KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 31 : Pethuk Mati


__ADS_3

“Opo sing di lakokno anakmu nganti iso koyok ngene?”(Apa yang silakukan anakmu sampai bisa seperti ini). Ucap mbah Topo dengan nada marah


“Kembang kantil ireng mbah, deweke rak sengojo metik kembang kuwi nang omahe Catra”(Bunga kantil hitam mbah, dia tidak sengaja metik bunga itu di rumah Catra).


“Yen ameh jupuk opo-opo sing uduk duweke dewe kudu ijin, ngunu unggah ungguhe. Kabeh sing ono nang ndunyo iki ono sing duweni. Opo maneh jupuk opo wae sing ono nang lemah layat yo ngeneiki dadine nek sing duwe orak seneng duweke dijupuk”(Jika mau mengambil apa saja yang bukan punya kita harus ijin, begitu tata kramanya. Semua yang ada didunia ini ada yang punya. Apalagi mengambil apapun yang ada ditanah tumbal ya seperti ini akibatnya jika pemiliknya tidak suka kepunyaannya diambil).


Dihadapan mbah Topo terbaring gadis muda yang usianya sekitar enam belas tahun, namanya Mira. Jam pulang sekolah Mira dan bersama ketiga temannya berjalan bersama untuk pulang kerumah, namun karena ada satu pelajaran yang kosong Mira dan ketiga temannya pulang lebih awal dari biasanya.


“Mir, baline muter yok aku penasaran pengen weruh omah Catra”(Mir, pulangnya mutar yuk aku penasaran pengen lihat rumah Catra) ajak Dinda


“Emoh ah, aku wes diwanti-wanti karo ibukku ojo medak omah kuwi. Jare ibuk omah kuwi angker akeh demite”(Gak mau, aku sudah diperingatin sama ibukku jangan mendekati rumah itu. Kata ibuk rumah itu angker banyak setannya”


“Jireh banget sih Mir”(Penakut banget sih Mir) ejek Nela sambil tertawa yang diikuti Dinda dan Amel


Kesal mendengar ejekan teman-temannya, Mira akhirnya mengikuti apa kemauan teman-temannya. Lagi pula Mira juga penasaran ada apa sebenarnya dirumah itu sampai ibunya melarang dirinya untuk mendekati rumah itu.


Keempat gadis remaja itu sampai di depan gerbang rumah Catra. Ada perasaan tidak enak yang Mira rasakan setelah melihat rumah itu. Terlebih Mira sudah diperlihatkan oleh salah satu penunggu rumah itu yang terus melihat kearah Mira sambil menggelengkan kepalanya. Karena tidak ingin kembali diejek oleh temannya Mira pun akhirnya ikut membantu Dinda dan yang lain untuk membuka paksa gemboknya.


“Guys, kudu banget ya dewe nglakoni iki?”(Guys, harus banget ya kita ngelakuin ini?)


“Nopo Mir, awakmu keweden po? Mulek dipek gak op-opo Mir yen wedi ckckckck”(Kenapa Mir, kamu ketakutan? Pulang duluan gak apa –apa Mir kalau takut) Ejek Nela


Memang Nela ini mulutnya agak kurang dikasih paham.


“Orak ngunu Nel, ngece temen awakmu. Yen dewe dituduh maling piye?”(Bukan begitu Nel, menghina sekali kamu. Kalau kita dituduh maling gimana)


“Yes kebukak” seru Nela


“Ayok mlebu”(Ayok masuk)


“Ehhh, sek tah ojo bledang-bledeng orak sopan”(Ehhh , sebentar dulu jangan masuk seenaknya gak sopan)


Ketiga temannya tak mendengarkan apa yang Mira katakana mereka mengitari sekitar rumah Catra seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


“Nela, Dinda nang kene?”(Nela, Dinda disini)Teriak Amel. Nela dan Dinda segera berlari ketempat Amel berada.


Mira yang penasaran pun ikut berlari ketempat Amel.


“Awakmu kabeh iki lahopo?”(Kalian semua ngapain?)seru Mira yang mulai gelisah melihat apa yang dilakukan ketiga temannya.


“Iki kuburane Nirmala, kan Din”(Ini kuburannya Nirmala, kan Din) tanya Nela


“Kayane sih iyo Nel”(Sepertinya sih iya Nel) jawab Dinda


Mira merasakan ada yang baru saja lewat dibelakangnya, Mira menoleh kebelakang memastikan jika ada sesuatu dibelakangnya. Namun tidak ada apapun dibelakang Mira. Kecuali rumput ilalang yang tumbuh liar serta bunga kantil yang tumbuh tak terawat.


“Ayo tah bali, wes sore iki”(Ayo dong pulang, sudah sore ini) rengek Mira.


