Karena Allah

Karena Allah
Wedding.


__ADS_3

Seorang pria duduk disebuah ruang perias pengantin pria. tampaknya ia tak memiliki kegugupan sama sekali.


Ya, hari ini adalah hari dimana ia akan mengucapkan ijab kabul.


Tak lama seorang pria berjas memasuki ruangan itu, ia cukup tampan. melihatnya, pria itu semakin tak suka.


"Kenapa wajah mu, an." tanyanya. an hanya memutar bola matanya malas. "hey, hari ini pernikahan mu harusnya kau seneng dong. coba aja ada yang mau sama aku. pasti aku udah nikahin dia. biar dapet anget² gitu"


An berdecak sebal "Bisa keluar gak" Orang ini baru masuk udah buat pengantin pria kesal.


Alvian —pria itu— mengedikan bahunya. "Maaf. Aku kesini disuruh tante asma menjemput mu"


"Semuanya sudah siap. hanya menunggu kau saja" ujarnya.


An berdecak sekali lagi "ck, seandainya pernikahan ini bisa dibatalkan. aku pasti akan membatalkannya" gumamnya


Pernikahan ini benar-benar telah menyiksanya. Apa yang di gumamkan an itu benar, ia ingin sekali membatalkan pernikahan yang akan berlangsung saat ini.


Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. ia lebih memikirkan perasaan ibunya daripada perasaan dirinya sendiri.


👁️


Kini an sudah menjabat tangan mertuanya. dengan satu tarikan nafas ijab kabul itu di ucapkan sang ayah mertua.


Juga dg satu tarikan nafas, ia menyahutnya. "Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq"


Darah zahra berdesir hebat mendengar pengucapan kabul suaminya, yang menggunakan bahasa arab. dan hal ini tidak pernah ia menyangkanya.


Zahra sedikit mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya yang rupawan itu. ia duduk bersama dengan adiknya, bersebelahan. dan dibelakang dirinya duduk umminya, dan juga ibu mertuanya.


MasyaAllah, suaminya benar-benar tampan.


Dalam hitungan detik, zahra dan an 'sah' menjadi suami istri.


Doa dibacakan dg penuh penghayatan. semua orang menengadah kan tangannya. seraya berucap 'Aamiin'.


Alhamdulillah, pernikahan yang sedang berlangsung berjalan dg lancar.


Semua orang saling menunjukkan wajah bahagia dan sunggingan senyum yang sangat jelas di bibir masing-masing. kecuali, nur.


Dia bukan iri. tapi hatinya memiliki ketakutan. ia takut pria itu akan menyakiti hati kakaknya. saking sayangnya.


👁️


Dikamarnya. zahra membereskan baju-bajunya yang ada dilemari, ia masukan semua kedalam koper.


Tak cukup lama, ummi memasuki kamar itu. ekspresinya tak bisa di bohongi lagi, ia sangat bahagia.


Tanganya, membekap pipi zahra. menatapnya begitu lekat. "Zahra, jadilah istri yang patuh semua perintah suami mu, nak" nasihat ummi.


Zahra mengangguk paham. "In sya Allah, ummi."


Zahra menunduk semakin dalam."Ummi__" Ia menghentikan sejenak ucapannya. "Aku akan merindukan,ummi. juga dg nur dan abah"


"Zahra, kau bisa kemari, mengunjungi ummi, nak" ujar ummi. "Tapi, kau tidak boleh merepotkan suamimu, ya."


Zahra mengangguk, beberapa saat setelahnya. nur juga memasuki ruangan itu. ia mendekati dan langsung memeluk kakaknya.


"Kakak, aku akan merindukan mu" tak disangka ia mengeluarkan air mata. segera tangan zahra mengusapnya.


"Nur, kenapa?Jangan menangis?" titahnya.

__ADS_1


Nur menggeleng "Tidak, kakak. aku hanya merasa kehilangan mu"


"Nur kakak mu hanya berpindah kerumah suaminya, kau masih bisa bertemu. suatu saat nanti kau juga akan mengalami hal yang sama dg kakakmu".


Nur mengangguk paham "Tabahkan hatimu, nak" sambung ummi.


👁️


"An, aku pulang dulu." ucap alvian. "Nikmati malam pertama mu"


An menatap tajam pada pria itu. membuat pria itu bergidik ngeri. "m, aku pulang dulu" katanya, cengengesan.


Akhir kata pria itu berlalu, ia cukup lega dg kepergian pria menyebalkan itu.


Beberapa saat setelahnya, ibunya menghampiri nya. "An" segera anaknya itu menoleh.


"Ayo, masuk. kau tak ingin melihat wajah istri mu."


An mengeluarkan nafasnya kasar. "Baiklah" patuhnya.


👁️


Diruangan tengah, para keluarga berkumpul bersama. an dan zahra di dudukan satu sofa.


namun masih menjarak beberapa centimeter.


"Zahra, kau boleh membuka cadarmu. suami mu berhak melihat wajah mu, nak." titah ummi. abah mengangguk mengiyakan perkataan ummi.


Zahra patuh. segera tangan nya membuka cadarnya.


"Tunggu, zahra" asma menyelanya. semua mata tertuju padanya. zahra patuh, ia menghentikan tangannya.


"Biarkan suami mu, yang membukanya" sambung asma.


Ia membuang nafasnya kasar. tangannya meraih tali cadarnya. dan membukanya.


