
Bi laila mengamati zahra yang terdiam. "nona zahra. kau tidak papa?" tanya nya. zahra sedikit tersadar dari lamunannya.
Ia menggeleng lembut. "Tidak apa-apa, bu"
Bi laila mengendus bau nasi goreng yang di buat zahra. baunya, benar-benar menembus hidungnya.
Karena bau nasi goreng yang menerobos hidungnya membuat perut bi laila seperti lapar. "baunya, sangat enak." pujinya. hati zahra berbunga-bunga mendengar penuturan bi laila. bibirnya menyunggingkan senyuman dibalik cadarnya.
"Bibi yakin, nona pak an pasti sangat menyukai nasi goreng buatan, istrinya. karena baunya hampir mirip buatan nyonya asma" sambungnya kembali.
Zahra menatap bi laila. "Benarkah, bu" tanya zahra memastikan penuturan bi laila.
Bi laila mengangguk. "Nona, sepertinya nasi gorengnya sudah matang deh". ujarnya sambil menatap nasi goreng yang sudah kelihatan matang.
Zahra mengiyakan. segera ia mengambil piring. dan mempersiapkan hidangan nasi goreng itu untuk suaminya.
Ia segera meletakannya di atas meja makan.
👁️
Kelihatannya zahra tampak sudah dekat dengan pelayan itu. mungkin karena zahra tidak ingin di perlakukan secara khusus.
Juga, zahra menghormati pelayan itu karena usianya yang sudah paruh baya.
Tak beberapa lama, an berjalan menuju ruang makan itu. sementara zahra berdiri bersama pelayan itu, tak jauh dari meja makan.
An langsung duduk, dan segera memakan nasi goreng yang sudah tersedia di depan matanya.
Suapan pertama, ia merasa seperti tak asing dengan rasanya. ia mengunyah nya perlahan memastikan rasa dari nasi goreng.
Jelas saja, ia mengira ibunya yang membuatnya. ia melanjutkan makannya dg lahap.
"Ini sangat enak." pujinya. membuat hati zahra semakin berbunga-bunga. Alhamdulillah, ia tak sia-sia berusaha menyenangkan hati suaminya.
Man Jadda wa Jada.
🥀Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil 🥀
"Ini pasti ibu yang mengirimkan ini untuk ku" ucapnya menerka.
Hati zahra yang awalnya berbunga bunga kini berubah kecewa. tapi ia tetap bahagia karena suaminya menyukai masakannya.
Bi laila menatap zahra yang menunduk, seakan menyiratkan kekecewaan nya.
"Bukan, pak" timpalnya. "Istrimu yang membuatnya" katanya langsung.
hukh!!!
An langsung tersedak, kala mendengar penjelasan dari pelayanannya itu.
Seketika zahra menjadi khawatir dengan suaminya itu. ia segera berlari ke arah kulkas yang berada dipojokan, sembari mengambil air minum untuk suaminya.
Menuangkannya pada gelas. lalu memberikan nya kepada suaminya itu. an langsung meminum dengan cepat.
"Abang kau tidak apa-apa?" tanya zahra khawatir.
__ADS_1
An meletakkan gelasnya yang dimunim habis, begitu saja. ia mengacuhkan pertanyaan zahra.
Ia menatap ke arah lain. kenapa masakan istrinya hampir mirip dengan buatan ibunya? ia bahkan sampai menduga jika yang membuat nasi goreng itu adalah ibunya?.
"Bi, kau tidak perlu memasak. aku akan makan diluar" ujarnya pada bi laila.
Bi laila mengangguk. "iya pak".
Pria itu segera bangkit dari tempat duduknya. dan melangkahkan kakinya, ia hendak berangkat ke kantornya, dan tak menatap zahra sedetik pun.
Zahra benar-benar di acuhkan oleh suaminya. apakah suaminya masih marah dengan pertengkaran semalam?. wanita itu hanya bisa menunduk sebagai tanda kecewa.
Bi laila yang melihat itu merasa iba pada zahra. wanita sebaik dia di acuhkan? apakah an tak bisa melihat kebaikannya?atau ketulusannya?
Sebenarnya, yang mendorong an untuk bersikap acuh adalah egonya. ia tahu jika istrinya itu memang cantik. tapi ia sebagai lelaki tidak mau ditundukan oleh seorang wanita, hanya karena kecantikannya.
Bi laila mendekati zahra. "nona zahra, apa kau akan sabar dengan perlakuan suami mu yang sangat acuh itu?" tanya bi laila, mencela majikannya.
Zahra menatap pelayan itu. "insyaallah aku akan sabar menghadapinya. bu laila, suami ku tidak acuh. ia memiliki kelembutan di dalam hatinya. hanya saja bu laila, tak melihatnya. yang bibi lihat hanya sifat luarnya" jelas zahra dengan lembut.
Ia tak marah meskipun bi laila mencela suaminya. karena bi laila tak bisa melihat apa yang dilihatnya.
