
Ini kali pertama Nirmala memberanikan diri untuk datang kerumah Wahyu, selama Nirmala menikah dengan Wahyu memang dirinya tidak pernah mau jika diajak untuk pulang kerumah orang tua Wahyu. Namun tak ada cara lain bagi Nirmala untuk menemui putrinya yang kini sudah berusia tujuh tahun.
Jaeda adalah alas an Nirmala untuk pergi ketempat itu, apaun yang akan terjadi dia ingin membawa Jaeda tinggal bersamanya. Kematian pak Marno membuat Nirmala terpaksa mencari supir baru untuk dirinya. Tak sulit bagi Nirmala untuk mendapatkan supir baru bagaimana tidak,wajahnya yang cantik kulitnya yang putih bersih , rambut yang hitam panjang serta aroma tubuh yang wangi membuat lelaki tak tak dapat menolak Nirmala.
Jayadi adalah supir baru Nirmala, meskipun hanya seorang supir namun Jayadi memiliki daya tarik tersendiri badannya gagah tegap serta wajahnya yang lumayan tampan, membuat Nirmala menjatuhkan pilihannya kepada Jayadi.
“Mas, antarkan saya ke kota Magelang”(Nama kota disini hanya samaran bukan lokasi sesungguhnya , jadi mohon tidak berspekulasi yang tidak-tidak, oke).
“Baik mbak” Jayadi membukaan pintu untuk Nirmala.
Perjalanan ditempuh sekitar enam jam dari desa Nirmala, tak ada percakapan diantara Nirmala dan Jayadi. Hanya sesekali Jayadi mencuri pandang kearah Nirmala lewat kaca spion. Nirmala memjamkan matanya, namun tidak sedang tertidur karena posisi duduk Nirmala tegap terjaga. Walaupun dengan mata terpejam Nirmala tau kalau sopirnya ini diam-diam sedang memperhatikan dirinya.
Walaupun memiliki wajah yang tampan namun Jayadi merupakan orang yang hyper ***, beberapa kali Nirmala mengetahui jika Jayadi mengintip dirinya saat mandi ataupun saat sedang tidur. Hal itu tak membuat Nirmala cepat-cepat ingin menghabisi Jayadi, tunggu waktu yang tepat untuk membuat lelaki itu harus membayar perbuatannya.
Setelah perjalanan panjang Nirmala sampai disebuah rumah ya cukup besar, rumah dengan bangunan kayu dengan tumbuhan yang sangat rindah membuat siapapun yang berada disana merasa tenang. Tapi tidak dengan Nirmala , baru menginjakkan kakinya ditanah itu dadanya terasa sakit bak ditusuk ratusan jarum. Rumah itu terdiri dari beberapa bangunan dan disetiap bangunan terdapat suara lantunan orang mengaji yang membuat Nirmala merasakan sakit yang luar biasa.
“Assalammualaikum, maaf mbak ini siapa? Ada perlu apa datang ke pondok pesantren ini?” Sapa seseorang pria tua memakai baju putih dengan sorban dikepalanya.
“Saya mencari mas Wahyu, mbah”
“Oh Gus wahyu, ada perlu apa ya mbak?”
“Saya istrinya mbah” Lelaki tua itu memicingkan matanya, pantas saja sedari tadi beliau mencium bau bangkai dari tubuh Nirmala.
“Mari ikuti saya” Nirmala berjalan mengikuti lelaki tua itu, di sepanjang jalan Nirmala menutup telinganya, tak ingin mendengar suara anak-anak mengaji. Pria itu bernama mbah Giman salah satu sesepuh di pondok pesantren. Melihat sikap Nirmala mbah giman hanya mesem (tersenyum).
“Silahkan tunggu disini mbak, saya akan panggilkan gus wahyu”
Suhu diruangan itu membuat tubuh Nirmala menggigil kedinginan, padahal ruangan itu tidak ada AC maupun kipas angin. Bahkan ruangan itu sangat-sangat tertutup tak ada celah untuk angin masuk, bagaimana bisa sedingin ini. Nirmala mengusap-ngusap tubuhnya untuk mengurangi rasa dingin yang semakin lama menyiksa dirinya.
CEKLEK
Suara pintu dibuka,
“Assalammualaikum” Sapa wahyu
Wajah wahyu begitu tenang melihat Nirmala kembali, karena sebelumnya wahyu sudah diberitahu oleh pak Marno. Ada rasa rindu dihati wahyu namun ia menahan rasa itu, ia telah gagal mendidik istrinya. Wahyu merasa dirinya tidak bisa membuat orang yang ia sayangi kembali kejalan Allah.
__ADS_1
“Kamu pasti sudah tau mas tujuanku datang ketempat ini”
“Jika tujuanmu untuk bertemu Jaeda, maaf aku tidak bisa Nirmala”
Brakkkk
Nirmala menggebrak meja dihadapannya, menatap wahyu dengan tatapan mengancam.
“Apa maksudmu mas, aku ini ibunya aku berhak atas Jaeda”
“Aku tau Nirmala bukan itu tujuanmu”
“Hhhhhhh, rupanya kau sudah tau mas”
“Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan putriku terjerat ilmu hitam, terutama susuk mu itu”
“Jangan egois mas”
“Kau yang egois Nirmala, dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu?”
