
An duduk Termenung di atas sofa kamarnya, pikirannya saat ini sedang berkelana kemana-mana.
Tatapannya kosong lurus ke depan. Apakah dirinya terlalu egois, hingga tak mau membuka hati untuk istrinya? Wanita yang mencintai dirinya tanpa syarat.
Itulah yang ia pikirkan, pikirannya masih mengingat momen tadi, dimana Zahra melayani dirinya. bahkan pada saat itu pergelangan kakinya sedang sakit.
Ia menarik nafasnya yang terasa berat. Ia benar-benar terbebani dengan rumah tangganya yang hampa.
Matanya menatap tubuh Zahra yang tidur pulas di atas ranjang. Hatinya merasa iba juga kasihan.
Mengapa ia menikah dengan wanita sesabar Zahra? Padahal ia selalu di acuhkan oleh dirinya. Tetapi tetap saja Zahra selalu menghormati dirinya sebagai seorang suami.
Padahal, An tak pernah menghargai dirinya.
Sungguh, An benar-benar bersalah. Apakah ia harus melepaskan Zahra, agar ia mendapatkan yang lebih baik dari dirinya. Yang bisa memberikan Zahra hak sebagai seorang istri.
"Mungkin aku harus melepaskannya, agar ia mendapatkan seseorang yang bisa memberikannya hak sebagai seorang istri" gumamnya.
Ya Allah, untuk saat ini ia benar-benar tak bisa memberikan hak sebagai seorang istri kepada Zahra. Bagaimana mungkin, sementara ia tak pernah mencintai Zahra.
👁️
Seorang pria berjalan mendekati ranjang seorang wanita yang saat ini sedang duduk santai di atas ranjang.
Zahra menunduk saat suaminya berjalan mendekati ranjangnya.
"Zahra" panggil An. Ia berdiri beberapa meter di depan ranjangnya. Zahra langsung mengangkat kepalanya, saat namanya di panggil oleh sang suami. "Iya." Ia saat ini duduk santai di atas ranjang.
Ia diam sejenak. "Aku akan menceraikan dirimu." Ucapan itu meluncur begitu saja dari lisannya. An begitu mantap saat mengucapkan hal itu.
Baginya, sudah tak ada lagi yang di pertahankan di dalam rumah tangganya yang tak pernah ada kata cinta.
Bak terjatuh dari gedung bertingkat, hatinya seakan berhenti berdetak saat ucapan itu terdengar oleh telinganya.
Pelupuk matanya berembun. Apakah ia salah mendengar? Zahra benar-benar tak bisa berkata apapun.
Zahra menunduk, perlahan-lahan air matanya menetes. Ia tahu bahwa An tak mencintainya, lantas apakah tidak solusi lain selain bercerai?.
Apakah pernikahan harus mendahului cinta?. Lantas di mana kedudukan sebuah ibadah?. Bukankah pernikahan itu sebuah ibadah yang terpanjang.
"Apakah kau ingin menceraikan diriku hanya karena sebuah kata cinta?" Tanya Zahra dengan kepala menunduk.
Dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Beberapa kali suara sesenggukan itu terdengar.
Kamar itu seakan hening, yang terdengar hanyalah suara tangisan dan sesenggukan Zahra.
An menatap Zahra iba. Tangisannya sangat pilu. "Jawablah" ujarnya lemah di balik isak tangisnya.
__ADS_1
"Berikan aku alasan yang pasti, agar ketika orang tua ku bertanya aku bisa menjawabnya" tuturnya.
Nafasnya memburu naik turun, padahal pernikahannya hanya seumur jagung. Tetapi, sebuah kata cerai sudah di ucapkan oleh suaminya.
"Yang kau katakan benar, Zahra. Aku menceraikan dirimu karena aku tak pernah ada cinta kepada dirimu" tuturnya terus terang.
Air mata Zahra semakin pecah, air matanya mengalir deras. Saat, jawaban suaminya itu di tuturkan kepada dirinya.
Ia memang menangis, tetapi hanya mengeluarkan air mata, bukan suara keras. hal itu yang membuat dadanya terasa sesak. ia semampu mungkin menahan agar tak mengeluarkan suara.
Hal ini agar, hanya antara dirinya dan suaminya yang mengetahui sebuah momen lemah ini.
"Mengapa? Mengapa harus cinta? Mengapa?" Tanyanya beruntun. An memalingkan wajahnya, ia bahkan tak sanggup menatap mata Zahra yang berair.
Melihat istrinya menangis, hati An seakan juga ingin menangis. tetapi dirinya menolak keras.
Apakah An mulai tumbuh rasa kepada Zahra? jika begitu, lantas mengapa ia ingin menceraikan istrinya?. hatinya memang benar-benar susah di tebak.
