
Tok..tok.. tok..
"Iya tunggu sebentar" Sahut seorang wanita paruh baya dari dalam rumah. sembari, menghampiri pintu. dan membukanya.
Wanita itu sedikit dibuat terkejut sekaligus bingung dengan kedatangan beberapa orang lelaki yang berpakaian seragam polisi.
"Ada perlu apa, pak?" tanyanya penasaran.
"Maaf kami telah mengganggu waktumu, kami kemari mencari saudari Nur, apa dia tinggal disini?" tanya salah satu polisi itu.
Ummi mengangguk cepat. "Iya disini rumah Nur. tapi, ada apa dengannya?" tanya Ummi semakin penasaran.
"Kami mendapatkan laporan, bahwa saudari Nur, telah merusak barang orang lain" jelas, salah satu polisi itu.
Ummi membulatkan matanya sempurna. ia tidak percaya dengan penuturan seorang polisi itu.
"Apa aku boleh melihat buktinya?" ujarnya.
Polisi itu memberikan berupa bukti-bukti yang telah mereka bawa. beserta dengan surat izin penangkapan.
Ummi membacanya secara teliti, tertulis lengkap dalam laporan itu, bahwa Nur telah merusak handphone milik seorang pemuda.
"Ummi" panggil Nur, entah kapan ia datang, tapi ia sudah berada di disamping Umminya. matanya melihat beberapa orang berseragam rapi itu.
Ia hendak berangkat mengajar, dan ingin bersaliman dengan Umminya. "Nur, apa ini benar?" tanya Ummi memastikan. buliran air matanya tampak mengembun.
Nur mengambil kertas itu ditangan umminya. sembari membacanya. benar saja, ia mengingat kembali kejadian itu. ternyata pria itu melaporkan dirinya.
Nur menyunggingkan seulas senyuman. ia merasa tidak memiliki ketakutan sama sekali. karena ia yakin apa yang ia lakukan benar.
Justru, pria itulah yang akan terjebak dengan laporannya sendiri. "Baiklah, pak. ayo bawa aku" titahnya, percaya diri.
"Nur apa yang kau katakan?" tanya Ummi, bingung. ia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan putrinya itu.
Nur melempar senyum kepada Umminya. "Ummi, Ummi tidak perlu takut. jika aku benar Allah akan menolong ku. jika aku salah, maka Allah juga yang akan menghukum diriku, di dunia dan akhirat."
Wanita itu sama sekali tak memiliki rasa takut sedikitpun. pun, polisi itu, memborgol pergelangan tangan Nur. ummi berusaha mencegahnya, namun beberapa polisi menahannya.
Orang tua mana yang akan rela melihat anaknya diborgol didepan matanya sendiri. air matanya menetes tanpa henti dan sudah tak terhitung lagi seberapa banyaknya.
"Ummi, doakan saja aku" ucapnya tenang. sembari mengulas senyuman tipis dibibirnya.
"Nur!" Teriak ummi, ia hanya bisa menatap kepergian putrinya dengan borgolan di pergelangan tangannya.
Tangisannya semakin histeris. nafasnya sudah tak beraturan lagi. detak jantungnya seakan berhenti seketika.
"Ya Allah" lirih Ummi.
👁️
Suara deringan ponsel yang berada di atas meja dapur, mengharuskan Zahra menghentikan aktivitasnya.
Ia sedang bersama bi Laila, sambil membantu pekerjaan bi Laila di dapur. "Bu, aku permisi dulu sebentar ya" pamitnya, sembari mengambil ponselnya.
Ia sedikit menjauh dari keberadaan bi Laila. Zahra memilih menjawab panggilan teleponnya di luar area dapur.
Tertera jelas nama orang yang sedang menelepon dirinya —Ummi. tak biasanya umminya menelpon dirinya. pikirnya, mungkin ada hal penting yang ingin Umminya katakan.
"Assalamualaikum" Zahra tak mendengar Jawaban salam dari umminya, yang ia dengar hanya suara isak tangis dibalik panggilan telepon itu.
