
“Mbak mala, ada yang mencari”
“iya yuk, sebentar lagi saya keluar”
Selesai merapikan sanggulnya nirmala keluar menemui tamunya, ternyata dela yang berkunjung.
“dari mana kamu tahu rumahku?” tanya nirmala tanpa basa-basi
“maaf ya mala, aku minta alamatmu ke bu laksmi”
Nirmala sudah menduganya jika bu laksmi yang memberikan alamat rumahnya ke pada dela, kalau bukan bu laksmi siapa lagi.
“ohiya mala perkenalkan ini Bram suamiku”
Nirmala menerima uluran tangan bram, menatap mata bram dalam dan menyunggingkan senyum. Semua masih nampak biasa saja masih terlihat normal. Rahayu datang membawa minuman ditangannya.
“monggo mas, mbak disambi”(silahkan mas, mbak diminum)
“matursuwun” dela dan bram serentak
“apa yang membuatmu jauh-jauh sampai kesini del?”
“mala, seperti apa yang aku bilang tempo hari diomah panti, aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kita”
“bukankah semua sudah tertulis jelas dibukumu del”
“iya mala, tapi ada beberapa hal yang harus kamu ketahui. Dugaanmu selama ini salah dela foto perempuan itu memang ibukku tapi beliau bukan bu laksmi melainkan adik bu laksmi”
“lalu?”
“soal kebakaran, aku benar-benar tidak berniat meninggalkanmu nirmala, semua terjadi begitu cepat, dikepanikan anggun dan nur menarik tanganku untuk segera keluar”
“jadi…kalian melupakanku atau kalian sengaja melakukan itu?”
“tidak mala, kami tidak ada niat jahat sedikitpun sama kamu. Dan yang mencoret namamu dari buku harianku bukan aku mala, aku pun tidak tahu siapa yang melakukannya”
“bagaimana dengan janjimu? Janji yang kau khianati dela” nirmala menatap tajam kearah dela.
Dela mendekatkan tubuhnya kearah nirmala, diraihnya kedua tangan nirmala.
“mala, maafin aku. Aku terpaksa melakukan itu aku ingin hidup lebih baik dan mengejar impianku mala. Maaf jika aku telah menyakitimu, sebagai permintaan maafku untuk menebus janjiku kamu boleh mengambil apa yang menjadi kepunyaanku mala” Dela memeluk nirmala
Nirmala melihat kearah Bram suami dela. Ya, Bram yang nirmala inginkan. Nirmala menatap Bram dengan sangat tajam, menyunggingkan senyum dibibir manisnya sampai bram benar-benar terpikat oleh kecantikan nirmala. Sedari tadi bram tak henti-hentinya menatap kearah nirmala tanpa berkedip sedikit pun.
“baiklah dela, akan ku pikirkan lagi”
“terimakasih nirmala, kau memang sahabat terbaikku”
Nirmala tersenyum tak menjawab
“mala, boleh aku numpang ke kamar kecil?” ijin dela
“boleh, kamu kebelakang saja nanti disana ada gadis yang tadi mengantar minum, nanti dia akan mengantarmu”.
Dela pergi meninggalkan, nirmala dan suaminya berdua. Taka da percakapan apapun antara bram dan nirmala. Nirmala berjalan mendekati bram, duduk dipangkuan bram membelai wajah bram dengan jemarinya, dari mata, hidung, bibir bram, diakhiri dengan bisikan suara lembut nirmala ke telinga bram. Seperti dihipnotis bram merasa jantungnya berdetak lebih cepat seperti biasanya, dahinya mulai berkeringat. Dela yang sudah selesai kembali ke tempat nirmala dan bram berada.
“mas, kamu kenapa? Kamu sakit?” dela mengusap keringat di dahi bram namun bram menepis tangan dela.
“aku gak apa-apa” dela terhentak saat suaminya menepis tangannya, karena tak biasanya bram bersikap kasar kepadanya. Bram adalah pria yang selalu bersikap lebut kepada dela, jangankan untuk bersikap seperti tadi berbicara dengan nada keras saja bram tidak pernah. Dela menepis semua prasangka buruk dihatinya, mungkin suaminya memang sedang tidak enak badan.
Nirmala yang menyadari perubahan sikap bram kepada dela tersenyum menang, bukankah dela yang memperbolehkan nirmala untuk mengambil apapun dihidup dela, jadi gak ada salahnya jika nirmala mengambil bram dari hidup dela.
Dela ijin pamit kepada nirmala, karena dirasa nirmala sudah menerima permintaan maaf dela dan mau memahami keadaan yang dulu terjadi. Saat dela dan bram berjalan kearah mobil dela berjalan lebih dulu di depan bram, saat dari kaca mobil dela melihat nirmla membelai tangan bram. Dela tersentak, melihat kejadian itu, seketika dela menoleh kearah bram dan nirmala, tapi taka da yang terjadi diantara mereka. Lagi-lagi dela menepis pikiran buruknya, mungkin hanya bayangan yang dela lihat hanya bias kaca mobil saja karena jarak bram dan nirmala yang lumayan dekat. Dela melambaikan tangan kearah nirmala, yang dibalas senyuman oleh nirmala.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, bram hanya diam saja. Tak seperti biasanya suaminya mengabaikannya. Apa suaminya benar-benar sedang tidak enak badan.
