
...HAI SEMOGA SUKA DAN SELAMAT MEMBACA...
...❤️...
"Iya tante mau nganterin motor" Liam menjawab dengan senyum ramahnya.
"Motor siapa? Bukannya tadi Leo pulangnya bawa motor" monolog mama Revi yang masih bisa didengar mereka berdua.
"Leo bilang motor pacarnya tante" Sahut Alfred menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Liam mati-matian melipat bibirnya agar tidak mengeluarkan tawa.
"Leo kok punya pacar gak bilang-bilang Tante ya?" Tanya mama Revi heran melihat mereka berdua.
"Leo bilang mau kasih tau Tante waktu lamaran Tante" jawab Liam mencubit pahanya agar tidak tertawa.
Kata-katanya berhasil membuat mama Revi kaget dengan kelakuan anaknya.
Saat mereka berdua sampai diruang keluarga mama Revi mempersilahkan mereka berdua duduk, Papa Samuel juga sedikit mengajak mereka mengobrol menanyakan kabar dan sebagainya sementara mama Revi berlalu menuju dapur.
"Alfred, Liam, ikut Tante ke meja makan yuk" ajak Mama Revi, Namun mereka berdua hanya saling pandang antara ingin menerima dan menolak ajakan mama Revi.
"Ikut aja sana gak usah malu asal jangan malu-maluin" ucap papa Samuel.
"Eh om bisa aja" ucap Liam nyengir kuda.
"Kalau gitu kita ke Tante dulu ya om permisi" pamit Alfred kikuk.
Papa Samuel sebenarnya adalah orang yang baik hanya saja kadang dia terlihat garang membuat nyali Alfred dan Liam sedikit menciut.
Mama Revi mengeluarkan kue yang dibuatnya dari dalam oven dan mempersilahkan Alfred juga Liam duduk sementara mama Revi menghidangkan kue dimeja makan.
"Ini Tante bikin kue tadi kebanyakan jadi gak habis kebetulan kalian berdua bertamu jadi Tante hidangkan buat kalian berdua" ucap mama Revi sambil mempersilahkan Alfred dan Liam.
"Mau minum apa?" Tanya mama Revi tersenyum kepada dua anak laki-laki yang sedang memandanginya itu.
"Gak usah repot-repot Tante nanti kalau mau minum kita bisa ambil sendiri kok" Liam tidak enak hati, walaupun sejujurnya dia senang karena ia memang sedikit kelaparan.
"Kalau lapar makan aja nasinya masih banyak kok gak usah malu-malu kalian kan teman dekatnya Leo udah kayak anak Tante juga. Kalau mau ambil aja ya atau mau Tante ambilin?"
"Boleh juga tuh tante eh beneran gak usah repot-repot tante" Alfred salah ngomong lagi.
Mama Revi duduk dihadapan mereka berdua sambil ikut mencomot Kue buatannya.
"Seriusan Leo punya pacar" Tanya mama Revi serius.
"Beneran tante mereka berdua disekolah romantis banget tante" Jawab Alfred mengada-ada opini yang disampaikannya sangat berbeda jauh dari fakta yang ada.
"Iya? Harusnya Leo kasih tau tante biar tante bisa ajak pacarnya nemenin tante jalan. Tante bosan banget dirumah kalau papanya Leo kerja trus Leo sekolah" Curhat mama Indah sudah seperti curhat dengan teman-temannya. Begitu lancar dan mengalir begitu saja.
"Gak tau deh Tante kebiasaan si Leo" Cicit Liam.
"Yee enak banget datang-datang langsung makan, enak ya" Leo turun dan menghampiri dua manusia kelaparan di meja makan tempat dimana orang-orang itu berkumpul.
"Makan mang anggap aja rumah sendiri" Ujar Liam menoleh sebentar kearah Leo kemudian lanjut memasukkan kue kedalam mulutnya.
"Mang mang lu pikir gua tukang kebun yang suka dipanggil mamang" Ujar Leo sinis.
"Sensi amat dah datang bulan mas?" Alfred ikut-ikutan meledek.
"Diam lu kampet" Ucap Leo melupakan bahwa disitu ada sang mama yang tengah memperhatikannya.
