KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 34 : Tali Pati( Terikat Kencang)


__ADS_3

Teriakan Martono terdengar hingga keluar, membuat warga yang mendengarnya berbondong-bondong kerumah Martono. Martono adalah salah satu dari puluhan warga yang ikut membakar hidup-hidup Nirmala.


“Le, ilingo le nyebut le” (Nak sadarlah nak nyebut nak) Ucap Bu Jumini ibu dari Martono.


Martono terus berteriak, sampai pita suaranya terputus. Taka da yang tahu mengapa Martono bisa sampai seperti itu.


Flasshback On


“Mar, awakmu temenan arep nglakoni kuwi” (Mar, kamu beneran mau ngelakuin itu) Tanya aris kepada Martono


“Tenan to Ris, iki kesempatan emas”(Beneran Ris, ini kesempatan emas)


“Kesempatan emas ndasem”(Kesempatan emas palamu)Sembari menonyor kepala Martono


“Lagian ya Ris, aku penasaran jare yen dewe nikah karo demit iso marakke sugeh”(Lagian ya Ris, aku penasaran katanya jika kita menikah sama setan bisa bikin kaya)


“Djancok, ngelmu nang ndi kowe Mar oleh info koyok ngono sing ono awakmu modyar diuntal demit”(Umpatan jawa, berguru dimana kamu Mar dapat info seperti itu yang ada kamu mati dimakan setan)


“awas ya yen aku sugeh duwitku okeh ojo medhak aku, Ris”(Awas ya jika aku kaya uangku banyak jangan dekat aku,Ris)


“Rak sudi Mar”(Gak mau Mar)


Malam itu Martono mendatangi sebuah gubug tua, di sebuah kota terpencil. Kedatangan Martono disambut oleh pria tua ya bisa disebut pria tua itu adalah seorang dukun.


“Awakmu wes yakin? Wes mantep?”(Kamu sudah yakin? Sudah mantap?)


“Sampun mbah”(Sudah mbah)


“Opo sing wes ditompo ora iso dibalikke meneh”(Apa yang sudah didapat tidak bisa dikembalikan lagi)


“Inggih mbah kulo sampun ngertos”(Iya mbah saya sudah tahu)

__ADS_1


“Yawes nek ngono gowo mene syarat sing tak jaluk”(Yasudah kalau begitu bawa kesini syarat yang aku minta)


Martono mengeluarkan kantong plastic hitam dari dalam tasnya yang ternyata kain kafan yang sudah lusuh terkena tanah serta beberapa potongan rambut. Sang dukun menerima kantong kresek itu dan memulai ritualnya, Martono dimandiin bunga tujuh rupa. Disitulah Martono melihat dirinya dikelilingi banyak sekali demit. Ini kali pertama Martono melihat makhluk-makhluk seperti itu ada perasaan takut yang terlintas di hati Martono.


“Mlebuo nang kamar kuwi, mengko mbengi jam 12 mbengi bojomu bakal teko nang awakmu”(Masuklah kedalam kamar itu, nanati malam jam 12 malam istrimu akan datang menemuimu)


Martono merebahkan tubuhnya diatas dipan tanpa kasur hanya alas tikar, Martono melipat tangannya kebelakang sebagai bantal. Angin yang masuk membuat tubuhnya menggigil karena tubuhnya yang masih basar karena air kembang serta Martono hanya memakai sarung dan bertelanjang dada.


Rasa kantuk menghampiri Martono, Martono memejamkan mata. Sampai suara lirih terdengar ditelinganya. Seseorang sedang membelai lembut wajah Martono. Martono mengerjapkan matanya, dalam hatinya berkata inikah istrinya. Martono menganga saat disampingnya ada seorang gadis yang parasnya sangat cantik. Layaknya seorang suami istri mereka pun mantap-mantap.


Paginya Martono bangun, tubuhnya terasa pegal sekali namun ingatannya masih jelas mengingat kejadian semalam, saat dirinya bermantapan dengan istrinya(demit). Namun saat dirinya mencari istrinya Martono tidak dapat menemukan keberadaannya.


Martono pamit untuk kembali pulang kerumahnya, sang dukun memberitahu apa saja yang harus Martono lakukan dan bagaimana untuk memanggil istrinya untuk datang. Martono menganggukkan kepala saat sang dukun menjelaskan, dari sini Martono tahu jika istrinya hanya akan datang jika Martono panggil.


Keberuntungan demi keberuntungan menghampiri Martono, kurang dari tiga bulan Martono sudah bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil baru. Yang dulunya hanya seorang pengangguran sukses kini Martono benar-benar menjadi orang sukses.


“Wah, tak kiro awakmu wes rak gelem kumpul karo dewe Mar”(Wah, aku kira kamu sudah gak mau kumpul sama kita Mar) Ucap Danu yang salah satu teman nongkrong Martono.


