Karena Allah

Karena Allah
Dia istriku.


__ADS_3

"Kau sangat beruntung, Nak. mendapatkan istri seperti zahra"


Kedua mata sepasang suami istri itu saling bertemu, tetapi zahra lebih dulu menundukkan pandangannya.


"Zahra, An, sepertinya ibu harus pulang" tuturnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


"Baiklah bu, aku akan mengantar ibu kebawah" ujar An.


Diangguki cepat oleh asma.


👁️


"Zahra, kau mau kemana?" tanya Asma, yang baru menyadari dilengan Zahra yang membawa sebuah tas.


"Aku ingin berkunjung kerumah Ummi, Ibu" jawabnya lembut.


Asma mengangguk paham. "An, kau antarkan menantu ibu dengan selamat, ya" Asma tak mengetahui. jika putranya menyuruh istrinya itu pergi bersama bi Laila.


Zahra ingin menjawab, tetapi An lebih dulu menjawabnya. "Baiklah, ibu" sambil tersenyum manis pada Ibunya.


Tak terasa, perbincangan itu telah membawa ketiga orang itu pada sebuah mobil yang di parkir di halaman —mobil itu milik Asma.


Zahra segera menyalami punggung tangan Asma, juga dengan An. Asma mengelus pipi putranya, dengan sayang.


"Jaga dirimu baik-baik, An." pesannya. "dan kau, juga harus menjaga istrimu baik-baik"


An mengangguk, sembari melempar senyum pada ibunya. Asma juga membalas senyuman putranya itu, dengan senyuman lebar.


Setelahnya, Asma memasuki mobilnya itu. ia duduk di kursi belakang. keempat mata itu, menatap kepergian mobil ibunya.


👁️


Beberapa saat setelah itu, Zahra membalik badannya, akan memasuki rumah itu. ia hendak ingin bertanya kepada bi Laila, apakah ia akan mau menemani dirinya berkunjung kerumah Umminya?.


"Mau kemana?" tanya An langsung. dan mengehentikan langkah Zahra. Zahra segara menghadap kembali kepada suaminya.


"Aku ingin menemui bu laila. aku ingin bertanya kepadanya, apa dia akan mau menemaniku?" jawabnya, dengan kepala menunduk.


"Aku akan mengantarmu" ujarnya, membuat Zahra sedikit tercengang dengan penuturan suaminya itu.


Mengapa sekarang An yang akan mengantar istrinya? bukankah ia sendiri yang menyuruh istrinya pergi bersama bi Laila.


Memang ya. tapi An sudah terikat janji dengan ibunya bahwa ia akan mengantar istrinya dengan selamat sampai tujuan.


Segera An berjalan menghampiri mobilnya yang berada di Carport.


"Masuklah" titahnya. Zahra patuh, segera ia masuk kedalam mobil itu. tetapi ia memilih duduk di kursi penumpang.


Karena ia sudah tahu kedudukannya di mata suaminya itu. ya, hubungannya sebagai suami istri hanya sekedar status.


Dari sebuah spion mobil, mata An melihat istrinya. yang lebih memilih duduk di kursi penumpang. An berpikir sejenak.


Jika istrinya itu keluar dari pintu mobil penumpang. Umminya pasti akan bertanya-tanya. sementara, ia tak ingin lagi terjebak dalam situasi genting.

__ADS_1


"Zahra" panggilnya. Zahra sedikit mengakat kepalanya, saat namanya dipanggil. "duduklah, di depan"


Zahra sedikit terbengong dengan permintaan suaminya itu. hatinya bertanya-tanya, mengapa suaminya itu menyuruh dirinya duduk di sampingnya?.


Tanpa berpikir panjang zahra mematuhi apa yang di perintahkan suaminya itu. ia masuk kembali kedalam mobil itu, tetapi sekarang ia duduk disamping suaminya. matanya menatap suaminya dengan tanda tanya.


Sementara, tatapan pria itu lurus ke depan. tampak dari wajahnya menunjukkan biasa-biasa saja. padahal bagi Zahra ini tidak biasa.


👁️


Cit...


An mengerem mobil itu secara mendadak. bersamaan dengan hal itu, kepala Zahra terbentur pada bagian depan mobil. yang menyebabkan kepalanya, sedikit merasakan pusing.


Tetapi, An tak peduli dengan apa yang dialami istrinya itu. ia lebih memilih keluar. menghampiri seorang wanita, yang berdiri menghalangi jalannya. dan, karena hal ini yang mengharuskan dirinya mengerem mobilnya mendadak.


"Hei, kharisa. apa kau ingin mati?" katanya, setengah kesal.


Wanita itu justru tertawa kecil. "Sorry. tapi, aku tidak ingin mati. aku hanya ingin menghentikan mobilmu" tuturnya.


An memutar bola matanya malas. "Ini sangat konyol, Kharisa." kesalnya.


Bukannya sadar dengan kelakuannya yang hampir membahayakan nyawa. ia justru tertawa lepas saat melihat sahabatnya itu marah. "Sorry, An." seraya mencubit gemas pipi sahabatnya itu.


