
Tepat dimalam ini adalah malam penentuan bagi nyai batari, untuk menentukan nasibnya hidup atau mati, nirmala dibawa ke oamah ingit lagi bersama nyai widuri dan mbok nipah, kondisi nyai batari semakin memprihatinkan darah dan nanah terus keluar dari borok-borok yang ada ditubuhnya, wajahnya hampir seluruhnya terdapat bekas cakaran , dari yang sudah mengering dan yang masih baru mengeluarkan darah segar, yang lebih menjijikkan nyai batari mencilati darah dan nanah yang keluar dari tubuhnya, siapapun yang melihatnya akan merasa sangat mual, tapi mbok nipah dan nyai widuri nampak begitu tenang. Mbok nipah meminta nirmala untuk berbaring disebelah nyai batari, dengan ragu nirmala membaringkan tubuhnya disamping nyai batari, aroma busuk dari tubuh nyai batari membuat nirmala tak kuat menahannya, nirmala memuntahkan semua isi perutnya. Nyai batari terus memandangi nirmala, tangannya membelai wajah nirmala, seperti seorang itu yang sedang membelai lembut putrinya. Sorot matanya begitu sayu, sesekali dari mata itu airmata keluar, namun bibir nyai batari menyunggingkan senyuman.
“aku ora yakin menawa ritual iki arep kasil, nanging kabeh wis kebacut”( aku tidak yakin jika ritual ini akan berhasil, tapi semua sudah terlanjur)
Nyai widuri tertunduk lemas
Tangan dan kaki nirmala diikat dengan kain putih, begitu juga dengan tangan dan kaki nyai batari, sebelum ritual dimulai nirmala melihat kearah nyai batari, nirmala masih melihat air mata diekor mata nyai batari, namun kali ini nyai batari bersikap tenang.
Mbok nipah mulai dengan membakar kemenyan tubuh nirmala ditutup dengan kain putih, mbok nipah mulai melafalkan mantra-mantra yang entah apa itu, nirmala merasakan panas seperti terbakar ditubuhnya, nirmala memberontak dan berteriak.
Seperti dejavu, nirmala berada dihutan itu lagi, hutan dimana nirmala bertemu sosok badjang, namun kali ini nirmala melangkah lebih hati-hati tak seperti kemarin kali ini nirmala merasa ia sudah tahu tempat mana yang akan dirinya tuju , ya seperti nyai batari yang menuntun nirmala untuk menemukan tempat dimana dia berada.
Jauh nirmala berjalan , nirmala merasakan ada sesuatu dibelakang nirmala yang sedang mengikutinya, nirmala terdiam menoleh kearah bahunya benar saja sosok badjang sudah menempel dipunggungnya, badjang it uterus menggeliat-geliat dipunggung nirmala, seolah ia menginginkan sesuatu dari tubuh nirmala. Apa yang makhluk itu inginkan dari nirmala??? Sesaat nirmala tersentak, badjang adalah segumpal daging janin manusia yang sengaja digugurkan, ya dia menginginkan ASI, itu jika bayi normal berbeda dengan badjang ia menginginkan darah nirmala, karena ditubuh nirmala tidak ada luka untuk jalannya darah maka cara satu-satunya adalah dengan menyusui badjang tersebut. Apakah nirmala akan melakukan itu???? Tentu saja tidak, jika sampai itu terjadi nirmala akan kehilangan nyawanya karena badjang akan menyedot habis darah nirmala.Didalam kepanikan nirmala mendengar suara, seseorang yang tengah memanggil namanya bersamaan dengan terciumnya bau melati, nirmala menghentakkan tubuhnya dan berlari sekuat tenaga hingga kakinya sudah tak kuat lagi melangkah, nirmala menyandarkan tubuhnya disebuah pohon, nirmala menyadari bahwa badjang yang menempel ditubuhnya sudah tidak ada.
Nirmala melanjutkan perjalanannya, mencari dimana singolangu menyembunyikan nyai batari, tiba-tiba hutan terasa lebih berbeda langit menghitam, perasaan nirmala semakin tak menentu seperti ada sosok lain yang datang , sosok yang lebih mengerikan dari badjang, mata nirmala membola saat sosok itu mendekati nirmala sebut saja “AWE-AWE” sosok nenek-nenek yang tidak memiliki bola mata, rambut keriting berantakan berwarna putih, kakinya seperti lumpuh karena ia menyeret tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya, walaupun begitu gerakannya sangat cepat dan ketika ia melihat mangsanya tangannya akan ngawe-ngawe (melambai-lambai).
Nirmala yang akan kabur tiba-tiba tak bisa bergerak, awe-awe menahan satu kaki nirmala.
“opo salahku nyai??”(apa salahku nyai)
Awe-awe tertawa,suaranya serak seperti suara nenek-nenek kebanyakan namun yang membuat ngeri suara tawa itu berasal dari demit yang sedang mengancam nyawa nirmala.
