
Terlihat seorang pelayan yang membawa nampan ditangannya, seraya mengetuk pintu itu beberapa kali.
Ia membawakan makanan itu untuk majikannya, yang saat ini sedang sakit.
An membuka pintu itu, "Masuklah" titahnya.
Bi Laila patuh, ia masuk kedalam kamar majikannya. seraya meletakkan nampan itu diatas nakas.
"Selamat pagi, Nona" ujar Bibi itu sumringah menatap Zahra, yang duduk menyenderkan punggungnya pada head board.
Zahra membalas senyuman pelayan itu, dengan senyuman kecil dibalik cadarnya. "Bagaimana keadaan Nona sekarang?" tanyanya khawatir.
"Alhamdulillah" jawabnya singkat.
"Semoga lekas sembuh, ya" tuturnya. sembari di 'Aamiin' kan oleh Zahra.
Setelah perbincangan itu, Bi Laila berpamit keluar, ia masih ada pekerjaan dibawah yang masih belum ia selesaikan. Zahra mengangguk mengiyakannya.
👁️
Zahra mengamati suaminya, yang saat ini berdiri didepan cermin sambil memasang dasi.
An yang menyadari jika istrinya menatap dirinya dari pantulan cermin, segera menunjukkan raut wajah tak suka.
"Apa kau tidak punya pekerjaan?" ujarnya, sinis.
Zahra menggeleng. "Tidak ada" jawabnya apa adanya.
Mata An melihat sebuah nampan di atas nakas itu. "Baiklah, kalau gak punya pekerjaan, makan saja" titahnya.
Zahra sedikit kecewa padahal ia seperti itu, ingin memberikan kode kepada suaminya. jika ia ingin di suapi. tapi, sayangnya suaminya tidak peka.
Tangannya meraih nampan itu dan mengambilnya. beberapa kali matanya, menatap kearah suaminya yang masih berdiri didepan cermin itu.
An yang melihat istrinya dari pantulan cermin, merasa iba. bagaimana tidak, wanita itu seakan tak memiliki selera makan. ia hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
An membuang nafasnya kasar. segera ia berjalan mendekat kepada istrinya itu. sembari duduk didekatnya.
Tangannya mengambil alih makanan itu di tangan istrinya. hati Zahra yang awalnya kecewa berubah seketika, ketika suaminya mau melayani dirinya.
Pria itu bukan mau menyuapi istrinya, ia hanya meletakkan makanannya di atas nakas kembali.
Zahra terdiam tak mengerti, baru saja ia bahagia. pikirnya suaminya akan menyuapi dirinya, ternyata dugaannya salah.
"Kenapa di letakkan kembali?" tanyanya bingung.
An tersenyum memiring. "Karena aku melihat kau tampak tak memiliki selera untuk makan"
Zahra tertunduk, astaghfirullah suaminya benar-benar tidak peka dengan apa yang ia inginkan.
"Apa aku salah?" tanyanya, yang melihat istrinya tertunduk. yang tampak menyiratkan kekecewaan.
__ADS_1
Zahra menggeleng. "Tidak, abang benar" ucapnya dengan nada sedikit kecewa.
Tak di sangka dan tidak di duga. suara perut keroncongan milik Zahra terdengar oleh telinga suaminya.
Sebenarnya, Zahra sudah lapar. tapi, ia menginginkan suaminya yang melayani dirinya.
An menatap Zahra, keheranan. "Apa perutmu yang tadi berbunyi?" tanyanya memastikan.
Zahra mengangguk pelan sambil tersenyum malu.
Astaghfirullah. An membuang nafasnya dan pandangannya lurus ke depan. entah apa yang istrinya inginkan darinya? mau makan saja merepotkan dan harus di dahului drama. apakah ini film?.
Tangan An langsung mengambil kembali makanan itu, seraya memberikannya kepada istrinya itu.
"Makanlah" titahnya.
Zahra pasrah, ia memakan makanannya. jika ia menunggu suapan dari suaminya, bisa-bisa ia pingsan lagi, karena kehabisan tenaga.
An bangkit dari duduknya. "Mau kemana?" tanya Zahra penasaran.
An menoleh kepada istrinya. "Apa aku harus meminta izin terlebih dahulu kepada mu sebelum aku ingin melakukan sesuatu?"
Zahra menggeleng pelan. "tidak"
Akhir kata dari istrinya, ia langsung keluar dari kamarnya. sementara, Zahra menatap kepergian suaminya.
