
Kami beristirahat cukup tenang malam itu tanpa gangguan apapun dari demi yang menghuni hutan ini. Sehingga pagi harinya kami memiliki cukup tenaga untung melanjutkan perjalanan kami.
“Kalo pagi udara dihutan ini sejuk banget ya” Aku menghirup udara segar yang dihasilkan dari pepohonan yang hijau, yang memberiku sedikit semangat untuk memulai petualanganku hari ini. Hari baru harapan baru, aku berharap hari ini aku menemukan tempat dimana ibu berada.
“Nih makan” Pras melemparkan sebuah pisang kearahku dan juga Bara tentu saja aku menerimanya dengan senang hati setidaknya pisang ini cukup untuk menganjal perut kami.
“Terimakasih Pras” Ucapku
“Kanthi ambil pisang ini” ucap Pras dengan lembut
“Cieeee ekhhmmm sejak kapan balok es ini mencair Jaeda?” Ledek Bara yang melihat keromantisan itu.
“Terimakasih Pras” ucap Kanthi malu-malu
Setelah menyelesaikan sarapan kami melanjutkan perjalanan kami, kali ini kami sudah tau tempat apa yang akan kami tuju. Ki Ageng yang memberitahuku tempat pertama yang harus aku temui adalah sebuah Goa, dari cerita Ki Ageng Goa itu merupakan tempat dimana salah satu petunjuk soal ibuku berada. Kami terus berjalan membelakangi matahari sehingga tak ada lagi cahaya dari matahari yang dapat menembus tempat itu. Tiba-tiba saja sesuatu dihadapanku mengagetkanku, demit anak kecil bermunculan dari balik pohon dan seketika tempat ini ramai dipenuhi tawa cekikikan dari demit anak kecil yang berlarian kesana kemari dan sesekali mengagetkan kami dengan menjatuhkan kepalanya dihadapan kami. Walaupun sudah beberapa kali kami bertemu berbagai bentuk demit tetap saja apa yang sekarang ada dihadapanku membuat tubuhku merinding.
Satu hal yang membuatku terkejut lebih dari bertemu demit anak kecil yang bergantian menjatuhkan kepalanya itu. Dihadapan kami terjatuh jasad seorang manusia, dari setiap lubang ditubuhnya keluar hewan ludeng(kaki seribu) rupanya hewan-hewan itu menghisap darah dari tubuh wanita malang itu. Yang membuatku jatuh terduduk wanita itu adalah seseorang yang kami kenal.
“Mayang itu Mayang” Teriak Kanthi
Ketika Kanthi akan mendekati jasad Mayang, Pras segera menarik Kanthi menjauh dari jasad Mayang.
“Jangan mendekat, ini adalah bayaran yang harus wanita itu terima” ucap Pras
“Apa maksudmu Pras?”
“Dia tak benar-benar ingin membantu kalian melainkan ia ingin membuat penawaran dengan menjadikan kalian sebagai tumbalnya”
“Tapi mengapa Mayang melakukan itu?”
__ADS_1
“Ia ingin menuntut balas atas kematian ketiga temannya, dan juga atas dirinya yang menjadi cacat seperti sekarang ini”
Mendengar semua penjelasan Pras membuat hatiku semakin sakit, aku tak kuasa menahan air mataku. Aku mendekati jasad Mayang, Bara yang mencoba menghalangiku mengurungkan niatnya, ia tahu jika aku tidak akan seceroboh itu.
“Mayang, maafkan atas semua yang telah dilakukan ibuku padamu semoga kamu tenang dialam sana dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya” Sebuah doa kupanjatkan untuk Mayang, setidaknya hanya itu yang dapat kulakukan.
“Khakhakhakha…” Sesosok makhluk bertubuh separuh ludeng berkepala manusia keluar dari sebuah batu besar yang tertutup semak belukar.
“Itu disana” Rupanya makhluk itu keluar dari sebuah Goa, apa Goa itu yang dimaksud oleh Ki Ageng.
Kedatangan makhluk itu diiringi ribuan ludeng yang mengelilingi kami, demit anak kecil yang tadi memenuhi tempat ini satu persatu mulai menghilang seolah takut dengan makhluk manusia ludeng itu.
