
"Nur!" panggil seseorang setengah berteriak, sambil melambaikan tangan. nur menoleh kepada asal suara itu. mendapati zainab, sahabatnya.
Zainab segera mendekati, nur yang tak jauh dari keberadaan nya.
Nur memberi salam kepada sahabatnya itu, dijawabnya salam itu sambil tersenyum bahagia.
"Masyaa Allah, nur kau sangat cantik" puji wanita itu. apa yang dikatakan zainab itu benar adanya, nur memang cantik.
"Alhamdulillah, kau juga sangat cantik, zainab" puji nur kembali.
Namun wanita itu menyangkalnya. "Tapi, kau lebih cantik, nur"
"Itu tidak penting, zainab." timpal nur. "Kau sedang apa disini?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin membesuk adik ku."
"Apakah adik mu mondok disini?" tanya penasaran.
Wanita itu mengangguk. "Ya"
"Kau membawa kitab? apa kau mengajar disini" tanya zainab penasaran.
Nur mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu, dulu nur dan zainab berteman sejak dibangku SD. dan rupanya pertemanan itu dibawa Sampai mereka dewasa.
Perbincangan terus berlangsung, mereka beberapa kali mengingat masa-masa, di bangku SD.
bBeberapa saat setelahnya, nur berpamitan untuk mendahului nya. ya ini sudah saatnya dirinya untuk pulang.
👁️
Siang berganti dengan malam. seorang wanita berdiri di depan kaca jendelanya, menunggu kedatangan sang suami.
Hatinya mulai di ganggu dengan rasa kerisauan, tampak jelas di matanya menyiratkan ke khawatiran yang mendalam.
"Ya Allah, lindungilah suami hamba dimanapun ia berada" hatinya terus saja melantunkan doa.
Sungguh! ia benar-benar sangat khawatir.
Seorang pelayan mendekat kearah wanita itu, berdiri. hatinya memiliki rasa iba terhadapnya.
"Nona" panggil bi laila, wanita itu segera menoleh. "nona zahra tidurlah, ini sudah malam bibi mengkhawatirkan kesehatan mu"
Zahra menolaknya dengan lembut. "tidak bu"
"Mana mungkin aku bisa tidur, sementara suami ku masih di luar." ujarnya, dengan suara lembut.
"Nona, pak an tidak apa-apa." ujar bibi itu meyakinkan. "nona lupa. pak an sedang makan di luar." bi laila mengingatkan kembali perkataan an, kepada zahra.
"Jika nona menunggunya, itu sangat lama. bibi sudah lama bekerja disini. setiap dia menyuruh bibi untuk tidak memasak, maka dia akan pulang larut malam." jelas bi laila.
"Tidak apa-apa bu. aku akan tetap menunggu suamiku"
"Nona yakin?" tanya bi laila meragukan.
"Insyaa Allah," jawabnya, yakin.
__ADS_1
"Baiklah" kata bi laila pasrah. akhir kata bi laila berlalu. ia juga tak ingin memaksa kehendak nya.
sSebenarnya, bi laila tau betul kelakuan an. jika ia tidak menyuruhnya memasak. berarti dia akan pulang larut malam. dan selama ini, asma tak mengetahui hal itu.
Mungkin karena mereka tak serumah.
"Ya Allah dimana dia?" gumam zahra.
Jam terus berjalan. sementara zahra masih tetap setia menunggu kedatangan suaminya.
👁️
Sebuah pintu terbuka, seorang lelaki masuk kedalam rumahnya. matanya menatap sekeliling rumahnya. semua lampu sudah mati. jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam.
Ia sedikit terkejut ketika melihat seorang wanita tidur sambil duduk dan menyandarkan kepalanya pada pintu.
Tetapi sikapnya tetap acuh.
Ia menjongkok tepat di depan istrinya itu. menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa dia tidur disini?"
Gumam pria itu, padahal rumahnya sangat besar, dan kamar-kamar yang besar. tapi mengapa wanita itu tidur dilantai.
Seakan-akan ia orang terlantar!
Pria itu tidak tahu saja, bahwa istrinya rela menunggunya sampai larut malam. hingga terlelap tidur.
Tangannya berhenti, ketika ia ingin menyentuh nya untuk membangun kan nya. Entahlah ia seperti orang jijik saja.
Ia mengurungkan niatnya, membangunkan istrinya itu.
Memanggil bi laila? pasti sudah tidur. dan ia juga tak ingin mengganggunya.
"Hei, bangunlah" titahnya, dengan suara kecil.
Zahra masih tetap tidur. wajahnya ia sedikit dekatkan pada wajah istrinya, agar suaranya lebih terdengar. "hei, bangunlah" serunya kembali.
