
...HAI SEMOGA SUKA DAN SELAMAT MEMBACA...
...❤️...
Dengan tanpa permisi cahaya matahari pagi ini masuk melalui celah gorden kamar yang tidak tertutup dengan sempurna. Begadang untuk mengerjakan tugas sekolah tidak membuatnya terlambat pagi ini. Hatinya terus bersyukur karena hari ini tidak perlu ngos-ngosan karena hampir terlambat seperti hari yang lalu.
Tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini Cia melihat dan bergegas menghampiri dan merangkul pundaknya.
"Tumben nih tepat waktu". Celetuk Cia
"Gue selalu tepat waktu kali, yang kemaren cuma kurang beruntung aja" balas Grisya santai melirik Cia.
Dilain posisi Leo baru saja memasuki gerbang sekolah dengan motor yang biasanya ia gunakan. Sedari tadi sepanjang jalan otaknya masih setia mengajaknya membuat perhitungan baru dengan seseorang. Bak kata pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, ahh kalimat itu sungguh-sungguh menjadi kenyataan saat ini.
Leo yang melihat peluang tidak mungkin melewatkan kesempatan emas yang ada didepan matanya. Dia tersenyum kemudian berjalan dengan cepat menuju kelas dengan sengaja menyenggol keras bahu Grisya dari arah belakang kemudian bersikap seolah-olah tidak tahu-menahu lalu pergi berlalu begitu saja.
Grisya yang tersentak merasakan sedikit sakit dibahunya menoleh kearah pelakunya.
"Aduh sakit banget" Keluhnya mengelus pundaknya.
Ia merasa tidak terima dengan kejadian yang barusan ia alamai.
"******, Woi bencong dasar Lo baci bisanya cuma nganiaya cewek "
"Sya udah" tepuk Cia pelan dipundak Grisya.
"Gak bisa Cia, mending Lo diem" ujar Grisya tak sabar ingin membalas perlakuanLeo.
Satu sepatu terangkat diudara dan melayang menuju sasaran.
Buk! Tidak meleset dan tepat sasaran mengenai kepala Leo.
"Aww, anjir pala gua". Leo mengelus kepalanya yang sedikit berdenyut kemudian menoleh kearah seseorang yang menodai rambut wanginya pagi ini.
"Woi jangan lari lu betina" Teriaknya.
Sungguh ini tindakan yang tidak manusiawi ia tidak terima dan berbalik mengejar Grisya dengan menenteng satu sepatu ingin membalas lemparan menyakitkan yang menodai rambutnya.
"Heh lo pikir gue binatang lo panggil betina?!!!" Teriak Grisya ngos-ngosan. "Dasar jantan". Teriaknya lagi.
"Sini lu woiiii!!"
"Isyaa" Monolog Cia pelan sambil memegang kepala melihat adegan yang terjadi didepan matanya.
"Leo berhenti, Lo yang duluan ganggu gue kenapa Lo marah hah. Gue cuma balas dendam". Teriak Grisya frustasi tidak mampu berlari lagi.
"Gua kagak peduli" Balas Leo nyaring.
"Oh sial meleset" batinnya meringis, tangannya masih menggantung indah diudara. Sedangkan Grisya yang berdiri tidak terlalu jauh darinya menganga melihat dimana letak sepatu Leo jatuh.
"Mampus Lo". Batinnya bersorak kegirangan.
"Siapa yang melempar sepatu ke saya?!!" Teriak guru BK.
Pak Bambang yang baru saja keluar dari lab komputer harus mendapatkan musibah yang tidak terduga.
"Dia pak" ucap Leo dan Grisya saling tunjuk
"Sekali lagi saya tanya siapa?!"
"Grisya pak"
"Leonathan pak" ucap mereka berdua bersamaan menyebut nama yang mereka tunjuk.
"Kalian berdua ikut saya keruang BK sekarang juga, kalian ini sangat tidak sopan"
"Tapi pak" protes Grisya memelas tidak ingin bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
"Heh yang lempar sepatunya Lo ya bukan gue, tanggung jawab dong Lo" Grisya menatap Leo sengit.
"Heh yang lempar sepatunya elu bukan gua" Leo mengelak padahal bukti sudah ada didepan mata.
"Saya tidak peduli siapa yang salah dan tidak ada bantahan atau orang tua kalian saya panggil untuk mengajarkan kalian bagaimana cara sopan disekolah"
Pasrah jika berhubungan dengan orang tua mereka dengan terpaksa mengekori pak Bambang menuju ruang BK. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
Grisya melirik Leo dengan tatapan tajam sedangkan Leo membalas tatapan Grisya dengan ejekan. Sesampainya diruang BK mereka langsung saja di interogasi. Tidak tahan karena mereka saling menyalahkan sehingga bukannya dapat penjelasan pak Bambang kembali menyaksikan keributan mereka berdua di ruang BK.