"Huss Leo gak boleh ngomong gitu sama temennya" nasihat mama menepuk lengan Leo.
" Tau nih tante kebiasaan banget si Leo"Jawab Alfred sok mengadu melihat kearah Mama Revi.
__ADS_1
"Iya tante saya aja tadi disuruh kebengkel jagain motor ceweknya" Liam ikut-ikutan mengompori.
"Bukan cewek gua ayamm" geram Leo menjambak rambutnya frustasi melihat kelakuan sahabat-sahabat laknatnya.
Mama Revi sudah tidak tahan dengan pemandangan yang sangat indah didepan matanya. Membuatnya pusing dan ingin segera berlalu dari sana.
"Aduh kalian ini Tante nyusul om kalian kedepan ya, kalau mau makan minta ambilin sama Leo aja ya" pamit mama Revi memijit pelipisnya kemudian berlalu.
"Siap Tante" mereka berdua serempak
Sepeninggal mama Revi kedepan Liam dan Alfred menatap Leo sambil tersenyum.
"Apa liat-liat pulang sana gak ada makan-makan lagian lu berdua udah kenyang kan makan kue buatan mama" Leo mendudukkan diri dikursi berhadapan dengan Alfred dan Liam dimeja makan.
"Dasar teman laknat, kita kelaparan nih makan kue doang baru terisi 30% masih ada 70% lagi kuota belum cukup men" Alfred protes menepuk perutnya menandakan bahwa dia masih lapar.
"Yaudah dah lu berdua makan sono" tunjuk Leo kearah rak piring. Maksudnya adalah ambil makanan sendiri.
"Nah gitu dong baru temen" Jawab mereka berdua serempak kemudian berjalan menuju tempat dimana piring berada dan dimana tempat nasi dan lauk pauk lalu menyantapnya saat kembali ke meja makan.
Obrolan ringan dan tidak mengandung faedah didalamnya kembali terjadi.
"Aaak puji Tuhan" Mereka berdua bersendawa memegang perut masing-masing sembari menyandarkan punggung dan kepala dikursi yang mereka duduki.
"Dimana motornya"
"Hah??"
"Motor Grisya dimana?"
"Oh motor cewek lu ada tuh didepan gua simpan diparkiran" Jawab Liam kembali menutup matanya.
"Kenapa diantar kerumah lu Le?" Tanya Alfred heran.
"Pala lu cewek gua, ngada-ngada lu ayam betina" Leo mengarahkan tinjunya tapi tidak sampai mengenai wajah tampan Liam.
"Jadi gimana?" Tanya Alfred
"Gua ketemu Grisya dijalan motornya rusak trus dia demam jadinya gua anterin kerumah" ujar Leo masih sedikit emosi karena setiap kata menyebalkan yang keluar dari mulut Liam.
"Cie udah ada rasa nih kayaknya pantesan dia batal ikut jalan tadi" Alfred mengkode kearah Liam membuat Liam cekikikan.
"Bacot lu" ujar Leo kesal
"Mau nomornya kagak gua ada nih siapa tau khawatir" Leo kembali mengejek Leo sok-sok mengeluarkan ponselnya seolah-olah mencari kontak Grisya.
" Gak perlu, ngapain gua khawatir sama tuh cewek nyebelin". Ketusnya.
" Ehm katanya nyebelin tapi dibantuin pake diantarin segala uh romantis" Liam bersuara terus menerus mengejek.
" Banyak cincong lu berdua dah pulang sana ntar habis stok makanan dirumah gua gara-gara lu berdua penghuni rumah gua banyak, buruan sana pulang" usir Leo
"Elah pelit amat si lele berkumis" Alfred semakin menjadi.
"Eee tip buat gua mana nih udah janji tadi" Liam menagih janji Leo
"Berapa?" Tanya Leo ketus
" 200 ribu ditambah tip 100 ribu jadinya total 300 ribu" Ujar Liam menengadahkan sebelah tangannya kehadapan Leo
" Anjir lu biayanya mana mungkin sampai 200 ribu mahal amat perbaiki motor atau perbaiki mobil lu meras gua kalau gini mah"
"Gua serius pe'a kerusakannya banyak dah jangan banyak protes kayak kagak punya duit aja" ujar Liam tanpa menurunkan tangannya.
