Kamu Lagi

Kamu Lagi
Sebuah Rasa


__ADS_3

"Heh bang**, gimana cara bawanya kesana?"


"Gua gak peduli, pokoknya lu harus bawa itu es batu kesini gimanapun caranya, terserah lu mau bawa kulkas atau apapun intinya bawa es batunya sampai kesini dengan keadaan utuh tanpa meleleh sedikitpun" ujarnya tidak ingin dibantah oleh lawan bicaranya diseberang sana.


"Woi set** dimana-mana yang namanya lagi camping gak ada yang minum air es biasanya minum air hangat" Liam terus mengajukan protesnya terhadap Leo yang terus memaksanya untuk mengantarkan es batu ke lokasi camping.


"Gua yang pengen minum air es kenapa malah lu yang rese" jawab Leo sedikit ngegas didepan hp yang digenggamnya.


"Harusnya gua yang bilang begitu eek" kesal Liam diseberang sana.


"Bacot, pokoknya gua tunggu"


"Ya gimana...."


Tut...tut...tut..


"Bang**" umpatnya kesal ingin membanting hpnya saat mendengar suara telepon terputus. Peristiwa yang selalu saja terjadi saat Leo meminta bantuan padanya.


Ia bergegas menyambar kunci mobil didalam laci disamping tempat tidurnya. Sedikit menghela napas memandang mobil berwarna silver digarasi yang tidak pernah ia gunakan karena dilarang oleh sang ayah walaupun menurutnya saat ia sudah berumur 17 tahun ia sudah pantas mengemudikan mobil.


Sementara Leo berdiri dipinggir jalan yang tidak jauh dari lokasi camping. Sedikit mengembuskan napas lega dengan satu tangan berada di pinggangnya sedangkan tangan yang lain menggenggam hp yang banyak mata ikannya itu.


"Untung aja ada signal, walaupun cuma bisa telepon biasa" Ucapnya menendang batu kecil yang ada disamping sepatunya.


35 menit menunggu dipinggir jalan dibawah pohon yang rimbun sambil sesekali ia tersenyum melihat sepasang lansia yang sepertinya ingin pergi ke ladang melewatinya dengan mengendarai sepeda motor.


"Hebat juga kakeknya, udah tua pakek bawa motor segala"


Kemudian mengalihkan pandangannya kelayar sambil mengetik beberapa pesan yang akan dikirimkannya untuk sang mama yang bisa dipastikan sekarang hanya bersama bibi dirumah. Sekedar mengirimkan pesan singkat mengingatkan agar sang bundahara kesayangan dan satu-satunya wanita paling cantik dirumah itu tidak telat makan sudah menjadi kebiasaannya saat sedang tidak berada dirumah.


Mobil berwarna silver itu melaju dari kejauhan dan berhenti tepat didepannya. Ia menengadah memandang si pengemudi.


"Lama bener bawa es batu doang" gerutunya menendang pelan pintu mobil.


"Lu pikir jarak dari rumah gua kesini deket apa?" Jawabnya turun dari mobil mengeluarkan box berisi es batu dengan beberapa botol minuman yang ada didalamnya.


Liam menyerahkan box itu ketangan Leo dengan sedikit kasar. "Nih, es batu lu semoga lu puas siang hari ini"


"Tenang aja gua pasti puas" ucapnya berbalik ingin meninggalkan Liam setelah menerima box es dari tangan Liam.


"Woi" teriak Liam membuatnya menoleh.


"Thanks ya, balik sono lu"


"Eek" umpat Liam masuk kemobil dengan sedikit membanting pintu mobil yang hanya disambut kekehan oleh Leo. Sambil menyetir ia tidak berhenti berdoa semoga ia tidak tertangkap basah oleh sang ayah karena berani membawa mobil keluar dari garasi.


Berjalan membawa box es membuatnya dipanggil oleh Bu Rika. "Kamu bawa apa Leo?"

__ADS_1


Ia berhenti kemudian menoleh kesumber suara. "Es batu, ibu mau?" tawarnya


"Mau nak"


"Ibu ambil aja kalau mau bagi-bagi juga boleh saya cuma perlu sedikit" ucapnya menurunkan box es diatas meja disamping tenda Bu Rika.


Menenteng 4 botol teh bersama sebongkah besar es batu yang diletakkannya didalam plastik ia berlalu meninggalkan Bu Rika yang memanggil beberapa siswa yang melaluinya.


Terus berjalan menuju tenda kemudian menghancurkan es batu memasukannya kedalam plastik kemudian melapisinya dengan sapu tangan miliknya mengikat dengan karet gelang ia berjalan menuju tenda Grisya dan Cia.


Dia berjongkok didepan Grisya yang sedang memangku kue kering yang ia simpan didalam tupperware yang disiapkan oleh sang mama. "Mana kaki yang sakit?"


"Eh ,ini" Grisya menunjuk kaki kanannya yang langsung dipegang pelan oleh Leo.


"Dapat es batu darimana" celetuknya ketika Leo menempelkan es batu dibagian kakinya yang bengkak.


Leo tersenyum miring mengingat siapa yang mengirimkan es batu untuknya. "Tadi waktu gua dipinggir jalan tiba-tiba ada penjual ayam warna warni berhenti didepan gua, dia nawarin minuman dingin siapa tau gua mau beli, karena gua butuh yaudah gua beli sekalian sama es batunya"


"Oh gitu" ucap Grisya percaya omongan Leo. " Makasih ya" ucap Grisya kembali. Laki-laki didepannya hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Alfred yang tadi diminta oleh Leo membawa minuman itu ke tenda Grisya dan Cia sedikit bingung memandang empat botol teh yang ada didalam tenda. "Dapat minum darimana le?"