Brakkkk. Dengan perasaan kesal campur aduk pak Bambang tidak tahan lagi untuk menggebrak meja yang ada didepannya.
"Kalian bisa diam tidak!?" 1 kali gebrakan tidak ada respon yang mengenakan.
__ADS_1
"GAK" Teriak Grisya dan Leo terus berdebat hingga akhirnya mereka berdua tersentak.
" DIAM!!!! Kalian berdua silahkan berdiri ditengah lapangan mengormati bendera sampai jam pertama usai. Kalau kalian berani melanggar perintah saya kalian berdua akan saya skorsing selama 1 minggu. Silahkan kalian keluar karena saya tidak tahan melihat kalian berdua".
Pak Bambang murka sambil memijit pelan pelipisnya. Belum satu jam berhadapan dengan dua anak bebek itu sudah hampir membuatnya gila.
"Tapi pak ini bukan salah saya dia yang salah, banyak kok pak saksi matanya kalau bapak perlu saksi saya bisa panggil saksinya". terang Grisya bersungguh-sungguh.
"Saya tidak perlu penjelasan kamu. Sekarang cepat keluar sebelum kesabaran saya habis!" Tunjuknya kearah lapangan.
Grisya dan Leonathan berlalu meninggalkan ruang BK menuju lapangan dan menghormati bendera. Bel sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai.
Cia yang sudah dikelas bingung kenapa Grisya belum juga datang padahal sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai.
"Duh jangan-jangan dimarahin pak Bambang lagi" Khawatirnya, pasalnya Grisya tidak pernah sekalipun kena amukan guru-guru.
"Nyari Grisya? tuh dilapangan sama anak baru". ucap Arthur yang mengerti kegelisahannya sedari tadi.
"Hah, emang iya?"
"Lihat aja sendiri" tunjuk Arthur kearah jendela yang menampilkan sepasang murid yang berdiri menghormati tiang bendera.
Cia ternganga melihat sahabatnya yang menghormati tiang bendera sementara Matari begitu terik.
"Duh ngapain dia disitu sama Leo? pasti gara-gara tadi" batinnya.
Sudah SMA masih saja dihukum menghormati bendera sambil berdiri dilapangan, malu dong yang lihat bukan cuma 20 atau 30 siswa.
"Ini semua gara-gara lo dasar anak baru sialan". Tunjuk Grisya tepat diwajah Leo.
"Malu tau diliatin sama banyak anak-anak" omelnya sambil mengepalkan tangan.
"Siapa suruh lu lemparin kepala gua pake sepatu". balas Leo menatap Grisya sengit.
"Tapi lo duluan yang tabrak gue gila padahal gue gak ganggu lo". Satu kepalan tangan menggantung tepat diwajah Leo.
"Lo yang gila kata siapa lu gak ganggu gua lu merusak pemandangan mata gua setiap ngeliat lu biji mata gua sakit" Ucap Leo menunduk mendekatkan wajahnya kewajah Grisya.
"iiiii dasar stress" Grisya geregetan.
Bukkk satu kepalan melayang keras keperut Leo.
"Gue cowok kemaren gue habis operasi seluruh tubuh biar kayak cewek, kenapa? lu gak terima?" Amuk Grisya berkacak pinggang dihadapan Leo.
"Stress ni cewek" batin Leo sambil menggelengkan kepalanya. " Pergi lu" usirnya sambil mengelus perutnya.
"Memang gue mau pergi. Siapa juga yang mau lama-lama didekat lo, gue takut kurapan" Oceh Grisya meninggalkan Leo.
Bel istirahat berbunyi menandakan bahwa pelajaran pertama sudah usai.
Guru yang mengajar jam pertama dikelas 11 IPS 3 keluar kelas menghampiri Leo dan Grisya
"Kalian berdua kenapa tidak masuk kelas?" tanyanya.
"Dia ni pak biangnya" jawab Leo melirik kearah Grisya.
"Loh kok saya, dia pak tadi lemparin kepala Pak Bambang pake sepatu" adu Grisya tidak ingin disalahkan.
"Rasain kalian makanya jangan cari gara-gara. Atau jangan-jangan kalian pacaran ya trus kelahi" ejek guru tersebut.
"Enak aja pak saya gak mau sama dia" Ungkap Leo spontan.
"Lo pikir gue suka sama lo, liat muka lo aja gue males" Balas Grisya sengit.
"Hati siapa yang tau" ucap guru itu berlalu
Grisya dan Leo terdiam menatap guru tersebut yang berlalu sambil cekikikan.
"Gua rasa tuh guru agak kurang" monolog Leo.
"Ho'oh" Jawab Grisya tanpa sadar.
"Ngapain lo jawab omongan gua?"
"Heh siapa juga yang jawab omongan lo gue tadi lagi ngomong sama angin"
Cia dan Alfred menghampiri Leo dan Grisya yang terlihat perang mulut lagi. Mereka melihat adegan beberapa kali Grisya memukul lengan Leo dan Leo yang menyentil jidat Grisya.