Kadang ia ingin belajar untuk mencintai, tetapi masih ogah membuka hati. dan sekarang, ia ingin menceraikan istrinya.
Astaghfirullah, hati apa yang ia miliki.
"Mengapa?"
"Mengapa?"
"Mengapa?"
"Zahra, bangunlah" titahnya, saat ini ia duduk di tepi ranjang di dekat tubuh istrinya.
Zahra langsung tersentak dari tidurnya. Ya, ia sedang bermimpi. Matanya menatap suaminya dengan pelupuk mata berembun.
"Ada apa, Zahra?" Tanya An sedikit penasaran sekaligus khawatir.
Ia bangun dari tidurnya, refleks memeluk suaminya. Tangisannya pecah di dada An, membasahi bajunya yang sudah rapi, ia hendak berangkat ke kantornya.
Tetapi, tiba-tiba saja mendengar racaun istrinya yang membuat dirinya menunda perjalanannya.
"A-abang" ujarnya di balik isak tangisnya.
An semakin bingung. Ada apa ini? Mengapa Zahra seperti ketakutan. Bahkan suhu tubuhnya terasa dingin.
Zahra mengangkat wajahnya, menatap wajah suaminya lekat. "A-bang" katanya, semakin mengeraskan tangisannya. Ia masih terbayang dengan mimpi anehnya.
An menyentuh pundak Zahra, Zahra menoleh pada tangan suaminya. Biasanya An selalu acuh bahkan tak pernah sudi menyentuhnya. Tetapi, mengapa ia seakan menunjukkan sebuah perhatian kepada dirinya?.
"Ada apa? Ceritakan kepadaku?" ujarnya penuh kelembutan.
__ADS_1
Zahra diam sejenak, ia masih menstabilkan pikirannya yang masih terbayang dengan mimpi-mimpinya.
Mata An melihat air mata Zahra meleleh di pipi putih, dan mulusnya. ya, saat ini Zahra tak memakai cadarnya.
Refleks ia mengangkat tangannya, seraya mengusapnya penuh kelembutan. sungguh, hal itu membuat hati Zahra tersentuh dan berdetak kencang..
Mata Zahra menatap mata suaminya dalam. mata Zahra menyiratkan bertanya. ada apa dengan suaminya? apakah ia mulai mencintainya?.
An yang menyadari, refleks menarik tangannya kembali. seraya memalingkan wajahnya sembarang arah.
"Aku minta maaf" ucapnya tak enak hati. sebab, menyentuh Zahra tanpa seizinnya. padahal hal itu, sudah halal bagi keduanya.
Zahra menggeleng lemah. "Mengapa minta maaf, Abang tidak salah apa-apa."
An mengangguk mengiyakan. "Katakanlah, apa yang terjadi?" tanya An kembali.
Zahra mengingat kembali mimpinya yang sangat menyakitkan. ia hanya berharap hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.
"Apakah kau akan menceraikan diriku?" Tanya Zahra, sendu. Ya, ia tahu itu hanya mimpi. Tetapi, karena mimpi itu Zahra memiliki ketakutan.
Zahra hanya ingin memastikan, jika itu benar-benar mimpi, bukan kenyataan.
An termangu dengan pertanyaan Zahra. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu? Apakah ia sudah tahu jika dirinya semalaman memikirkan penceraianya?.
"Apa maksudmu?" Tanya An pura-pura tak mengerti.
"Abang, aku bermimpi jika kau ingin menceraikan diriku? Tetapi, aku tahu itu hanya mimpi. Aku berharap hal itu tak terjadi."
An menatap sembarang arah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ia semalaman memikirkan penceraianya. Dan, secara kebetulan Zahra bermimpi itu?.
Aneh sekali, bukan.
Zahra menatap suaminya yang diam tak bergeming. "Abang."
Panggilan Zahra Membuat An sedikit tersadar dari diamnya. "Abang tidak apa-apa?" Tanya Zahra penasaran dengan diamnya suaminya.
Keadaan menjadi terbalik, padahal Zahra membutuhkan pendengar untuk keluh kesahnya. Sayangnya, An malah sibuk dengan lamunannya.
An bangkit dari duduknya. Zahra langsung memegang pergelangan tanga suaminya. "Abang, mau kemana?" Tanya Zahra spontan. Harusnya An menenangkan dirinya. Tetapi, ia malah bangkit.
An menarik tangannya kasar. "Bukan urusanmu, Zahra" ketusnya.
Zahra diam. Ia menundukkan kepalanya, baru saja ia merasakan sentuhan lembut dari suaminya. Tapi, sekarang sikap acuhnya kembali lagi.
Zahra sedikit mengangkat kepalanya, menatap punggung suaminya, yang menuju keluar kamarnya.
Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya.
__ADS_1