KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 14 : Omah Wingit


__ADS_3

Setelah nirmala menjalani masa pingitan, wajah nirmala memancarkan aura kecantikan yang luar biasa, luka borok diwajahnya juga perlahan menghilang. Setelah itu nirmala diminta untuk membersihkan diri di padusan. Ditemani oleh rahayu nirmala kembali ketempat itu, namun kali ini di padusan nyai widuri sudah menunggu nirmala bersama dengan beberapa abdi dalamnya


“nyai….”


Nyai widuri tak menggubris sapaan nirmala, ia mempersilahkan nirmala untuk segera masuk kedalam padusan. Seperti biasa air didalam padusan dipenuhi dengan berbagai macam bunga, ketika berada didalam air ada rasa yang berbeda dalam hati nirmala, karena nirmala mencium bau kemenyan yang dibakar baunya sangat pekat.


Nyai widuri memerintahkan abdinya untuk memegangi tangan nirmala, semua dilakukan dengan sangat cepat, nyai widuri menahan kepala nirmala kedalam air, sekuat tenaga nirmala meronta tapi nyai widuri tak menggubrisnya hingga nirmala merasakan nafasnya tercekat pandangannya kabur dan berakhir tak sadarkan diri. Rahayu hanya bisa menyaksikan semuanya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Nirmala berada di hutan, hutan yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar. Bagaimana dirinya bisa berada ditengah hutan bukankah dirinya sedang berada dipadusan bersama yang lain, nirmala berjalan dan terus berjalan tanpa tau arah dan tujuan, hingga senakin lama nirmala berjalan ia merasa berada semakin dalam ke tengah hutan, langit semakin gelap nirmala semakin merasa ketakutan, udara semakin dingin tapi rasa dingin itu tak seperti udara dingin biasanya, seperti ada yang sedang mengawasi nirmala dari balik pohon, yah nirmala tersadar bahwa dirinya tidak sendiri di hutan ini, puluhan makhluk lain sedang mengawasi nirmala. Nirmala berlari sekuat tenaga, tak diperdulikannya jalanan yang licin dan berlumpur rasa perih disekujur tubuh nirmala terkena sabetan semak belukar tak dihiraukannya, ia hanya ingin segera keluar dari hutan ini. Tawa cekikikan seseorang diatas pohon terdengar di kanan kiri seolah mereka sedang menertawakan nirmala, nirmala jatuh tersungkur saat kakinya terlilit akar semak belukar, rupanya lilitan itu membuat betis nirmala robek, darah bercucuran membuat nirmala meringis merasakan kesakitan, nirmala merobek sedikit jariknya diikatkannya diatas betis nirmala yang robek untuk menahan darahnya. Nirmala berjalan dengan menyeret satu kakinya, terseok-seok menyusuri hutan belantara. Bau darah nirmala tercium oleh sosok penghuni hutan, sebut saja Badjang. Semakin lama nirmala merasakan langkah kakinya semakin berat serasa ada yang bergelantung dikakinya, nirmala menunduk kebawah untuk melihat kearah kakinya yang terluka, benar saja ada sosok makhluk yang bergelendot dikaki nirmala sedang menjilati darah yang menetes dari luka dikaki nirmala. Makhluk itu seperti janin yang usianya enam sampai tujuh minggu berbau anyir bercampur busuk, jantung nirmala berdegup semakin kencang, rasa sakit dikakinya semakin nyeri ditambah bajang yang menjilati darah dikaki nirmala, tapi rasanya bukan menjilati lagi tapi badjang itu kini tengah menghisap darah nirmala. Dikebingungan nirmala berdoa berharap seseorang menolongnya, tubuhnya semakin lama semakin kehabisan tenaga. Nyai widuri menarik tubuh nirmala dari keatas, membiarkan nirmala menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“apa yang terjadi nyai”


“bocah goblok”


Nyai widuri menatap nirmala tajam, penuh dengan amarah.


“apa yang sebenarnya nyai lakukan?”


Nyai widuri melenggang pergi meninggalkan nirmala, sebelum teriakan nirmala menghentikan langkah nyai widuri.


“aku berhak tahu nyai, apa yang sebenarnya ingin nyai lakukan kepadaku, kenapa nyai memperlakukan aku sekeji ini, aku tahu….”


