
Selama tiga hari tiga malam kami bertirakat dan usaha kami membuahkan hasil, aku mencoba memanggil roh bapak dan aku merasakan ada yang menyentuh bahuku.
"Bapak!!!" Mata ku tak kuasa menahan air mata rasa rinduku kepada bapak membuatku menitihkan air mata.
"Jaeda, kamu harus kuat yang kamu hadapi tidaklah mudah" Benar yang bapak ucapkan aku tidak boleh cengeng di kondisi seperti ini.
Sekarang giliran Bara yang mencoba memanggil sukma paman, tak butuh waktu lama sukma paman sudah berada di raga Bara. Kanthi dan Pras melakukan hal yang sama dengan yang aku dan Bara lakukan. Namun Dathuk tidak dapat masuk ke dalam tubuh Pras, tapi itu tidak masalah karena Pras juga memiliki ilmu bela diri dan ilmu kanuragan yang dimilikinya sewaktu hidup.
Kami bersiap untuk kembali ke gapura itu, jika dilihat dari mata orang biasa gapura itu hanyalah gapura biasa tapi jika seseorang yang memiliki ilmu kebatinan akan melihat betapa mengerikannya dibalik gapura itu. Ribuan makhluk berbagai macam bentuknya sudah bersiap disana. Mereka seperti pasukan yang siap untuk berperang. Melihat jumlahnya yang sangat banyak membuatku gentar begitu juga Bara dan Kanthi aku bisa melihat kecemasan diwajah mereka.
"Genggamlah tasbih yang kamu simpan ditasmu Jaeda jangan berhenti berdzikir" ucap roh bapak padaku. Aku membuka tasku dan mengambil tasbih peninggalan bapak aku melilitkan tasbih itu ke telapak tanganku.
"Kihh kih kih kih" Tawa dari makhluk yang berbentuk nenek tua dengan gigi hitam dan rambut putih acak-acakan terdengar menggema ditengah makhluk-makhluk yang berdiri dibalik gapura.
"Yang ku tunggu-tunggu sudah datang" ucap nenek itu dengan wajah yang menyeringai dengan gigi hitamnya.
Kanthi, tiba-tiba melangkah melewati gapura itu dengan tatapan kosong.
"Mrene cah ayu, mbok wes ngenteni awakmu"(Kesini anak cantik, mbok sudah menunggu kamu)
"Dukun biadap" Teriak Ki Ageng
"Jangan terpengaruh Jaeda dia adalah mbok Nipah dukun yang sudah menjerumuskan ibumu, tetaplah berdzikir" ucap Bapak
Pras menarik paksa tubuh Kanthi menjauh dari gerbang itu, yang membuat dukun yang bernama mbok Nipah murka ia segera memerintahkan para pengikutnya untuk menyerang kami.
Dengan Sukma dan Roh orang tua kami yang ada di dalam Raga kami. Kami bisa melawan satu persatu para pengikut mbok Nipah.
Roh bapak yang berada di dalam ragaku memerintahkan ku untuk menyelinap ke dalam untuk mencari keberadaan ibuku. Aku mencari celah saat para demit itu tak memperhatikanku aku berlari kedalam tempat dimana ibu disembunyikan.
Namun yang aku lihat membuat tubuhku bergetar makhluk bertubuh besar dengan bulu disekujur tubuhnya yang berwarna hitam legam, giginya yang sangat tajam seta lidahnya yang menjulur keluar hampir menyentuh tangan menghadang ku. Apa yang harus aku lakukan, makhluk itu terus menyerang ku aku sebisa mungkin menghindari serangan dari makhluk itu. Namun serangannya yang bertubi-tubi membuatku kewalahan hingga kukunya yang tajam berhasil merobek punggungku.
__ADS_1
"Jangan sakiti putriku singolangu" seseorang berteriak, suara itu suara ibu . Aku berlari menghampiri ibu, menahan luka yang ada di punggungku.
"Ibu!!!!"
"Jaeda, bukankah ibu sudah memintamu untuk meninggalkan tempat ini?"
"Tidak Bu, Jaeda akan bawa ibu pergi dari sini"
"Tidak Jaeda semua sudah terlambat, kecuali anak itu bersedia untuk menjadi penerus susuk kantil Ireng"
"Baiklah jika itu yang ibu mau, aku bersedia"
"Kanthi???ngapain kamu disini???"