Bi laila hanya melihat sifat luar dari suaminya, tapi tidak dengan hatinya.
"Saya tidak mengerti apa yang kau katakan zahra." ujar pelayan itu sambil menggeleng. ia benar-benar tak mengerti.
Padahal jelas-jelas an mengacuhkannya. tapi mengapa ia tetap memujinya.
"Yang bu laila lihat adalah perilakunya, tapi aku melihat hatinya" ujar wanita itu percaya diri.
"An, bagaimana kabarmu setelah pernikahan?" tanya seorang pria bermaksud menggoda.
An melirik sinis. ia tak menjawabnya, ia hanya membuang nafasnya kasar. ya, saat ini an berada diruangan alvian.
"Iya, iya. kau tak perlu menjawabnya, kau pasti malu kan" alvian terkekeh.
"Ngomong-ngomong, istri mu itu seperti apa?apa kau sudah melihat wajahnya?" tanya alvian penasaran.
An memutar bola matanya malas. "Memangnya kenapa?" tanya an sinis.
"Aku hanya bertanya." jawabnya. "apa dia cantik"
Mendengar pertanyaan sahabat nya itu. membuat an kembali mengingat ketika dirinya melihat wajah istrinya untuk yang pertama kalinya.
Alvian menjetikan jarinya tepat diwajah pria itu. "an kau tidak papa?" tanya alvian, yang membuat an tersadar dari lamunannya.
An berdecak sebal. "kau membuat ku tambah pusing saja." ujar lelaki itu kesal.
"Pusing?" Alvian mengerutkan keningnya. ia cepat sadar dengan pernyataan an. "an kau jangan bercanda. kau baru saja menikah. harusnya ini menjadi hari hari yang indah untuk mu"
An membuang nafasnya kasar. "hari indah" gumam pria itu sambil membuang muka.
"Hei, an." panggil pria itu. an segera melihat ke arahnya. alvian sedikit mendekatkan wajahnya kepada an, bosnya itu.
"Tapi, kau sudah menyent__"
__ADS_1
"Aku tidak menyentuh nya sedikit pun" timpal an cepat.
Alvian sedikit terbengong. ia menggeleng keras. "Kenapa kau tidak melakukan itu. padahal malam pertama itu adalah malam pengantin baru yang ditunggu-tunggu"
"Pengantin baru?" ujar seorang wanita. yang entah kapan ia berdiri ditempat itu. tapi jelasnya kedua pria itu sedikit terperanjat.
"Siapa yang menjadi pengantin baru?" tanyanya kembali.
Ya, pernikahan an memang tak diketahui oleh orang-orang dikantornya. itu semua permintaan an sendiri. ia masih belum siap dengan status barunya itu.
Alvian menatap an, penuh kebingungan. sementara an menatap sembarang arah dengan wajah santai. karena ia tahu, alvian tak akan mungkin memberi tahunya.
"Emm, itu." pikiran alvian berputar putar mencari jawaban. "kami ingin menjadi pengantin baru" jawabnya.
"Bukan kami. tapi dia" timpal an cepat.
"Iya aku," katanya membenarkan, sambil cengengesan.
Wanita itu, sekretaris an. Ran anita ia sangat cantik. cara berpakaiannya pun sangat modis dan feminin.
Ran hanya mengangguk, mengiyakan jawaban alvian.
"Pak an. meeting dengan pak Wijayanto di batalkan. alasannya, karena ia ada keperluan keluarga. dan dibuat kembali, 1 Minggu lagi" jelasnya.
An mengangguk. "Baiklah"
"Ran, siapkan untukku cafe yang nyaman nanti sore"
Ran mengangguk. "baik, pak"
Akhir kata wanita itu berpamit keluar dari ruangan itu.
"Apa kau ingin makan bersama istri mu?" tanyanya, menerka.
An berdecak sekali lagi. pria itu memang hobi membuat an marah. "Bukan urusan mu" jawabnya ketus.
Akhir kata an bangkit dari duduknya. lagi, lagi pria itu bertanya "mau kemana?". namun an tak menjawab nya. ia sudah lelah menjawab pertanyaan pria itu.
👁️
Di sebuah tempatnya para santri. seorang wanita cantik yang menjadi seorang guru mengajar.
Semua murid yang di ajarnya adalah seorang perempuan.
Al-Mukarramaah.
Nama pesantren itu. didirikan oleh ayahnya sendiri. dan diurus oleh ustadzah shafiyah.
adik dari ayahnya.
Semua santri wati mendengarkan penjelasan dari wanita itu dengan seksama. bahkan beberapa kali gelak tawa terdengar.
Dengan ucapan salam, menandakan akhir dari pelajaran itu.
Wanita itu keluar dari ruang mengajarnya. sambil membawa sebuah kitab. yang baru saja ia gunakan sebagai pembahasan pembelajaran.
__ADS_1
Jazaakumullah khairan...