Karena Allah

Karena Allah
Almarhum ayah an.


__ADS_3

Zahra memasuki kamarnya, ia menatap suaminya yang sedang bermain ponsel di atas sofa, sambil berbaring.


Ia melangkahkan kakinya ragu-ragu, menghampiri suaminya itu. detak jantungnya berpacu dengan cepat. seakan ia menghampiri maut.


"Abang" panggil zahra, pria itu menoleh sekejap. lalu kembali fokus pada ponselnya. ia sangat acuh.


"Abang..." zahra berhenti sejenak, ia benar-benar takut. sebenarnya, zahra ingin meminta izin pada suaminya. untuk berkunjung kerumah umminya.


Ia sendiri tak tahu, apakah suaminya akan mengizinkannya atau melarangnya.


"Em, abang"


"Astaga, bicaralah!" bentak an, sungguh ia sangat kesal, sedari tadi istrinya itu selalu berkata 'abang'.


"Apa kau akan memanggil ku, 'abang' sampai pagi" kesalnya. sembari bangkit dan duduk menyenderkan punggungnya pada headboard sofa.


"Aku minta maaf" kata zahra, seraya menundukkan kepalanya. "aku ingin berkunjung kerumah ummi"


"Astaga, apa hanya itu yang kau inginkan? tapi segugup itu, seakan kau berjumpa dengan maut" cela pria itu.


Zahra hanya menunduk dan menerima celaan suaminya itu. "baiklah, pergilah" izinnya.


Mendengar penuturan suaminya itu, hati zahra bahagia. ia tak menyangka jika suaminya akan mengizinkannya.


Tapi, zahra masih berdiri ditempatnya. hatinya masih ingin mengatakan sesuatu pada suaminya itu. untungnya, pria itu menyadari.


"Besok, kau pergilah bersama bi laila. kau akan di antarkan pak setya"


setya, sopir dirumah itu. sopir itu hanya bertugas mengantar jemput orang rumah. bukan sopir pribadi.


"Apakah abang tidak ingin ikut?"


An menggeleng cepat. "Aku tidak bisa ikut"


"Kenapa?" zahra penasaran dengan tolakan suaminya.


An menatap sinis kepada istrinya. "Apa aku harus mengatakan segalanya kepadamu" sebalnya.


Zahra menggeleng. "tidak"


Akhir kata zahra melangkahkan kakinya menuju ranjangnya. sembarimembaringkan tubuhnya, ia menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya itu.


Sebelum menutup matanya, ia sempatkan menatap suaminya itu.


Masya Allah, tampan sekali suaminya itu.


Begitu, juga dengan an. ia mematikan ponselnya. lalu meletakkannya di atas meja. seraya membaringkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


Sepasang suami istri memang tidur sekamar. tapi tidak seranjang.


👁️


Pagi telah tiba, zahra di dalam kamarnya menyiapkan baju untuk suaminya yang saat ini sedang berada didalam kamar mandi.


Ia meletakkan baju itu di atas ranjangnya. beberapa saat setelahnya, an keluar dari kamar mandi sambil mengenakan bathrobe atau jubah mandi.


Sontak saja, zahra langsung menundukkan kepalanya, ketika melihat hal itu. "Astaghfirullah" gumamnya.


Padahal hal itu bukanlah masalah. keduanya adalah sepasang suami istri. jadi, sah-sah saja jika keduanya melihat sebagian dari aurat masing-masing.


Begitu juga dengan an, ia sangat malu. pikirnya, zahra sudah turun sedari tadi. tapi nyatanya wanita itu masih di dalam kamarnya.


Astaghfirullah! mimpi apa semalam mereka, mengapa bisa seperti ini?.


Bahkan pria itu celingukan. "hei, kau" katanya. "menghadaplah kebelakang" zahra patuh, ia segera menghadap kebelakang.


Pria itu mengambil pakaiannya, namun matanya tak lepas dari zahra. ia takut, wanita itu tiba-tiba menoleh dengan sengaja.


Seusai mengambilnya, ia lari cepat kedalam kamar mandi itu. bersamaan dengan hal itu, suara ketukan pintu kamar terdengar oleh telinga zahra.


Zahra sedikit melirik, rupanya suaminya sudah berada di dalam kamar mandi. segera wanita itu membuka pintu itu.


"Assalamualaikum, ibu" salamnya sembari menciumi punggung tangan wanita paruh baya itu. ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah asma.


"Waalaikumsalam"


"Dimana suami mu zahra?" tanya asma penasaran yang tak melihat keberadaan putranya.


"Suami ku sedang berada di kamar mandi" jawabnya lembut.


Asma sedikit tercengang, matanya melihat jam dinding dikamar itu, dari jam itu menunjukkan jam 9: 49.


Tak biasanya putranya itu terlambat, padahal setahunya putranya itu sangat disiplin.


Wanita itu menyunggingkan senyuman lebar. dan menampakan giginya yang putih bersih.