"Jaeda, yang mereka inginkan dari awal diriku aku pasrah Jaeda mungkin ini sudah menjadi bagian dari takdir hidupku"
"Tidak Kanthi tidak ada yang harus ditumbalkan lagi. Meskipun kamu menjadi penerus susuk kantil Ireng gak akan membuat ibu tetap hidup Kanthi. Dukun biadap itu yang akan mendapatkan keabadian dan kecantikannya"
"Rausah kokean mikir, wektumu Ra suwe" (tidak usah banyak berfikir, waktumu gak lama)
Singolangu mencengkeram tubuh ibu, menyerang tubuh ibu bertubi-tubi hingga darah segar mengalir dari tubuh ibu akibat cakarannya. Aku melempar tasbihku yang sedari tadi sudah ku perkuat dengan bacaan tasbih dan dzikir. Rupanya tasbih itu membuat singolangu mengerang kesakitan.
"Bukan ibu atau Kanthi yang harus ku korbankan tapi kamu dukun laknat yang harus ku habisi" Teriakku yang mulai berlari kearah mbok Nipah, beberapa kali seranganku melesat namun Kanthi tidak tinggal diam, ia segera berlari membantuku. Aku mencari celah dan membaca irama serangan mbok Nipah. Saat aku memiliki kesempatan untuk membalas serangannya aku dengan gesit menghunuskan tusuk konde kantil tepat kejantungnya. Seranganku membuat mbok Nipah memuntahkan darah hitam pekat, dari jantungnya yang robek keluar makhluk-makhluk yang selama ini mendiami tubuh mbok Nipah.
Tubuh mbok Nipah berubah semakin mengenaskan kulitnya keriput yang hanya meninggalkan tengkorak. Aku sedikit lega karena dukun itu telah mati. Selesai??? belum??? rupanya mbok Nipah tak kehabisan cara, rohnya merasuki tubuh Kanthi.
"Khiiikhiikhi" Kanthi tertawa dengan suara mbok Nipah. Aku dan yang lain segera membacakan ayat-ayat suci, sekali lagi kulemparkan tasbihku kearah tubuh Kanthi. Tubuh Kanthi tersungkur ke tanah dan terus berteriak kepanasan.
Bara membantu menyadarkan Kanthi, dan aku mencoba menyelamatkan ibu. Namun sepertinya aku harus siap menerima kenyataan. Ikatan ibu dengan mbok Nipah tidak bisa terpisahkan hingga ibu harus ikut pergi dengan mbok Nipah.
"Ibu...Bu bertahan Bu"
__ADS_1
"Jaeda, anakku ibu sayang menyayangimu Jaeda. Terimakasih sudah membebaskan ibu setidaknya ibu bisa terlepas dari siksaan dunia. Maafkan ibu Jaeda ibu sangat menyayangi mu"
"Ibuuuuuuuu, innalilahi wa innailaihi rojiun"
"Jaeda ikhlaskan ibumu Jaeda, setidaknya ibumu sudah terbebas dari siksaannya di dunia. Jaeda putriku jangan pernah tinggalkan apa yang menjadi kewajibanmu sebagai makhluk sang Maha Pencipta Assalamualaikum"
"Bapak... Wallaikumsalam"
"Jaeda, semua sudah selesai sekarang tugas kita menguburkan jenazah ibumu dengan layak" Ucap Bara
"Ayah, maafkan Pras"
"Pras tak ada seorang ayah yang tidak memaafkan anaknya"
"Terimakasih ayah, Pras sudah tenang sekarang"Sukma dathuk dan Ki Ageng menghilang dari hadapan kami
"Pras" ucap Kanthi lirih
"Maafkan aku Kanthi, aku tidak lagi bisa menjagamu semoga kelak kau menemukan pria yang bisa menjaga dirimu"
"Aku akan sering-sering mengunjungi makanmu Pras"
"Terimakasih Kanthi, aku titip dathuk"
Semua kenangan pahit ini, akan menjadi kenangan yang tak pernah aku lupakan. Aku memilih kembali kerumah kakek dan nenek, dan fokus mengajar ngaji dipondok milik kakek.
Tak ada yang pernah dibenarkan dari yang namanya musrik dan menyekutukan Allah. Somoga kita semua dijauhkan dari hal-hal negatif dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Akhir kata saya LinLin selaku penulis mohon pamit, sampai jumpa di cerita selanjutnya.
Semoga semua terhibur, terimakasih yang sudah setia ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir, terimakasih atas dukungan kalian semua.
__ADS_1
Ambil positifnya buang negatifnya. Mohon maaf apabila ada salah kata, dan menyinggung. Cerita ini hanya karangan fiktif belaka. See you ❤️🙏☺️