Karena Allah

Karena Allah
Kebetulan yang tak terduga.


__ADS_3

"Maaf, Pak. Nur Shiddiqi menolak menemui, Bapak" tutur polisi itu to the points, kepada seorang dua pemuda yang saat ini sedang duduk di kursi bersebelahan.


Azmi dan An saling melempar pandangan, keduanya tak mengerti apa yang membuat Nur menolak menemui dirinya dan Azmi. sementara, ia sudah mengatakan bahwa dirinya adalah keluarganya.


"Apa alasannya?" tanya An penasaran.


"Dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menolaknya saja tanpa memberikan alasannya" tuturnya.


An mengangguk-anggukkan kepalanya. setelahnya, polisi itu berpamit mengundurkan diri, sembari berlalu.


"Apakah pertemuan ini di batalkan, Pak An?" tanya Azmi tiba-tiba.


An langsung menggeleng. "Tidak, pertemuan ini akan tetap di lanjutkan."


Ia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, sembari menekan nomer yang ia hendak hubungi.


👁️


Suara deringan ponsel yang berasal dari atas nakas, mengharuskan seorang wanita yang berbaring, sembari bangun. ia bangun sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, yang saat itu ia jatuh dari kamar mandi.


Tangannya meraih ponsel itu, dan mengambilnya. matanya menatap nama yang tertera jelas di layar ponselnya—Abang. perasaannya antara bahagia dan bingung. selama ini suaminya tak pernah menelepon dirinya. dan hal ini adalah pertama kalinya suaminya menghubungi dirinya.


"Assalamualaikum" salamnya setelah menjawab panggilan telepon itu.


"Waalaikumsalam" jawab An pelan.


"Ada apa, Bang?" tanyanya penasaran.


"Zahra, apa aku mengganggu mu?" tanya An tak enak hati, apalagi saat ini istrinya sedang sakit.


Zahra menggeleng cepat. "Tidak, memangnya ada apa?"


"Zahra, saat ini aku menemui adik mu. tetapi ia menolak bertemu dengan ku. padahal aku sudah mengatakan kepada polisi bahwa aku adalah keluarnya" jelasnya, mencari tahu.


Zahra diam, jadi suaminya mengunjungi adiknya. tetapi mengapa tak memberi tahu dirinya. "Zahra" panggil An yang tak mendapatkan jawaban.


Zahra sedikit terkejut sekaligus tersadar dari diamnya. "Maaf, Abang bilang apa?" tanya Zahra sedikit linglung.


An berdecak sebal, bukannya di dengarkan malah asyik melamun sendiri. "Astaghfirullah, maaf, Bang. baiklah, aku mengingatnya" sergah Zahra langsung sebelum mendapatkan semburan api dari suaminya.


"Abang, mungkin saja Nur khawatir jika yang ia temui bukan keluarganya, apalagi Abang hanya bilang keluarga bukan nama Abang sendiri" jelas Zahra.


An paham. "Iya, baiklah" ucapnya acuh, sembari mematikan sambungan teleponnya sepihak.


"Abang" panggil Zahra. ia menghidupkan layar handphone-nya. wajahnya menunjukkan kekecewaan, ternyata suaminya telah mematikan sambungan teleponnya. "Wassalamu'alaikum" gumamnya, sembari meletakkan kembali handphonenya.

__ADS_1


👁️


"Bagaimana, Pak An?" ujar Azmi bertanya keputusan akhir kepada An.


"Aku akan menemuinya langsung, kau tunggulah di sini." Azmi mengangguk mengiyakan permintaan An.


Sembari bangkit dari duduknya, dan berlalu.


Matanya menatap satu persatu tahanan itu. An juga melihat satu persatu orang dari setiap jeruji besi. tentu ia mencari keberadaan, Nur.


Langkahnya terhenti tepat di depan jeruji besi, yang berisikan empat orang, dan salah satu dari mereka mengenakan hijab, lekat. padahal suhu di sana sangat panas.


"Nur" panggil An. Nur menoleh saat namanya di panggil, saat ini ia duduk menyenderkan punggungnya pada tembok.


"Kak, An" gumamnya, sembari bangkit. "Apa kakak kemari bersama, kakak ku?" tanyanya berharap Zahra juga ikut.


An menggeleng. "Tidak" jawabnya singkat.


Seorang polisi segera menghampiri keduanya. "Ada apa ini?" tanyanya penasaran.


"Berikan kami waktu sebentar untuk berbicara, Pak" tutur An.


Polisi itu mengiyakan sembari membuka gemboknya. Nur segera keluar dari jeruji besi itu, yang panas-nya Ma syaa Allah.