"Kalian berdua ngapain" tanya Alfred basa basi, biasalah biar gak basi.
"Berak" jawab Leo ngasal.
__ADS_1
"Yee si tai ngamuk" balas Alfred dengan nada mengejek.
"Diam dong kalian berdua" timpal Cia melihat kearah Leo dan Grisya.
"Bacot" jawab Leo dan Grisya kompak membuat Cia terjengkit kaget mengelus dadanya.
"Wah cewek gua kaget nih" perkataan Alfred yang diabaikan Leo dan Grisya.
"Udah dong kantin aja yuk" Ajak Cia lagi sementara Grisya hanya memanyunkan bibirnya menahan kekesalah dihatinya terhadap Leo.
Leo memperhatikan Grisya tanpa berkedip kemudian Alfred berbisik kepadanya.
"Lu suka sama Grisya Le" tanya Alfred pelan disamping daun telinga Leo.
"Wah demi apa sampai gua suka sama tuh anak, najis" Jawab Leo tersentak sambil menutupi keterkagetannya saat mendengar bisikan Alfred.
"Halah lu kagak ada yang tau besok lusa bakal gimana, kalau lu sampai jadian sama Grisya gua bakalan rela dah jadi bencong sehari" Canda Alfred memasukan tangannya kedalam saku celana.
"Serah lu dah gua kagak peduli" Leo cuek mendahului Alfred yang ada disampingnya tadi.
Sesampainya dikantin Leo memperhatikan Grisya yang membuatnya agak merasa bersalah mengganggu gadis itu dan membuat mereka berdua dihukum oleh pak Bambang.
"Maafin gua ya" Ucap Leo tulus duduk disebelah Grisya sementara Alfred dan Cia hanya diam memandangi mereka berdua.
Alfred yang melihat Leo berusaha menahan tawanya.
"Jangan ganggu gue" Ucap Grisya kesal, hatinya masih dongkol jika harus berhadapan dengan Leo.
"Yaudah maaf gua pesenin minum ya gua yang bayarin" bujuk Leo halus.
"Yaudah gue mau susu stroberi dingin" pinta Grisya tanpa melihat kearah Leo yang duduk disebelahnya.
"Yaudah deh gue beliin ya" pamit Leo berdiri meninggalkan tempat mereka duduk.
Grisya diam-diam sudah mengatur rencana pembalasan lagi terhadap Leo. Dia meminta minuman Cia dan menuangkannya sedikit di kursi yang akan diduduki Leo. Hatinya tersenyum senang memikirkan keberhasilan rencananya.
"Nih" Leo menyerahkan susu stroberi untuk Grisya.
"Makasih" ucap Grisya kembali berakting dengan muka masam.
"Gue mau ke toilet" pamitnya beranjak dari bangku kantin yang didudukinya.
Leo terlonjak kaget saat merasakan basah dicelananya sontak saja dia berdiri dan melihat Grisya yang berlari melaluinya. Dia sudah tau siapa pelakunya
"GRISYA!!!!" Teriaknya dengan muka merah padam.
"Hahaha teman-teman ada yang udah gede tapi masih suka ngompol di celana" teriak Grisya disepanjang jalannya.
"Duh Grisya" batin Cia menangis melihat kelakuan sahabat baiknya.
"Hahahaha sakit perut gua anjir" Alfred menertawakan Leo.
"Jangan ngetawain gua setan" kesal Leo menahan gemuruh di dadanya.
" Duhh gue nyusul Grisya aja ya, dah beb" ucap Cia berpamitan dengan Alfred.
"Iya sayang hati-hati dijalan ya" balas Alfred
***
Leo terlihat memasuki kelas dengan celana yang sudah kering dia terus menatap Grisya yang terlihat tersenyum puas sambil menghadap kearah lain. Padahal tadi dia sudah bersikap baik dan meminta maaf kepada Grisya tapi ternyata Grisya malah kembali mengerjainya.
"Awas lu cewek nakal berani-beraninya lu sama gua" bisiknya ditelinga Grisya.
"Bodo amat" ucap Grisya saat Leo berlalu.
"Apa?" Kode Cia. Grisya menggeleng membalas kode Cia mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.
Beberapa jam telah berlalu dan sekarang bel pulang sudah berbunyi karena Sudah pukul 15.15 seperti biasa para siswa berhamburan keluar kelas tapi tidak dengan Grisya yang terlihat santai memasukan buku-bukunya kedalam tas dia berpikir ngapain juga berebutan keluar kelas toh nanti juga pulang kerumah lagian pintunya tidak akan dipindahkan ke atap kalau kelamaan keluar kelas.
.
.
.
Hai dukung Grisya ya dan juga jangan lupa like biar Author semangat menulis.
Jika ada kesalahan atau kurang memuaskan maaf ya karena ini karya pertama, terimakasih!.
Salam sayang, Author.
__ADS_1