“mas, mas kenapa dari tadi diam saja, gak seperti biasanya?”
“aku gak apa-apa” jawab bram ketus yang membuat dela semakin kesal
“mas ini kenapa sih, dari tadi aneh banget?” kesal dela
Bram menginjak rem mobilnya mendadak membuat dela hampir terpental kedepan, untung saja dela mengenakan seatbelt.
“mas, bisa pelan gak sih nyetirnya?”
“KAMU ITU BISA DIEM SEBENTAR GAK SIH, AKU TUH LAGI MALAS DENGER KAMU NGOCEH, BIKIN AKU GAK FOKUS NYETIR TAU GAK!!!!” bentak bram
“mas bentak aku?”
Bram tak menghiraukan dela, bram kembali menyetir mobilnya. Dela masih tak habis percaya dengan apa yang dilakukan suaminya, ini adalah kali pertamanya suaminya membentak dan berkata kasar. Dela hanya bisa menangis, meluapkan kekecewaannya. Taka da kata maaf yang terucap dari bram.
Dela mencoba mengalah, karena sejak siang tadi suaminya belum menemuinya bahkan seolah mengacuhkannya.
“mas, masih marah sama aku? Maafin aku, kalau aku salah” dela menyandarkan kepalanya ke bahu bram, namun bram malah menghindar.
“mas capek mau istirahat” bram pergi menuju kamarnya
Dela semakin cemas dengan perubahan sikap suaminya, biasanya sebelum tidur bram selalu mencium kening dela, jangankan mencium kening bram tidur membelakangi dela.
Semakin lama, sikap bram semakin acuh kepada dela. Bram juga sering pulang larut malam, kadang-kadang juga tidak pulang. Pernah suatu waktu bram hampir sepekan tidak pulang kerumah, taka da kabar apapun yang dela terima dari bram. Biasanya kalau ada pekerjaan yang harus dikerjakan diluar kota dan harus menginap bram pasti akan ijin dulu, tapi ini tidak.Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pulang.
“mas, dari mana saja? Kenapa lama sekali pulangnya?”
“mas capek, mau istirahat”
Lagi-lagi hanya kata-kata itu yang terucap dibibir bram, dela hanya bisa pasrah menghadapi sikap suaminya, dela tak ingin membuat suaminya marah dan semakin menjauhinya”.
“mas, mau kemana lagi? Mas kan baru datang masak udah pergi lagi?”
Dela mencoba menahan bram namun hasilnya nihil bram tak menggubris dirinya. Dela yang sudah tak tahan dengan sikap suaminya, mencurahkan isi hatinya ke pada nur. Dela menelfon nur dan meminta saran kepada sahabatnya itu.
“assalammualaikum, nur”
“walaikumsallam, adapa del”
“nur, aku lagi ada masalah sama suamiku, akhir-akhir ini sikapnya berubah sama aku, dia juga sekarang jarang pulang kerumah, pulang sebentar terus pergi lagi, aku gak ngerti lagi nur harus giman” dela terisak
“del, maafin aku ya aku belum sempet cerita kekamu, karena aku piker rumah tangga kalian baik-baik saja”
“kenapa nur, apa kamu tahu sesuau soal mas bram?”
“bukan itu,del. Tapi suamiku bilang bram emang akhir-akhir ini jarang sekali masuk kerja”
“hahhh…terus selama ini mas bram pergi kemana?”
“kamu sabar dulu del, coba sesekali kamu ikutin waktu suamimu pergi”
Suami nur memang bekerja satu kantor sama suami dela, setelah mendapat saran dari sahabatnya dela mengatur strategi agar bram tidak curiga, dela hanya tinggal menunggu bram pulang kerumah.
Hari itu dela bersikap sebiasa mungkin, dela tau kalau bram gak akan berlama-lama dirumah, dela menyiapkan the hangat seperti biasa.
“mas, mau pergi?”
“ya, kenapa memang”
“gak mas, tehnya diminum dulu udah lama kan mas gak minum teh buatanku” Dela menarik tangan suaminya menuju meja makan.Tanpa ragu bram menyeruput teh buatan dela.
__ADS_1
“aku pergi”
“iya mas hati-hati ya”
“gak usah nungguin aku, kemungkinan aku pulang larut malam lagi banyak kerjaan”
“iya mas” dela mengantar suaminya sampai kedepan, setelah dirasa mobil suaminya sudah tak terlihat dela membuntuti mobil suaminya.
