KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 44 : Lelayu


__ADS_3

Kanthi menatap sayu kearah Nirmala, matanya berkaca-kaca. Kanthi tak dapat menyembunyikan rasa takutnya hingga membuat tangannya gemetar.


"Ndak usah takut aku tidak akan menyakitimu, kemarilah"


Kanthi perlahan mendekat kearah Nirmala, mengusap air matanya yang telah jatuh.


Ada satu energi yang membuat Nirmala tak bisa menyentuh Kanthi, Kanthi pun merasakannya ada sesuatu dalam dirinya yang menolaknya untuk mendekati Nirmala.


Nirmala tersenyum menyadari apa yang dikatakan dathuk benar adanya, hanya menunggu waktu, waktu dimana jalan itu akan terbuka.


"Maaf nyai" ucap Kanthi lirih


"Sudah tidak apa-apa, jangan panggil aku nyai panggil saja aku ibu karena kamu sekarang adalah putriku"


Kanthi mengangguk


"Baiklah, mari kitunjukkan kamarmu"


Kanthi mengikuti langkah kaki Nirmala, melihat sekeliling rumah, mata Kanthi banyak sekali menangkap sosok makhluk yang beragam bentuknya.


"Kalo tidak kuat tidak usah dilihat, mereka tidak akan menyakitimu, mereka semua abdiku. Nanti kamu juga akan terbiasa dengan keberadaan mereka"


Nirmala membuka sebuah pintu, ruangan itu cukup besar dengan sebuah dipan, almari dan meja rias. Berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya ruangan ini tidak ada makhluk satupun yang menghuni.

__ADS_1


"Tidak usah heran, aku meminta mereka untuk tidak tinggal dikamar ini"


Lagi-lagi Kanthi tersentak, seolah Nirmala mengetahui apapun isi kepala Kanthi.


"Karena kamu sudah menjadi bagian dari rumah ini, maka kamu juga harus mematuhi peraturan yang ada dirumah ini"


"Selepas sorop jangan pernah sekali-kali keluar dari kamarmu"


"Aku tidak bisa senantiasa menjagamu, jadi kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri"


"Apa kamu mengerti".


"Inggih buk"


"Saat makan nanti, aku akan memanggilmu"


"Baik buk"


Kanthi masih memperhatikan wanita itu menari, tariannya sangat mempesona membuat siapapun yang melihatnya enggan untuk memalingkan matanya. Saat sayup-sayup Kanthi mendengar siaran orang meninggal yang disiarkan lewat toak di surau.


Lelayu, ucap Kanthi tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak hingga nafas Kanthi mulai tersengal. Kanthi masih melihat kearah wanita yang sedang menari, ritme tarian wanita itu semakin lama semakin tak terkendali. Tubuh wanita itu terus menari, memutar hingga membuat tulang sendinya patah. Kanthi mencoba berteriak namun tak ada suara yang keluar dari teriakannya. Dadanya semakin terasa nyeri seperti ribuan jarum tengah menusuk-nusuk kedadanya.


Gelap semua gelap, Kanthi kehilangan kesadarannya . Disamping nya sudah ada Nirmala.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?"


Kanthi tak lagi merasakan nyeri di dadanya namun nafasnya masih sedikit tersengal.


Kanthi berusaha mengatur pernafasannya.


"Buk, aku tadi liat wan-"


"Sudah kamu harus banyak istirahat, jangan lupa habiskan makan malam mu"


"Baik buk"


Seolah tau apa yang akan Kanthi ucapkan, Nirmala memotong perkataan Kanthi. Kanthi mencoba melupakan semuanya, mungkin itu hanya halusinasinya saja. Tak perlu ada yang dikhawatirkan.


Kanthi meraih makan malam yang telah disiapkan Nirmala. Kanthi tak pernah melihat makanan seenak ini, ada berbagai macam lauk serta nasi yang begitu pulen.


Kanthi memakannya dengan lahap, tak menyisakan sedikitpun makanan. Selepas makan Kanthi berniat akan mencuci bekas makannya namun, baru saja Kanthi akan membuka pintu kamarnya Kanthi terkejut saat melihat Nirmala berdiri di hadapannya dengan senyum dibibirnya. Entah mengapa senyuman Nirmala membuat Kanthi merasa tidak nyaman.


"Sini biar ibuk saja yang mencuci"


"Tapi buk, Kanthi sudah biasa mencuci sendiri"


"Ini sudah malam, besok pagi saja"

__ADS_1


Kanthi hanya menurut perkataan Nirmala.


Kanthi merebahkan tubuhnya diatas dipan mencoba mengingat-ingat kembali apa yang baru saja terjadi. Sebelum ingatan itu benar-benar kembali Kanthi sudah terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2