Karena Allah

Karena Allah
Awal mula.


__ADS_3


Suara ketukan pintu itu, mengaharuskan seorang wanita yang duduk ditepi ranjang termenung, sedikit terkejut dan membukanya.


dilihatnya, seorang wanita cantik berhijab. ia adik dari wanita itu. usianya dg usia wanita itu hanya terpaut 3 tahun, sekarang umurnya menginjak 20 tahun.


Tampak dari wajah adik nya itu seperti menyiratkan kesedihan.


"Kak ummi, menyuruh mu kebawah" ujarnya tak bersemangat.


wanita itu mengangguk paham. segera ia dan adiknya turun kebawah bersama.


๐Ÿ‘๏ธ


Empat orang menatap wanita itu dan adiknya yg menuruni tangga. wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Assalamualaikum" salamnya. dua sepasang suami istri dan seorang wanita paruh baya itu, menjawab salam wanita itu.


tidak dengan seorang pria yang duduk bersebelahan dg seorang wanita paruh baya. ia justru menunjukkan wajah tak suka. sekaligus dingin.


adik wanita itu, menatap wajah pria itu, lalu menatap wajah kakaknya. hatinya terbesit, bagaimana bisa kakaknya yang pendiam dan pemalu akan menikah dg pria yang tampak dingin dan sombong seperti pria itu.


Ya, Nur shiddiqi, cantik dan manis mungkin itu sebutan khusus untuk dirinya. ia sangat menyayangi kakaknya.


Setelahnya, ummi maulidyah menyuruh mereka duduk. wanita itu dan nur patuh, mereka duduk bersebelahan. tangan nur memegangi tangan kakaknya, yang dingin. matanya tak lepas dari memandang kakaknya, yg sedari tadi menunduk.


sejujurnya, nur tak ingin kakaknya salah pilih seorang pendamping hidupnya. tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Lelaki itu menatap perempuan itu dingin. ummi yg menyadari hal itu, segera memanggil namanya, dengan tenang dan tanpa ekspresi pria itu menyahutnya "Iya"


Ummi tersenyum lembut. "Sabarlah, sebentar lagi kalian akan dihalalkan"


Ia hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Hj Ahmad malik, suami ummi maulidyah dan wanita yg duduk bersebelahan dg lelaki calon suami zahra, ikut tertawa kecil.


"Sepertinya dia sudah tak sabar lagi" ujar ibunya, terkekeh. wanita yang duduk disebelah pria itu.


Ya, nazwa az zahra wanita itu, di jodohkan dengan Pria itu. sebab, ibu pria itu meng- idam-idamkan seorang menantu yang sholeha. ditambah lagi keinginan orang tuanya yg ingin mempererat persahabatan dengan pernikahan dan menjadi keluarga.


ia menerima perjodohan itu tanpa penolakan, cinta bukanlah masalah baginya. ia yakin cintanya kepada Allah akan mampu meluluhkan hati suaminya.


Pernikahan adalah sunnah Rasulullah. Rasulullah saw bersabda: Nikah itu adalah sunnahku maka barang siapa yang membenci melakukan sunnah ku maka dia bukan termasuk ummat ku.


Ini sudah beberapa kalinya, mereka menemui rumah besannya. hari itu, mereka tak setiap harinya datang hanya untuk memperdekatkn zahra dg lelaki itu sebelum menikah.


Meskipun seperti itu, hubungan Antara keduanya tak ubahnya orang asing.

__ADS_1


Tapi, kali ini tujuan mereka bertamu. ingin memperserius hubungan kekeluargaan. ya, Asma diana โ€”ibu dari lelaki ituโ€” ingin mempercepat pernikahan nya.


sementara itu, hati nur masih berkecamuk. ia benar-benar tak rela jika kakaknya menikah dg lelaki sombong itu.


Ya, pria itu memang sombong. Dia jarang menunjukkan senyuman, apalagi berlaku ramah. nur tau jika pria itu memang kaya. tapi tak semestinya dia berlaku sombong.


"Jika seperti itu, Pernikahan zahra dan an. akan dilangsungkan 1 minggu lagi." Ujar Hj Ahmad.


"Apakah pernikahan zahra dan an tak bisa di percepat. agar menghindari fitnah, pak HJ ahmad" Saran Asma.


Hj Ahmad, mengangguk. ia setuju. apa yang dikatakan nyonya asma memang benar adanya. juga dengan umi maulidyah, yg juga ikut menyetujui saran asma.


Andeeka Reigantara, Seorang ceo tampan berparas bak oppa korea. ya, sejujurnya ia ingin sekali menolak perjodohan itu. tapi, ia tak bisa melakukannya. ia tak ingin melukai hati ibunya. karna itulah, ia hanya bisa patuh.


Mata zahra beberapakali melihat calon suaminya, namun hanya sekejap mata.


Kepetusan telah di ambil bersama. pernikahan an dan zahra akan dilangsungkan besok di rumah Hj ahmad. secara sederhana.


