
"Kenapa kau tak memberi tahuku, jika kau sudah menikah?." tanyanya keheranan.
"Maafkan aku kharisa" ujarnya menyesal. sejujurnya, An ingin merahasiakan pernikahannya dari semua orang. tetapi Allah berkehendak lain.
"Maaf?" Kharisa menautkan kedua alisnya. "Kau pikir dengan kata maaf permasalahan selesai?"
Kharisa Memang wanita yang tak mudah memaafkan. "An, kenapa sih harus menyembunyikan hal sebesar itu dariku?"
"Apakah persahabatan kita dari kecil, itu meragukan dirimu. padahal, aku selalu mencurahkan isi hati ku kepadamu. bahkan, masalah pribadi diriku, aku ceritakan semua kepadamu"
"Karena aku selalu menganggap dirimu sebagai sebagai kakak ku sendiri, bahkan lebih dari itu. tapi, kau menyembunyikan hal sebesar itu dariku."
Kharisa menertawai dirinya sendiri. "Bodoh sekali aku." akhir kata Kharisa meluncurkan air matanya, yang sudah sedari tadi ia bendung.
Dengan cepat An langsung menghapus air mata wanita itu. "Jangan menangis, kau boleh menyakiti ku jika itu membuat hatimu merasa lega." titahnya.
Zahra menatap suaminya, keheranan. pikirnya, mengapa sampai segitunya perlakuan An kepada wanita itu? apakah wanita itu sangat spesial untuknya?.
Kharisa mengepal jari-jemarinya kuat. wajahnya merah padam menahan emosi. hatinya bertanya-tanya, mengapa? dan mengapa ia harus menyembunyikan hal sebesar itu darinya?.
Tubuhnya semakin ia dekatkan pada tubuh pria itu. matanya menyorot tatapan tajam pada pria itu.
Bukan untuk memukulnya. tapi, wanita itu justru melingkarkan tangannya pada tubuh pria itu. di dada pria itu, tangisannya pecah.
"Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar itu dariku? apakah aku bukan sahabat mu?" tanyanya di balik isak tangisnya.
An semakin mengeratkan pelukannya. ia mengusap lembut puncak kepala wanita itu. "Jangan berkata seperti itu"
Zahra yang berada di posisi itu, langsung menundukkan pandangannya. ini kedua kalinya ia merasa cemburu. tetapi mengapa suaminya malah abai dengan perasaannya?. apakah suaminya tidak memikirkan perasaan dirinya?.
Pernikahannya dengan An memang tak dilandasi rasa cinta. tetapi bagi Zahra cintanya sudah tertanam, saat pria itu menghalalkan dirinya. mencintainya dalam diam.
Zahra bagi An. bagai nun mati di antara idgham bilaghunah. terlihat, tapi di anggap tidak ada.
"Hanya kau wanita yang mengerti perasaanku, tidak dengan orang lain" tuturnya.
Hati Zahra bak di teriris sembilu kala mendengar penuturan suaminya itu kepada Kharisa. "Ya Allah" batinnya.
Ya Rabb, kuatkanlah hati Zahra menghadapi semua yang telah menimpanya.
An melepaskan pelukannya, seraya membekap pipi wanita itu. "Hei jangan menangis" katanya sambil mengusap air mata Kharisa.
"Ini bukan Kharisa yang ku kenal. kharisa yang kukenal dia banyak tertawa. dan selalu tertawa. kau bukan kharisa ku" ujarnya, mencoba menghibur.
Jelas saja, Kharisa tersenyum menampakan gigi depannya. sembari mencubit perut pria itu. An memegangi perut bekas cubitan Kharisa. sambil mengaduh kesakitan.
Kharisa memukul jidatnya sendiri. "Astaga, gara-gara diriku perjalanan kalian sampai tertunda. memangnya, kalian mau kemana tadi?" tanyanya penasaran.
"Kami ingin mengunjungi, Ummi" jawab zahra, lembut.
"Apa aku boleh ikut?" tanyanya, sambil tersenyum Pepsodent.
