KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 32 : Unggah Ungguh


__ADS_3

"Di, ngapain sih kita kesini?" Tanya Genta


"Udah ikut aja, nanti kamu juga tau"


"Ini jauh banget Loh Di"


"Kamu nih bawel banget sih udah kayak ciway aja" ketus Didi


"Ya kamu ngajak pergi gak tau arah dan tujuannya mau kemana?"


"Bentar lagi sampe"


Tak berapa lama Didi memarkirkan mobilnya. Didi berdecak kagum melihat bangunan besar di hadapannya, walaupun bangunan ini terkesan kotor dan tak terawat namun Didi tak memungkiri jika bangunan rumah ini sangat artistik dan kuno.


"Rumah siapa ini, Di?"


"Rumah orang ayok masuk"


"Lah kamu gila Di? katanya rumah orang kok malah ngajak masuk?"


"Udah masuk aja"


Genta mengekor di belakang Didi, yang tengah asik memotrek setiap bagian dari rumah peninggalan keluarga Catra.


"Di, perasaanku kok Ndak enak ya. Balik aja yuk"


"Bentar dulu ah, ini rumah bakal jadi breaking new tau"


"Apa yang mau dibahas dirumah ini?"


"Nanti aku ceritain kisah kelam dibalik rumah ini"


"aelahhhh ngapa musti disaat seperti ini sih"


"Kenapa gen?"


"Pengen kencing aku, udah dipucuk nih gak tahan"


"Ehhh gen, ja..." ucapan Didi terpotong karena Genta sudah berlari mencari tempat untung BAK.


Didi masih asik memotret setiap detial dari bangunan rumah, memang benar apa yang dikatakan oleh Dimas kawan Didi bahwa rumah ini memiliki sesuatu yang berbeda. Didi bisa merasakan aura negatif yang seolah menyambut kedatangan Didi.


Didi telah selesai dengan urusannya, Didi terheran mengapa Genta tak kunjung kembali. Sebelumnya Didi sudah meminta ijin oleh pak Marno untuk membuat berita mengenai rumah keluarga Catra. Dan harusnya pak Marno yang menemani Didi untuk melihat kesuluran bagian yang ada di rumah ini. Namun karena pak Marno sedang ada acara makanya Didi mengajak Genta untuk menemani dirinya. Pak Marno hanya mengijinkan Didi untuk melihat bagian luar dari rumah itu dan Didi tidak keberatan akan hal itu.


"Ngapain sih anak itu cuma kencing aja lama banget" Didi menggerutu kesal karena Genta tak kunjung kembali.


Didi menganbil sebungkus rokok disaku celananya, menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya. Sembari menunggu Genta , Didi melihat-lihat lagi hasil jepretannya. Didi tertegun saat melihat salah satu gambar yang menunjukkan foto seorang wanita cantik lengkat dengan sanggul dan pakaian adat Jawa.


"Kapan aku foto dia?" gumam Didi


Didi mengamati foto wanita cantik tersebut, lalu Didi teringat akan cerita Dimas. Dimas pernah menceritakan secara detail bagaimana gambaran fisik seorang Nirmala. Didi melonjak kaget, Didi mengusap kasar wajahnya. Lalu ingatannya mengarah ke Genta temannya yang belum juga kembali.


Didi masuk kembali ke pelataran rumah, dan berjalan ke tempat terakhir kali Didi melihat temannya.


"Masyaallah ,gen kamu kenapa?" Didi terkejut melihat temannya sudah ambruk ditanah sembari meringis kesakitan.


"Bawa aku pergi dari sini" Genta berucap lirih, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat seperti orang gak dikasih makan seminggu.


Didi memapah tubuh Genta dan membawanya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Genta terus mengaduh kesakitan sembari memegangi alat vitalnya.


"kamu kenapa sih, gen?" tanya Didi bingung melihat wajah temannya


"Gila, Di rumah ini gila"


"Gila kenapa?"


Genta memplorotkan celananya


"Ehhh mau ngapain kamu??? jangan macem-macem Gen, aku masih normal gak sudi aku liat punyamu, bagusan juga punyaku" Seru Didi


"Dasar anak ngen" ketus Didi


(maaf ya guys kalau ada beberapa kata-kata kasar serta umpatan-umpatan, mohon dimaafkan🙏)


Genta menunjukkan kepunyaannya(testisnya) yang sudah membesar kepada Didi, besarnya melebihi dua kepalan tangan orang dewasa.


"Astaghfirullah, Gen" Didi melotot kaget


"Kok bisa kayak gitu?"


"Di, aku udah gak tahan lagi Di ini sakit banget" Rengek Genta


Didi mengambil ponsel miliknya, dan menelfon seseorang.


Didi melajukan mobilnya untuk segera sampai kerumah pak Marno, ya orang yang Didi telfon tadi adalah pak Marno. Didi tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi, dia sudah tidak tega melihat temannya yang sudah pucat dan lemas.


Rumah pak Marno tidak terlalu jauh dari rumah kelurga Catra. Didi memarkirkan mobilnya, memapah Genta yang sudah lemas tak berdaya.


