Karena Allah

Karena Allah
Ikhtiar.


__ADS_3

An keluar dari kamar mandi, dengan baju jubahnya. kakinya melangkah mendekat kesebuah cermin.


Di depan cermin, ia mengulas senyum pada dirinya sendiri. "Setampan inikah aku" ucapnya pada diri sendiri.


Astaghfirullah, ia benar-benar narsistik sekali. Mata pria itu menatap sebuah pintu dari pantulan cermin-nya, dilihatnya Zahra yang memasuki kamar itu. segera, ia memasang wajah, sinis.


Melihat hal itu, Zahra segera menundukkan kepalanya. ini sudah kedua kalinya ia melihat suaminya berpakaian jubah.


Zahra berjalan menuju kamar mandi. ia hendak mengambil air wudhu. setelahnya, ia mengambil mukenah didalam lemarinya.


Seraya, membentangkan sajadah, lalu mendirikan sholat isya'.


Sementara, An sudah mengganti jubahnya, dengan piyama. Ia duduk di atas ranjang, sambil menyenderkan punggungnya pada headboard.


Matanya mengamati setiap gerakan sholat, yang dilakukan Zahra. sampai pada salam terakhir.


Zahra menengadahkan tangannya, saat ini lisannya melangitkan sesuatu pada sang Al-Haq.


Seusainya, Zahra melepaskan mukenahnya seraya meletakkan kembali sajadah juga mukenahnya di lemari kembali.


Kali ini, Zahra hanya memakai hijab tidak dengan cadarnya. tiba-tiba saja pikirannya teringat pada sesuatu.


Ia mencari sebuah tas yang ia bawa kerumah umminya. "Alhamdulillah" gumamnya. ia melihat tas itu berada di atas sofa. segera ia berjalan mendekat.


Seraya mengambil rice box, di dalam tasnya itu. ia membalikkan badannya.


Mata An dan Zahra saling bertemu, Kedua mata itu bertemu cukup lama. mata An dibuat terpukau dengan kecantikannya. Zahra melempar sebuah senyuman kecil pada suaminya.


An menelan ludahnya, ia benar-benar luluh dengan kecantikan Zahra. segera An menundukkan pandangannya, matanya sudah tak tahan dengan apa yang ia lihat.


Zahra berjalan mendekati suaminya. sembari duduk didekatnya, di tepi ranjang. "Abang, suka-kan dengan nasi goreng?"


An mendongakkan sedikit kepalanya. "Ha? I-iya" jawabnya, gugup. matanya menatap Zahra dengan sebuah kekaguman.


"Abang kenapa gugup?" tanyanya keheranan, tak biasanya suaminya itu seperti itu. Zahra memicingkan matanya, ia melihat ada


sesuatu didekat mata suaminya itu.


"Abang, coba perlihatkanlah wajahmu" pintanya.


An berdecak. "Ck, Apa sih, menyingkirlah. kau makan saja nasi goreng mu itu" ujarnya, dengan suara sedikit meninggi.


"Abang, tunggu sebentar, sepertinya ada sesuatu didekat mata Abang" jelasnya.


An mengeluarkan nafasnya kasar. "Baiklah"


Ia berdiam sejenak. wajah zahra semakin mendekat pada wajah suaminya. hati An berdetak kencang tak beraturan.

__ADS_1


"Ini dia" ujarnya, sambil menunjukkan pada suaminya. An melihatnya, ternyata hanya sebuah bulu mata.


An memutar bola matanya malas. "Astaga, hanya itu".


Zahra tersenyum kecil, sambil mengangguk. "Abang, ayo kita makan bersama-sama" pintanya.


"Ha? Jangan gila kau" Umpatnya.


Zahra menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. "Kenapa? kita kan suami istri?"


"Iya, tapi_"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zahra sudah menyodorkan sendok di dekat mulut suaminya.


"Ayo buka mulutmu, Abang" pinta, Zahra. mata An melihat sejenak nasi goreng itu. sejujurnya, An ingin memakannya, bahkan ia sudah tak sabar lagi merasakan rasa nasi goreng itu.


"A.." seru Zahra, sambil menganga. Segera tangan An langsung mengambil sendok ditangannya zahra.


"Biar aku makan sendiri" Ujarnya, sinis.


"Baiklah" jawab zahra, patuh.


An memakan nasi goreng itu, dengan lahap. Mata zahra memandangi suaminya, lekat. seraya tersenyum manis.


Rupanya An menyadari hal itu. An mengangkat kepalanya sedikit. Ia berhenti memakan nasi goreng itu. "Apa kau bisa berhenti menatapku" titahnya.


