cahaya matahari menembus melalui celah dari daun dan ranting pepohonan namun bukan berarti minim cahaya juga.
Suasana yang nyaman, tenang dan tidak terik juga membuat mereka sering merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus melewati mereka.
Kakinya terhenti sesaat setelah melihat sesuatu yang tampak berbeda diranting yang menjuntai tidak jauh dihadapannya. Sesaat dia terdiam dan memicingkan matanya untuk memastikan kemudian dia berteriak kegirangan yang membuatnya menarik tangan Arthur tanpa sadar.
"Yeyy kita dapat satu" ujarnya kegirangan menerima pita yang diambilkan Arthur dari ranting pohon yang tidak terlalu tinggi didepan mereka.
Arthur ikut tersenyum senang melihat kegembiraan yang ditunjukan Grisya.
"Gue pikir lo kenapa tiba-tiba lari narik tangan Arthur" protes Cia yang terkejut dan ingin ikutan berlari menarik tangan Alfred. Dia mengira ada sesuatu yang mengancam dan mengejar mereka atau sesuatu yang mengerikan lainnya menghampiri mereka.
"Untung aja langsung dicegah sama Alfred kalau gak gue udah ikutan lari terbirit-birit" ujar Cia kesal.
Grisya tertawa memasukkan pita kecil itu kedalam tas kecilnya sembari terus berjalan kembali disamping Cia. "Hehehe ya maaf, habisnya gue senang banget waktu liat pitanya"
Mengingat tentang hadiah yang dibicarakan panitia tadi sebelum mereka memasuki hutan sedikit membuatnya penasaran. "Kira-kira yang menang dapat hadiah apa ya Ci"
"Gak tau sya" ujar Cia menggeleng tanpa menoleh kearah Grisya kemudian menarik tangan Grisya mengikuti regunya.
Panitia hanya memberi waktu selama 40 menit untuk mencari pita didalam hutan. Jika sudah mencapai batas waktu yang ditentukan semua siswa diharapkan kembali dengan membawa berapapun pita yang didapatkan. Ini dilakukan agar para siswa tidak terlalu jauh masuk kedalam hutan sehingga mereka tidak akan tersesat.
"Leo ada satu" Arumi menahan tangan Leo sambil menunjuk sebuah pita kecil yang terikat diatas ranting kecil yang ada didepan mereka.
Leo menuju kearah yang ditunjuk Arumi, sedikit melompat untuk mendapatkan pita kecil itu.
"Nih" ujarnya menyerahkan pita kecil itu kepada Arumi yang dibalas senyuman gembira dari Arumi.
Dua orang dari regu mereka juga datang menghampiri Arumi, menyerahkan tiga pita berwarna merah muda itu agar disimpan bersama pita yang lain.
__ADS_1
"Kita udah punya empat pita guys" teriaknya girang menunjukkan empat pita yang ada ditangannya.
"Mereka lagi ngapain ya, mau bawa hp gak ada signal lagi" batin Leo memikirkan apa yang sekarang dilakukan regu Alfred.
Sesuatu yang seharusnya tidak perlu repot-repot dipikirkan karena yang dilakukan semua regu pasti mencari pita kecil yang disembunyikan entah dimana.
"Leonathan" Suara Andra membuyarkan lamunannya .
"Ya?" jawab Leo menoleh kesampingnya.
"Permen" ucapnya menyodorkan kemasan permen yang berisikan banyak permen kopi.
"Oh, thanks" ucapnya sambil mengambil empat buah permen yang kemudian menyerahkan dua lainnya untuk Arumi.
"Buat gue?" Tanya Arumi menatap Leo.
"Iya, kalau mau" ucap Leo singkat.
"Mau, makasih ya" Arumi tersenyum mengambil dua buah permen yang diserahkan Leo dihadapannya.
Beberapa menit berjalan didalam hutan mereka telah mengumpulkan Lima pita. Sudah 27 menit sejak mereka memasuki hutan dan mereka baru mendapatkan lima buah pita yang mungkin saja beberapa lainnya sudah didapatkan oleh 5 regu lainnya atau bahkan masih ada yang belum didapatkan.
"Yah, masa kita sejauh ini cuma dapat 3 pita sih" Grisya sedikit mengeluh disamping Arthur.
Arthur terkekeh pelan menatap Grisya disebelahnya. "Belum ketemu lagi aja"
Sedikit bimbang untuk menanyakan hal ini tapi ia memberanikan dirinya untuk bertanya. "Sya, lu lagi deket sama Leo?"
Sedikit menoleh dengan tatapan heran Grisya menjawab pertanyaan Arthur. "Perasaan lo udah pernah nanya itu ke gue deh"
"Emang iya? gua lupa" ucap Arthur kikuk menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya, kenapa sih nanya itu Mulu, gak ada pertanyaan lain gitu misalnya....ahhh" ucapannya terpotong karena dia tergelincir karena tidak sengaja menginjak patahan ranting kayu yang ada didepannya.
"Syaaa"
Cia berlari dengan cepat menghampiri Grisya yang terlihat meringis terduduk ditanah. "Aduh mana yang sakit, bisa jalan gak?" Tanyanya panik menyentuh pelan kaki Grisya.
"Auu... Jangan ditekan ci, sakit" ucap Grisya meringis memegangi kakinya.
Cia dan Arthur membantunya berdiri beberapa kali mencoba berjalan dengan keadaan pincang membuat Alfred tidak tega melihat kaki Grisya yang mulai merah dan terlihat membengkak.