"Ada apa, Ummi? mengapa Ummi menangis?" tanya Zahra penasaran.
__ADS_1
Ummi tak mampu menjawabnya. suaranya seakan habis. "Z-zahra" ucapnya, terbata-bata.
"Ummi, tenangkan diri Ummi dulu, baru setelah itu Ummi bicara" titah Zahra. Zahra benar tidak tahu apa yang telah membuat Umminya menangis sampai seperti itu.
Ummi menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. agar bisa sedikit melegakan dadanya yang sangat sesak.
"Zahra, a-adikmu" ujarnya dengan suara gemetar.
"Ada apa dengan Nur, Ummi?" tanya zahra penasaran.
"P-polisi, adikmu dibawa polisi, Zahra" tuturnya. akhir kata tangisannya pecah. pikirannya mengingat kembali saat-saat nur dibawa polisi.
"Apa? Ummi benarkah apa yang dikatakan, Ummi?" tanya Zahra memastikan.
"Iya, Zahra"
"Ummi, apa yang diperbuatnya?" tanya zahra kembali. matanya mulai berkaca-kaca. sekarang ia tahu penyebab umminya menangis. ditambah, saat ini abahnya sedang tak ada dirumah. suami Ummi tentunya berdakwah.
Ummi menjelaskan kepada Zahra, apa yang telah ia baca dari surat laporan itu. Zahra benar-benar tercengang. sekaligus tak percaya.
"Ummi, aku yakin nur tak bersalah" tuturnya yakin.
"Ummi harap juga begitu Zahra. adikmu, juga memiliki keyakinan seperti dirimu"
"Ummi yang sabar. mungkin ini suatu ujian untuk keluarga kita. ummi pernah menasehati Zahra, bahwa Allah tidak membebani seorang hambanya melainkan sesuai kesanggupannya" tutur Zahra, menyemangati Umminya.
Qs. Al-Baqarah 2: ayat 286.
Diseberang telepon, ummi mencoba berfikir nalar. ummi mulai menerima kenyataan itu. meskipun berat. ia sedikit tak percaya dengan apa yang telah menimpanya.
👁️
Seorang wanita paruh baya, duduk bersimpuh di atas sajadah. dan didepannya terdapat rekal atau tempat Al-Qur'an.
Seberat itukah cobaannya. seusainya, ia menutup kembali Al-Qur'an itu.
Ummi. wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah kepada Allah, dengan permasalahan yang sekarang ia hadapi.
👁️
Borgolan ditangannya, dilepaskan oleh seorang polisi. sembari dimasukan kedalam jeruji besi.
Beberapa wanita paruh baya yang sudah lama tinggal didalam jeruji besi itu, menatap aneh pada seorang wanita yang baru saja dimasukkan kedalam jeruji besi itu.
Sembari berbisik-bisik kepada teman disebelah nya. entah apa yang mereka nilai tentang wanita itu.
Mata wanita itu, menatap sekeliling yang ada didalam penjara. wanita itu baru pertama kalinya mengetahui isi penjara.
"Hei, apa kesalahanmu sampai kau dipenjara?" tanya salah satu seorang wanita itu.
Nur membalik badannya. matanya menatap satu persatu wanita paruh baya itu, yang terdiri dari tiga orang.
"Kenapa kau tak menjawab?" tanya salah seorang lagi, yang tak mendapatkan jawaban.
"Aku bersalah" jawabnya singkat.
Ketiga orang itu saling pandang satu sama lain. "Dasar aneh, tentu saja kau bersalah. jika kau tak bersalah sudah pasti kau tidak akan dimasukkan kedalam penjara" ujar, seorang wanita itu kesal.
"Itulah jawabannya"
Seorang dari mereka berdecak sebal. "Dasar tidak sopan" umpatnya.
__ADS_1
"Iya kau benar melha" ucap seorang membenarkan.
"Sebaiknya kau lepas saja hijabmu itu, karena kelakuan mu tak sesuai dengan penampilan dirimu" ucap seorang lagi, sinis.