Melihat hal itu, Zahra yang berada didalam mobil, langsung menundukkan pandangannya. cemburu, itu pasti. wanita mana yang rela melihat suaminya bersenda gurau dengan wanita lain di depan matanya sendiri.


"Kharisa, apa-apaan sih" katanya tambah kesal.


Kharisa tersenyum lebar. "Sorry, aku gemas melihat kau marah, An" tuturnya.


"Apa aku boleh ikut?" Belum sempat dijawab oleh An. Kharisa langsung berjalan cepat kearah mobil itu. sembari membuka pintu yang berada disamping pengemudi.


Kharisa terkejut bukan main. ketika didalam mobil itu, mendapati seorang wanita bercadar dan berpakaian serba hitam.


Ia menatap An dengan tanda tanya. sementara, pria sangat pasrah dengan keadaan. ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Lagi pula, sampai kapan dirinya bisa menyembunyikan status barunya itu.


Kharisa menarik paksa, wanita itu keluar. matanya menatap wanita itu dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan. entah apa yang ia pikirkan tentang dirinya?.


Kharisa tersenyum memiring. "Apa kau bersembunyi dibalik pakaianmu?" katanya meremehkan. maksudnya, Kharisa berpikir jika Zahra adalah perempuan bayaran yang bersembunyi dibalik penampilannya.


Kharisa berpikiran seperti itu, karena ia belum mengetahui pernikahan An dan Zahra.


Zahra mengernyit, bingung. "Kenapa kau diam?" tanyanya yang tak mendapatkan jawaban dari wanita itu.


Zahra melihat sejenak kepada suaminya. An memalingkan wajahnya. sebenarnya, Zahra bisa saja mengatakan kepada Kharisa bahwa dirinya adalah istri An. tetapi, Zahra ingin suaminya sendiri yang mengatakan hal itu kepada wanita itu.


"Kau tidak perlu bersikap polos seperti itu" ujar Kharisa, membuat wanita menoleh kepadanya.


"Aku memang tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." jawabnya lemah lembut.


"Really?." Kharisa mengambil tangan Zahra. seraya berjalan menghampiri An, yang masih berdiri di tempat.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanyanya kepada An.


Pria itu menatap Zahra, dengan perasaan iba. bagaimanapun juga Zahra adalah istrinya. dan ia berkewajiban menjaga kehormatan istrinya.


Zahra hanya pasrah kepada Allah. dan ia juga pasrah dengan jawaban suaminya nanti. walaupun nantinya An tak mengakui pernikahannya di depan Kharisa, Zahra akan tabah menerima itu.


"An kenapa kau diam? katakan siapa dia?" tanyanya kembali saat tak mendapatkan Jawaban dari An.


"Dia istriku" ucapnya pasrah.


Kharisa membulatkan matanya sempurna membentuk huruf 'O'. begitu juga dengan Zahra, ia tak menyangka dengan jawaban suaminya itu.


Zahra menatap suaminya dengan mata mengembun karena terharu. percayalah, saat kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. saat itulah, Allah akan membantu atau menolong kita dengan caranya.


"Apa kau bercanda?" tanyanya dengan nada lemah, sekaligus tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu.


An mengangguk pasrah. "Iya, dia memang istriku"


Mata Kharisa menatap Zahra lekat. ia menyesal telah menuduh Zahra, yang tak pernah wanita itu lakukan.


"Aku minta maaf" katanya tulus. seraya mengulurkan tangannya.


Zahra menjabat tangan wanita itu cepat. "Aku sudah memaafkan dirimu, sebelum kau meminta maaf kepadaku" ucapnya tulus.


Kharisa langsung memeluk Zahra erat. saat permintaan maafnya diterima oleh Zahra dengan senang hati.


Sembari melepaskan pelukannya.


"Mengapa kau tidak marah, atau membela diri?" tanyanya penasaran.


Zahra menunduk. hatinya membatin, bahwa ia hanya ingin suaminya yang menjawabnya.


Melihat tundukan itu, Kharisa merasa jika Zahra tak ingin menjawabnya. "Kau tak perlu menjawabnya, aku yakin kau pasti punya alasannya" katanya, memahami isi hati Zahra.


Zahra tersenyum dibalik cadarnya. "Siapa namamu?" tanya Zahra, penasaran.


"Kharisa Laura. kalau namamu siapa?"


"Namaku Nazwa Az-Zahra"


"wow, what a beautiful name"


[Wow, nama yang indah]


Zahra tersenyum di balik cadarnya. "Terimakasih"


Kharisa ternganga, ia tak menyangka jika Zahra mengerti bahasa Inggris. "Wow, I didn't expect you to understand English" ucapnya kagum.


[Wow, aku tidak menyangka jika kau bisa mengerti bahasa Inggris]


Zahra tekekeh.


Wanita itu selain paham agama, ia juga paham dalam bahasa Inggris. apalagi, di zaman modern seperti ini. banyak sekali kita menjumpai orang berdarah Indonesia mengucapkan bahasa Inggris.

__ADS_1


Jazaakumullah Khairan ❤️Like ya!.


__ADS_2