
“mbok, nyai widuri kemana?”
“pulang, sementara waktu kamu tinggal dulu disini”
Nirmala hanya bisa pasrah, nirmala duduk terdiam ingatannya menerawang di saat orang tuanya masih hidup dan disaat nirmala masih tinggal dipanti.
“ibu, bapak…nirmala rindu” (menangis)
“urip iku kadhang ora jumbuh apa kang awake dhewe arep-arep, apa kang kedadeyan karo kowe pancen dudu salahmu nanging iki wis dadi ratan takdirmu ana disatu garis karo dheweke kabeh. aku tuduhake siji bab kang kudu kowe ngerti”( hidup itu kadang tidak sesuai apa yang kita harapkan, apa yang terjadi sama kamu memang bukan kesalahanmu tapi ini sudah menjadi jalan takdirmu berada disatu garis dengan mereka. aku perlihatkan satu hal yang harus kamu tahu)
Mbok pinah meminta mengusap wajah nirmala, diurutnya kening nirmala perlahan sampai nirmala bisa melihat tragedi dimana dirinya dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan. Saat itu nirmala dan kedua orangtuanya sedang menaiki sepeda setelah pulang dari pasar karena ayahnya mendapat uang lebih dari bosnya, saat dalam perjalanan kerumah tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabrak mereka, mobil itu sangat kencang hingga membuat nirmala dan kedua orangtuanya terpental, nirmala selamat dan orangtuanya meninggal ditempat. Orang yang berada didalam mobil juga tak kalah parahnya, bagian depan mobil ringsek karena menabrak pohon, namun ada wajah yang tak asing dari korban yang berada didalam mobil tersebut, wajah anak kecil itu mirip sekali dengan wajah anggun, walaupun sebagian wajahnya tertutupi darah yang mengalir dari kepalanya namun nirmala dapat melihat dengan jelas bahwa anak itu adalah anggun. Mbok pinah mengusap kembali wajah nirmala, dan disitulah nirmala tersadar dengan apa yang barusan ia lihat, bahwa orangtua anggun yang telah menabrak dirinya dan orangtuanya. Namun baik nirmala maupun anggun sama-sama kehilangan orangtua mereka, itu sebabnya mengapa setiap kali nirmala melihat wajah anggun nirmala selalu teringat kecelakaan itu.
“kowe wis ngerti saiki, banjur apa kang pengin kowe tindakake karo anak iku”
( kamu sudah tahu sekarang, lalu apa yang ingin kamu lakukan dengan anak itu)
“emang aku kudu ngapa mbok” (emang saya harus ngapain mbok)
Mbok nipah tersenyum menyeringai, membuat nirmala yang melihatnya bergidik ngeri
“nirmala kowe ngerti menawa kowe sabenere mung didadekake piranti dening widuri kanggo menebus sukma batari kang wektu iki lagi ditahan dening singolangu?”( nirmala kamu tahu jika kamu sebenarnya hanya dijadikan alat oleh widuri untuk menebus sukma batari yang saat ini sedang ditahan oleh singolangu?)
“kowe iku mung dadi tumbal, ben batari bisa ucul saka singolangu lan susuk kantil ireng”( kamu itu hanya sebagai tumbal, agar batari bisa lepas dari singolangu dan susuk kantil ireng)
__ADS_1
Entah harus percaya atau tidak, tapi mengapa mbok nipah mengatakan ini bukankah mbok nipah adalah guru spiritual nyai batari.
“nanging kowe ora usah kuwatir kowe ora kudu ngorbanake awakmu, nanging itupun ora gampang , dadi gantine kowe kudu mepersembahkan satus prawan kanggo singolangu. dudu aku ora mengini batari bali nanging saka wiwiting aku wis menehi ngerti marang widuri menawa mengko ana kang gelem dadi penebus dheweke kudu ngerti kang sabenere, nanging widuri ora sanjang ning kowe kang sejujure”(tapi kamu tidak usah khawatir kamu tidak harus mengorbankan dirimu, tapi itupun tidak mudah , sebagai gantinya kamu harus mempersembahkan seratus gadis untuk singolangu. Bukannya aku tidak menginginkan batari kembali namun dari awal aku sudah memberi tahu kepada widuri jika nanti ada yang bersedia sebagai penebus dia harus tahu yang sebenarnya, namun widuri tidak mengatakannya padamu yang sejujurnya)
“batari wis adoh terperosok njero belenggu, aku wis mengetine saka awal nanging omonganku ora digubris, keputusan ana ditanganmu pikirake baik-baik, aku mung ora pengin ngorbanake nyawa wong kang ora bersalah”(batari sudah jauh terperosok kedalam belenggu, aku sudah memperingatinya dari awal tapi omonganku tidak digubris, keputusan ada ditanganmu pikirkan baik-baik, aku hanya tidak ingin mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah)
Nirmala bingung memikirkan dirinya, dimana sebenarnya posisi dirinya sedang berada, mengapa semua ini sangat rumit. Semalaman nirmala tidak tidur, semua perkataan mbok nipah terngiang-ngiang ditelinga nirmala. Semakin larut nirmala semakin merasa gelisah, berkali-kali nirmala membenarkan posisi tidurnya mencoba memejamkan mata namun sulit, terlebih setiap malam dirumah ini tercium bau kemenyan yang menyengat, dan diselingi sesuatu yang berbau langu seperti bunga sembujo. Nirmala mencoba mengingat bau itu, bau itu adalah bau sebagai pertanda kedatangan singolangu. Namun sebelumnya mbok nipah selalu berpesan kepada nirmala, untuk tidak keluar kamar diwaktu malam terlebih setelah lewat dari jam sepuluh malam, namun bau langu itu sangat menyengat membuat nirmala semakin penasaran, nirmala membuka pintunya perlahan sebisa mungkin tak menciptakan suara, selangkah demi selangkah nirmala mendekati kamar milik mbok nipah, karena rumah mbok nipah terbuat dari anyaman bambu memudahkan nirmala untuk mengintip dari celah bilik. Nirmala menutup mulutnya dengan tangan setelah kaget apa yang tengah dilihatnya, mbok nipah sedang berada diranjang dengan singolangu, nirmala melihat dengan jelas sosok singolangu, tinggi , berbulu, hampir seperti genderowo namun lebih menyeramkan singolangu. Ketakutan menyelimuti tubuh nirmala saat itu, ia bergegas kembali kekamarnya.
