KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 47 : Jaeda Lan Kanthi


__ADS_3

“Jaeda, mengapa kamu murung nak?”


“Jaeda sedih paman, akhir-akhir ini Jaeda selalu bermimpi bertemu ibuk, ibuk sangat menderita paman banyak sekali makhluk aneh yang memperebutkan ibuk”


“Jaeda, mungkin ini memang sudah waktunya kamu tau soal ibukmu”


“Hahhh benarkah paman akan memberitahukan soal ibuk?”


“Bukan paman Jaeda tapi ada seseorang yang harus kamu cari”


“Siapa paman?”


“Sebelum bapakmu menemui ajalnya, ia pernah datang menemui paman ia memberikan buku ini pada paman, mungkin buku ini bisa kamu gunakan sebagai petunjuk”


“Ini buku milik bapak? BATARI?? WIDURI?? RAHAYU? MBOK NIPAH?? Siapa mereka paman?”


“Paman juga tidak tau Jaeda,maaf jika paman tidak bisa banyak membantu”


Jaeda membaca lembar demi lembar isi dari buku itu, namun tak ada satupun petunjuk yang ditulis oleh Wahyu. Dilembar berikutnya tertulis “Desa Kalimati”.


###


“Buk, hentikan buk” Kanthi berusaha menahan tubuh Nirmala, namun tenaganya tak cukup kuat.


“Ibukkkkkk” Nirmala berlari keluar, Kanthi berusaha mengejar Nirmala.


“Apa yang terjadi Kanthi?” Tanya salah seorang warga


“Pak, tolong pak tolong panggilkan dathuk”


“Baik Kanthi”


Kanthi berusaha untuk mengejar Nirmala yang terus berlari kearah hutan.


“Bukkkk…ibukkk dimana?” Kanthi mulai putus asa, tak ada tanda-tanda keberadaan Nirmala, sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan semak belukar yang semakin rimbun. Kanthi kehilangan arah, langit mulai gelap suara-suara dari binatang hutan mulai terdengar. Angin yang berhembus membuat nyali Kanthi sedikit menciut. Untung saja dathuk dan Rahayu berhasil menemukan Kanthi.


“Apa yang terjadi, kanthi?”


“Aku tidak tahu mbak tiba-tiba saja ibuk berteriak kesetanan”


“Sudah kita tinggalkan dulu tempat ini, tempat seperti ini tidak aman untuk manuasia seperti kita”


“Tapi dathuk, ibuk belum ketemu?”


“Sudah, ibukmu kita cari besok pagi”


Rupanya demi menepati janjinya membuat Nirmala menahan sakitnya, tumbal hewan saja tidak cukup. Susuk yang ada ditubuh Nirmala mulai memberontak dan meminta tumbalnya kembali. Nirmala mencoba untuk tidak melukai warga desa lagi, namun yang terjadi susuk itu menggerogoti tubuhnya.

__ADS_1


“Dathuk apa yang terjadi pada ibuk?”


“Tenanglah dulu Kanthi, mbak Mala pasti baik-baik saja”


“Tidak mbak, aku melihat ibuk mencakar tubuhnya sendiri dan wajah ibuk berubah layaknya nenek-nenek buruk rupa”


“Emmmm rupanya Nirmala menepati janjinya” Ucap Dathuk


“Janji apa dathuk?” Tanya Kanthi


“Nirmala berjanji untuk tidak menumbalkanmu Kanthi, hingga ia mengijinkanku memasang pelindung ditubuhmu”


“Jadi itu alasan mengapa ibuk seolah menjauhiku?”


“Benar Kanthi, kamu sama seperti putri kandungnya Jaeda kalian sama-sama memiliki getih anget”


“Apa mbak ayuk tahu dimana Jaeda berada?”


“Setahuku sejak bayi Jaeda diurus oleh kakeknya karena ia tidak bisa disatukan dengan Nirmala”


Malam harinya Kanthi tidak bisa tidur, ia mendengar suara rintihan Nirmala yang terus meminta tolong serta bau bunga kantil yang sangat semegrak. Kanthi berusaha mencari sumber suara tersebut seketika tubuhnya mematung saat dihadapannya berdiri seorang Nirmala dengan tubuh dan wajah yang hancur, borok memenuhi seluruh tubuh dan wajahnya hingga belatung berjatuhan dari luka borok yang ada ditubuh Nirmala. Bau anyir bercampur busuk membuat Kanthi tak dapat menahan untuk tak menutup hidungnya. Saat tangan Nirmala akan meraih wajah Kanthi tiba-tiba saja Kanthi merasakan pandangannya kabur dan kesadarannya perlahan mulai menghilang.