Zahra menatap suaminya, An langsung mengangguk. "Terimakasih" ucap kharisa.
Pun, akhirnya ketiga orang itu memasuki mobil itu. Zahra duduk disebelah suaminya, dan kharisa duduk dibelakang.
👁️
Seorang wanita paruh baya, berhijab. segera membukakan pintu yang baru saja terdengar suara ketukan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ummi." salam Zahra kepada Umminya. ketiga orang itu saat ini sudah berada di depan pintu rumah ummi, Maulidyah.
"Waalaikumsalam" jawabnya. "Zahra, bagaimana kabarmu, Nak?" tampak dari wajah Ummi sangat sumringah, ketika melihat putrinya berada di depan matanya.
"Alhamdulillah, kabar zahra sangat baik, Ummi" jawabnya, lemah lembut.
Matanya, berganti menatap menantunya. An langsung terbitkan senyuman tipis di bibirnya yang mungil dan merah mudah, bawaan dari lahir.
"Bagaimana kabarmu, An?" tanyanya.
"Kabarku baik, Ummi" jawabnya, singkat.
Sekarang, mata ummi menatap seorang wanita asing yang berpakaian feminin. matanya kembali menatap kepada An lalu menatap Zahra. seakan meminta penjelasan.
"Ummi, dia kharisa. sahabat abang" ucap Zahra memperkenalkan. Kharisa mengangguk sambil tersenyum lebar kepada Ummi.
Ummi sedikit terbengong. dengan penuturan Zahra. mengapa putrinya tak mencemburui suaminya yang bersahabat dengan seorang wanita? bagi Ummi hal itu sangatlah tidak biasa.
Tapi, Ummi tetap berbaik sangka. mungkin saja hanya bersahabat.
"Halo, ummi" ucap kharisa ramah.
"Halo juga, Kharisa"
"Silahkan masuk" titah ummi. ketiga orang itu patuh, seraya memasuki rumah itu. "Anggap saja rumah sendiri"
👁️
"Ummi, dimana nur?" tanya Zahra. Zahra dan juga An duduk berdampingan. sementara, Kharisa duduk di kursi lain hampir berdekatan dengan An.
"Adikmu sudah sedari tadi pergi" jawabnya.
"Dia pergi mengajar"
Kharisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Zahra, ikutlah dengan, ummi." pinta ummi. "Ummi, ingin memberikan mu sesuatu" Zahra melihat suaminya, mengisyaratkan bertanya, meminta izin.
An langsung mengangguk. segera Zahra dan juga ummi beringsut dari tempat duduknya.
👁️
"Ummi ingin memberikan apa kepada diriku?" tanya Zahra. saat ini Ummi dan juga Zahra sudah berada di kamarnya Ummi.
Ummi menggeleng lemah. "Sejujurnya Ummi tak ingin memberikan mu apa-apa. Ummi hanya ingin memberi mu nasihat" jawab Ummi.
"Nasihat apa, Ummi?" tanya Zahra penasaran.
"Zahra, Ummi melihat dimatamu kau sedang banyak masalah. apa yang terjadi denganmu, Nak? apakah kau bahagia dengan pernikahan mu?" tanya, Ummi khawatir sekaligus penasaran.
Zahra menundukkan kepalanya. "Mengapa ummi bertanya seperti itu? in syaa Allah, aku bahagia dengan pernikahan ku" jawabnya lembut.
"Benarkah? tapi mengapa Ummi tak melihat kebahagiaan di matamu?" ucap ummi meragukan.
"Kebahagiaan, tidak terlihat di mata. tapi, dirasakan oleh hati. Ummi, Zahra bahagia dengan pernikahan yang saat ini aku dan suamiku jalani" bohongnya, dengan kepala yang masih menunduk.
Sejujurnya, Zahra tak ingin berbohong. tapi, ia juga tak ingin memperbesar masalah dengan sikap An padanya, yang selalu acuh.
