
Zahra mengetuk pintu itu beberapa kali. tak cukup lama, seorang wanita paru baya membukanya. dan ketika melihat Zahra didepan matanya, Ummi langsung memeluk erat Zahra.
Zahra, mengelus lembut punggung umyminya. "Ummi, sabar. tabahkan hati Ummi. aku tahu ini berat" ucap Zahra menyemangati.
Ummi melepaskan pelukannya. "Zahra, apakah kau sudah meminta izin kepada suamimu?" tanya ummi.
"Iya ummi, suamiku sudah mengizinkannya"
"Baiklah, Nak. ayo kita berangkat sekarang" titahnya.
Zahra mengangguk mengiyakan ucapan umminya. "Iya baiklah"
Pun, keduanya berjalan menghampiri sebuah mobil yang terparkir didepan rumah ummi. mobil yang Zahra naiki ketika perjalanan kerumah Umminya.
Seorang sopir keluar dari mobil itu, seraya membukakan pintu untuk Ummi. "Nona Zahra, biar aku yang membukakan pintu untukmu" ujar sopir itu.
Zahra menggeleng. "Tidak apa-apa pak setya. masuklah, aku bisa sendiri" tolak Zahra halus.
Sopir itu patuh, ia masuk kedalam mobil. hampir bersamaan dengan zahra yang juga masuk kedalam mobil itu.
Ummi dan juga Zahra duduk di kursi penumpang, berduaan. tangan Zahra menggenggam tangan Umminya. seakan mengatakan, agar umminya tak perlu bersedih.
Zahra menyunggingkan senyum dibalik cadarnya. "Ummi, jangan sedih. Allah maha maha kuasa."
Perasaan sedih, dan rindu bercampur aduk menjadi satu.
Ummi mengangguk, tampak jelas matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. sambil mengulas senyum kepada Zahra.
👁️
Sebuah mobil alphard berhenti tepat didepan kantor polisi. seorang sopir keluar dari mobil itu, sembari membukakan pintu untuk seorang wanita paruh baya.
Hampir bersamaan dengan hal itu, Zahra juga keluar. "Ummi, ayo masuk" titah Zahra. diangguki cepat oleh Ummi.
Kedua orang itu masuk, segera pak Setya memasuki mobil kembali. sembari memarkirkan mobilnya. ditempat yang sudah disediakan.
👁️
"Nur Shiddiqi" panggil seorang polisi, langsung wanita berhijab itu menoleh. "Ada yang membesuk mu" ujarnya. sambil membukakan sebuah gembok itu.
Nut bangkit dari duduknya, ia duduk disudut penjara. dengan wajah memelas. "Siapa yang menemuiku pak" tanyanya penasaran.
"Kakak dan Ibumu" jawab polisi itu singkat.
Nur segera keluar dari pintu itu. ia mengikuti langkah polisi itu.
👁️
Disebuah ruangan, dengan lampu pencahayaan yang redup. duduk dua orang bersebelahan. tak cukup lama, seorang wanita memasuki ruangan itu bersama polisi.
Seusai mengantarnya, polisi itu segera pergi meninggalkan ketiga orang itu. Ummi menatap wajah Nur, lekat. tangannya membekap pipi putrinya dengan air mata yang mengembun.
__ADS_1
Sembari memeluknya erat. kerinduannya sudah terbalas. meskipun demikian, Ummi tampak tak ingin melepaskan pelukannya.
Tangisannya pecah dipelukan sang anak. orang tua mana yang akan tega melihat putrinya tidur tanpa beralas apapun.
Ummi melepaskan pelukannya. "Bagaimana kabarmu, Nak" tanyanya, dengan air mata yang mengalir.
Tangan Nur langsung menghapus air mata Umminya. "Ummi, untuk siapa menangis? aku baik-baik saja" tuturnya dengan air mata yang mengembun.
Sejujurnya, Nur pun merasa rindu dengan Umminya. matanya menatap kepada kakaknya. "Kakak" panggilnya.
"Kakak kemari bersama siapa? apa kak An juga ikut?" tanyanya.
Zahra menggeleng. "Tidak, Nur. suamiku baru pulang kerja. dia pasti lelah" jawabnya lemah lembut.
Nur mengangguk paham. "Nur, kapan persidangan mu digelar?" tanya, Ummi tiba-tiba.
"In syaa Allah, satu minggu lagi, Ummi"
Ummi menggenggam tangan Nur. "Nur, ummi akan berusaha semampu, ummi. untuk membebaskan dirimu, Nak"
"Ummi tidak perlu khawatir, aku akan bebas. semua masalah yang sekarang aku hadapi, aku serahkan kepada Allah. jika aku benar Allah akan menolong diriku. dengan caranya. tetapi, jika aku salah, Allah akan menghukum diriku, didunia dan akhirat" tuturnya yakin.
