KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 12 : Masa Pingitan


__ADS_3

Umumnya pingit atau pingitan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut, tujuannya agar memupuk rindu diantara kedua mempelai sebelum akhirnya bertrmu di hari pernikahan, selain itu pingitan juga dilakukan agar sang pengantin terhindar dari bala atau hal-hal buruk. Orang sepuh atau tetua desa di jawa mengatakan “wong sing arep dadi manten kui mambune wangi, ambu wangi kui sing disenengi para lelembut, makane wong yen arep mantenan kudu dipingit ben gak keno bala”.(orang yang mau menikah itu baunya harum, bau yang harum itu yang disukai makhluk tak kasat mata, makanya orang yang mau menikah harus dipingit agar terhindar tdari hal yang tidak diinginkan). Hal itu pula yang kini sedang dijalani nirmala, bedanya selama masa pingitan nirmala diharuskan menjalani puasa mutih, nirmala hanya diperbolehkan meminum segelas air putih, dan memakan bunga kantil putih dan bunga melati putih. Hari pertama nirmala merasa tak ada yang perlu dirisaukan, hanya kekosongan dan kehampaan yang dirinya rasakan karena berdiam diri dikamar sendirian, hingga malam tiba nirmala mendengar bunyi lonceng , ya benar saja rahayu membuka pintu dengan membawa sebuah nampan ditangannya. Tapi yang aneh adalah rahayu seperti terburu-buru, membersihkan tubuh nirmala, menyanggul dan membantu nirmala berpakaian dilakukannya dengan cepat, mata rahayu sesekali mencuri pandang kearah sudut kamar nirmala tepatnya disebelah almari, sikap rahayu lama-lama membuat nirmala kesal.


“onok opo tah yuk, iso gak toh alon-alon”(ada apa sih yuk, bisa gak sih pelan-pelan)


“ii-iya mbak maaf”


“awakmu weroh opo sih yuk?”(kamu lihat apa sih yuk?)


“ndak kok mbak”


Nirmala berjalan kearah almari yang sedari tadi membuat rahayu gelisah, rahayu menahan tangan nirmala.


“kamu mau kemana , mbak”


“lemari kui kan yuk, dari tadi kamu selalu melihat kearah lemari itu”.


Nirmala membuka lemari dan menunjukkan kepada rahayu jika didalamnya tidak ada hal yang perlu ditakutkan, itu hanya lemari pada umumnya yang berisi pakaian.


“gak ada apa-apa kan yuk”


Sosok tinggi besar bermata merah menya yang dilihat rahayu telah lenyap setelah nirmala mendekati lemari itu.


“geh mpun mbak, kulo nyuwun pamit”(yasudah mbak saya pamit dulu)


Rahayu keluar dari kamar nirmala, sebelum sampai didepan itu rahayu menoleh kearah nirmala, dan benar dibelakang nirmala berdiri makhluk yang tadi rahayu lihat di dekat lemari. Rahayu bergegas keluar meninggalkan nirmala, sepertinya makhluk itu tak menyukai kehadiran rahayu tatapannya begitu menakutkan hingga membuat rahayu bergidik ngeri, pikirannya mulai menerawang apakah mungkin itu manten lanang(pengantin laki-laki) tapi kenapa mbak mala tidak tahu atau mbak mala pura-pura tidak tahu?? Saat rahayu sedang asik bergulat dengan pikirannya tanpa sadar ia menabrak nyai widuri hingga pinggan(nampan) yang dibawa rahayu terjatuh.


“maaf nyai maafkan saya, saya tidak sengaja”


“wes weroh”(sudah lihat)


Mendengar pertanyaan nyai widuri nirmala bingung, apa yang sudah dirinya lihat.


“maaf nyai lihat apa ya?”

