Karena Allah

Karena Allah
Azmi.


__ADS_3

Dari kejauhan, seorang pria yang duduk di bagian belakang bus. mengamati seorang wanita, berhijab yang tengah masuk kedalam bus.


"Permisi" ujar wanita itu, sambil memiringkan badannya. bus itu sedikit banyak penumpang. di kursi tampak sudah penuh. akhirnya, ia memutuskan untuk berdiri.


Mata wanita itu menatap seorang pria yang duduk di bagian depan. dan di sebelah pria itu duduk seorang wanita cantik, berkulit putih. dengan baju feminin.


Dan hampir menunjukan belahan dadanya, pria itu tampak sibuk dengan ponselnya. rupanya, Nur melihat keanehan dalam pria itu.


mata pria itu terus saja memandang paha seorang wanita berkulit mulus itu. ia bahkan memotretnya berkali-kali, tanpa wanita itu sadari.


Sebagai seorang wanita, nur tak rela jika sesama seorang wanita dilecehkan. mata Nur, menatap tajam seorang pria itu.


Ia bahkan jijik melihatnya, bagaimana bisa seorang pria yang seharusnya melindungi seorang wanita, malah melecehkannya.


Tanpa berpikir panjang, Nur berjalan mendekati pria itu. seraya mengambil paksa ponselnya.


Mata pria itu menatap Nur, dengan bingung sekaligus tidak mengerti dengan maksud wanita itu. seraya berdiri. "Hei, kau. kembalikan" titahnya.


Prak...


Nur langsung membanting ponsel pria itu. dan hal itu membuat semua orang menjadi kebingungan juga terkejut. bahkan semua mata menatap ke arahnya.


"Hei, apa kau tidak waras?!" ujar pria itu dengan suara yang meninggi.


Nur menatap tajam pria itu. "Aku yang tidak waras, atau kau yang tidak waras?" ucapnya seakan menyindir.


Seorang pria yang berada dibelakang berjalan beberapa langkah mendekati kegaduhan itu. jaraknya tak cukup jauh.


"kau ini sudah kehilangan akal? kau membanting ponselku, dan sekarang kau berkata seakan aku yang salah" ujar pria itu, dengan wajah memerah menahan emosinya.


"Karena kau memang bersalah" jawab Nur, penuh penekanan.


Matanya menatap tajam pada wanita itu. emosinya benar-benar telah mencapai puncaknya. pria itu sungguh tidak tahu apa yang membuat wanita itu, berani membanting ponselnya.


Karena, pria itu tidak mengetahui bahwa Nur, melihat semua kelakuan pria itu pada seorang wanita yang duduk disampingnya.


"Argh!" teriaknya. sambil mengakat tangan sebelah kanannya. Nur, yang menyadari hal itu segera menutup kedua matanya.


"Hentikan" titah seorang pria yang berada dibelakang, sembari menahan tangan pria itu. pria itu langsung menoleh. dan Nur membuka matanya, ketika tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Kau ini laki-laki, apa kau tega menyakiti seorang perempuan?"

__ADS_1


Pria itu segera memberontak melepas tangannya dari cengkeraman tangan seorang pria muda itu.


Pria itu berdecak kesal. "Kau membela wanita gila ini?" celanya, sambil menunjuk Nur, dengan jari telunjuknya.


Mata pria muda itu melihat sekilas pada, Nur. Segera wanita itu sedikit menundukkan pandangannya. "Aku tidak membelanya" jawabnya.


"Aku hanya tidak suka dengan seorang pria yang mengangkat tangannya pada seorang wanita. Kau kan bisa berbicara baik-baik" titahnya.


"Baik-baik? Apa kau tidak melihat bagaimana wanita itu membanting ponselku" ucapnya, dengan suara meninggi.


"Aku tahu itu" jawabnya. "tapi, kau bisa bertanya kepadanya secara baik-baik"


"Baik-baik, baik-baik. jika kau berada di posisi ku, mungkin kau juga akan melakukan hal sama seperti ku" ucapnya yakin.


"Tidak akan" ujar pria itu yakin. "Karena seseorang yang melakukan sesuatu, pasti ada alasannya" dari, ucapan pria itu. seakan ia juga tahu yang sebenarnya terjadi.


"Oh ya, apa kau membela wanita ini karena penampilannya" tuturnya menerka. pria arogan itu merasa jika pria muda itu membelanya, sebab penampilannya yang tertutup.