Meskipun dirinya sendiri tidak tahu, dengan apa ia akan bebas, sementara dirinya tak memiliki satu bukti pun.
Salah satu buktinya sudah ia hancurkan, yaitu handphone. dan sekarang ia tak memiliki apapun kecuali keyakinan.
Ummi kembali meneteskan air matanya. putrinya begitu memiliki keyakinan yang begitu kuat. "Masya Allah" lirihnya.
Perbincangan terus berlanjut. mereka saling mengutarakan rasa rindu satu sama lain. tak terasa waktu besuk telah habis. dan seorang polisi itu kembali menjemput, Nur.
Polisi itu mengatakan jika waktunya telah habis. dan diharuskan pulang.
"Nur, ummi akan membesukmu setiap hari" ujarnya.
"Tidak Ummi, Ummi tak perlu setiap hari. Ummi juga harus istirahat" tolaknya halus.
"Tapi, Nak_"
Nur menggenggam tangan Umminya. "Ummi, aku baik-baik saja" katanya lagi. dengan suara lemah lembut.
"Ummi, apa yang dikatakan Nur ada benarnya. Ummi juga perlu istirahat" timpal Zahra.
Ummi paham dengan kekhawatiran kedua putrinya. "Baiklah"
👁️
An berdiri didepan kaca jendela kamarnya. dengan ciri khasnya, yang memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Pikirannya, saat ini sedang berkelana. ia sedang memikirkan sesuatu yang menggangu pikirannya.
Tumben sekali abang bertanya seperti itu, apa abang cemburu?.
__ADS_1
Ucapan itu, terus saja berdengung ditelinga nya. sebenarnya ada apa dengan An?.
An membuang nafasnya kasar. "Apakah aku mulai menyukainya?" gumamnya pada dirinya sendiri
"Tapi, sejak kapan?"
Pikirannya, mengingat kembali saat dirinya menjabat tangan penghulu. saat, dimana ia melihat pertama kali wajah istrinya.
"Argh!" serunya, sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Tak luput, dengan sebuah momen dimana Zahra tak memakai cadar didepannya. dimana, wajah istrinya hampir mendekat dengan wajahnya.
Sekarang ia tersadar. matanya menatap kedepan sambil mengangguk-nganggukan kepalanya. sekarang ia paham, apa yang telah terjadi dengan dirinya.
"Ini bukan cinta, tapi nafsu" gumamnya.
Pikirnya, karena setiap Zahra tak memakai cadar, ia merasakan gairah terhadap istrinya. namun, ketika Zahra bercadar, ia tak memiliki hasrat apapun.
Namun, ada sesuatu yang membuat dirinya merasa ingin belajar untuk mencintai istrinya. ketika mengingat momen dimana Zahra berkata dengan bijaksana.
Kharisa, Abang bukan anak bayi yang tak berdaya. dia hanya menghormati ibunya. karena ia tahu dimana letak surganya.
Ya, ucapan itulah yang mampu membungkam kharisa seribu bahasa.
"Abang" panggil seseorang, An langsung membalik badannya pada asal suara itu. mendapati zah,ra yang sudah berdiri, didepannya. entah sejak kapan ia pulang?.
An sedikit termangu, menatap Zahra. "Kapan kau pulang?" tanyanya penasaran.
"Baru saja" jawabnya singkat. Zahra berjalan melangkah, mendekati ranjangnya. ia hendak mengistirahatkan tubuhnya, yang cukup lelah.
"Zahra" panggil suaminya, seketika zahra menghentikan langkahnya, yang beberapa langkah lagi hampir sampai pada ranjangnya. ia membalikkan badannya, menghadap kepada suaminya. "Iya."
"Kapan persidangan adikmu akan di gelar?" tanya An. permasalahan Nur itu sewaktu-waktu bisa membuat perusahaan miliknya, hancur.
Dan An ingin sekali permasalahan itu cepat selesai. ia juga malu, jika salah satu dari keluarganya menjadi tahanan atau napi.
"In syaa Allah, satu Minggu lagi" jawabnya singkat. "Memangnya kenapa?" tanya Zahra penasaran.
An menggeleng. "Apa Ummi sudah ada pengacara nya?"
"Ummi masih mencarikan pengacara untuk, Nur" jawabnya.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mencarikan"
"Abang serius" tanya Zahra memastikan, ia sedikit tak percaya dengan apa yang ia dengar.
An mengangguk. "Iya" ucapnya, acuh.
"Masya Allah, terimakasih" Ujarnya, bahagia. "Aku akan menghubungi Ummi, dan memberitahukannya" An mengangguk mengiyakan permintaan istrinya.
Zahra langsung mengambil ponsel didalam tas yang ia bawa, dan masih ia gendong dilengannya.
__ADS_1
Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya!.