KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 30 : Rajam


__ADS_3

Datangnya warga kerumah Nirmala membuat Nirmala semakin kejam. Sekarang Nirmala tak pilih-pilih lagi untuk tumbalnya. Setiap hari selalu saja ada orang yang meninggal di desa itu dari orangtua hingga anak-anak.


Berita mengenai wabah di desa terdengar hingga telinga Wahyu.


“Dek,sampe kapan awakmu iki koyok ngene?”(Dek, sampai kapan kamu seperti ini)


“gak usah campuri urusanku mas”


“Aku ini suamimu, aku berhak atas dirimu”


“Lalu kenapa kau pisahkan aku dengan anakku, mas”


“Aku tidak akan memisahkanmu dengan Jaeda, asal kamu menghentikan semua ini”


“Tidak mas, aku tidak bisa”


“Berapa orang lagi yang akan kamu bunuh , Mala”


“Lepaskan aku mas, biarkan aku memilih jalanku sendiri atau aku tidak segan-segan menghabisimu”


“Kau sudah bukan manusia lagi, Mala”


“Apa bedanya aku denganmu mas, kau membuatku menahan rindu kepada anakku sendiri. Setiap malam aku menangis menahan rinduku pada putriku”


Ditengah perdebatan antara Nirmala dan Wahyu, terdengar suara warga yang memanggil-manggil Nirmala. Warga yang tidak sabar menerobos masuk kerumah dan menyeret tubuh Nirmala.


“Mas tolong aku” Teriak Nirmala


Wahyu yang coba menyelamatkan istrinya terkena hantaman dari seorang warga yang membuat Wahyu tak sadarkan diri.


Nirmala diseret oleh warga ketengah hutan, tangan dan kaki Nirmala diikat disebuah pohon.


“Bajingan”


“Lepaskan aku”

__ADS_1


Nirmala terus berteriak dan meronta, namun tak ada satu pun warga yang kasihan melihat Nirmala. Semua warga mengambil batu dan melemparkan batu itu ke tubuh Nirmala, darah bercucuran dari tengkorak kepala Nirmala. Jeritan minta tolong Nirmala kini berubah menjadi teriakan tawa yang melengking. Warga yang mendengar Nirmala tertawa merasa merinding.


“Wes dibakar wae, ben cepet”(Sudah dibakar saja biar cepat)


Warga menyiram tubuh Nirmala dengan bensin, lalu membakar Nirmala hidup-hidup. Dibalik kobaran api yang membara Nirmala masih terus-menerus tertawa. Hingga terucap kata “KANTIL IKI BAKAL GOWO BALAK NING DESO IKI, KOWE KABEH RAK BAKAL SELAMET” seiring dengan ucapan itu , tawa Nirmala tak lagi terdengar.


Malam harinya setelah pembakaran tubuh Nirmala, desa itu terasa sangat gelap namun udaranya sangat panas. Suasananya terasa sangat mencekam, taka da satu pun warga yang keluar rumah. Mereka memilih menutup pintu rumah mereka.


“buk, opo meh udan yo kok hawane sumuk banget”(Buk, apa mau hujan yak ok hawanya gerah sekali). Tanya pak Sigit kepada istrinya


“Iya ya pak, rak koyok biasane. Perasaane ibuk kok rak penak ya pak”(Iya ya pak, tidak seperti biasanya) Perasaannya ibuk kok gak enak ya pak)


“awakmu mambu rak buk, aku koyok mambu kembang kantil”(kamu nyium bau gak buk, aku seperti nyium bau bunga kanti)


“Pak….”


Pak sigit dan istrinya teriak sembari berlari kekamarnya, dimana anaknya sedang tertidur. Istri pak sigit jatuh pingsan melihat anaknya digendong oleh sosok yang menyerupai Nirmala. Namun sosok itu memiliki luka melepuh disekujur tubuhnya seperti habis terbakar.


“Balikke anakku, opo karepmu”(kembalikan anakku, apa maumu)


“Apes tenan” sambat pak sigit


“Ono opo pak” tanya Hasan


“Mau mbengi Nirmala teko nang omahku”(Tadi malam Nirmala datang kerumahku)


“Untung wae ora suwe, nanging Nirmala sempet gendong anakku”(Untung saja tidak lama, tapi Nirmala sempat gendong anakku)


Hasan dan yang lain tak percaya mendengar apa yang baru saja pak sigit ceritakan. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati datang kembali, jika tidak untuk menepati janjinya untuk membalaskan dendamnya.


