
"Pak tolong berhenti di supermarket depan"
Ya, Arthur melihat seseorang yang dikenalnya menuruni mobil dan berjalan memasuki supermarket sendirian. Ia berhenti dan berlari menghampiri, apa saja diambilnya asalkan bisa bertatap muka walaupun sebentar.
Melihat Grisya berada didepan kulkas bagian samping membuatnya melepaskan roti cokelat keju yang ada ditangannya dan membuatnya beralih menuju kulkas.
"Air mineral aja deh" pikirnya.
Tangannya terjulur mengambil sebotol air mineral yang ada di kulkas dihadapan Grisya, membuat Grisya menoleh kebelakang dan menatapnya.
"Arthur"
"Lo sama siapa disini?" Ya basa basi dengan Grisya sangat penting saat ini pikirnya.
"Dijemput sama supir" Grisya tersenyum menatapnya.
"Ambil aja minumnya" ujar Arthur terkekeh melihat Grisya yang tak jadi meraih sebotol susu stroberi.
"Oh iya, gue lupa" jawab Grisya mengingat tujuannya didepan kulkas kemudian meraih sebotol susu stroberi dan sebotol air mineral didalam kulkas. Dia yakin Leo pasti lebih memilih air mineral daripada susu.
Arthur masih setia mengekori ya yang sedang memilih beberapa makanan ringan sambil menuju kasir.
Sementara Leo terburu-buru menyusul Grisya kedalam supermarket karena melihat Arthur melewati mobilnya.
"Ngapain si curut itu disini" batinnya
Tepat saat dirinya mendorong pintu supermarket Grisya dan Arthur berada didepan kasir untuk membayar belanjaan mereka.
"Biar gua yang bayarin" Ucap Arthur tersenyum menatap Grisya ketika sampai didepan kasir.
"Eh gak usah Thur, biar gue bayar punya gue sendiri" ujar Grisya menaruh semua snack dan minuman yang diambilnya didepan kasir.
"Gak apa-apa, sesekali sya" tatap Arthur tersenyum manis.
"Gak perlu, biar gua yang bayar" Leo menyerahkan selembar seratus ribu pada kasir. Tidak banyak belanjaan Grisya, tidak mencapai seratus ribu juga. Lagipula tidak rugi hanya untuk membayar belanjaan yang tidak seberapa banyaknya.
Ia tidak rela jika Arthur mencuri kesempatan bersama Grisya, apalagi saat ini gadis yang didekat Arthur itu adalah pacarnya. Mengetahui bahwa Arthur menyukai Grisya membuatnya tidak begitu menyukai Arthur.
Mengambil kembalian yang diserahkan oleh kasir sekaligus menyambar plastik yang berisi apa yang dibeli Grisya, ia menarik tangan Grisya untuk keluar dari supermarket.
"Kita duluan" pamitnya tanpa memandang Arthur.
Sesampai didalam mobil, Grisya menatap heran Leo disampingnya. "Kamu kenapa sih?" Tanyanya sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam plastik yang dibawa Leo tadi.
"Gak apa-apa"jawab Leo balik menatapnya.
__ADS_1
"Nih aku beli air mineral buat kamu"
"Makasih ya pacar"
"Iya sama-sama"
Sementara Arthur meremas botol yang ada ditangannya melihat mobil yang ditumpangi Grisya mulai melaju.
***
"Makasih ya, makasih ya pak" pamitnya menuruni mobil yang ia tumpangi.
Leo mengangguk dan tersenyum. "Pacar, titip salam buat mama mertua ya" kekehnya.
"Mama mertua kepalamu" sergah Grisya yang membuat Leo tertawa keras.
"Dah, aku pulang ya" pamitnya melambaikan tangan kearah Grisya.
Sedang Grisya menunggu sampai mobil yang ditumpangi Leo menghilang dari pandangannya barulah ia memasuki pekarangan rumahnya dengan membawa semua barang bawaannya.
"Bi, mama mana?" Tanyanya yang melihat bi Asih yang menghampirinya.
"Lagi pergi non katanya mau ke kantornya tuan" jawab bi Asih yang berniat mengambil barang bawaannya.
Ditengah tangga ia berbalik. "Bibi, request es jeruk satu ya bi" ucapnya tersenyum mengedipkan satu matanya.