__ADS_1


“ikuti aku”


Rahayu mengikuti langkah kaki nyai widuri, nyai widuri membawa rahayu jauh ke lorong bagian rumah yang tak pernah ia tahu jika dirumah ini terdapat lorong , sisi kanan dan sisi kiri sejauh mata memandang banyak sekali daun-daun pintu yang ukirannya berbeda-beda, ada ukiran macan, ular, buaya dan lain sebagainya, setiap pintu digembok dan dirantai yang sudah berkarat seolah sudah lama sekali pintu-pintu itu tidak dibuka, tak hanya itu yang membuat rahayu tambah ngeri disetiap pintu terdengar jeritan, tangisan, rintihan yang memilukan seolah-olah orang yang didalamnya sedang merasakan kesakitan yang luar biasa . Nyai widuri membuka salah satu daun pintu yang berada di paling ujung, pintu itu tak memiliki ukiran sama sekali seperti halnya pintu yang lain, saat pintu itu terbuka rahayu mencium bau anyir yang sangat menyengat hingga ia menutup hidungnya menahan agar dirinya tidak memuntahkan isi perutnya. Ruangan itu sangat gelap dan lembap seolah ada hal yang terasa berbeda dari ruangan ini. Rahayu mencoba membuka matanyanya lebar-lebar agar bisa melihat apa yang ada diruangan ini tapi gelapnya ruangan membuat indra penglihatan rahayu tak dapat menangkap apa-apa. Rahayu merasa tak nyaman berada ditempat ini, tempat macam apa ini sampai-sampai orang yang berada diruangan ini nafasnya terasa tercekik. Nyai widuri menyalakan lilin yang ada dibeberapa sudut ruangan, seketika wajah rahayu pucat pasi, jantungnya berhenti berdetak tubuhnya yang tadinya merasakan dingin berubah menjadi panas yang menciptakan peluh disekujur tubuhnya. Matanya melotot memandangi sesuatu yang berjajar didinding. Sesuatu yang ia tahu apa itu, ya abdi dalem seperti dirinya dengan leher dipasak menempel didinding. Kengerian seketika menyelimuti rahayu, rumah macam apa ini , dengan siapa sebenarnya dirinya sedang berhadapan.


“aku ngerti awakmu duweni keluwihan sing ora kabeh wong duweni, ambune awakmu ngerti wangi sing ono ning awakmu iku wangi apa?”(aku tahu kamu punya kelebihan yang gak semua orang punya, aroma tubuhmu tahu wangi apa yang ada ditubuhmu?)


“wangi pandan nyai”


Kata orang tua rahayu, ketika ibunya melahirkan rahayu dari tubuh rahayu tercium bau pandan, dan dukun bayi yang membantu persalinan itu mengatakan jika rahayu anak yang istimewa berbeda dengan anak-anak pada umumnya.


“dari awal aku nolak awakmu tinggal ning omah iki tapi aku rak duwe kuasa mergo kanjeng ratu sendiri sing kepingin awakmu tinggal ning kene, opo sing mbok weruhi ning kene cukup simpen kanggo awakmu dewe, kowe kudu ngerti batasanmu ning kene kui sopo, nek rak kepingin nasibmu podo karo wong-wong kui”(dari awal saya menolak kamu tinggal dirumah ini tapi aku gak punya kuasa karna kanjeng ratu menginginkanmu tinggal disini, apa yang kamu lihat disini cukup simpan untukmu sendiri, kamu harus tau batasanmu disi itu siapa, jika kamu gak ingin bernasib seperti mereka)


“iya nyai”


“lungo”(pergi)


Rahayu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, ingin rasanya segera menghirup udara segar, rahayu bergumam disepanjang jalan “Mimpi apa aku sampai harus tinggal dirumah kayak gini, kalau gak karena harus menebus keselamatan orangtuaku gak sudi aku tinggal ditempat seperti ini”.


“Rahayu, soko endi wae tah awakmu?”(rahayu, dari mana saja kamu ini?)


Mbok yem memukul pundah rahayu “ihhh lha mbok pikir aku demit”.(kamu pikir aku hantu)


“ana apa mbok?”(ada apa mak)


“iku aku krungu suara lonceng soko kamar nimas”(itu aku denger suara lonceng dari kamar si mbak)


“matursuwun mbok”(terimakasih mak)


Rahayu bergegas menuju kamar nirmala, seperti biasa sebelum masuk rahayu membunyikan lonceng tiga kali lalu masuk kedalam kamar nirmala. Sesampainya didalam kamar nirmala, mata rahayu menelisik keseluruh sudut-sudut rungan kamar nirmala, berharap nganten lanang gak muncul.


“Yuk, kamu darimana saja sih kok lama banget”


“maaf mbak tadi rahayu dari belakang, jadi gak denger mbak mala bunyiin lonceng”

__ADS_1


“yuk kok aku rasane rak nyaman yo yuk ono ning ruangan iki”(yuk aku merasa tidak nyaman berada diruangan ini)


“emmm yo opo to mbak”(emmm gak ada apa-apa mbak)


“tapi koyok ono sing ngancani yuk rasane”(tapi seperti ada yang menemani yuk)


“perasaane mbak mala wae mungkin”(perasaan mbak mala saja mungkin)


“yuk aku oleh takon?”(yuk aku boleh bertanya?)