๐Ÿ‘๏ธ


Zahra menutup bukunya, seraya bangkit dari tempat duduknya. membukakan pintu yg baru saja diketuk oleh seseorang.


Mendapati seorang wanita cantik yg mengenakan hijab. dg wajah yang sedih.


belum bicara apapun, tangan Zahra ditarik ke dalam kamarnya lebih dulu. lalu wanita itu mendudukan zahra, juga dg wanita itu.


"Nur, Kenapa?" Tanya zahra, halus. wanita itu menatap zahra lekat. dg mata yang menyiratkan kesedihan.


Nur menggeleng lemah "Kak, katakan kepadaku. bahwa kakak tak menyukai lelaki itu." ucapnya lemah.


Zahra mengulas senyuman lembut dibalik cadarnya "Memangnya kenapa dia?"


"Dia pria yang sombong, kakak melihat wajahnya___"


"Kenapa wajahnya, nur?" Tanya umi tiba-tiba. serempak nur dan zahra menoleh pd asal suara itu. Berdiri umi di ambang pintu seraya melangkah mendekati keduanya. dan duduk di sebelah nur.


"Kenapa wajahnya, nur?." Tanya umi sekali lagi. Nur hanya membalas gelengan lemah. ia tak mampu berkata apapun kepada umi.


"Nur, Menikah itu bukan hanya karena cinta. tapi, karna ibadah. banyak orang yang menikah atas dasar cinta, tapi hubungan mereka tak bertahan lama, dan berakhir penceraian. jika kita menikah karna ibadah, dan segala urusan diserahkan kepadanya Allah. insyaallah akan terjalin hubungan yang samawa" jelasnya. dg panjang lebar.


umi mengangguk angguk mengiyakan penjelasan Zahra.


"Nur, menikah itu bukan hanya karna saling mencintai. tapi karna iman. seperti yg dikatakan Sayyidina umar bin Khattab: Sebuah perasaan itu hanya sebuah makmum. dan imanlah yang harus menjadi imamnya. tak semua cinta itu melahirkan iman. tapi semua iman, insyaallah akan melahirkan cinta"


Nur mulai mengerti, ia mencoba berdamai dg dirinya sendiri. apa yg dikatakan memang ada benarnya. tapi, ia juga harus waspada.


nur tampak menunjukkan senyuman manisnya "Iya, umi. Nur sekarang paham"

__ADS_1


umi dan zahra saling padang, cepat sekali ia mengertinya.


Baiklah, umi. aku akan belajar menerima calon kakak iparku. batin nur.


"Nur!" Panggil umi. membuat nur tersentak dari diamnya. "kau kenapa nur?apa yang kau pikirkan?"


"Bukan apa-apa umi."


"Setelah ini turunlah kebawah. kita makan bersama" Titah umi, seraya berlalu dari kamar itu.


๐Ÿ‘๏ธ


Nur Menghampiri meja makan seraya duduk bersama. disana terdapat, umi dan abah. sementara makanan sudah tersedia di meja makan.


"Dimana kakakmu nur?" tanya umi yang tak melihat keberadaan zahra.


"Kakak masih di atas. katanya 'ia tak ingin makan'" ujarnya.


"Apa kakak mu tidak enak badan, nur?" Tanya abah.


nur menggeleng "Tidak, abah. kakak baik baik saja"


Sekarang umi mengerti apa yang menjadi alasan, zahra tidak makan.


๐Ÿ‘๏ธ


Zahra duduk ditepi ranjang, merenung. sekrang ia benar benar tak tenang dg penuturan nur, adiknya.


Dia pria yang sombong. kakak melihat wajahnya. Kata itu terus saja berdengung di telinganya.


Karena pikirannya tidak tenang. ia beranjak dari ranjangnya seraya ke kamar mandi. mengambil wudhu. dan mendirikan sholat istikharah. Saat ini pikirannya benar-benar kalut.


ia menengadah kan tangannya. memejamkan matanya "Ya Allah berilah hamba mu petunjuk. jika dia memang benar yg terbaik untuk ku, yakin kanlah hatiku. dan permudahlah segalanya. Aamiin." Gumamnya.


Kebetulan, saat ini umi berdiri di belakang nya. membawakan makanan. umi memyentuh pundak zahra, membuat kepala zahra menoleh.


segera umi meletakan makanannya di atas ranjang. dan ia duduk di sebelah zahra.


"Ada apa, zahra?" tanya umi.


Zahra menunduk kan kepalanya. "Umi__" ia menghentikan ucapannya sejenak. "Apakah dia pria yang, baik?.Ucapnya ragu.


Umi memandanginya. "Insyaallah, dia pria yang baik untuk menjadi calon imam mu" ujar umi meyakinkan "Kau serahkan semuanya kepada Allah. Allah maha mengetahui. dia tahu mana yg terbaik untuk hamba nya, nak"


Sekarang hati, zahra jauh lebih tenang daripada sebelumnya.


Jazakumullah Khairan...

__ADS_1


__ADS_2