"Siap non" bi Asih mengacungkan jempolnya.
"Ah akhirnya bisa rebahan dikasur ini lagi" batinnya tersenyum sambil merebahkan dirinya diatas kasur.
"Ya ampun harus cas hp dulu"
Dirinya beranjak dari tempat tidur, mengambil alat cas hp disamping tempat tidurnya agar bisa secepatnya mengisi daya hpnya. Kemudian membongkar tas yang dibawanya pergi berkemah. Memilah mana pakaian bersih dan kotor lalu masuk ke kamar mandi.
"Ahh segar banget, akhirnya mandi pake shower lagi hihi"
Dirinya cekikikan mengingat saat dirinya berkemah dimana saat mandi di danau dirinya menggunakan mangkuk plastik sebagai ganti gayung.
"Bibi, es jeruknya dimana bi?" Tanyanya setelah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Bi Asih terlihat menghampirinya. "Ada diatas meja makan non" terangnya
"Makasih ya bi" dirinya tersenyum, kemudian berlalu menuju dimana es jeruknya berada.
"Leo lagi ngapain ya?"
__ADS_1
"Ih kok malah mikirin Leo sih"
Pipinya memerah sekarang, rasanya masih seperti mimpi, mengapa dirinya dan Leo tiba-tiba saja berpacaran.
Sesekali ia merenung memikirkan ada apa dengan Arumi, apakah Arumi menyukai Leo. Terlihat dari beberapa kali dirinya melihat Arumi menghampiri Leo, atau bahkan mereka mengobrol dan tertawa bersama.
Mengingat itu hatinya dongkol, apakah cemburu? Ah tidak-tidak, mana mungkin itu cemburu.
Usai meneguk segelas es jeruk ditangannya dirinya berniat untuk pergi ke kantor sang papa karena disana ada mamanya juga. Sesekali menghampiri tidak masalah bukan? Tapi rencananya ya tinggal rencana saja melihat motor matic kuningnya tidak ada digarasi mengingatkannya bahwa motornya belum diantar oleh Leo.
"Chat si Leo aja deh nanyain motor"
Dirinya setengah berlari menaiki tangga dan memasuki kamar dengan cepat menyambar hp yang masih dicas.
"Ya ampun gak punya nomornya, masa minta sama Cia, malu dong" dirinya menggerutu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ngapain dong ini" keluhnya memandang hpnya.
Hpnya bergetar, ada panggilan video masuk yang membuatnya tersenyum senang. Laki-laki yang selama ini dirindukannya, pria tersayangnya yang sudah 2 tahun belum kembali.
"Aku kangen" ucapnya sesegukan, air matanya turun bergitu saja saat dirinya menatap layar ponselnya ketika panggilan itu tersambung.
"Cie ada yang kangen, jangan nangis dong kan udah dikirimin hadiah" ujar seorang laki-laki diseberang sana.
Grisya mengusap air matanya, "Gak ada hadiah apapun tuh" ujarnya cemberut.
"Ada, dititip sama nyonya" ujarnya terkekeh lucu.
"Yang bener, awas bohong ya. Kapan pulang ih aku kangen"
"Belum tau sayangku"
"Kalau gak pulang jangan tegur aku lagi"
"Iya-iya pasti pulang"
Percakapan itu terhenti begitu saja, lawan bicaranya mendadak ada yang dikerjakan yang membuat panggilan telepon itu terputus.
Setelah mengabari sang mama dan papa bahwa dirinya telah pulang, ia memilih bermain dengan Poppy, kucing persia miliknya di taman belakang rumah.
"Apa aku berkebun aja ya? Kayaknya seru, aku pengen tanam singkong biar bisa kasih pak Cecep singkong tiap hari trus nanti bisa deh dikasih pak Cecep keripik haha" ucapnya sambil mengelus punggung poppy.
Dirinya kerap kali mendengar pak Cecep si tukang kebun yang berbincang dengan satpam yang apabila pulang dari rumahnya selalu berkata ingin pergi mencari singkong dahulu, katanya istrinya dirumah berjualan keripik singkong.
Pernah satu kali dirinya merasakan keripik singkong buatan istri pak Cecep dan itu sangatlah enak. Berbeda dari keripik singkong yang selama ini pernah ia makan, apalagi yang pedas.
__ADS_1