“Jaeda kamu mau kemana?” Tanya paman Wira yang selama ini ditugaskan untuk mengasuh Jaeda


“Paman, Jaeda ijin untuk pergi ke desa Kalimati”


“Iya paman, bapak tak menuliskan petunjuk apapun hanya nama-nama yang kemarin Jaeda sebutkan serta nama sebuah desa”


“Sebaiknya kamu tidak pergi sendiri Jaeda, ajaklah Bara pergi bersamamu setidaknya dengan adanya Bara bersamamu paman bisa sedikit lebih tenang”


“Jika Bara ikut bersama Jaeda nanti yang bantu paman mengurus pondok siapa?”


“Disini kan masih ada yang lain yang akan membantu paman, kamu tidak perlu khawatirkan paman”


“Baiklah paman, Jaeda akan pergi bersama Bara”


Bara adalah putra bungsu dari paman Wira, usianya seumuran dengan Jaeda dan entah mengapa kakek dan paman Wira sangat mempercayakan Jaeda pada Bara padahal menurut Jaeda, Bara adalah cowok tengil dan pembuat onar,contohnya saja sekarang Bara sedang nangkring di pohon manga milik pak Pardi sembari menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an sambal makan manga milik pak Pardi tentunya. Walaupun ratusan kali dihukum oleh pak Pardi besoknya Bara akan mengulanginya lagi, tapi disisi lain Bara adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab, pemberani dan cerdas.


“Bara, turun”


“Ada apa?”


“paman nyuruh kowe gawe ngancani aku “(Paman nyuruh kamu buat nemanin aku)


“menyang ndi emange”( kemana emangnya)


“kowe mudhun dhisik mengko aku ceritani nang omah”( kamu turun dulu nanti aku ceritain dirumah)

__ADS_1


“Lah,awakmu temenan arep goleti ibukmu?”(Kamu benaran mau mencari ibukmu?)


“Iyo, makane paman ngongkon awakmu kanggo ngancani aku”(Iya makanya paman nyuruh kamu buat nemenin aku)


“Memange awakmu ngerti ibukmu ono nang ngendi?”(Memangnya kamu tahu ibukmu ada dimana?)


“Ora”(Tidak)


“Lah, yen awakmu rak weruh terus kepiye leh goleti?”(Yah, jika kamu gak tahu terus bagaimana nyarinya)


“hmmmmm, Yen awakmu emoh yawis aku menyang dewe”(Kalo kamu gak mau sudah aku pergi sendiri)


“Gelem rak gelem aku yo kudu gelem, iso-iso aku orak diaku anak yen nganti kenopo-kenopo marang awakmu”(Mau gak mau aku harus mau, bisa-bisa aku gak diaku anak kalo hal buruk terjadi sama kamu)


Setelah menyiapkan semua keperluan selama diperjalanan Jaeda dan Bara memulai perjalanan mereka ke desa Kalimati. Perjalanan mereka cukup jauh, dan ini pertama kalinya untuk Jaeda keluar dari pondok paman Wira.


Jaeda merebahkan kepalanya pada sandaran kursi bus, mimpi itu hadir kembali suara rintihan Nirmala, kembang kantil ireng dan puluhan demit yang memperebutkan tubuh Nirmala.


“Jaeda, Jaeda bangun”


“Kamu kenapa?”


“Bara kita dimana?”


“Kamu pikun? Kita kan masih di dalam bus”


“ouhhhhh”


“Nih minum, makanya kalua mau tidur itu berdoa”


“Iya maaf”


“Yasudah kamu istirahat lagi aja perjalanan kita masih jauh”


Tak ingin mimpi itu kembali lagi Jaeda memilih melihat kearah jendela, perjalanan yang di dominasi pemandangan hutan membuat Jaeda merasa bosan. Namun perhatian Jaeda terusik saat samar-samar Jaeda melihat wanita berpakaian adat jawa lengkap dengan sanggul berdiri ditengah hutan seperti tersenyum kearah Jaeda.


“Ada apa?”


“Gak ada apa-apa?”


“Kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu jangan sungkan, aku pasti bantu”


“Iya Bara”


Bara merasakan ada yang aneh dari Jaeda namun ia tak mau memaksa Jaeda untuk bercerita. Sebenarnya sejak awal perjalanan Bara sudah merasakan hal ganjil, seperti ada yang sedang mengawasi mereka berdua namun Bara memilih untuk menyimpannya sendiri karena tak ingin membuat Jaeda khawatir. Dan sebelum pergi ayahnya(Paman Wira) sudah memberi banyak wejangan kepada Bara. Jika ayahnya sudah mempercayakan Jaeda kepadanya itu artinya aka nada sesuatu yang terjadi pada Jaeda.


Bara merasakan jika ini bukan perjalanan biasa, karena perasaan dan instingnya dari tadi sangat sensitif. Bara bisa merasakan jika Jaeda juga merasakannya. Bara mencoba bersikap setenang mungkin sembari membacakan ayat-ayat suci untuk mejaga dirinya dan Jaeda.

__ADS_1


__ADS_2