An menghembuskan nafasnya kasar. An meletakkan nasi goreng itu, sembarang. Seraya bangkit dari ranjangnya. "Abang mau kemana?" Tanya zahra.


An berdecak. "Bukan urusanmu"


Pun, Zahra juga ikut berdiri. "Abang, nasi gorengnya belum habis" ujarnya, ya nasi goreng itu hanya tinggal beberapa suap lagi.


"Buang saja, aku tak punya selera lagi" titahnya, seandainya Zahra tak memandanginya, ia pasti akan menghabiskannya.


"Abang yakin" tanyanya, meyakinkan.


"Abang, nasi goreng ini buatan Ummiku, jika seandainya yang membuat nasi goreng itu Ibu Abang, apa Abang akan membuangnya?" Tanya zahra.


Mendengar penuturan Zahra, An sedikit luluh. jika itu buatan ibunya, mana mungkin An membuangnya. pun, ia duduk kembali. dan memakan nasi goreng itu. juga dengan, Zahra.


"Aku lihat-lihat, abang begitu sangat menyukai nasi goreng"


"Ini makanan favoritku" Ujarnya.


Zahra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Sambil menyunggingkan seulas senyum.


An yang melihat menjadi heran. "Kau kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa" jawabnya.


"Lalu, kenapa tersenyum?" Tanyanya penasaran.


"Aku tidak tahu ini kebetulan atau bukan. Tapi, yang jelas nasi goreng juga makanan favoritku" jelasnya.


An menatap Zahra tak percaya. "Kau yakin" ucapnya memastikan.


"Hm, aku suka nasi goreng sejak berumur 5 tahun, karena saat itu Ummi selalu membuatkan ku nasi goreng. jadi, saat itu juga nasi goreng menjadi makanan favoritku. kalau Abang suka nasi goreng sebab apa?" Tanya Zahra penasaran.


"Tidak ada alasan, aku hanya menyukainya saja" jawabnya, acuh tak acuh. tak terasa An menghabiskan nasi gorengnya.


Zahra melihat nasi goreng yang di lahap habis oleh suaminya. "Sudah habis"


An acuh, segera ia meletakkan rice box itu di atas nakas. dan Zahra langsung mengambil gelas, yang berisi air putih. yang berada di atas nakas. sembari memberikan kepada suaminya.


An menerimanya, matanya sesekali menatap kepada Zahra yang tampak sumringah.


Setelahnya, An bangkit. dan berjalan kesebuah sofa yang terletak di ujung kamarnya. seraya membaringkan tubuhnya, di atas sofa itu.


"Abang" panggil Zahra, An menolehkan kepalanya kepada Zahra. "Apakah Abang tidak ingin tidur seranjang dengan ku?"


An tercengang, apa maksud istrinya itu. argh!, ia menelan ludahnya. "Tidak" jawabnya acuh.


"Kenapa, bukankah kita suami istri?"


An menatap langit-langit kamarnya. "Iya benar. tapi hanya sekedar di atas kertas" katanya penuh penekanan.


Ucapan itu membuat Zahra bak terjatuh dari atas gedung bertingkat. sakit?, tentu saja sakit. apalagi hal itu di ucapkan terang-terangan oleh An.


Zahra hanya mampu mengucapkan Asma Allah. ia tidak memiliki apa-apa yang membuat suaminya jatuh cinta kepada dirinya, tetapi ia memiliki Allah yang Maha Membolak-balikkan hati.


Ia yakin, suatu saat nanti An yang tak memiliki rasa kepada dirinya, akan berubah mencintai dirinya atas kehendak dari Allah.


Suasana kamar itu menjadi hening beberapa saat. Zahra diam tak bergeming. ia hanya mampu menatap suaminya dari kejauhan.


Rumah tangga yang selalu harmonis dan selalu di penuhi gelak tawa adalah rumah tangga yang ia idam-idamkan.


Tetapi, kenyataannya rumah tangga yang saat ini ia jalani tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Karena manusia boleh berencana. tetapi, Allah penentu rencana yang sesungguhnya.


Zahra mempercayai takdir Allah. mempercayai takdir bukan berarti bahwa kita hanya berpangku tangan menunggu takdir Allah begitu saja. tetapi, harus di barengi dengan ikhtiar.


Selain berserah diri kepada Allah, Zahra juga berikhtiar meluluhkan hati suaminya. dan selebihnya Zahra kembalikan kepada Allah.


Jazaakumullah Khairan ❤️Like Ya!.

__ADS_1


__ADS_2