Seorang wanita berjalan di belakang seorang pria, yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


Matanya melihat seorang pria yang duduk di atas kursi, berseragam rapi. wajahnya sangat familier di mata, Nur. bukankah dia?.


Begitu juga dengan pria itu pandangannya tak lepas dari wanita itu, membuat Nur sangat risih. apakah ini kebetulan?, ia di pertemukan kembali, oleh seorang wanita yang telah ia bela dari seorang pria arogan.


Nur dan juga An, menduduki kursi hampir bersamaan. Nur duduk berseberangan, dan An juga Azmi duduk bersebelahan dengan An.


"Apakah dia adik ipar mu, Pak?" tanyanya tak percaya. entahlah, apakah ini sebuah kebetulan. saat itu Azmi lah yang membelanya, dan di persidangan nanti Apakah juga Azmi yang menjadi pembelanya.


An mengangguk mengiyakan pertanyaan Azmi. ternyata kasus wanita itu di bawa ke meja hijau.


"Sekarang ceritakan kepada ku detailnya, awal dirimu bisa di tuntut oleh seseorang?" titah Azmi, siap mendengarkan, sekaligus mencatat, agar ia bisa mempelajari kasusnya lebih dalam lagi.


Pun, Nur menceritakan kronologi dirinya mengapa sampai berani membanting ponsel pria itu. An juga Azmi mendengarkan seksama, setiap penjelasan dari Nur. Nur menceritakan setiap kejadian itu dengan detail dan jelas.


Nur selesai menceritakan, dan langsung di angguki Azmi. "Baiklah, sekarang aku paham. kau tenanglah, karena kau akan segera bebas dari sini" tuturnya yakin.


"Apa kau yakin, Azmi?" tanya An memastikan.


Di angguki cepat oleh Azmi. "Iya, Pak sangat yakin."

__ADS_1


Entahlah, sepertinya ada sesuatu dengan Azmi. dan sepertinya ia juga sangat mengetahui siapa laki-laki itu.


👁️


Suara ketukan pintu terdengar baru saja di telinga seorang wanita yang saat ini berbaring di atas ranjangnya.


"Sebentar" sahutnya.


Segera ia bangkit sembari duduk. tubuhnya menahan rasa sakit akibat jatuh dari kamar mandi. ia merasakan efek yang timbul akibat terpeleset dari kamar mandi.


Pergelangan kakinya, terasa sangat sakit. bahkan ia seakan tak mampu berdiri. tetapi, ia tetap berusaha untuk berdiri.


Seorang pelayan langsung membuka pintu itu, matanya membelalak sempurna saat melihat majikannya berdiri, dan hampir saja terjatuh.


Tetapi, beruntungnya Bi Laila cepat menolong dan menangkap tubuh wanita itu. "Nona, ngapain?" tanyanya khawatir.


"Aku hanya ingin membukakan pintu" jawabnya lemah lembut.


"Nona tidak perlu membukakan pintu untukku. bagaimana jika Pak An tahu jika istrinya hampir jatuh, karena ingin membukakan pintu untuk seorang pelayan?" ucapnya risau.


"Maksud, Bu Laila apa?" tanya Zahra tak mengerti.


"Nona, aku kemari di perintahkan Pak An, untuk memberikan mu obat. karena ini sudah waktunya, kau minum obat."


Zahra tak percaya dengan penuturan Bi Laila. mana mungkin suaminya itu seperhatian itu kepada dirinya, dirinya saja selalu di acuhkan.


"Apakah yang engkau katakan itu benar, Bu Laila?" tanyanya memastikan.


"Apakah nona tidak pecaya kepada diriku?" tanya balik pelayan itu. Zahra langsung menggeleng cepat. "Tidak, tentu aku percaya"


"Tetapi, apakah benar suamiku mengatakan hal itu kepadamu, sementara Bu Laila tahu sendiri bagaimana perlakuannya kepada ku. rasanya, sangat mustahil" sanggahnya.


"Nona, duduklah dulu" titah pelayan itu, dan di angguki Zahra. seraya patuh.


"Nona, mungkin saja Allah sudah membukakan hatinya untuk, Nona" tuturnya.


di 'Aamiin kan' Zahra.


"Semoga yang engkau katakan itu benar, Bu Laila."


Akhir kata dari Zahra, pelayan itu langsung memberikan obat kepada wanita itu, yang berada di atas nakas.


Zahra mengambilnya sembari menelan. pelayan itu langsung menyodorkan sebuah minuman air putih. Zahra menerimanya, sembari di minumnya.


Jazakumullah Khairan.❤️Like Ya.

__ADS_1


__ADS_2