KANTIL IRENG NIRMALA

KANTIL IRENG NIRMALA
Part 54 : Pras Story


__ADS_3

“Ki, terimakasih sudah menolong saya, saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan kami”


“Sudah sepatutnya sebagai makhluk ciptaannya kita saling menolong satu sama lain”


“Terimakasih banyak Ki, sudah memberikan kami tumpangan menginap saya janji akan mengunjungi aki lagi” ucap Bara


“Haahahaaa, sebaiknya jangan pernah punya pikiran untuk kembali lagi ke hutan ini. Ingat yang ada di depan sana bukanlah sesuatu yang mudah untuk diruntuhkan melainkan kegelapan yang lebih gelap dari gelapnya seribu malam” Ki Ageng memberikan wejangan sembari menatap kearah hutan


“Jaeda, hanya kamu yang sanggup untuk menghentikan susuk kantil ireng, gunakan kebijaksanaanmu sebaik mungkin nyawa dan keselamatan teman-temanmu ada ditanganmu, jika kamu salah dalam menentukan pilihan kamu beserta temanmu akan menjadi tumbal selanjutnya dan susuk kantil ireng akan berlanjut untuk bertemu bonggole(akarnya)”.


“Baik ki terimakasih atas wejangannya”


Atas perintah Ki Ageng, Jaeda menancapkan keris yang diberikan oleh dathuk sebagai pelindung selama mereka ada didalam hutan. Perjalanan kali ini terasa mudah bagi Jaeda seperti hutan ini tidak asing untuknya dan seperti ada sesuatu yang menuntun Jaeda untuk menemukan tempat dimana Nirmala berada.


“Berhenti menengok kearahku” ucap Pras dingin yang sedari tadi mulai merasa jika Kanthi selalu mencuri pandang kearahnya


“Cieeeee setelah ini bakalan ada yang jadian nih” Ledek Bara, yang membuat Kanthi tersipu malu. Pras menatap tajam kearah Bara yang membuat Bara kecap seketika. Pipi Kanthi mengembang menahan tawa saat melihat wajah pucat Pras berubah menjadi wajah bingung atau mungkin salting lebih tepatnya.


Tiba-tiba saja Jaeda menghentikan langkahnya, dihadapannya terpampang sosok wanita dengan wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan borok matanya pun seperti hampir copot dari tempatnya.


“Makhluk apa itu Jaeda?”

__ADS_1


“Entahlah Kanthi sepertinya ia salah satu penghuni hutan ini”


Benar saja energy makhluk itu membuat seluruh demit yang ada dihutan berdatangan, kini hutan tempat Jaeda dan teman-temannya berada sudah dipenuhi oleh berbagai macam demit.


“Biar aku saja” Pras menawarkan diri untuk melawan demit wanita itu, tiba-tiba saja terdengar suara alunan gamelan. Demit wanita itu mulai meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan suara gamelan yang entah dari mana asalnya. Demit-demit yang berada disekeliling hutan seakan menikmati tarian yang dilakukan oleh demit wanita itu. Demit wanita it uterus menari mengelilingi tubuh Pras serta ekspresinya yang menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Tak ada percakapan diantara keduanya, hanya ekspresi wajah yang terlihat mungkin itu cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Semakin lama intonasi suara gamelan semakin cepat dan semakin keras membuat gendang telinga Jaeda, Kanthi dan Bara berdengung. Diikuti dengan gerakan tari demit itu yang semakin cepat serta ekspresi wajahnya yang terlihat sangat-sangat marah. Hal ini terjadi cukup lama, hingga akhirnya alunan gamelan melambat dan demit wanita itu perlahan menghilang begitu juga dengan demit-demit yang lain.


“Apa yang terjadi Pras? Apa yang diinginkan demit wanita itu?” Tanya Bara. Wajah Pras semakin terlihat gusar dengan pertanyaan Bara namun Pras memilih untuk diam dan tidak memberitahu apapun kepada Bara dan yang lain.


Pras kembali ke barisan belakang dan meminta Jaeda untuk melanjutkan perjalanan. Sesekali Kanthi menoleh kearah Pras sekedar untuk memastikan bahwa Pras baik-baik saja. Namun seolah tak ingin dilihat oleh Kanthi, Pras menundukkan wajahnya.