“tau apa kamu”jawab nyai widuri dengan suara keras namun dingin membuat nyali nirmala menciut


“selama tujuh hari kemarin pada masa pingitan bukankah aku telah dinikahkan oleh makhluk yang entah darimana asalnya, yang pasti dia bukan manusia”


“baguslah jika kamu sudah mengetahuinya”


“lalu mengapa hingga saat ini aku tak diijinkan bertemu dengan nyai batari, bukankah ia yang mengangkatku menjadi putrinya?”


Nirmala berjalan mendekati nyai widuri namun salah satu kakinya terasa sangat nyeri sehingga tak mampu menopang tubuhnya.


“nimas”

__ADS_1


“awww kakiku sakit sekali yuk”


“butuh waktu lama agar kakimu bisa berjalan seperti semula”.


“apa???? Kenapa kakiku tiba-tiba lumpuh”


“apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi denganmu mala”


“badjang”


“setelah kamu bisa berjalan lagi, aku akan mempertemukanmu dengan nyai batari”


Nyai widuri keluar meninggalkan nirmala


Setelah kejadian itu butuh waktu hampir satu bulan untuk nirmala bisa berjalan kembali, nyai widuri menepati janjinya untuk mempertemukan nirmala dengan nyai batari.


“bolehkah aku mengajak rahayu nyai”.


“nak awakmu wedi rausah sok”(jika kamu takut gausah sok)


Nirmala meyakinkan rahayu untuk ikut dengannya, rahayu tak dapat menolak permintaan tuannya, ada perasaan was-was dihati rahayu saat mengikuti langkah nyai widuri serasa ada yang berjalan dibelakang mereka sesekali rahayu mengusap tengkuknya, tempat ini adalah tempat yang tak asing bagi rahayu, nyai widuri pernah mengajaknya kesini ya tempat ini adalah omah wingit. Nyai widuri membuka salah satu pintu yang berukir seorang wanita memakai bunga kantil ditelinganya, saat pintu terbuka aroma apak yang tercium pertama kali, suasana gelap dan pengap membuat siapapun yang berada di tempat ini merasa sesak. Nyai widuri mengambil lampu sentir, dan kembali melangkah menyusuri ruangan itu, semakin dalam suasana ruangan semakin anyeb, tak seperti yang rahayu bayangkan ruangan ini sangatlah besar, bunyi kriet dari kayu lantai yang diinjak hanya itu yang terdengar ditengah keheningan, mereka menuruni beberapa anak tangga hingga akhirnya sampai disatu pintu, pintu yang ukurannya tidak terlalu besar, nyai widuri membuka pintu tersebut, tak ada apapun didalam ruangan ini kecuali sebuah dipan(tempat tidur) yang dikelilingi dengan tirai berwarna putih. Nyai widuri melangkah mendekati dipan itu.


“kalian tunggu disini”


Lirih terdengar suara perempuan sedang bersenandung lagu jawa, namun nada dan suaranya teramat memilukan seakan ia memohon untuk dibebaskan dari siksaan.


Cukup lama nyai widuri berada disana, entah dengan siapa nyai widuri tengah mengobrol hanya terdengar sesekali suara nyai widuri seperti membentak hanya kata “mbak” yang terdengar. Nyai widuri meminta nirmala untuk mendekat, saat melihat orang yang berada di balik tirai nirmala terjerengat kaget. Wajah dan tubuh perempuan itu dipenuhi dengan borok , nanah dan belatung. Hampir taka da daging yang tersisa ditubuhnya, ada beberapa bagian di kepalanya kulit kepalanya terkelupas dan mengeluarkan darah yang masih segar, wanita itu menatap tajam nirmala kemudian tertawa, menangis, bersenandung begitu terus.