“Opo resepe Mar?”(Apa Resepnya Mar) tanya Danu


“Rak usah reti Dan, daripada awakmu gelo”(Gak usah tahu Dan, daripada kamu menyesal)sahut Aris


“Ekhmmm,aku reti Ris awakmu sebenere juga kepingin kan weroh aku saiki makane Ris ora usah sok suci”(Ekhmm, aku tahu Ris, kamu sebenarnya juga ingin kan lihat aku sekarang makanya Ris gak usah sok suci)


“Aku bali sek Dan”(Aku pulang dulu Ris)


“Kok bali to Ris?”(Kok pulang to Ris)


Aris pulang bukan karena dirinya tidak suka dengan kehadiran Martono, namun Aris sudah tidak bisa lagi menahan bau anyir dari tubuh Martono.


Flasshback off

__ADS_1


Lalu apa hubungannya Martono dengan Nirmala? Kita bahas disini…oke. Maaf ya kalau ada umpatan-umpatan dan perkataan yang kurang sopan.


Sewaktu kejadian naas yang menimpa Nirmala , sebenarnya Martono tidak banyak ikut andil dia hanya ikut menyaksikan kejadian itu. Martono adalah salah satu pria yang pernah menaruh hati pada Nirmala. Namun kala itu Martono hanyalah seorang pengangguran, maka dia hanya bisa menahan rasa cintanya kepada Nirmala.


Saat mendengar mengenai TALI PATI, yang arinya pernikahan seseorang dengan orang yang sudah meninggal yang diikatkan dalam satu ikatan dengan kain kafan orang yang sudah meninggal. Martono nekat membokar kuburan Nirmala untuk mengambil kain kafan Nirmala dan rambut Nirmala. Dengan harapan bahwa kelak yang akan menjadi istrinya adalah Nirmala. Dan benar saja apa yang Martono harapkan terjadi, demit yang mendatangi Martono malam itu adalah Nirmala.


Bu Jumini merasakan ada yang aneh dari putranya Martono, Martono jadi sering mengurung diri didalam kamarnya. Sering tercium bau kemenyan dan bunga kantil dari dalam kamar Martono, namun ketika bu Jumini mencoba bertanya perihal apa yang anaknya lakukan di dalam kamar Martono akan memarahinya. Sejak saat itu bu Jumini tidak lagi pernah menanyakan hal itu lagi kepada Martono. Bu Jumini juga merasakan tubuh Martono semakin hari semakin kurus, hingga Martono jadi sering pesakitan. Dan uang serta harta benda yang Martono dapatkan entah dari mana lama kelamaan habis untuk biaya pengobatan Martono, hanya tersisa rumahnya saja.


Aroma bunga kantil memenuhi seisi rumah bu Jumini, hingga bu Jumini berlari kearah kamar Martono yang teriak-teriak. Martono seperti menahan seseorang yang sedang berusaha mencekik dirinya, namun yang sebenarnya terjadi adalah Martono mencekik lehernya sendiri.


Bu Jumini meminta bantuan ke pak ustad Zikri untuk mebantu anaknya, yang terus saja berteriak. Pak Ustad yang datang tak segera masuk kedalam rumah bu Jumini, ia meminta segelas air putih. Dengan perlahan pak ustad Zikri meminum air itu hingga habis, mungkin pak ustad zikri haus.


Semua warga yang berkerumun untuk menonton diminta untuk keluar, hanya ada bu Jumini dan pak Abdul orang yang datang bersama pak Ustad Zikri. Pak ustad membaca doa-doa, dan mengusapkan ke wajah Martono, dimasukkannya ibu jarinya kedalam tenggorokan Martono. Hal yang membuat bu Jumini tersentak saat untaian rambut yang sangat panjang terus keluar dari mulut Martono.


Tak hanya itu tubuh Martono seperti mayit yang dikafani, bedanya dengan posisi tangan dan lehernya diikat kencang, itu yang membuat Martono seperti tercekik.


“Astagfirullah, anak ibuk sudah terjerumus kedalam kemusyikan” Ucap ustad Zikri


“Lalu bagaimana pak?”


Martono menghembuskan nafas terakhirnya dengan mulut mengaga dan mata yang melotot.


Kematian Martono membuat heboh desa itu, tak ada satu pun orang yang bersedia membantu memandikan jenazah Martono dkarenakan baunya yang sangat busuk.


(Hy semuanya aku pengen nyapa kalian dibulan suci Ramadhan ini, terimakasih buat kalian semua yang udah setia membaca ceritaku, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, amin ya rabb. Maaf jika tulisan aku masih banyak kekurangan. See you next chapter mohon dukungannya dengan cara follow, like dan komen)


Allah Ta’ala berfirman,


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

__ADS_1


__ADS_2