KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 29 : Sengkolo


__ADS_3

Menjelang adzan subuh wahyu bangun untuk menunaikan sholat, saat dirinya ingin membangunkan istrinya, ternyata Nirmala sudah tidak ada ditempat tidurnya. Wahyu yang kala itu tak berfikir macam-macam segera menyusul Nirmala untuk mengambil air wudhu. Sesampainya, di tempat wudhu wahyu tak mendapati istrinya. Adzan subuh sudah berkumandang, Wahyu segera mentunaikan sholatnya. Selesai sholat wahyu menunggu Nirmala, namun istrinya tak kunjung kembali.


Wahyu mencari keberadaan Nirmala hingga hari menjelang petang, Nirmala tak kunjung kembali. Wahyu mulai cemas, kemana istrinya pergi kenapa Nirmala tidak pamit kepada dirinya. Wahyu yang kala itu sudah putus asa, meminta bantuan warga untuk mencari keberadaan Nirmala.



Tiga bulan lamanya Nirmala menghilang tanpa meninggalkan jejak, segala upaya Wahyu lakukan untuk menemukan Nirmala. Seperti biasa Wahyu selalu bangun sebelum adzan subuh, Wahyu melihat Nirmala sedang tidur disamping dirimya, wahyu tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.


“Dek, ini kamu?”


“Apa to mas, aku masih mengantuk”


“Kamu dari mana saja, ayo bangun sholat dulu”


“Mas saja dulu aku masih mengantuk”


Wahyu mendekati istrinya yang sedang menyisir rambut di depan cermin, Wahyu membelai mesra rambut istrinya. Nirmala tersenyum melihat tingkah manja suaminya.


“Kamu pergi kemana sih dek tiga bulan ini?”

__ADS_1


“Gak kemana-mana mas”


Seakan enggan menjawab pertanyaan suaminya, Nirmala memilih menghindar dari suaminya. Wahyu menyadari ada hal yang berbeda dari istrinya. Wahyu dan Nirmala hanya terpaut dua tahun , diusia yang semakin tua wahyu mengalami perubahan fisik yang signifikan dari kulit yang mulai keriput, terkadang tumbuh uban dirambutnya. Namun tidak dengan istrinya Nirmala, diusia yang semakin tua Nirmala semakin terlihat cantik dan berkharisma.


Sekembalinya Nirmala kerumah Catra, kejadian demi kejadian terus terjadi. Seperti desa dimana Nirmala tinggal terkena sengkolo (wabah), satu persatu anak kecil di desa itu jatuh sakit, dan berujung kematian. Warga desa menyebutnya wabah kantil, karena setiap balita atau anak-anak yang jauh dari ibunya akan kejang-kejang lalu meninggal. Salah satu yang terkena wabah kantil adalah anak dari pasangan mbak Lika dan Mas Putra. Mereka memiliki anak balita berusia tiga tahun namanya Adel. Mbak Lika dan Mas Putra keluarga yang sederhana , sehingga mbak Lika juga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga kecilnya. Adel dititipkan oleh tetangga sebelah rumahnya selama mbak Lika bekerja dan akan dijemput seusai mbak Lika pulang kerja. Tapi hari itu mendadak badan Adel panas, dan panasnya sangat tinggi mbak ratna yang waktu itu dipasrahi mbak Lika untuk menjaga Adel bingung dengan kondisi Adel. Adel terus menangis dan memanggil-manggil ibunya.



Kepanikan mbak Ratna bertambah saat kondisi Adel tak kunjung reda meskipun sudah diberi obat penurun panas oleh mbak Ratna. Akhirnya mbak Ratna meminta mbak Lika untuk segera pulang. Yang bikin aneh adalah ketika melihat mbak Lika, Adel seketika sembuh dan berhenti menangis. Kejadian itu berulang selama seminggu, hingga akhirnya mas Putra meminta mbak Lika untuk berhenti bekerja dan mengurus Adel.




Tak hanya itu setiap malam Warga yang meronda keliling kampung sering mendengar, tangisan seorang wanita. Tangisannya begitu memilukan seperti seorang ibu yang tengah merindukan anaknya. Keadaan ini membuat warga panik dan khawatir. Warga berunding untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.


“Wes okeh bayi sing mati yen iki dijarke wae iso-iso menungso nang deso iki entek”(Sudah banyak bayi yang meninggal jika dibiarkan saja bisa-bisa manusia didesa ini habis) ucap mitro


“Aku yakin pelakune Nirmala, sopo maneh wong nang deso iki sing ngelmu selaine wong kuwi”(Aku yakin pelakunya Nirmala, siapa lagi orang di desa ini yang ngilmu selain orang itu)

__ADS_1


“Sabar dulu, jangan gegabah” Pak RT mencoba menenangkan


“Aku wes rak iso tenang pak RT anakku adi korbane”(Aku gak bisa tenang pak RT anakku jadi korbannya) sahut mas Putra


Warga berbondong-bondong mendatangi rumah Nirmala, kemarahan mereka menggebu-gebu.


“Ada apa ini” Tanya Wahyu yang kaget melihat didepan rumahnya sudah banyak warga yang penuh kemarahan


“Kon metu bojomu”(Suruh keluar istrimu)


“Onok opo jane iki”(Ada apa sebenarnya ini)


“Cuihhhh rak usah sok apik”(gak usah sok baik)


Nirmala keluar dengan santai tanpa beban apapun, seketika semua warga yang tadinya dipenuhi kemarahan diam menunduk taka da yang berani menatap Nirmala.


“Onok opo to iki, opo ora iso diomongno apik-apik”(Ada apa ini, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik)


Warga saling pandang satu sama lain taka da satu pun yang berani berbicara. Akhirnya warga satu persatu memilih untuk pergi. Nirmala menyunggingkan bibirnya dan kembali masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2