KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 48 : Wes Nemu Dalane


__ADS_3

“Permisi pak mau tanya,apa ini benar desa Kalimati?” Tanya Bara kepada tukang ojeg


“Desa Kalimati masih jauh mas dari sini, masnya dan mbaknya ini ada perlu apa ya kesana?”


“Saya mau nyari ibuk saya pak, apa bapak bisa antar kami kesana?” Jawab Jaeda


“Waduhhhh, gimana ya mbak”


Jaeda merasa ada yang aneh ketika Jaeda meminta tukang ojeg untuk mengantar Jaeda dan Bara ke desa Kalimati para tukang ojeg saling lirik satu sama lain seperti enggan untuk mengantar ke desa itu.


“Bagaimana pak? Nanti ongkosnya saya tambahin gak apa-apa” Bujuk Jaeda


“Bukan masalah ongkos mbak tapi-“ Tukang ojeg itu tak melanjutkan ucapannya


“Pak Mahdi, iki ono sing njaluk diterke nang desa Kalimati”(Pak Mahdi, ini ada yang minta diantar ke desa Kalimati)


“Terus kenapa ndak mbok anter?”


“Anu- pak”


“Hissstttt kamu itu lho ndak baik nolak rejeki”


“Mbaknya sama masnya mau desa Kalimati? Mari saya antar, Panjul ayok”


“Iya pak terimakasih ya”


“Lho pak kok mbi aku to?” Protes Panjul


“Wes, ora opo-opo ora elok nolak rejeki”


Disepanjang perjalanan Jaeda merasakan tengku lehernya merinding, aroma kemenyan dan bunga tercium disepanjang jalan.


“Mbak ojo ngalamun yo” Tegur pak Mahdi


“Ehhh iya pak”


“Ngomong-ngomong tujuannya mbaknya ini mau bertemu siapa?”


“Emmm saya mau bertemu ibuk saya pak”


“Ouhhh, maaf ya mbak kalua saya boleh tahu asmane ibuknya siapa barangkali saya kenal”


“Nirmala”

__ADS_1


“Astagfirullah” Tiba-tiba pak Mahdi mengerem motor tuanya hinga membuat pak Mahdi dan Jaeda hampir oleng.


“Ono opo pak?” Tanya Panjul


“Gak ada apa-apa njul, biasa motor tua hehehe. Maaf ya mbak” Jaeda merasa bahwa pak Mahdi sedang menutupi sesuatu terlihat dari gelagat pak Mahdi yang aneh setelah mendengar nama Nirmala.


Setelah perjalanan hampir satu jam, Jaeda sampai disebuah rumah yang sangat sederhana, bangunannya seluruhnya masih menggunakan kayu begitu juga dengan lantainya (rumah terompo kalua di daerah Jawa).


“Maaf mbak saya hanya bisa mengantar sampai sini” Ucap pak Mahdi


“Iya pak terimakasih sudah diantar, ini ongkosnya pak”


“Terimakasih mbak, semoga kedatangan mbaknya ke desa ini bisa membebaskan desa ini dari kutukan”


“Kutukan?”


Belum menjawab pertanyaan Jaeda pak Mahdi dan mas Panjul bergegas pergi.


“Jaeda, ini rumah siapa?” Tanya Bara


“Aku juga ndak tau, coba ketuk saja”


“Assalammualaikum” Jaeda dan Bara mengetuk pintu rumah tersebut


“Waalaikumsallam”


Jaeda merasakan tubuhnya seperti terbakar saat perempuan itu berdiri dihadapannya, begitu juga perempuan itu ia menahan rasa panas dari tubuhnya.


“Jaeda, kamu kenapa?” Bara meraih tubuh Jaeda yang mulai tak terkontrol, Jaeda dan Kanthi terus berteriak.


“Ono opo iki?” Dathuk dan Rahayu keluar karena mendengar teriakan Kanthi dan Jaeda.


“Wes, bocah loro iki digowo nang njero umah ndisik”(Sudah, dua anak ini dibawa masuk kedalam rumah dulu).