Nur termangu dan sedikit tercengang. bagaimana bisa orang-orang itu hanya menilai seseorang dari penampilannya?.
"Apa maksud mu? hijab itu sebuah kewajiban jadi, jika ada seorang wanita berhijab lalu membuat kesalahan, jangan pernah menyalahkan hijabnya. dia mau berhijab itu sudah bagus."
"Karena akhlak dan penampilan itu dua hal yang berbeda. dan, wanita yang berhijab bukan berarti dia seorang malaikat yang terhindar dari perbuatan dosa. karena wanita berhijab juga manusia" tuturnya lemah lembut.
"Diam kau. lihatlah, dia menceramahi kita. dia pikir dia siapa?" ucap salah satu dari ketiga orang itu, kesal dan tak terima di nasehati.
Kedua orang dari mereka mengangguk-anggukkan kepalanya, mengiyakan.
Nur diam. 'Ya Allah' batinnya.
Perlu kita ingat, bahwa hijab dan akhlak itu dua hal yang berbeda. terkadang kita sering sekali, menyalahkan hijab karena kesalahan mereka. padahal tak seharusnya Seperti itu. hijab itu kewajiban bagi seorang muslimah.
👁️
"Zahra" panggil An. ia baru saja pulang dari kantornya. Zahra yang duduk di tepi ranjang segera menoleh pada asal suara itu, mendapati suaminya yang sudah berada didalam kamarnya. ia sedang menelepon seseorang.
Segera ia mengakhiri sambungan telepon dengan salam. sembari mendekati suaminya. "Abang, pulang?" ujarnya. sembari mengambil tangan suaminya, lalu menciumi punggung tangannya.
"Kau bicara dengan siapa?" tanyanya penasaran.
Zahra sedikit tak percaya dengan yang ia dengar. tak biasanya suaminya itu bertanya seperti itu. apakah suaminya?...
"Tumben sekali Abang bertanya seperti itu, apa Abang cemburu?" tanyanya menerka, dengan kepala menunduk. ia tak sanggup menatap suaminya.
An membuang nafasnya kasar. "Cemburu? untuk apa cemburu? memangnya aku tidak boleh bertanya seperti itu?"
Zahra tertawa kecil. "Tidak apa-apa sih. tapi, aneh saja, Abang tak pernah bertanya. dan selalu bersikap acuh. tapi, hari ini a,bang bertanya seakan abang cemburu" jelasnya.
An berdecak sebal. "Terserah kau saja deh" lagian, An bertanya serius malah ditanggapi bercanda oleh Zahra.
An berjalan menuju kamar mandi, ia hendak membersihkan badannya. "Astaghfirullah" gumam Zahra. tampaknya ia mengingat sesuatu.
"Abang" panggil Zahra dan menghentikan langkah suaminya. seraya mendekati suaminya. "Abang, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan."
"Abang, sebenarnya Adik Zahra saat ini sedang ditahan_"
"Ditahan?" selanya. sambil mengernyitkan kedua alisnya. "Memangnya apa yang dia perbuat?"
Zahra menarik nafas, laku mengeluarkannya perlahan. "Nur membanting ponsel seorang pemuda"
"Memangnya ada masalah apa dengan pemuda itu?" tanyanya penasaran.
Zahra mengedikan bahunya. "Aku tidak tahu, Ummi hanya memberi tahuku itu saja"
"Dan, hari ini ummi akan mengunjungi Nur. jadi, Zahra ingin menemani Ummi. apakah boleh?" tanyanya.
Tanpa berpikir panjang, An langsung mengiyakannya. "Pergilah".
"Masya Allah. terimakasih Abang". An mengangguk sebagai jawaban. dan ia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Hati zahra berbunga-bunga. "Alhamdulillah" gumamnya. sebenarnya, Zahra sudah menduga jika suaminya akan mengizinkannya.
Apalagi, jika hal itu menyangkut dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya!.