“aku ngerti tujuanmu teka mrene, nanging menawa kowe berfikir wong kang kowe golek diumpetake dening singolangu kowe salah”( aku tahu tujuanmu datang kesini, tapi jika kamu berfikir orang yang kamu cari disembunyikan oleh singolangu kamu salah)
“singolangu namung salah siji saka ewonan pasukan kang manggoni alas iki, kang paling kuwasa kang ngumpetake, ora ana penghuni alas iki kang wani nglawan, dheweke kang paling ireng paling peteng diantara kang liya. apa kowe yakin wong sepertimu bisa”( singolangu cuma salah satu dari ribuan pasukannya yang menghuni hutan ini, yang paling berkuasa yang menyembunyikannya, tidak ada penghuni hutan ini yang berani melawan, dia yang paling hitam paling gelap diantara yang lain. Apa kamu yakin orang sepertimu bisa)
Perkataan awe-awe membuat nirmala goyah, apa yang dia katakana benar nirmala tak memiliki kekuatan apapun, baru bertemu badjang dan awe-awe saja dirinya hampir mati ketakutan.Setiap kali nirmala merasa bimbang, lagi-lagi nirmala mendengar nyai batari sedang memanggil dirinya dibarengi dengan tercium aroma bunga melati, seperti tadi nirmala menghentakkan kakinya namun kali ini tetap saja awe-awe tak mau melepaskan kaki nirmala.
__ADS_1
“opo sing mok jaluk teko aku nyai?”(apa yang kamu inginkan dari aku nyai)
“melu aku, tak jamin nyawamu”
“wegah”(gak mau)
“kowe mrana padha wae kowe menehake nyawamu, kowe uga ora arep slamet aku jamin”( kamu kesana sama saja kamu menyerahkan nyawamu, kamu pun tak akan selamat aku jamin)
Nirmala semakin bingung, namun suara nyai batari semakin intens memanggil nirmala.
“jorke, rak usah direken, melu aku tak terke bali”(biarkan, gak usah dipedulikan, ikut aku kuantar pulang)
“ora gelem nyai aku pengin tetep mrana, benno nyawaku taruhane”(gak mau nyai aku akan tetap kesana, walaupun nyawaku taruhannya)
“nyikkkk…nyiiiikkkk, ya wis menawa iku karep mu aku ora arep meksa, nanging aku uga ora arep nguculake kowe mangkono wae” (ya sudah jika itu mau mu aku tidak akan memaksa, tapi aku juga tidak akan melepaskanmu begitu saja)
“aku arep kukumu”(aku mau kukumu)
“kuku ku nyai?” mendengar permintaan awe-awe nirmala sampai kesulitan untuk menelan salavinanya sendiri.
“nyikkkk…rak kui thok, aku njaluk untu lan rambutmu”(tidak hanya itu saja aku minya gigi dan rambutmu)
“rak onok liyane, nyai?”(gak ada lainnya nyai?)nirmala gemetar dengan permintaan awe-awe.
Awe-awe medongakkan wajahnya kearah nirmala, walaupun awe-awe tak memiliki bola mata namun nirmala merasa jika dirinya sedang dipelototi. Dengan tubuh gemetaran nirmala mematahkan satu giginya dan melepas paksa salah satu kukunya, dari bekas gigi dan kuku yang tercabut keluar darah segar yang mengalir, nirmala menjeringat saat melihat awe-awe menjulurkan lidahnya saat melihat darah nirmala, segera nirmala membersihkan darah itu, tak ingin jika awe-awe meminta darahnya juga, yang terakhir nirmala menjambak rambutnya kasar, segumpal rambut nirmala dapatkan.
“emoh, rambute kurang akeh”(gak mau, rambutnya kurang banyak)
__ADS_1
Sekali lagi nirmala menjabak rambutnya, nirmala menyerahkan itu semua ke awe-awe. Barulah awe-awe melepaskan kaki nirmala, nirmala baru sadar saat awe-awe tertawa dilidah dan tenggorokkannya dipenuhi dengan puluhan bahkan ratusan gigi, sedangkan tangan yang digunakan untuk berjalan disanalah kuku-kuku dari manusia yang awe-awe temui berada, jangan tanya rambutnya dikemanakan nirmala tidak tahu kelanjutannya karena nirmala memilih untuk berlari.
Nirmala mendengar kembali panggilan dari nyai batari dan bau bunga melati, suara itu derdengar semakin jelas dan wangi itu semakin dekat. Nirmala semakin mengikuti semua petunjuk itu, hingga sampailah nirmala disebuah taman yang indah sekali banyak bunga melati putih dan bunga kantil hitam.
“Nirmala” suara panggilan itu terdengar lagi
Nirmala melihat nyai batari disana sedang menunggunya, tak seperti yang dibayangkan, yang nirmala bayangkan nyai batari sedang tersisksa namun nirmala salah nyai batari nampaknya bahagia.
“Nirmala, anakku”
Nyai batari membelai wajah nirmala, sama seperti sebelum nirmala berada disini, namun tatapan nyai batari yang dilihat nirmala kali ini bukan tatapan kesedihan namun kebalikannya tatapan bahagia.
“terimakasih nirmala”
“terimakasih untuk apa, nyai?”
“terimakasih sudah mau mengorbankan hidupmu untukku, lihatlah anakku taman ini begitu indah aku yang menanamnya, namun hanya ada dua warna bunga ditaman ini, hitam dan putih, kamu tau kenapa?”
Nirmala menggelengkan kepala
“nirmala yang putih tak selamanya jernih, dan yang hitam tak selamanya gelap begitu juga halnya dengan manusia”
“apa maksudnya nyai”
“nirmala terimalah berkatku” nyai batari mencium kening nirmala memluknya dengan penuh kasih.
“kembalilah anakku, tak sepantasnya kamu ada disini biarlah aku yang menanggung semua kesalahanku, aku pantas menerimanya sampaikan maafku pada adikku widuri”
__ADS_1
Nirmala terbangun dari tidurnya, ternyata semua ini hanya mimpi.