"Dari penjual ayam warna warni" Grisya menjawab pertanyaan Alfred sesuai dengan ucapan Leo yang didengarnya.


Sedikit mengernyitkan dahinya bingung hingga beberapa saat ia mulai menyadari penjual ayam yang dimaksud.


Leo mengalihkan pandangannya kearah Alfred." Ya gua lupa"


"Lo kok kecewa bener cuma gara-gara gak bisa ketemu penjual ayam". Sedikit heran dan tak percaya dengan percakapan dua pria didepannya membuat bibir Grisya tak tahan untuk berceletuk.


"Kamu mau beli ayam?" Tanya Cia memegang pundak Alfred. "Kalau mau beli mending waktu pulang camping aja" lanjut Cia menatap Alfred iba.


"Bener pret tunggu pulang camping aja" sahut Leo terkekeh yang tepat berada satu arah dihadapan Alfred. Membuat Alfred berdecak kemudian meneguk teh botol yang ada ditangannya.


Leo memegang tangan Grisya mengarahkannya kearah kakinya yang bengkak agar ia memegang sendiri es batu yang ada dikakinya. "Pegang sendiri"


"Ihh, iya-iya sabar dong"


"Kalau gak bisa jalan lu tinggal disini aja gak usah ikut pulang besok"


"Lo kok gitu si" ucap Grisya yang hanya dibalas lirikan oleh Leo.


Malam ini tepat jam 18.30 semua siswa dan guru-guru yang mendampingi sudah berkumpul mengelilingi api unggun. Malam ini juga akan ada pembagian hadiah untuk pemenang challenge mencari pita tadi siang. Beberapa terlihat bersemangat menanti pengumuman karena penasaran akan hadiah yang didapatkan pemenang.


Suasana malam hari itu sangat menyenangkan, gelak tawa memeriahkan suasana malam hari ditengah perkemahan yang berada tidak jauh dari danau itu.


"Le minta dong" Grisya menengadahkan tangannya ketika melihat Leo kembali ketempat duduknya dengan menenteng dua kotak susu stroberi dengan beberapa macaron ditangannya.

__ADS_1


"Nih ambil aja semuanya" Leo kembali duduk dan menyerahkan semua hadiah miliknya pada Grisya.


"Cia dapat jajan, mau gak?" Girang Grisya menawari Cia yang berada disebelahnya.


"Mau, thanks ya Yo" ujar Cia pada Leo yang dibalas anggukan oleh Leo.


"Le, lu masih belum suka sama Grisya" Alfred menegak air mineral ditangannya.


Pertanyaan Alfred membuat Leo sedikit menghela napas. Pertanyaan yang berulang kali dipertanyakan padanya membuatnya malas untuk menjawab. "Mana gua tau" hanya itu senjata terakhirnya.


Sampai sekarang ia masih bingung dengan perasaannya terhadap Grisya. Melihat Grisya bersama Arthur membuatnya kesal dan marah disisi lain ia merasa tidak memiliki hak untuk kesal ataupun marah toh ia bukan siapa-siapa bagi Grisya.


Senyum tipis ia tampakkan saat melihat Grisya yang tak jauh disampingnya. Wajah cerianya yang sedang meneguk sekotak susu stroberi itu sungguh lucu hingga membuatnya sedikit tersenyum hanya karena memandang wajah itu.Lesung pipi yang terpahat dipipi kanannya membuatnya terlihat sangat manis saat terrsenyum.


Sungguh ia tidak bisa membedakan antara cinta atau kagum semata dia hanya berharap perasaannya bukanlah obsesi yang menggebu-gebu hanya karena rasa ingin memiliki.


Melanjutkan percakapannya bersama Alfred membahas bagaimana awal pertemanan mereka sejak kelas satu SMP hingga beberapa kali tertawa mengingat kelakuan mereka bertiga yang membuat papa Samuel kesal karena mereka memasukan banyak ikan Lele kedalam kolam yang berisi ikan Koi.


Hingga tak lama ia memandang betapa serunya Alfred dan Cia bercengkrama ditengah mereka.


Sementara disisi yang lain, Grisya terdiam menatap api unggun didepannya. Setelah beberapa kali tertawa karena bercerita tentang hal-hal yang konyol bersama Cia. Sesekali tersenyum menatap pria yang duduk tidak jauh darinya.


Ia kembali memandangi api unggun didepannya, sekotak susu ditangannya masih ada setengah isi yang membuatnya terus menyedot susu itu.Mengingat kembali beberapa kejadian membuat hatinya menghangat. Beberapa kali ia tertawa karena mengingat hal konyol yang mereka lakukan.


Mengingat betapa seringnya pria itu membantunya dimulai saat ia kehujanan, bahkan hal yang konyol seperti menemani pipis tengah malam, lalu sekarang menggendongnya dari dalam hutan membuat Grisya melirik kakinya yang bengkaknya sudah mengempis.


"Aku gak tau ini perasaan apa, aku cuma ngerasain nyaman, hangat, aman, dan ceria kalau dekat sama dia" batinnya menatap ikat rambut yang ada dipergelangan tangannya.


"Yah abis susunya" monolognya pelan sedikit menggoyangkan kotak susu yang ada ditangannya dengan wajah cemberut.


Kembali menoleh kesampingnya membuatnya sedikit terpaku. Dua pasang mata itu kembali bertemu dan terkunci membuat sang empu terdiam fokus dengan apa yang ada didepannya tanpa memperdulikan yang lain.


Senyuman yang hangat, itu yang dilihatnya dari wajah pria itu setelah ia memutuskan tatapannya. Berusaha menyunggingkan senyum walaupun kikuk agar tidak terlihat memalukan.


"Mungkin cuma kebetulan" batinnya sambil meremas kotak susu ditangannya.


"Lucunya" batin Leo terkekeh.


.


.


.


.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2