👁️
"Iya Pak"
"Siang ini, waktu Zahra meminum obat. jadi, Bi Laila usahakan tidak terlambat memberikannya" tuturnya. bagi An ia tidak perhatian, hanya saja ia merasa bertanggung jawab atas istrinya
Bi laila sedikit tercengang dengan apa yang ia dengar dari lisan majikannya. apa ini serius?. atau ia hanya salah dengar?.
"Iya Pak" jawabnya langsung. mendengar jawaban dari Bi Laila. An segera pergi dari tempat itu.
Mata Bi Laila menatap kepergian majikannya. senyumannya merekah jelas dibibirnya. "apakah Pak An mulai mencintai Nona Zahra?"
Bi Laila tertawa kecil dengan air mata mengembun karena terharu. "syukurlah jika begitu"
"Ya Allah jadikanlah keluarga yang sakinah untuk keluarga Nona Zahra" doanya lirih, sembari di 'Aamiin kan' olehnya sendiri.
👁️
Sebuah mobil Alphard berhenti tepat di halaman kantor polisi. seorang sopir keluar dari mobil itu, sembari membukakan pintu itu.
Seorang pria keluar, dengan setelan jas elegan. di barengi dengan keluarnya seseorang dari pintu sebelahnya. keduanya saling melempar pandang.
An mengisyaratkan melewati kepalanya kepada Azmi, untuk memasuki kantor polisi itu.
An melangkahkan kakinya memasuki kantor polisi, dengan ciri khasnya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Dan, Azmi mengikuti langkah An. sesekali matanya berkeliling melihat suasana penjara, yang tampak suram.
👁️
"Nur Shiddiqi" panggil seorang polisi. Nur yang saat ini sedang berdoa di atas sajadah, segera mengusapkan tangannya ke wajahnya. ia baru saja menyelesaikan sholatnya. dan menoleh kepada asal suara polisi itu.
Ia bangkit dari duduknya. "Iya, Pak"
"Seseorang ingin bertemu dengan dirimu" ujarnya.
Nur mengernyitkan keningnya, pikirannya bertanya siapa yang membesuk-nya. "Siapa yang membesuk ku?" tanyanya penasaran.
"Dua orang pemuda" jawab polisi itu singkat.
"Siapa dia?" tanya Nur, entahlah ia khawatir jika itu lelaki asing yang ia tak kenal.
"Aku tidak tahu, dia hanya mengatakan bahwa dia keluargamu" jelas polisi itu, sedikit kesal. tentu saja, wanita itu selalu mengajukan pertanyaan. "Kau mau menemuinya atau tidak?" tanya polisi itu to the poin.
Nur menggeleng. "Aku minta maaf, aku tidak bisa menemuinya."
Polisi itu mengangguk mengiyakan permintaannya itu, sembari berlalu.
Nur melipat dan merapikan kembali sajadahnya. "Kenapa kau tidak mau menemuinya? dia itu kan keluarga mu?" tanya seorang salah satu tahanan, penasaran.
Nur menoleh sembari tersenyum ramah. "Iya, aku tahu. tetapi, aku khawatir yang aku temui itu bukan keluargaku" jelasnya lemah lembut.
Wanita berbaju tahanan itu tidak mengerti dengan jawaban Nur yang terlalu simpel. "Aku tidak mengerti" ketusnya.
Nur membuang nafasnya pelan. "Aku khawatir dua pemuda itu lelaki ajnabi, maksudku lelaki yang bukan mahram" ucapnya memperjelas.
"Apa salahnya, harusnya kau bersyukur di besuk oleh seseorang?" timpal salah satunya.
Nur mengangguk. "Tentu aku bersyukur, tetapi aku lebih khawatir pemuda itu bukan keluargaku."
"Entahlah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu" ucapnya pasrah.
"Bibi, wanita itu sebesar-besarnya fitnah" ujarnya.
Ketiga tahanan itu mengernyit bingung dengan yang di maksud Nur. ketiganya saling melempar pandangan satu sama lain.
"Apa maksudmu?" tanya salah satu, dan di angguki kedua orang itu.
Nur mengulas senyuman tipis di bibirnya. "fitnah yang paling besar bagi laki-laki adalah dari wanita. Fitnah ini terjadi bukan semata disebabkan karena si wanitanya, tetapi juga karena laki-laki memiliki nafsu syahwat yang berlebihan kepada wanita."
Ketiga orang itu sedikit paham dengan yang di jelaskan oleh Nur.
Sebagaimana yang di sebutkan dalam sebuah hadits:
“Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih besar bagi laki-laki selain dari perempuan,” (HR Al-Bukhari).”
Jazaakumullah khairan akhi wa ukhti...
__ADS_1