Rahayu mengangguk


“opo sing mbok werohi mau yuk ning lemari kui”(apa yang kamu lihat tadi yuk di lemari itu)


“ndak ada apa-apa tadi seperti ada tikus disana, tapi sekarang sudah gak ada tikusnya, soalnya aku wedi mbak sama tikus”


Walaupun sebenarnya nirmala ragu dengan jawaban rahayu tapi nirmala tak ingin memaksa rahayu, sepertinya rahayu enggan membahas soal itu.


“sampeyan istirahat yo mbak, ben ngisuk sampean kuat posone”(kamu istirahat ya mbak, biar besok pagi kuat puasanya)


Sampai tengah malam nirmala masih terjaga, perasaannya sangat-sangat tidak enak seperti ada yang sedang memandangi dirinya, tapi nirmala tak melihat siapapun dikamarnya kecuali dirinya sendiri. Nirmala menenggak segelas air dan kembali merebahkan tubuhnya dikasur.


Saat pagi tiba nirmala merasakan seluruh anggota tubuhnya sangat pegal terutama dibagian intimnya terasa sangat ngilu. Seingatnya sebelum nirmala benar-benar tertidur ia mencium bau bunga sembujo yang semerbak yang membuat nirmala merasa kantuk yang teramat sangat. Lonceng berbunyi tiga kali itu tanda kedatangan rahayu. Rahayu melihat jika tuannya sedang tidak dalam kondisi baik. Rahayu segera mendekati nirmala yang sedang duduk di samping kasur sembari memijat-mijat tengkuk lehernya. Tapi perhatian rahayu tidak tertuju kepada nirmala, tapi kasur tempat nirmala tidur ada noda bercak darah dan rambut hitam berhamburan hanya saja ukurannya lebih tipis dan lebih pendek. Ingatan rahayu kembali kesosok makhluk yang ia lihat tempo hari dikamar nirmala mungkinkah itu rambut makhluk itu???jika dilihat dengan seksama itu bukan rambut melainkan bulu. Rahayu meminta nirmala untuk duduk dimeja riasnya agar rahayu dapat segera membersihkan bulu-bulu itu dari tempat tidur nirmala.


“yuk badanku sakit semua, oleh rak yen dino iki aku ora poso”(yuk badanku sakit semua, boleh gak jika hari ini aku tidak puasa)


“sabar ya mbak, ini sudah hari kedua”


Seperti hari-hari biasanya rahayu melakukan tugasnya melayani nirmala. Hingga hari-hari berikutnya nirmala menjalani pingitan rahayu menyadari jika tubuh nirmala makin hari makin kurus dan selalu hal yang sama yang rahayu temukan ditempat tidur nirmala serta nirmala selalu mengeluh tubuhnya terasa pegal dan organ intimnya yang terasa ngilu. Hingga tepat dihari ketujuh nirmala menalani puasa pingitan nirmala terlihat lebih segar dari biasanya. Nirmala terlihat sumringah dan selalu menyunggingkan senyuman. Rahayu yang penasaran dengan perubahan sikap nirmala memberanikan diri untuk bertanya.


“ketokke isuk iki mbak mala seger banget?”(pagi ini mbak mala terlihat sangat segar)


Tak menjawab pertanyaan rahayu nirmala malah tersenyum.

__ADS_1


“kenek opo sih mbak,oh ngono ya nek lagi seneng aku rak diweruhi”(ada apa sih mbak, oh gitu ya kalo lagi seneng aku gak dikasih tau)


Lalu nirmala bercerita jika setiap malam sebelum tidur ia selalu mencium bau bunga sembujo yang membuatnya bisa tertidur lelap, tak seperti malam yang sebelumnya malam itu nirmala bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan, wajahnya yang rupawan membuat nirmala jatuh cinta hingga nirmala dan pemuda yang ada dimimpinya melakukan hubungan intim (hubungan layaknya suami istri) tapi yang membuat nirmala terkesan rasanya sangat-sangat nyata, wajah nirmala sangat berseri-seri saat menceritakan hal itu kepada rahayu.


__ADS_2