Pria muda itu tersenyum memiring, ia merasa kasihan dengan jalan pikiran pria arogan itu. "Aku tidak sepolos itu. dan pikiran ku tidak sama dengan yang kau pikirkan"


"Argh!" teriak pria itu kesal. entah mengapa ia seakan yang dipojokan. "Kau, pendusta!" bentaknya. seraya mendorong tubuh pria itu keras.


Kepergian orang itu, membuat semua penumpang bernafas lega. meskipun mereka tidak tahu yang sebenarnya terjadi. tapi, dari perilaku pria itu sudah kelihatan jika ia benar-benar pria arogan.


"Azmi, kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang berada disampingnya. tampaknya ia sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa" jawabnya, bola matanya menatap wanita cantik berhijab itu, begitu lekat.


Wanita itu langsung menundukkan pandangannya, saat menyadari jika dirinya di pandang oleh seorang pria yang membelanya. tetapi, beberapa kali matanya melirik sekejap mata pada pria itu.


Ia merasa bersalah, karena dirinya pria itu juga ikut terkena imbasnya.


👁️


Semua penumpang keluar dari pintu bus, secara bergantian. begitu juga dengan Nur. sebuah mata seorang pria, senantiasa memandang gerak-gerik wanita itu.


"Nur!" Teriak, seseorang. wanita itu segera mencari asal suara itu. tak cukup jauh, seorang wanita melambaikan tangan padanya.


Pun, ia segera menghampiri wanita itu. Nur, menyunggingkan senyuman tipis padanya. wajah wanita itu, sangat tidak asing bagi nur.


"Zainab, kau sedang apa disini?" tanyanya, lembut.

__ADS_1


Zainab tak menjawab, wajahnya tampak sumringah melihat wajah sahabatnya itu. segera ia memeluk tubuh, Nur.


Zainab melepaskan pelukannya. "Nur, aku sangat merindukanmu. sebenarnya, aku kemari hanya ingin bertemu denganmu" ucapnya, bahagia.


"Aku juga merindukanmu, Zainab. bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Alhamdulillah, kabar ku baik. selain kabarku baik. juga ada kabar baik untukmu, dan untukku"


"Kabar apa itu, Zainab?" tanya Nur penasaran.


"Zainab!" panggil seorang pria, setengah berteriak. zainab menutup mulutnya kembali, ketika ia akan menjawab, seorang pria lebih dulu memanggilnya.


Pria itu menghampiri, Zainab dan Nur. ia bersama seorang temannya. "Sedang apa kau disini?" tanyanya penasaran.


Nur menundukkan pandangannya. mata lelaki itu memandang wajah Nur begitu lekat. hal itu membuat Nur, menjadi tak nyaman sekaligus risih.


Zainab tersenyum lebar. "Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku" jawabnya, sumringah. mata pria itu kembali menatap Nur.


Melihat tatapan pria itu, membuat Zainab tersenyum tipis. ia menyadari arti tatapan pria itu. "Namanya, Nur" ujarnya tiba-tiba.


Pria itu melepaskan tatapannya, berganti menatap Zainab dengan tatapan sinis. sementara, teman pria itu hanya menjadi pendengar sekaligus penonton.


"Nur, perkenalkan ini kakak ku, Azmi" ujarnya, memperkenalkan pria itu, sambil menunjuknya.


Nur, sedikit tercengang mendengar penuturan Zainab. sebab, lelaki yang membelanya adalah kakak Zainab.


Nur hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tahu batasannya. "Terimakasih, telah menolongku" ucapnya, dengan kepala menunduk. mungkin, jika Azmi tak menahan tangan pria itu. ia pasti sudah mendapatkan tamparan keras dari pria arogan itu.


Pria itu mengangguk. "Sama-sama"


"Wah, jadi kalian sudah saling mengenal. mungkin ini yang di namakan jodoh" tutur Zainab menggoda.


Azmi menatap adiknya dengan tatapan tajam. Nur hanya diam tak bergeming, meskipun ia merasa risih dengan candaan Zainab.


"Memangnya apa yang terjadi? apa kalian bisa menceritakannya kepada ku?" tanyanya penasaran.


"Diamlah, setelah ini pulanglah" Titah pria itu, sinis.


Zainab memanyunkan bibirnya. "Baiklah" ucapnya pasrah.


Jazaakumullah Khairan ❤️Like Ya!.

__ADS_1


__ADS_2