Masih dengan hasil yang sama, ia mendekatkan kembali wajahnya sedikit. hingga tak berjarak. matanya menatap lekat wajah istrinya itu.
Tetapi, pikirannya tiba-tiba sadar. wajahnya yang mulanya berdekatan, ia mundurkan kembali.
"Zahra, bangunlah?" serunya, dengan suara yang sedikit meninggi.
Membuat wanita itu terkejut sekaligus bangun seketika. dan rasa kantuknya pun hilang begitu saja.
Zahra melihat seorang pria di depannya, tanpa berpikir panjang ia mendorongnya begitu keras. hingga tubuh pria itu tersungkur kelantai.
"Brengsek" umpatnya.
Seraya bangkit dari duduknya.
Zahra memicingkan matanya, memperjelas wajah pria itu. rupanya zahra baru sadar jika yang ia dorong adalah suaminya. matanya membulat sekaligus terkejut.
Bagaimana bisa ia tak mengenali suaminya sendiri?. ia pikir pria itu bukan suaminya itu sebabnya ia mendorongnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah"
Zahra langsung menolong suaminya itu, namun tangan wanita itu segera ditepis oleh an.
Seraya bangun, mata an menatap sinis kepada istrinya, zahra hanya menunduk. ia mengaku jika dirinya salah, dan suaminya berhak untuk marah.
"Abang, aku minta maaf" ucapnya penuh penyesalan.
"Pergilah besok ke dokter, mungkin kau perlu periksa matamu" ucapnya setengah marah. sembari berlalu.
Zahra berdiri mematung ditempatnya. sambil menatap kepergian suaminya itu. kemarahan suaminya bagi zahra adalah kewajaran. siapapun itu jika ia didorong begitu kerasnya, pasti marah.
Padahal ia menunggunya begitu lama, hingga terlelap tidur. bahkan suaminya tak menanyakan alasannya ia bisa tidur disana?.
👁️
Seorang pria berdiri di depan cermin kamarnya, sambil mengancing kancingan bajunya satu persatu.
Pintu kamar itu terbuka, masuk zahra. sambil membawa nampan ditangannya. di atas nampan itu terdapat sebuah makanan dan minuman.
"Abang, sarapan dulu ya" pinta zahra. seraya meletakkan nampan-nya di atas meja itu.
An hanya melihat sekilas dari pantulan cermin itu. ia tak menjawab dan masih bersikap acuh. lalu, ia memakai dasinya.
"Soal tadi malam..."
"Aku tak ingin membahasnya" timpalnya langsung.
Pria itu mengingat kembali kejadian malam itu. dimana dia di dorong zahra begitu kerasnya, sampai tersungkur.
An mendekati zahra. dengan ciri khasnya yang memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Apa rumah ini sangat kecil bagimu?" tanyanya.
"Apa rumah ini kurang luas? mengapa kau tidur dibawah? bagaimana jika ibu datang kemari? apa yang akan kutakan padanya? apa kau ingin aku dimarahi ibuku? atau kau memang menginginkan itu?" tanyanya beruntun.
"Abang kau salah paham" jelas wanita itu.
An memutar bola matanya malas. sambil berdecak. "ck, ternyata kau tak sesuai dengan penampilan mu"
Zahra sedikit terkejut sekaligus teriris dengan ucapan suaminya itu. bagaimana bisa ia memperbandingkan dirinya dengan penampilannya.
"Abang apa yang kau katakan?" tanyanya, dengan mata yang sedikit berembun. "bagaimana bisa kau memperbandingkan aku dengan penampilan ku?"
"Akhlak dan penampilan itu dua hal yang berbeda. penampilan yang tertutup belum tentu berakhlak, tapi yang berakhlak sudah pasti berpenampilan tertutup" tutur zahra, berusaha menahan air matanya.
Sebagaimana yang dikatakan sayyidina Ali bin abi thalib r.a:
🌷Orang yang cantik tidak selamanya orang baik. tapi orang yang baik selalu cantik 🌷
An terdiam, tak menjawab sepatah katapun. bisa dibilang ia kena mental. pria itu terjebak dengan pertanyaannya sendiri.
Apa yang dikatakan zahra benar adanya. kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. wanita yang berpakaian tertutup belum tentu ia paham agama. tapi, wanita yang paham agama sudah pasti berpakaian tertutup.
An mendengkus, menahan emosinya yang hampir mencapai puncaknya. kejadian semalam adalah sebuah hinaan baginya.
Ia menatap zahra dengan sorot mata tajam. "Kau menang" ujarnya, dengan nada tak suka. akhir kata an keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Melihat suaminya keluar dalam keadaan marah, zahra mengikutinya.
Jazaakumullah khairan❤️Like ya!.