Dathuk membacakan doa di segelas air dan setelahnya diminumkan kepada Jaeda dan Kanthi. Setelah meminum air itu perlahan tubuh Jaeda dan Kanthi mulai normal dan perlahan rasa panas itu mulai menghilang.


“Kalian berdua ini siapa?” Tanya Dathuk


“Nama saya Bara dathuk dan ini Jaeda” Bara mencoba memperkenalkan diri.


Mendengar nama Jaeda, Rahayu tersentak dan memeluk tubuh Jaeda.


“Jaeda???? Kamu Jaeda??? Akhirnya” suasana diruangan itu mendadak haru.

__ADS_1


“Aku Rahayu, aku abdi dalem ibukmu dan aku juga yang membantu ibukmu saat kamu dilahirkan”


“Terimakasih buk, lalu dimana ibuk?” Mendengar pertanyaan Jaeda seketika Rahayu terbungkam.


“Dathuk, mbak Ayuk” Kanthi mencoba membuka matanya


“Sumbu ketemu tutup, masing-masing soko awakmu kudu iso nahan energi masing-masing. Kanthi itu kreteg kanggo awakmu nemoni ibukmu”


“Ono opo sakjane dathuk?” (Ada sebenarnya dathuk?)Tanya Jaeda


“Ceritane dowo, Jaeda”(Ceritanya panjang Jaeda) Ucap Rahayu


“Dathuk, apa desa iki desa mati? Sak dawane dalan orak ono menungso sing sliweran”(Dathuk apa desa ini desa mati? Sepanjang jalan gak ada terlihat warga yang lain)


“Iya , iki ngunu kabeh amarga Nirmala. Nirmala mbabat entek warga sing manggon nang deso iki. Kabeh digawe tumbal susuk kantil ireng”(Iya, ini semua karena Nirmla. Nirmala membunuh semua warga yang ada di desa ini. Semua warga dijadikan tumbal susuk kantil ireng)


Mendengar hal itu, Jaeda tak kuasa menahan air matanya. Bertahun-tahun terpisah dengan ibu kandungnya dan kini harus menerima kenyataan pahit bahwa ia terlahir dari Rahim perempuan penganut ilmu hitam.


“Jadi ini alesan Jaeda ndak boleh ketemu ibuk? Jadi benar ibuk yang telah membunuh bapak?” Ucap Jaeda dengan nada terisak


“Apa mas Wahyu , Innalillahi” Jaeda mengangguk


“Bapak ninggalin Jaeda, waktu Jaeda masih kecil. Sejak itu Jaeda tinggal bersama paman Wira”


“Wira???” Tanya Dathuk


“Iya Dathuk, Wiraga ayah saya” Jelas Bara


“Kamu Sembara Wiraga? Putra bungsu Wira?”


“Leres Dathuk”(Benar Dathuk)


“Ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa, dan ini alasan kami bertahan di desa ini karena dathuk yakin kamu akan kembali ke desa ini. Walaupun desa ini sudah tidak bisa diselamatkan setidaknya kita bisa memutus merambate susuk kantil ireng”


“Kalian istirahat dulu disini, pasti lelah kan setelah perjalan jauh Kanthi sudah mempersiapkan semua keperluan kalian” Ucap Rahayu


“Apa tidak apa-apa jika aku tetap berada disini?” Tanya Jaeda


“Tenang saja Jaeda, aku sudah bisa mengontrol energi yang kamu berikan” Ucap Kanthi


Jaeda dan Bara bermalam di rumah Dathuk, mereka menghabiskan waktu dengan mendengar cerita masalalu Rahayu dan Nirmala sembari menikmati singkong goring dan teh hangat. Ada perasaan sedikit lega yang Jaeda rasakan setelah mendengar cerita dari Rahayu, bahwa Nirmala tak seburuk itu walaupun jalan yang ditempuh tetap salah.


Walaupun Jaeda sangat-sangat terlambat namun setidaknya ia masih bisa menyelamatkan warga desa yang tersisa dan tentu saja Kanthi sebagai penerus susuk kantil ireng karena kanthi anak angkat Nirmala.

__ADS_1


__ADS_2