“jadi selama ini makhluk itu yang telah meniduriku, bukankah makhluk itu juga yang kini tengah mereka hadapi untuk merebut kembali sukma nyai batari, tapi kenapa mbok nipah sedang beradu ranjang dengan makhluk itu?”
“bukankah hanya orang-orang yang masih perawan dan memakai susuk kantil ireng yang dinikahi oleh singolangu?”
“mungkinkah mbok nipah juga salah satu orang yang memakai susuk kantil ireng? Jika dipikir lagi selama aku tinggal disini aku tidak pernah melihat suami mbok nipah?”
Lelah memikirkan semuanya, membuat nirmala tanpa sadar tertidur.
Malam ini malam keseratus nirmala berada dirumah mbok nipah, semakin lama nirmala disini banyak kejadian ganjil yang nirmala temui, disiang hari mbok nipah selalu pergi entah kemana setelah sorop mbok nipah akan datang dengan seorang gadis, selalu seperti itu setiap hari mbok nipah akan datang dengan gadis yang berbeda, namun gadis tersebut memiliki tatapan mata kosong seperti disirep(hipnotis) , pernah suatu waktu nirmala mengintip mbok nipah sedang berada dikamar itu lagi dengan gadis yang dibawa mbok nipah, gadis itu berbaring diranjang tangan dan kakinya diikat dengan kain putih sama seperti nirmala waktu datang pertama kali kerumah ini, namun bukan memasangkan susuk namun mbok nipah menggorok leher gadis itu hingga darahnya menetes dan mbok nipah menampung darah gadis itu didalam mangkuk yang terbuat dari tempurung kelapa, tak hanya sampai disitu mbok nipah akan meminum darah itu hingga habis. Nirmala yang melihat itu tak dapat berkata apa-apa lagi, mual, takut, kasihan dengan para gadis itu bercampur jadi satu, namun taka da yang dapat nirmala lakukan, nirmala memilih diam karena dirinya masih saying nyawa. Siang harinya disaat mbok nipah tidak ada dirumah nirmala masuk kedalam kamar itu, mencari jasat gadis itu namu tak nirmala temukan, disudut ruangan nirmala melihat sebuah pintu, nirmala buka pintu itu, pintu itu mengarah ke halaman belakang yang cukup luas, ditanah itu terdapat banyak sekali patokan kayu semacam nisan, jadi selama ini gadis-gadis itu dimakamkan disini. Hari mulai sorop nirmala berniat untuk kembali kekamarnya sebelum mbok nipah kembali namun nirmala terlambat mbok nipah sudah datang dan seperti biasa bersama seorang gadis, nirmala panic dan bersembunyi dibalik pintu namun mbok nipah mengetahui keberadaan nirmala.
“metu, aku reti awakmu ning kono”(keluar aku tahu kamu disana)
Nirmala melangkah dengan pelan, batannya gemetar menahan rasa takut, saat matanya mengarah keranjang tempat gadis berbaring nirmala terperanjat kaget gadis itu adalah anggun.
“anggun???”mata nirmala melotot tak percaya
__ADS_1
Mbok nipah tertawa melihat reaksi nirmala
“ojo mbok , ojo cah niku”(jangn mbok jangan anak itu)
Namun semua sudah terlambat, usaha nirmala menghentikan mbok nipah sia-sia, mbok nipah sudah menggorok leher anggun. Nirmala terduduk lemas melihat sahabatnya mati dibunuh dihadapannya.
Paginya nirmala pulang dijemput pak marno.
sebelum Nirmala masuk kedalam mobil dilihatnya sekali lagi wajah mbok Nipah, yang tersenyum menatap Nirmala.
"atos-atos geh pak Marno"(hati-hati ya pak Marno)
"inggih mbok, Kulo mlampah rumiyen"(iya mbok saya pamit jalan dulu)
"awakmu wes roh Kabeh kan, ati-ati ya ora Kabeh sing dideleng mripatmu kui bener"(kamu sudah melihat semua kan, hati-hati ya gak semua yang dilihat oleh mata itu benar)
mbok Nipah berbisik lirih ke telinga Nirmala, Nirmala berbegas masuk kedalam mobil.
sepanjang perjalanan pulang disepanjang jalan desa Nirmala melihat puluhan gadis berjajar menatap kearah Nirmala, wajah mereka seperti wajah para gadis yang menjadi korban mbok Nipah.
"rausah direken mbak jorke wae"(gak usah dihiraukan mbak biarkan saja)
Nirmala memilih mengabaikan mereka, dan memilih beristirahat mengingat perjalanan yang Nirmala akan tempuh lumayan menyita waktu.
__ADS_1