“Aku menyayangi Jaeda mas, itu yang harus kamu tau mas”
“Tapi aku ini ibunya mas, aku yang mengandungnya aku juga yang mengorbankan nyawa demi melahirkannya”
“Apakah kau menganggap jika Jaeda berhutang nyawa padamu, sampai Jaeda harus terlibat kedalam lingkaran syetan”
“Berhentilah Nirmala, kembalilah kejalan Allah”
“Tidak usah mengajariku mas, aku tidak ingin berdebat denganmu aku hanya menginginkan Jaeda putriku”
“Tidak, aku tidak akan pernah menyerahkan Jaeda padamu sebelum kau bertaubat”
“Baiklah mas jika itikad baikku datang kesini tak kau indahkan, aku akan merebut Jaeda dengan caraku. Aku harap kau tidak menyesal mas”
Nirmala meninggalkan tempat itu, kemarahannya tak tertahankan.
Malam itu Nirmala melakukan ritual, untuk merebut Jaeda dari tangan wahyu. Wahyu yang merasakan firasat tidak baik selepas sholat magrib berdiam diri dikamarnya. Nirmala tak main-main dengan ucapannya, bahkan ia tega membuat suaminya sendiri meregang nyawa.
__ADS_1
Jaeda kecil menangis melihat ayahnya tercinta memuntahkan darah dari mulutnya. Abi dan umi wahyu yang melihat anaknya sudah menghadapi sakaratul maut hanya bisa pasarah. Umi wahyu memeluk tubuh Jaeda. Nirmala tertawa puas melihat suaminya sudah tak berdaya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, wahyu meminta kepada Abinya untuk membawa Jaeda pergi dari sini.
Tau apa yang tengah terjadi dengan Wahyu, seusai pemakan Wahyu Abi dan umi membawa Jaeda untuk diungsikan ketempat yang jauh. Tepatnya dipondok pesantren milik saudara Abinya wahyu. Tempatnya sangat pelosok dan terpencil.
“Mas, aku titip cucuku untuk sementara waktu sampai usianya cukup untuk mengetahui jati dirinya”.
“Aku turut berduka cita atas kematian Wahyu”
“Terimakasih mas”
“Kamu tak usah khawatir Jaeda akan baik-baik saja”
“Baiklah mas, saya mohon pamit”
“Nek, jangan tinggalin Jaeda, Jaeda mau pulang Jaeda mau sama ayah nek”
“Sayang, untuk sementara Jaeda disini dulu ya”
“Jaeda gak mau nek, kek jaeda mau pulang”
“Cucuku Jaeda kelak kau akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan orangtuamu, jaga dirimu baik-baik”
Kemarahan Nirmala memuncak saat tau Jaeda tidak ada di tempat itu. Kali ini Abinya Wahyu yang menghadapi kemarahan Nirmala.
“Aku tau Nirmala sesungguhnya kamu adalah wanita yang baik jika tidak mana mungkin wahyu mau menikahimu. Tapi kamu sudah masuk terlalu jauh bahkan untuk kembali pulang saja kamu tidak bisa. Aku mengikhlaskan putraku untuk menikahimu, niat wahyu baik dia hanya ingin kamu kembali kejalan Allah”
Nirmala tak sedikitpun membalas ucapan abinya Wahyu, ia hanya mendengus kesal karena apa yang menjadi keinginannya tidak dia dapatkan.
Mala mini Nirmala sengaja tidur tak mengenakan sehelai kain ditubuhnya, ia tahu sedari tadi Jayadi sedang mengintip Nirmala dari celah jendela. Tiba-tiba daun jendela terbuka lebar, memperlihatkan tubuh Nirmala dengan jelas. Kejadian itu sontak membuat mata Jayadi melotot, bahkan Jayadi kesulitan untuk menelan salavinanya.
“Kamu ngapain mas disitu, sini masuk” Jayadi melangkahkan kaki masuk kedalam kamar Nirmala. Nirmala membelai dada bidang Jayadi, melepaskan satu persatu kancing baju Jayadi. Membuat darah ditubuh Jayadi berdesir hebat. Baru tangan Nirmala saja yang membelai Jayadi sudah dibuatnya mabuk kepalang.
Jayadi yang kepalang tanggung, menindih tubuh Nirmala diatas kasur. Namun saat mencubu Nirmala ada hal aneh yang Jayadi rasakan. Bukan wangi kembang seperti wangi tubuh Nirmala melainkan bau busuk bangkai yang sangat menyengat. Jayadi melihat kearah wanita yang kini sedang dirinya cumbu, bukan Nirmala melainkan sosok nenek-nenek tua keriput yang wajahnya sangat menyeramkan, matanya melotot kerah Jayadi sembari tertawa dengan suara tawa terbahak.
Jayadi yang ketakutan berlari tanpa sadar jika dirinya masih telanjang bugil.
Brakkkk
__ADS_1
Tubuh Jayadi tergilas mobil kolbak yang sedang mengangkut sayuran.