Hari mulai gelap, suara serangga hutan mulai terdengar rintikan air hujan yang mulai turun membuat tanah menjadi licin dan berlumpur.


“Bagaimana Pras? Kamu yang lebih tahu dengan apa yang ada dihutan ini" Tanya Bara


Pras diam sejenak mencoba berfikir, apa yang ada di depan yang kemungkinan lebih besar dan lebih berbahaya lagi. Akhirnya Pras memutuskan untuk bermalam dihutan ini, walaupun sebenarnya Pras ragu jika harus bermalam ditempat ini tapi Pras tidak ingin hal buruk akan terjadi lagi.


Pras memilih pohon yang cukup rindang untuk mengurangi tetesan air hujan.


“Pras, apakah tempat ini aman untuk kita?” Tanya Kanthi yang sedikit ragu, sejak kehadiran demit wanita tadi Kanthi merasakan kegelisahan seperti sesuatu tengah mengancam dirinya.


“Setidaknya disini lebih baik daripada kita harus melanjutkan perjalanan di tengah hujan”

__ADS_1


“Aku setuju dengan pendapat Pras, medan yang kita lalui sedikit sulit jika kita salah memijakkan kaki kita akan tergelincir ke jurang”


Denngan berat hati Kanthi mengikuti usulan teman-temannya, walaupun sebenarnya Kanthi sangat-sangat merasa tidak nyaman dan dadanya mulai terasa sesak.


Pras menatap kearah Kanthi sedang duduk di sebelah Jaeda, bagaimana bisa dirinya berkorban untuk wanita yang baru saja ia temui. Pengorbanan yang Pras lakukan untuk Nirmala saja membuat dirinya jadi hantu penasaran.


“Pras, apa yang membuatmu bersedia membantuku mencari ibuku? Apa kau mengenal ibuku?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut Jaeda


“Ya, aku adalah teman masa kecil ibumu saat aku dan ibumu berada di omah panti. Tapi ibumu tidak mengenal diriku, karena aku diadopsi oleh Dathuk”


“Jadi Dathuk ayah angkatmu?”


Pras mengangguk


“Tapi Pras, mengapa wajahmu masih terlihat muda bukankah jika dihitung usiamu sudah empat puluh tahunan?” Tanya Kanthi penasaran


“Aku mati diusiaku yang masih muda”


“Pras, bolehkah aku tahu mengapa kamu berada disini?” Tanya Jaeda dengan ragu


“Aku adalah salah satu korban tumbal kantil ireng Nirmala, dari awal aku bertemu Nirmala saat di omah panti aku merasa tertarik padanya namun aku tak ada keberanian untuk sekedar berkenalan dengan Nirmala. Hingga saat aku diadopsi oleh Dathuk aku masih sering dating ke omah panti untuk sekedar melihat Nirmala. Hingga akhirnya Nirmala diadopsi oleh keluarga Catra perasaanku mulai tidak enak aku merasakan jika akan ada hal buruk yang menimpa Nirmala. Namun melihat wajah Nirmala yang semakin hari semakin cantik aku semakin jatuh hati kepada Nirmala. Mengetahui jika aku menaruh hati kepada Nirmala Dathuk melarangku untuk menemui Nirmala dan membuang jauh-jauh perasaanku kepada Nirmala. Namun aku tetap bersikeras ingin menjadikan Nirmala istriku, Nirmala gadis pertama yang aku cintai. Cinta telah membutakan mata hati ku, aku tak memperdulikan lagi peringatan-peringatan yang dathuk berikan aku malah semakin menantangnya. Hingga suatu hari aku memiliki kesempatan untuk mengutarakan isi hatiku kepada Nirmala, bagaikan mimpi Nirmala menerima cintaku. Aku sangat bahagia saat itu, dan tak ingin menyiakan kesempatan itu aku berniat untuk melamar Nirmala. Diruangan tempat dimana kami biasa bercinta menumpahkan semua gairah kami, Nirmala menjadikanku makanan untuk ingonnya yang bernama singolangu. Namun berkat ilmu kebatinan yang sempat aku pelajari dari Dathuk aku bisa bangkit dari kematianku dan untung saja jasadku masih utuh dan aku berjanji pada diriku sendiri akan menghentikan susuk kantil ireng Nirmala ”

__ADS_1


__ADS_2