Benar, mobil bram tidak mengarah kekantor melainkan ke jalan lain. Dela nampaknya tau suaminya mau ke mana. Bram turun dari mobil yang langsung disambut oleh nirmala, mereka sangat mesra layaknya suami istri. Hati dela hancur melihat dua orang yang dela sayangi telah mengkhinati dirinya.
Dela pergi kerumah mertuanya, dela menceritakan semua yang terjadi dengan rumah tangganya, sembari menangis terisak. Kedua orangtua bram hampir tak peraya apa yang diceritakan dela menantunya, sampai suara dari nenek bram membuat kedua orangtua bram tercengang.
“apa kang diucapke menantumu sakabehe bener”( apa yang diomongkan menantumu semuanya benar)
“suamimu sengaja di pelet dening kancamu, kancamu iku dudu wong sembrana”
( suamimu sengaja di pelet oleh temanmu, temanmu itu bukan orang sembarangan)
Dela dan kedua mertuanya menatap tak percaya kearah nenek bram, nenek bram memang kepercayaan jawanya masih sangat kental, karena itu dia bisa tau apa yang kini tengah dialami cucunya.
“maksudnya mbah?”
“anak iku nganggo susuk kantil ireng , lan suamimu wis terjerat dening susuke”( anak itu memakai susuk kantil ireng , dan suamimu sudah terjerat oleh susuknya)
“banjur apa kang kudu aku tindakake mbah ben mas bram bisa bali menyang aku maneh”( lalu apa yang harus saya lakukan mbah agar mas bram bisa kembali ke saya lagi)
“ora ana, elmu anak iku wis edan. mung wong-wong kang akal sehate wis ilang kang arep nganggo susuk kantil ireng”( gak ada, ilmu anak itu sudah gila. Hanya orang-orang yang akal sehatnya sudah hilang yang mau memakai susuk kantil ireng)
“terus mas bram kepiye, mbah?”
“ndonga padha kang kuasa ben suamimu age-age eling, iku uga ora menjamin suamimu arep maneh kaya dhisik”( berdoa sama yang kuasa agar suamimu segera sadar, itu pun tidak menjamin suamimu akan kembali seperti dulu).
Benar saja Bram sama sekali tidak pernah pulang lagi kerumah, Dela hanya bisa pasrah dan berserah diri. Sampai Dela melakukan puasa agar Bram bisa sadar dan kembali pulang, namun beberapa kali dela memuntahkan darah. Darah hitam yang sangat hitam, baunya busuk seperti bangkai.
Dela meminta ijin kepada mertuanya untuk menjemput bram pulang, namun nenek bram melarang. Tapi dela tetap kekeh dengan keinginannya, akhirnya nenek bram mengalah.
“yasudah menawa iku wis dadi keputusanmu, simbah namung bisa berpesan ati-ati aja gegabah kang kowe adhepi dudu maneh manungsa nanging setan”( yasudah jika itu sudah menjadi keputusanmu, nenek cuma bisa berpesan hati-hati jangan gegabah yang kamu hadapi bukan lagi manusia tapi setan).
Hari itu juga dela berangkat kerumah nirmala, dela menggedor-gedor pintu rumah nirmala. Nirmala dengan santai keluar, dia sudah tahu siapa yang datang menemuinya.
“Dela, aku wis nunggu kedatanganmu”( aku sudah menunggu kedatanganmu)
“kembalikan suamiku mala, ing endi kowe umpetake mas bram?( kembalikan suamiku mala, dimana kamu sembunyikan mas bram?)
“tenang dela, ojo kesusu bojomu aman ning aku”(tenang dela, jangan terburu-buru suamimu aman denganku.
“ngopo awakmu tego mala, ngancurno omah-omahku”(kenapa kamu tega mala, merusak rumah tanggaku)
“bukane awakmu dewe sing ngomong yeng aku oleh jupuk opo wae sing mok dhuweni?”(bukannya kamu sendiri yang bilang jika aku boleh mengambil apa saja yang kamu punya?)
“nanging dudu suamiku uga mala”( tapi bukan suamiku juga mala)
“ckckck, awakmu sing gawe penawaran uga awakmu sing getun”(kamu yang bikin penawaran kamu juga yang menyesal)
“kembalikan suamiku mala” Dela menangis berlutut dikaki nirmala
“maaf dela, aku ora iso. Bojomu wes tak pakakke ingon-ingonku”(maaf dela, aku gak bisa. Suamimu sudah kujadikan makanan untuk peliharaanku)
Dela, tertegun mendengar ucapan nirmala.
“Lan saiki giliranmu,dela”(Dan sekarang giliranmu, dela)
Nirmala mencekik leher dela hingga nafas dela tercekat,dela berontak mencoba melepaskan cengkraman nirmala, namun usaha dela sia-sia tenaga nirmala sepuluh kali lipat lebih kuat dari tenaganya. Nirmala menghunuskan belati tepat dihati Dela, merobek kulit Dela, mengambil paksa hati Dela dan memakannya dengan rakus.
__ADS_1