Kini orang-orang di desa itu tidak pernah lagi beraktivitas dimalam hari. Karena setiap hari ada saja gangguan dari Nirmala. Setiap kali kedatangannya selalu diawali dengan bau bunga kantil. Nirmala mendatangi satu persatu warga yang sudah menghabisi nyawanya secara keji.


Malam itu syamsudin baru pulang kerja pukul 10 malam, arah menuju rumahnya melewati rumah keluarga Catra. Sekedar info setelah kematian Nirmala rumah keluarga Catra sudah tidak ada lagi penghuninya, semua abdi yang bekerja dirumah itu sudah kembali ke keluarga masing-masing begitu juga dengan Rahayu. Sedangkan Wahyu suami Nirmala kembali kerumah kedua orangtuanya, dan membesarkan putri kecilnya Jaeda. Lanjut ke syamsudin. Saat syamsudin mengayuh sepeda ontelnya melewati rumah keluarga Catra syamsudin mendengar sayu-sayu suara orang menangis. Karena penasaran akhirnya syamsudin nekat mencari sumber suara itu.


Kakinya melangkah masuk ke rumah keluarga Catra, kini Syamsudin sudah berada di pelataran rumah keluarga Catra, suara itu semakin jelas terdengar. Syamsudin melihat seorang wanita tengah duduk membelakangi dirinya. Syamsudin yakin suara tangisan itu berasal dari wanita itu.

__ADS_1


"mbak sampean lahopo Nang kene?"( mbak kamu ngapain disini?)


syamsudin semakin mendekati wanita itu, saat tangannya mencoba menepuk bahu si wanita Syamsudin merasakan tengkuk lehernya terasa dingin. Iya mengusap tengkuh lehernya dan sesaat tercium bau bunga kantil Syamsudin sadar bahwa dirinya sedang berada di rumah Catra. Suara tangisan wanita itu berhenti, kepala wanita itu berputar 180 derajat melihat kearah Syamsudin dengan tatapan melotot. syamsudin bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu melepuh , tulang-tulang tengkorak nya terlihat sangat jelas. Kini bau kembang kantil itu berubah menjadi bau busuk yang menyengat. Syamsudin tak dapat bergerak semua indera ditubuhnya seakan tak dapat berfungsi. Jantungnya berdegup tak karuan, hanya satu yang dapat Syamsudin rasakan celananya sudah basah, Syamsudin tidak lagi dapat menahan ketakutannya hingga dia mengompol.


Pagi harinya Syamsudin ditemukan oleh pak Marno yang dulunya seorang abdi sekaligus supir pribadi keluarga Catra. syamsudin tak sadarkan diri. Pak marno meminta bantuan warga untuk menyadarkan Syamsudin.


Beruntung nya Syamsudin masih bisa selamat, walaupun dirinya terkena stroke, bicaranya tidak jelas.


"iii .....aaaa...laaaa......" sembari jarinya menunjuk-nunjuk kerumah Catra.


Pak marno melarang warga untuk mendekati rumah ini, tak ingin kejadian seperti yang dialami Syamsudin terulang kembali. Warga menyetujui itu bahkan ada beberapa warga yang mengusulkan untuk membakar rumah itu. Namun sebagian lagi menolak, tak ingin jika dirinya terkena sial.


Pak marno mengunci gerbang rumah keluarga Catra , agar tak ada satupun orang yang dapat masuk.


Namun rasa penasaran Manusi kadang membuat manusia itu sendiri terjerumus. Mitro dan Hasan yang penasaran dengan rumah Catra memutuskan untuk masuk kedalam rumah tersebut. Walaupun pak Marno sudah menggembok gerbang utama , mereka tidak kehabisan akal.


"Tro, digembok Iki"


"Aku Reti dalan liyane, ayok melok aku"(aku tahu jalan lain, ayok ikut aku)


Hasan dan Mitro mutar kearah belakang rumah memanjat dinding rumah.


"San, mampu kembang ...jianchok"


"Alah tanggung tro, aku wes kadung penasaran"(alah tanggung tro, aku sudah terlanjur penasaran)


"San, mbalik wae yok"


"Jireh nemen Kowe tro"(Penakut sekali kamu tro)


"onok sing lewat, su"(ada yang lewat)


"bayanganmu thok paling"(bayanganmu saja mungkin"


Mereka berdua terdiam , nyali mereka mendadak menciut saat dihadapannya berdiri sosok hitam tinggi berbulu, dengan mata melotot merah menyala, giginya memperlihatkan taring, kuku-kukunya sangat panjang, lidahnya menjulur keluar sampai menyentuh lantai.

__ADS_1


__ADS_2