Kedekatan nya dengan suaminya yang tak menjarak membuat jantung zahra berdenyut merdu.


An membulatkan matanya sempurna. lalu menatap ke arah ibunya dg wajah bertanya. zahra hanya menundukkan kepalanya, meskipun ia tahu jika an adalah suaminya tapi ia tetap memiliki rasa malu.


Kembali ia menatap wajah istrinya.


Subhanallah, zahra sungguh sangat cantik. ia bak bidadari saja. hidungnya yang mancung, berkulit putih bersih.


Suaminya benar benar dibuat terpukau olehnya. hati nya berkecamuk, antara terpukau atau tak menyukai.


ia terpukau dg kecantikannya. tapi ia masih tak memiliki rasa suka pada istrinya.


"Zahra, tataplah suamimu." titah asma, yang melihat zahra sedari tadi menunduk. "Kalian sudah halal."


Zahra mengerti, ia mencoba memberanikan diri mengangkat kepalanya. mata keduanya saling bertemu cukup lama. namun, zahra lebih dulu menunduk.


Rasa malu tetap berada dalam hatinya. meskipun ia tahu siapa yang ia pandangi.


Melihat pipi kakaknya yang memerah, nur sedikit tersenyum. sekarang, ia mencoba menerima kenyataan itu.


Hal itu, tak pernah nur lihat dari kakaknya. pikirnya, mungkin saja kakaknya telah menemukan cinta dalam diri suaminya itu.


An kembali memasang kan cadar zahra.


👁️

__ADS_1


"Ibu, apakah wanita itu, yang tadi saya nikahi?" Tanya an, seakan tak percaya dg kenyataan itu.


Saat ini, ia sedang berduaan dg ibunya, di luar rumah besannya, duduk di sebuah kursi bersebelahan.


"wanita?dia itu istrimu. bicara yang lembut dan hargai dia." nasihat nya. mencoba memperbaiki ucapan putranya.


An mengiyakan. "Memangnya kenapa?dia cantikan?" tanya asma.


An menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tidak, juga." bohongnya. padahal ia terpukau dg kecantikan istrinya.


"Hanya saja, aku heran. dia cantik kenapa dia mau menutupi kecantikan nya?karna jika diatutupi kecantikan nya orang lain tidak akan tahu jika dia cantik?" tanya nya heran.


"Kenapa tanya pada ibu? kau dan zahra sudah sah menjadi suami istri. kau tanyakan padanya saja. kau akan dapatkan jawabannya"


...percuma, ibunya tak mau menjelaskan hal itu padanya. padahal dirinya kan ingin tahu alasan istrinya menutupi kecantikannya dibalik cadarnya....


👁️


Beberapa menit kemudian, zahra keluar dari pintu utama bersama, ummi, nur, dan juga abah.


Asma dan an bangkit dari duduknya hampir bersamaan.


"Asma, aku menitipkan putriku kepadamu, kau jagalah dia untukku" ujar ummi, tak terasa matanya berembun.


Asma menyunggingkan senyum. "Lidya, insyaallah aku akan menjaganya." jawabnya "pernikahan ini begitu cepat. sampai aku tak menyangka jika an dan zahra sudah sah menjadi suami istri"


"Memang dalam pernikahan lebih baiknya di percepat agar tak menimbulkan fitnah" timpal abah ahmad.


Pernikahan zahra dan an di adakan secara sederhana. pernikahan itu di adakan di rumahnya sendiri. agar lebih cepat.


"Ayo" titah asma. ia berjalan menuju mobil Alphardnya yang berada dihalaman rumah besannya. semuanya mengikuti langkah asma.


Seorang sopir keluar dan mohon izin membawakan koper yg dipegang zahra. zahra menatap ibunya seakan bertanya.


Ummi mengangguk sebagai jawabannya.


Zahra mengambil tangan ibunya seraya menciumnya. lalu ummi segera memeluknya. disitulah air mata seorang ibu menetes.


Ibu mana yang tega. melihat anaknya pergi, meskipun itu kerumah suaminya.


Juga dengan abah, ia hanya menampakan embunan air mata. mungkin dia seorang ayah, jadi ia lebih kuat untuk menyembunyikan nya.


Zahra juga mencium tangan abahnya.


Air mata nur, benar-benar tak terbendung. ia tumpahkan semua air matanya. ia memeluk Zahra begitu kuatnya hingga tak mau lepas.


namun bagaimanapun juga dia harus melepaskan nya. "Bibi, aku menitipkan kakak ku. jangan sakiti hatinya meskipun itu hanya tak sengaja" pesan nur.


Asma mengangguk. "Iya, nur".


sembari melambaikan tangan, segera ketiga orang itu memasuki mobilnya.


Ummi, abah dan juga nur hanya bisa menatap kepergian mobil itu.


"Tabahkan hatimu, ummi. putrimu hanya dibawa suaminya" ujar abah, mencoba menenangkan ummi yang sedang terguncang.


Meskipun seperti itu, abah juga merasa terguncang namun ia tak mau menampakkan nya.


Nur berlari kerumahnya dengan kencang. hal itu membuat ummi dan abah ikut mengejarnya.


"Nur!" panggil ummi setengah berteriak. namun nur tak menghiraukannya, ia tetap berlari.

__ADS_1


Jazakumullah Khairan...


__ADS_2