Ummi menghembuskan nafasnya kasar. hatinya yakin, jika Zahra sedang ada masalah, hal itu terlihat dari Zahra berbicara yang tak memandang mata Umminya.
__ADS_1
"Baiklah, Zahra. semoga yang kau katakan itu benar"
"Zahra, tidak ada rumah tangga yang tak dihampiri masalah. karena itu sebuah kemustahilan. tapi, jika kau melibatkan Allah di dalamnya, in syaa Allah, kau akan sanggup menjalani ujian yang tengah kau jalani sekarang" nasihat Ummi.
Zahra mengangguk mengerti. "Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya" ujar ummi.
Ummi membacakan surat Al-Baqarah 2: ayat 286.
"Sabar dan ikhlas kunci utama dalam berumah tangga" sambung Ummi. Zahra hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Ummi. ia sendiri tak tahu harus jawab apa.
Setelahnya, ummi berjalan pada sebuah meja. seraya mengambil rice box.
"Bawalah ini" pinta Ummi, sambil menyodorkan rice box semacam bekal nasi. Zahra dibuat penasaran oleh isinya.
seraya menerima rice box itu. "Apa ini, Ummi?" tanyanya, penasaran.
"Ini nasi goreng, kesukaan mu"
Zahra tersenyum dibalik cadarnya. pikirannya, mengingat kembali awal dirinya membuatkan nasi goreng untuk suaminya. saat itu, An begitu antusias memakannya. itulah yang membuatnya bahagia.
Ummi mengamati Zahra yang sedari tadi diam. "Apa yang sedang kau pikirkan, Zahra?" tanyanya, penasaran.
Zahra segera tersadar dari diamnya. sembari menggeleng cepat. "Tidak ada, Ummi"
👁️
"An, lain kali jika ada sesuatu, jangan sembunyikan lagi dariku" ujar Kharisa.
An mengangguk sambil tersenyum manis kepadanya. "Iya Kharisa"
Kharisa tersenyum girang mendapatkan jawaban dari An. "Janji ya"
An mengangguk kembali. "Iya, janji. itupun aku harus melihat keadaan terlebih dahulu sebelum memberi tahumu"
Kharisa cemberut. "why should it be like that?."
[Kenapa harus seperti itu?]
An mencubit hidung Kharisa yang sangat mancung itu. "Tentu saja harus"
"An sakit" rintihnya, sembari menarik paksa tangan An yang masih mencubit hidungnya.
Dari kejauhan langkah kedua orang semakin mendekat. Ummi yang melihat kedekatan menantunya dengan wanita itu menjadi curiga, tetapi ia tetap berbaik sangka. 'mungkin saja hanya bersahabat', itulah yang selalu Ummi batinkan.
Zahra tampak cemburu dengan kedekatan suaminya itu. tetapi, ia sadar posisinya di mata suaminya itu. ia hanya mampu menunduk, dan selalu berserah diri kepada Allah.
An langsung melepaskan tangannya, dari hidung Kharisa. kedua orang itu diam, saat melihat langkah Ummi dan Zahra yang sudah dekat.
An bangkit dari duduknya, segera di ikuti Kharisa. "Ummi, maaf. tetapi aku harus pulang. karena sebentar lagi, aku akan ada meeting dengan klien"
Ummi mengangguk mengiyakan permintaan menantunya. "An, aku menitipkan putriku kepadamu, jagalah ia baik-baik. karena, suatu saat nanti dia akan menjadi seorang ibu dari anak-anak mu" pesan, Ummi.
Mendengar kata 'Ibu' membuat hati An sedikit tergetar. karena ia amat mengetahui perjuangan seorang Ibu, yang melahirkan. dan hal itu tidak mudah. karena, nyawa sebagai taruhannya.
An mengangguk, mengiyakannya. "Ummi, aku titip salam untuk, nur" ucap, Zahra.
Ummi mengangguk. "Ya, Zahra. Ummi akan sampaikan" jawabnya.
Jazaakumullah Khairan ❤️Like Ya!.
__ADS_1