KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 56 : Alas Kantil


__ADS_3

Aku mempercepat langkahku mengikuti aroma dari bunga kantil yang sedari tadi seolah menuntunku, tak butuh waktu lama kami sudah berada di depan sebuah bangunan yang menyerupai gapura. Aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam namun sesuatu seolah menahan langkahku.


Aku dan yang lain terkejut saat melihat Kanthi tiba-tiba ambruk jatuh ketanah, sesat setelah itu Kanthi mengerang dan berbicara dengan suara dan nada bicara yang tidak aku kenali.


"Pergi dari tempat ini anakku, tinggalkan wanita ini. Jangan bertindak terlalu jauh ini bukan kuasamu kau tak akan mampu melawannya. Jaeda anakku, pergilah nak pergi dari tempat terkutuk ini"


"Anakmu? maksudmu kau Nirmala ibuku?"


"Iya Jaeda aku ibu yang telah melahirkanmu, ibu senantiasa merindukan putri kecilnya"


"Ibu" Tangan Bara menahanku mendekati Kanthi yang dirasuki ibuku


"Lepaskan aku Bara"


"Jangan Jaeda ini sangat berbahaya untukmu"


"Kemarilah Jaeda, aku tidak akan melukai putri kesayanganku. Kemarilah sayang ibu sangat merindukanmu" Aku melepaskan tangan Bara yang menahanku dan berlari kearah Kanthi, aku bisa merasakan kasih sayang ibuku dalam tubuh Kanthi, dengan lembut ia membelai rambutku dan ku lihat air matanya menetes.


"Jaeda putriku, pergilah nak ibu tak ingin kamu terlibat dengan ini semua kamu tidak pantas menanggung dosa-dosa ibu. Tinggalkan anak ini sebagai gantinya"


"Tidak Bu, Kanthi juga anakmu jika ada orang yang pantas untuk menanggung dosa-dosa itu aku Bu bukan Kanthi"

__ADS_1


"Jangan bodoh Jaeda, gadis ini tidak ada hubungan darah sedikitpun denganku dan aku telah bersumpah atas kematian ayahmu jika aku tidak akan melibatkan ke dalam susuk kantil ini"


"Tapi Kanthi tidak bersalah Bu"


"Ini sudah takdir yang digariskan Jaeda, kelahiranmu dan kelahirannya sudah ditentukan dan itu tidak akan bisa dirubah"


"Tidak aku tidak akan membiarkan ibu menumbalkan Kanthi apapun caranya aku akan memutus rantai susuk kantil Ireng ini"


"Tidak semudah itu Jaeda, sebaiknya pergilah nak dari sini sebelum demit pengikut mbok Nipah menangkap dirimu"


Kanthi mengerang cukup lama sampai tubuhnya kehilangan kesadarannya begitu juga denganku yang ambruk bersamaan dengan tubuh Kanthi karena tenagaku tak cukup kuat untuk menahan tubuh Kanthi.


"Kalian gak apa-apa?" Pras dan Bara bersamaan menghampiri aku dan Kanthi.


Kami sebisa mungkin berusaha untuk mengembalikan lagi kesadaran Kanthi, perlahan Kanthi mulai mencoba membuka matanya.


"Jaeda, pergilah dari tempat ini" ucap Kanthi lirih


"Tidak Kanthi kita pasti bisa melawan mereka"


"Tidak Jaeda yang mereka inginkan hanya aku, selamatkan nyawa kalian biarkan aku tetap disini" Mataku mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Kanthi aku tidak bisa menahan emosiku. Tapi apa yang harus aku perbuat, aku baru anak kemarin sore yang belum tahu luasnya dunia luar. Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan semua ini.

__ADS_1


Disaat pikiranku yang kalut aku mengingat bapak, bapak sejak kecil selalu mengajarkanku untuk menyerahkan semuanya kepada sang Maha Pencipta tak ada yang dapat menandingi kuasanya.


Aku terpikirkan sesuatu, yang mungkin bisa membantu kami. Aku teringat saat paman mengajarkan aku dan Bara rapalan doa yang bisa memanggil roh/sukma orang yang masih hidup maupun yang sudah mati.


"Bara, kau ingat doa yang paman ajarkan pada kita saat di pendopo?" Bara mencoba mengingat-ingat hal itu.


"Iya Jaeda, doa pemanggil Sukma"


"Iya Bara, apakah kita bisa menggunakan doa itu untuk memanggil Sukma ayah kita?"


"Bisa Jaeda tapi untuk itu kita harus benar-benar suci, aku rasa waktu tiga hari cukup untuk kita berpuasa dan bertirakat untuk memanggil Sukma ayah kita"


Muncul semangat dan harapan di diri kami, kami sedikit menjauh dari gapura alas kantil.


Kami memutuskan untuk bersembunyi di sebuah goa yang berada disisi lain hutan.


"Jaeda, ayahku hanya orang biasa apa ia bisa membantu kita? ia tak memiliki kekuatan apapun" Tanya Kanthi


Aku berfikir sejenak memikirkan seseorang yang sekiranya bisa dimintai pertolongan. Ki Ageng, aku teringat kakek tua yang sudah berjasa menolongku.


"Ki Ageng, mintalah bantuan kepadanya Kanthi"

__ADS_1


Kanthi mengangguk, dan kami segera memulai tirakat dan puasa yang akan kami lakukan.


__ADS_2