"Bawa masuk nak" sambut pak Marno


"Baringkan temanmu disini"


"Kok bisa temanmu seperti ini?"


"Anu pak, saya juga tidak tahu dia hanya pamit buat BAK tapi pas saya samperin udah seperti ini"


"Oalahhh, temanmu BAK dimana memangnya?"


"Di dekat pohon pak yang banyak bunga kantil ya"


"Apa kamu dan temanmu tidak melihat kalau disitu ada kuburan?"


"Kuburan??"


"Temanmu ini kencing diatas kuburan pemilik rumah, makanya anunya bisa sebesar itu"


" Terus gimana pak??"


"Bapak bantu sebisanya ya, semoga saja temanmu ini masih diberi keselamatan, tapi setelah ini kalian harus meminta maaf kepada Nirmala"


"Nirmala???" tanya Didi


"Iya makam itu adalah makam milik Nirmala"


"Ini bukan pak" Didi menunjukkan hasil jepretannya kepada pak Marno. Pak Marno memandangi foto itu cukup lama.


"Pak...pak " mencoba menyadarkan pak Marno dari lamunannya

__ADS_1


"Kamu tunggu disini sebentar"


Pak Marno pergi ke dapur rumahnya. Didi mengamati jika dari tadi dirinya tidak melihat penghuni lain dirumah ini kecuali pak Marno.


Pak Marno datang membawa segelas air, beras , kunyit dan daun bengkle.


Pak Marno memasukkan beras, kunyit dan daun bengkle kedalam mulutnya, mengunyahnya beberapa kali, lalu melepehnya dan mengusapkan ke anunya Genta. Genta juga diberi minum yang sudah pak Marno beri doa.


"Sudah kalian sementara menginap disini dulu sampai kondisi temanmu membaik"


"Terimakasih pak"


Didi tak menolak permintaan pak Marno karena melihat kondisi Genta yang memprihatinkan serta langit yang sudah mulai gelap.


Didi menatap kearah Genta yang sudah tertidur pulas. Didi tidak bisa tidur, saat dirinya memejamkan mata wajah Nirmala selalu hadir.


"Andai saja Nirmala masih hidup, mungkin udah aku jadiin istri" Tak dapat tidur membuat pikiran Didi ngelantur kemana-mana. Didi membuka kembali kameranya, dilihatnya wajah Nirmala.


"Dia sungguh cantik" gumam Didi


Tiba-tiba dari arah luar Didi mendengar seseorang memanggil namanya.


"Mas Didi, metuo mas"(Mas Didi keluarlah mas)


Suara itu sangat lembut membuat Didi penasaran siapa yang memanggil namanya selembut itu.


Didi beranjak dari tidurnya, melangkah menuju pintu.


ceklek


Didi membuka pintu, namun tak ada siapapun diasana.


Didi terkejut saat pak Marno menepuk bahunya.


"Astaghfirullah, Bapak membuat saya kaget"


"Lahopo awakmu mbengi-mbengi bukak Lawang?"( Ngapain kamu malam-malam buka pintu?)


"Tadi ada yang manggil pak, tapi pas saya buka pintunya gak ada siapa-siapa" Didik menggaruk kepalanya bingung


"sudah masuk"


Didi merebahkan tubuhnya, disebelah Genta yang masih terlelap tidur. Lagi-lagi Didi mendengar seseorang memanggil namanya.


"Mas Didi, keluar mas" Namun kali ini diikuti dengan bau kembang kantil.


Didi terbangun diatas gundukan tanah. Didi mengerjapkan matanya memperjelas pandangannya. Bagaimana bisa dirinya terbangun di atas kuburan Nirmala.


Didi bergegas keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa tanpa sadar tubuhnya menabrak seseorang, dan Didi ambruk.


"Kamu ngapain lari-lari Di?" tanya Genta yang bingung melihat Didi seperti orang yang sedang dikejar demit


"Kamu ngapain disini, aku sama pak Marno nyariin kamu?" Didi tak menjawab pertanyaan Genta, bibirnya masih bergetar


"Kamu udah sembuh?" tanya Didi


"Lah kamu itu ditanya malah gantian nanya" ketus Genta


"Sudah ..sudah, jangan ribut. Kalian berdua sekarang minta maaf kepada Nirmala karena kalian sudah lancang dan tidak sopan"

__ADS_1


Didi dan Genta menunduk sembari berjalan menuju makam Nirmala. Mereka memohon maaf atas sikapnya yang sudah lancang. Didi mengembalikan bunga kantil Ireng yang sebelumnya ia petik. Beruntung Didi hanya diganggu saja tidak seperti Mira yang mengalami nasib yang sangat memprihatikan.


Setelahnya Genta dan Didi pamit untuk kembali ke kotanya. Lagi pula anunya Genta sudah lebih baik tidak sebesar kemarin walaupun belum sepenuhnya kembali total. Didi mengurungkan niatnya untuk membuat berita mengenai rumah Catra.


__ADS_2