“Kowe kabeh bakal dadi boloku nang kene khikhikhi”(Kamu semua akan jadi temanku disini) ucap salah seorang demit anak kecil itu yang kemudian menghilang.
“Pras bagaimana ini”
“Khakhakhakha” Melihatku makhluk itu tertawa semakin keras seolah aku bukan lawannya.
“Aku tidak ingin mencari masalah denganmu, kedatanganku disini aku hanya ingin mencari dimana keberadaan ibuku” ucapku sembari menahan tubuhku yang mulai bergetar berada sedekat ini dengan makhluk yang sangat menyeramkan.
“Kau tidak akan bisa menyelamatkan ibumu, dia sudah terikat dan tak akan pernah bisa lepas”
“Tunjukkan dimana ibuku berada”
“Terkutuk, beraninya bocah ingusan sepertimu memerintah diriku. Kalian tidak akan bisa pergi dari hutan ini dan tak akan pernah ada yang menemukan jasad kalian”
Ucapanku membuat makhluk itu marah dan seketika ribuan ludeng menyerang tubuh kami. Kami berusaha untuk menjauhkan ludeng ini dari tubuh kami namun jumlahnya yang sangat banyak tidak akan mungkin jika kami akan selamat. Bara baru teringat jika hewan ini menginginkan darah ditubuh kami. Bara mengambil benda sekenanya disekitarnya menggoreskan benda itu ke lengannya hingga darah segar mengalir Bara berlari, aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini segera ku ambil tusuk konde berbentuk bunga kantil berwara emas yang berada dibawah ekor makhluk itu.
“Pras, Kanthi lari” Aku berteriak sembari berlari sekencangnya mengikuti arah Bara berlari. Makhluk itu terus mengejar kami untung saja seseorang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
“Kalian tetaplah berlari ikuti cahaya matahari makhluk ini akan berhenti mengejar kalian saat tubuh kalian terkena sinar matahari”
“Tapi bagaimana dengan Ki Ageng”
“Jangan khawatirkan saya, pikirkan saja keselamatan kalian”
Kami terus berlari sampai cahaya matahari mulai terlihat, benar apa yang diucapkan Ki Ageng makhluk itu tak lagi mengejar kami. Kami menarik nafas sejenak, sembari mengumpulkan kembali tenaga kami setelah tadi lari marathon.
“Bara, apa lenganmu tidak apa-apa?”
“Tenang saja ini hanya luka kecil, aku bisa tahan kok”
Aku mengambil beberapa dedaunan yang ada disekitar hutan ini mengunyahnya dan ku tempelkan keatas luka ditangan Bara, luka itu cukup dalam bohong jika Bara tidak merasakan nyeri pada luka ditangannya.
“Sejak kapan kamu bisa mengobati seperti ini?”
“Aku hanya mengingat-ingat apa yang aku lihat saat Ki Ageng mengobati lukaku”
“Jaeda, bukankah tusuk konde itu ada ditasmu, bagaimana bisa tusuk konde itu ada pada makhluk tadi?” Tunggu, benar apa yang diucapkan oleh Kanthi, bukankah seharusnya tusuk konde ini ada padaku? Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan tusuk konde ini jauh dariku. Aku segera membuka ranselku mengecek keberadaan tusuk konde itu, benar saja tusuk konde itu tak berada ditempatnya.
“Gadis itu telah menipu kalian, yang dia berikan kepada kalian hanya kotak kosong. Dia memberikan tusuk konde itu sebagai media agar bisa menggantikan nyawa kalian dengan nyawa teman-temannya”
“Lalu mengapa Mayang kehilangan nyawanya?”
“Itulah yang tidak kalian ketahui, tak ada yang namanya tawar-menawar dengan demit, kalua bisa mendapatkan semuanya kenapa harus salah satu”
Kamipun melanjutkan perjalan mengikuti kemana arah matahari sampai aku mencium bau bunga kantil yang semakin lama semakin terasa semerbak.
“Tempatnya sudah dekat”
__ADS_1