“dia ini kakakku batari, dia adalah pemilik susuk kantil ireng bertahun-tahun dia tersiksa sampai aku harus menyembunyikannya ditempat ini. Bertahun-tahun juga aku berusaha untuk menyembuhkannya, tapi usahaku sia-sia semakin hari luka borok ditubuhnya semakin parah, sudah ratusan gadis perawan aku tumbalkan untuk menebus kakakku tapi tak ada yang berhasil membuat singolangu puas. Nirmala, makhluk itu benama singolangu dia adalah suami ghaib kakakku, yang sekarang menjadi suamimu. Hanya gadis yang masih perawan yang bisa menaklukkan singolangu. Dan hutan itu adalah jalan menuju tempat dimana singolangu berada, tapi sayangnya sebelum kamu sampai disana, kamu terluka dan darah yang keluar dari tubuhmu memanggil penghuni hutan lainnya, untungnya kamu hanya bertemu dengan badjang bukan yang lain. Susuk yang berada ditubuh kakakku menggorogotinya, hingga kejiwaanya terganggu. Nirmala, aku minta maaf jika aku melibatkanmu dalam masalah keluargaku, hanya kamu harapanku karena dino wetonmu sama dengan kakakku batari sehingga singolangu menerimamu menjadi istrinya”.


“jadi kau menumbalkanku?”


“tidak nirmala, singolangu tidak akan menyakiti istrinya kecuali….”

__ADS_1


“kecuali apa nyai”.


“kecuali dia berkhianat, seperti apa yang dilakukan kakakku”.


“jadi bunga kantil ireng yang aku makan sebelum masuk kerumah ini….”


“benar nirmala itu susuk kantil ireng, susuk itu yang membuat wajahmu semakin hari semakin ayu”.


“apa yang harus aku lakukan nyai”.


“aku akan mempertemukanmu dengan seseorang, yang dulu membantu kakakku mempelajari ilmu susuk kantil ireng”.


Terdengar suara teriakan dari rahayu, nyai widuri dan nirmala bergegas ketempat rahayu berdiri ada puluhan makhluk yang sedang mengendus-ngendus tubuh rahayu, tubuh rahayu wangi pandan itulah yang membuat mereka berebut masuk ketubuh rahayu.


“hahahaha ….hahaha”


rahayu mengeluarkan tawa melengking, seperti bukan suara rahayu. Nirmala masih tertahan ditempatnya tak bergeming , sesekali membuang muka untuk membuang kengerian yang ada dihadapannya. Semakin lama semakin banyak makhluk yang mendekati tubuh rahayu semakin banyak diiringi dengan suara nyai batari yang bersenandung, menyanyikan lagu dengan bahasa jawa krama alus, suaranya begitu lembut namun makin lama membuat merinding orang yang mendengarnya.


“mbakmu ora bakal mari percoyo aku ,hahahah percuma wae bocah kui bakal mati”(kakakmu tidak akan bisa sembuh percaya aku, hahaha percuma saja anak itu akan mati)


Rahayu mendekati nirmala lalu berbisik “melu aku tak bebasno awakmu soko wong iki, wong wedhok iki mor manfaatke awakmu, nek awakmu melu aku awakmu rak perlu nanggung penyakite cah kae, bocah kui wes keno kutukan keno karma soko opo sing wes dilakoni”(ikut aku akan kubebaskan kamu dari orang ini, perempuan ini hanya memanfaatkanmu, jika kamu ikut aku gak perlu kamu menanggung penyakitnya anak itu, anak itu sudah terkena kutukan kena karma dari apa yang sudah dia perbuat)


“ojo percoyo bujuk rayune setan, mala tutup kupingmu”(jangan percaya bujuk rayunya setan, mala tutup telingamu)


“wes hebat kowe hah???rumongso iso nambani mbakyumu??rungokno aku awakmu rak bakal adoh soko cah kui yen tetep percoyo karo wong wehok iki”(sudah hebat kamu???merasa bisa nyembuhin kakakmu???dengarkan aku kamu gak akan jauh dari anak itu jika tetap mempercayai wanita itu)


Nirmala mulai terhasut dengan kata-kata setan yang merasuki tubuh rahayu, nirmala memandangi nyai batari, apakah dirinya hanya diperalat oleh nyai widuri. Siapa yang harus nirmala percayai, ditengah kebimbangannya nirmala melihat kearah rahayu walaupun ada sosok lain ditubuh rahayu tapi mata rahayu seolah berkata untuk percaya dengannya.


Nyai widuri menarik nirmala keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan rahayu disana.


“tunggu nyai…tunggu rahayu masih disana”


“rahayu akan baik-baik saja mala, kita harus segera keluar dari sini”

__ADS_1


Nirmala masih melihat kearah nyai batari dan rahayu, nirmala melihat nyai batari tersenyum kepada nirmala.


__ADS_2