"Ayo gua gendong" ujar Alfred yang diangguki Cia sembari menatap Grisya dengan tatapan khawatir.
Arthur berjongkok membelakangi Grisya, sedikit perasaan bersalah dihatinya karena tidak sempat meraih tangan Grisya. "Biar gua yang gendong, salah gua tadi gak sempat raih tangan Grisya"
"Gak usah Thur gue bisa jalan kok" ujar Grisya tak enak.
Grisya sedikit terpaku melihat seseorang yang berjongkok didepannya dan terlihat beberapa kali menepuk pundaknya sendiri yang memberi isyarat bahwa Grisya harus segera naik digendongannya.
"Buruan naik kaki gua capek jongkok begini" ujarnya yang dilirik sekilas oleh pria yang tak jauh disampingnya.
Grisya terdiam menatap punggung pria yang berjongkok dihadapannya, ia bimbang harus naik atau tidak.
"Heh, cepet sebelum tuh kaki gak bisa jalan lagi selamanya" ujarnya sekali lagi tanpa aba-aba menarik tangan Grisya agar ke punggungnya.
"Aduh pelan-pelan, sakit tau" ujar Grisya kesal sambil memukul pundak seseorang yang tiba-tiba menggendongnya.
"Kasian kakinya, gak dijaga dengan baik sama tuannya" ucapnya membalas perkataan Grisya dengan sedikit ringisan karena merasakan pukulan dipundaknya.
Arthur berdiri dari jongkoknya memberi tahu regunya dengan wajah datar kemudian berlalu mendahului mereka. "Kita balik aja"
Alfred mengangguki ucapan Arthur kemudian menarik tangan Cia mendekat kearah Grisya.
__ADS_1
"Lu gimana bisa sampai ketemu regu kita" tanya Alfred menatap Leo yang menggendong Grisya dipunggungnya.
"Gua liat tadi ada yang jatuh dikejauhan trus gua liat kayunya keinjak pasti kayunya nangis karena gua kasian makanya gua samperin" ucap Leo membalas ucapan Arthur sambil terkekeh.
Alfred yang paham arah pembicaraan Leo mengikuti permainan temannya itu.
"Waktu mau gua gendong si kayu pake gak mau le, ternyata nungguin kang gendong yang sesungguhnya" Ucap Alfred yang membuat Cia tertawa dan mengabaikan tatapan kesal Grisya terhadapnya.
"Apaan sih" ucap Grisya cemberut mengeratkan pegangannya dileher Leo.
"Ahh, lu mau bunuh gua?" Ucapan Leo sedikit tersendat karena Grisya memeluk erat lehernya.
"Biarin, biar lu mampus" ucap Grisya mengurangi pelukannya dileher Leo.
"Wah kurang ajar, dibantuin bukannya terimakasih malah pengen dibunuh" ujar Leo terus berjalan bersama siswa lainnya.
Arumi berlari mendekati rombongan Alfred karena melihat Leo disana. Mukanya masam saat melihat Leo yang menggendong Grisya dipunggungnya.
"Kemana aja tadi, lama amat perginya" ucapnya cemas karena Leo tak kunjung kembali kepada regu mereka.
"Ada kecelakaan kecil tadi"
"Kecelakaan kecil?" tanya Arumi menatap Leo kemudian menatap ke arah punggung Leo. "Oh Grisya maksud Lo?" tanyanya lagi.
"Iya" jawab Cia tiba-tiba.
"Kalian dapat berapa pitanya" tanyanya yang dijawab Arumi dengan memperlihatkan lima buah pita dari dalam tasnya.
"Yahh beb, masa kita cuma dapat tiga pita sih pasti kalah inimah" gerutu Cia disamping Alfred.
"Ya mau gimana lagi" jawab Alfred santai.
Sejujurnya ia tidak peduli dengan mendapatkan pita atau tidak, ini semua dilakukannya hanya karena ia dan Leo bosan duduk diam didalam tenda dan tidak melakukan apapun.
"Lu suka bener bikin ulah, bocor ban sampe demam, pengen pipis tengah malam, sekarang keseleo, besok mau ngapain lagi?" Tanya Leo sedikit mengomeli Grisya yang diam tanpa suara dipunggungnya.
"Bukan mau gue ihh" ujarnya kesal menarik rambut Leo.
"Yo, ini punya lo?" Tanya Arumi menyerahkan sesuatu kehadapan Leo.
Leo menatap benda yang ada di telapak tangan Arumi kemudian meminta Grisya mengambil ikat rambut karet berwarna coklat ditangan Arumi yang dituruti oleh Grisya.
Sedikit tidak rela yang ditampakkan wajar Arumi ketika Grisya mengambil ikat rambut karet itu ditangannya. Leo tersenyum menatap Arumi. "Iya punya gua, makasih ya udah bantu pungut"
Grisya menatap ikat rambut yang ada ditangannya, benda yang sangat familiar dimatanya. "Lo dapat darimana?" Tanyanya berbisik ditelinga Leo
"Dapet didepan tenda lu waktu selesai pipis kemaren malam" jawab Leo balas berbisik sambil terkekeh mendengar bisikan Grisya.
"Heh, lupain" jawab Grisya setengah berteriak.
"Ehh, maaf" jawabnya kikuk saat ditatap beberapa siswa yang berjalan bersama mereka.
"Mulut lu berisik amat" ujar Leo
"Gak sengaja"
.
.
.
TO BE CONTINUE
__ADS_1