"apa yang dia kerjakan sampai ia bisa terlambat?" ujarnya, dengan maksud menggoda.


Zahra teringat kembali ketika ia tak sengaja melihat suaminya itu dengan pakaian jubah mandi. dari balik cadarnya, ia menyunggingkan senyuman tipis.


"Zahra" panggil asma yang tak mendapat jawaban dari menantunya itu. belum sempat menjawab seorang pria keluar dari kamar mandi.


"Zahra, lain kali. jika kau masih berada di dalam kamar, bilang" ujar pria itu selepas dari kamar mandi, dengan pakaian yang sudah rapi.


Keempat mata wanita itu menatap pria itu. sementara, an dibuat terkejut dengan kedatangan ibunya.

__ADS_1


Matanya melihat pada zahra dengan tanda tanya, mengapa ia tak memberitahukan dirinya?. lalu menatap ibunya. asma mengulas senyuman manis kepada putranya.


"Mengapa zahra harus bilang? bukankah ini kamarnya juga?" tanya Wanita itu penasaran.


An menghampiri ibunya, seraya memeluknya. dan melepaskan pelukannya. "kenapa an?" tanya ibunya kembali.


An menjadi bingung, ia tak tahu harus jawab apa. sementara, asma tidak tahu dengan hubungan rumah tangga putranya. tak ubahnya orang asing bukan seperti pasutri.


"Ibu" panggil zahra. keempat mata itu tertuju padanya, an menjadi cemas, hatinya begitu yakin jika istrinya itu akan mengadu pada ibunya tentang sikapnya yang selalu acuh kepadanya. tamatlah riwayatnya.


"Suamiku putra ibu. dan ibu orang baik, tentu saja, suamiku juga orang baik" pujinya.


Bak disambar petir, yang pria itu pikirkan ternyata salah. jelas-jelas ia selalu mengacuhkan dirinya. tapi, mengapa istrinya itu masih tetap memujinya di depan ibunya.


"Zahra apa aku boleh Bertanya?" tanya asma dengan raut wajah serius. zahra mengangguk mengiyakan. "Apakah an membuat mu kesusahan?"


Zahra menggeleng. "insyaaAllah, tidak. saat ini suamiku tidak menyusahkan diriku ibu" jawabnya kalem sambil menatap kepada suaminya.


Keduanya saling tatap. tetapi tatapan an menyiratkan ketidak sukaan dengan pernyataan zahra. an tergolong pria yang peka. ya, ia mengerti dengan penuturan istrinya.


Yang dimaksud zahra, adalah saat ini. bukan perlakuan an sebelumnya atau kemarin. lebih tepatnya, detik ini. karena di detik ini an tak menyusahkan dirinya.


Asma bernapas lega. ia menatap putranya. "An, ibunya menitipkan dirinya pada ibu. dan ibu menitipkannya kepadamu"


"Ibu, tahu. kalian menikah bukan atas dasar suka sama suka. tapi, perjodohan. ibu juga tahu an, jika kau tak mencintainya"


"maka dari itu ibu meminta kepadamu, jika kau tak bisa mencintainya, maka lindungilah hatinya. jangan buat dia terluka atau menangis" tangan asma membekap pipi putranya.


"Jika kau membuatnya menangis, berarti kau juga membuat ibumu menangis"


An sedikit tercengang dengan pernyataan ibunya itu. mengapa ia begitu menyangi menantunya. beruntung sekali zahra mendapatkan seorang ibu mertua yang sangat menyayangi dirinya.


An mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


Asma tersenyum lebar kepada putranya. "an, kau sama persis dengan ayahmu" mengucapkan kata 'ayah' membuat asma teringat kepada almarhum suaminya.


Suaminya telah mendahului dirinya. dan saat itu umur an sembilan tahun. kepergian suaminya yang tak meninggalkan harta sepeserpun mengharuskan asma banting tulang demi menghidupi keluarganya.


Dan karena hal inilah an begitu sangat menyayangi ibunya. karena ia tahu sendiri bagaimana perjuangan ibunya demi menghindari kelaparan. dan juga asma menyekolahkan dirinya, sampai ia menjadi seorang yang ia inginkan.


Mata asma sedikit mengembun buliran air mata. "ibu, ayah sudah tenang di alam sana"


Asma mengedipkan matanya, dan menjatuhkan buliran air mata yang mengembun.


Asma mengangguk. "iya an. ayahmu sudah tenang"


Tangan zahra mengelus lembut lengan ibu mertuanya, berusaha menguatkannya. "putraku, benar-benar sama persis dengan ayahnya zahra. mas rangga selalu berkata 'iya' kepadaku. tak pernah ia menolaknya"

__ADS_1


Zahra ikut trenyuh dengan suasana itu. "iya ibu. semoga Allah memberikan tempat yang terbaik disisi-nya" doanya, dan di 'Aamiin' kan oleh asma juga an.


Jazaakumullah Khairan.❤️Like ya!.


__ADS_2