__ADS_1
"Yaudah habis ini lu berdua pulang sono ganggu ketentraman rumah gua ae" Leo mengusir mereka berdua sambil mengeluarkan uang 300 ribu dari dompetnya.
"Ailah sama temen sendiri gitu, makasih ya lain kali kalau butuh panggil lagi aja hahaha" ucap Liam.
Baru beberapa langkah mereka menuju keruang tamu mereka kembali dipanggil oleh Leo untuk mencuci piring. Walaupun sedikit kesal mereka tetap mencuci piring bekas mereka makan tadi.
Selesai mencuci piring mereka menghampiri Papa Samuel dan mama Revi untuk pamit pulang.
Sementara Leo sudah menunggu diambang pintu. Mereka berdua yang melihat itupun merasa kalau Leo benar-benar ingin mengusir mereka berdua. Saat mereka sampai didepan pintu Leo hanya diam dengan tangan seolah mempersilahkan tamunya keluar.
"Kita duluan ya" ujar Alfred
Brakk Leo menutup pintu kasar
"Anj**g" ujar mereka berdua bersaman sambil mengelus dada.
****************
Leo berbalik ingin naik ke atas menuju kamarnya. Belum jauh langkah kakinya dari ruang tamu mama Revi memanggilnya dan membuatnya duduk diruang tau dihadapan mama dan papanya.
"Kenapa ma?" Tanya Leo heran.
"Kamu ada pacar?" Tanya mama serius
"Gak ada ma, Leo gak punya pacar" Jawab Leo Jujur melihat mamanya yang sangat serius menanti setiap jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Tapi tadi Liam sama Alfred bilang kamu punya pacar trus kalian sering romantisnya disekolah?" Tanya mama heran sesekali menatap kearah papa kemudian menatap Leo.
"What?" Batin Leo
"Ngarang mereka ma, jangan percaya sama mereka" jelas Leo memegang kepalanya.
"Masa sih kamu gak punya pacar ya kan pa?" Tanya mama melihat kearah papa.
Kemudian papa melihat Leo menatap Leo sedikit lama lalu menepuk bahu Leo membuat Leo sedikit kebingungan menatap papa Samuel.
"Kamu kalau mau pacaran boleh, papa gak larang kamu tapi kamu harus tau batasan Leo" ucap papa Samuel serius menatap Leo membuat Leo sedikit tercengang.
"Leo gak ada pacar pah mah masa kalian gak percaya?" Jawab Leo menatap kedua orang tuanya yang melemparkan pertanyaan membingungkan terhadapnya.
"Kalau kamu punya pacar nanti kenalin ke mama, mama kesepian loh kalau kalian lagi gak dirumah" Mama Revi terus menerus memberi nasihat pada Leo.
"Tapi kan Leo gak punya pacar ma"
"Nanti kalau punya" jawab mama dan papa serempak.
Leo beranjak dari ruang tamu meninggalkan kedua orangtuanya. Mendaratkan tubuhnya diatas kasur empuk sambil memikirkan apa maksud orang tuanya.
Apa mungkin karena dia anak tunggal sehingga orang tuanya seperti itu. Atau jangan-jangan orang tuanya ingin dia segera menikah agar mamanya punya teman dirumah jika dia dan papanya tidak ada dirumah.
Wah pikiran apa itu, membuat Leo bergidik ngeri memikirkan pernikahan diusia muda. Melihat orang pacaran saja membuatnya pusing itu bukan berarti dia tidak ingin pacaran atau tidak tertarik dengan perempuan, hanya saja dia terlalu muak melihat mereka yang sering tertangkap matanya bermesraan menurutnya itu lebay, tidak normal dan tidak manusiawi.
.
.
.
Hai dukung Author ya dengan like dan komentar yang baik biar Author semangat menulis.
Jika ada kesalahan atau kurang memuaskan maaf ya karena ini karya pertama, terimakasih!.
Salam sayang, Author.
__ADS_1