“Ah iyo wes sore, Din, Mel ayo bali lagian wes pethuk juga”(Ah iya sudah sore, Din, Mel ayo pulang lagian sudah ketemu juga)


Mereka berempat meninggalkan rumah Catra.


“Ojo sampek dewe methik kembang sing onok nang omah catra opo maneh kembang kantil ireng”(Jangan sampek kita metik bunga yang ada di rumah catra apalagi bunga kantil hitam) ucap Nela


“Emange nopo Nel”(Emang kenapa Nel?) tanya Mira penasaran


“Mosok awakmu gak weruh Mir”(Masak kamu gak tahu Mir)


Mira menggelengkan kepalanya


“Jare ibukku sopo wae sing jupuk opo wae sing ono nang omah catra dewe bakal ditutke demit”(Kata ibukku siapa saja yang ngambil apapun yang ada dirumah catra akan diikuti demit)


Seketika jantung Mira berhenti berdetak, suhu tubuhnya mendadak dingin.


“Awakmu nopo Mir, tek pucet ngono?”(Kamu kenapa Mir, kok pucat begitu?) Tanya Amel.


“Awakmu gak jupuk opo-opo kan Mir”(Kamu gak ngambil apa-apa kan Mir)

__ADS_1


Mira menggeleng


“Yawestah nek ngunu,aman”(Yasudah kalau begitu aman)


Sialnya mereka sudah sampai di pertigaan jalan dan itu artinya Mira harus berpisah dengan ketiga temannya. Dinda, Amel dan Nela tinggal disatu desa yang sama sedangkan Mira yang tinggal di desa berbeda. Alasan Mira tidak mau mutar saat pulang sekolah karena jika memutar rumah Mira yang paling jauh lokasinya. Mira harus berjalan sekitar lima belas menit lagi. Mira mempercepat langkahnya, ia harus sampai rumah sebelum adzan magrib berkumandang.


Setelah selesai makan malam, Mira membuka-buka buku pelajarannya mengulang kembali apa yang tadi diajarkan. Saat tiba-tiba Mira merasakan wajah dan sekujur tubuhnya terasa gatal.


“Buk, ibuk” Mira mengetuk pintu kamar ibunya


“Awakmu kenopo Mir?”(kamu kenapa Mir) ibu Mira kaget melihat wajah anak gadisnya berlumuran darah serta bekas cakaran.


“Gatel buk, iki gatel banget”(Gatal buk, ini gatal sekali) Mira terus menggaruk wajah dan tubuhnya.


Kulit tubuh dan kulit wajah Mira sudah hancur terkena garukan kuku Mira.


“Pak Meneo, anakke lo pak”(Pak kesini, anaknya ni pak)


“Astagfirullah Mir, kok iso koyok ngene lho?”(Astagfirullah Mir, Kok bisa kayak gini)


“Piye iki pak”(Gimana ini pak)


“Ibu tenang yo, ajak Mira nang kamar tak undangno pak mantri”(Ibu tenang ya, ajak mira ke kamar aku panggilkan pak mantri)


Pak mantri berkata bahwa Mira hanya terkena alegi, namun sudah hampir satu bulan Mira tak kunjung membaik luka ditubuhnya menjadi borok yang mengeluarkan nanah, bahkan matanya sudah memerah. Nirmala sudah tidak bisa melihat karena bola matanya mengalami peradangan. Mira hanya bisa meringik menahan sakit. Mira pun tidak bisa menelan makanan apapun karena dilangit-langit dan seluruh rongga dimulutnya mengalami luka yang sama.


Hari jumat sepulang sekolah semua teman-teman Mira bersama wali kelas Mira menjenguk Mira. Dinda, Amel dan Nela terperanga melihat keadaan temannya. Mereka mengadakan doa bersama untuk kesembuhan Mira. Saat semua berpamitan Dinda meminta ijin untuk pulang terakhir karena ada sesuatu yang harus Dinda sampaikan kepada kedua orangtua Mira. Terlebih Dinda merasa bersalah karena Dinda yang pertama kali mengajak Mira untuk pergi kerumah Catra.


“Sepurane nggeh buk, pak Dinda rak reti yen bakale dadi koyok ngene”(Maaf ya buk, pak, dinda gak tahu kalau akan jadi seperti ini)


“Wes, gak opo-opo kabeh wes kedadean orak ono sing perlu disalahke doake wae mugo-mugo Mira ndang mari yo Din”(Sudah, tidak apa-apa semua sudah kejadian tidak ada yang perlu disalahkan doakan saja Mira lekas sembuh)


Ternyata saat berada di rumah Catra, Dinda sempat memergoki Mira memetik kembang kantil ireng tapi saat Dinda menegur Mira, Mira mengelak memetik bunga itu.

__ADS_1


__ADS_2