
"Abang, maafkan aku" wanita itu mengikuti langkah suaminya. "aku tak bermaksud membuat abang marah"
An tak menggubrisnya sama sekali. ia melangkahkan kakinya dengan lebar. sementara zahra berusaha mengejar dan menyamai langkah suaminya itu.
Air matanya jatuh tak karuan. sebenarnya zahra tak bermaksud membuat suaminya itu marah. tapi perkataan suaminya itu yang mengharuskan dirinya angkat bicara.
Bi laila yang berada di ruangan tengah, yang sedang mengelap meja. ia mencoba untuk tidak melihat hal itu. sungguh! bi laila benar-benar merasa kasihan kepada zahra.
Zahra mengambil tangan suaminya itu, namun pria itu berhasil memberontak dan melepaskan tangannya.
"Abang..." lirihnya. seandainya ia tak menjawabnya mungkin hal ini tak akan terjadi.
Hati bi laila benar-benar tak tega melihatnya. ia juga seorang perempuan, jadi ia tahu betapa sakitnya kala di di acuhkan oleh seseorang yang kita sayangi.
Bi laila menarik tangan zahra, dan menghentikan langkah wanita itu. "nona zahra. kau tak perlu mengejar pak an. biarkan dia pergi. biarkan dia menenangkan pikirannya" pintanya.
Suara sesenggukan wanita itu beberapa kali,
terdengar telinga bi laila. "nona, semakin kau mengejarnya. semakin bertambah kemarahannya. biarkan dia tenang dulu"
Apa yang dikatakan bi Laila ada benarnya. jika ia terus mengejar suaminya dalam keadaan marah. maka permasalahan tak akan selesai. dan perdebatanlah yang akan terjadi.
Zahra mengangguk. "iya, bu. kau benar. mungkin aku harus membiarkan suamiku sendirian"
Setelahnya, bi laila mengajak zahra naik ke atas kembali ke kamarnya.
Masyaa Allah, hubungan antara pelayan dan majikan seakan hubungan antara saudara.
👁️
An menarik gagang pintu utamanya. ia sedikit terkejut saat melihat seorang wanita berada dihadapannya, entah sejak kapan wanita itu sudah berdiri didepan pintu rumahnya. dengan pakaian feminin.
"Want to be knocked, the person even came out" kata wanita itu.
[Mau diketuk, orangnya malah keluar]
Wanita itu memberikan senyuman manis kepada pria itu. ia sangat cantik dan juga ****.
An melihat wanita itu dari bawah sampai atas, penuh kekaguman. ia sangat mengenal dekat dengan wanita itu.
Wajahnya yang mulanya kesal, seketika berubah sunggingan senyum. siapakah wanita itu? apakah dia orang spesial? hingga mampu membuat pria itu tersenyum seketika?
"Setelah sekian lama, akhirnya kita berjumpa kembali. mungkin ini yang dinamakan jodoh" kata wanita itu sambil mengulas senyum.
Mendengar kata jodoh membuat an mengingat kembali pertengkarannya dengan zahra.
Tanpa menjawab sepatah katapun, an menarik tangan wanita itu menuju mobilnya yang berada di halamannya.
__ADS_1
Wanita itu bertanya-tanya, namun an tak mengindahkan setiap pertanyaannya. "hei, an. are you oke?" tanya Wanita itu.
An menyuruh wanita itu masuk kedalam mobilnya. dan didudukan dikursi sebelah pengemudi. sementara wanita itu hanya menurut saja.
Ia sendiri bingung kenapa pria itu seperti itu. tapi, ia paham. jika an seperti itu berarti ada sesuatu yang ingin diceritakan kepadanya atau ada sesuatu yang mengganggunya.
Seusai bi laila mengantarkan zahra kedalam kamarnya, ia hendak ingin kedapur memasakan sesuatu untuk zahra.
Tapi, ia tak sengaja melihat mobil an, yang melaju keluar gerbang rumah. ia hanya melihat sejenak, lalu kembali berjalan menuju ruangan dapur.
👁️
"Assalamualaikum, ummi" Salam seorang wanita. matanya sedikit sembab. saat ini, zahra sedang menelfon umminya. ia tak tahu harus berbicara kepada siapa?.
"Waalaikumsalam, zahra" jawab ummi, dari seberang telefon. ia sedang duduk. diruang tengah, bersama suaminya.
"Ada apa dengan suara mu, zahra" tanya ummi penasaran. tampak jelas dari suara zahra itu seakan ia habis menangis.
Mendengar pertanyaan umminya. zahra seakan berada di lubang buaya. mana mungkin ia bisa ceritakan hal itu kepada umminya.
Jika ia ceritakan pada umminya, berarti ia telah membuka aib suaminya. dan sebagai seorang istri ia wajib menyembunyikannya.
"Zahra" panggil ummi, yang tak mendapat respon apapun. "ada apa dengan mu?" tanya ummi kembali, semakin khawatir.
"Tidak apa-apa, ummi." jawabnya, tersadar.
"Tapi, nak. suaramu?, apa kau habis menangis?".
Sebenarnya, zahra tak sepenuhnya berbohong. karena akhir-akhir ini zahra memang merindukan umminya.
"Ya Allah, zahra. ummi juga merindukanmu, nak" mata ummi sedikit berembun. "Kapan-kapan berkunjung lah" titahnya.
Zahra mengiyakan ucapan ummi. beberapa saat setelahnya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar zahra. padahal kamar itu terbuka.
Tapi, bi laila tahu batasannya. meskipun zahra selalu menganggap dirinya seorang ibu. tapi ia tahu siapa dirinya?.
Zahra segera menoleh dan menyuruhnya masuk. bi laila patuh. ia masuk kedalam kamar itu sambil membawa nampan ditangannya.
Pun, zahra berpamit kepada umminya untuk menutup ponselnya. zahra memang punya ponsel. tapi, ia tak pernah menggunakannya kecuali itu mendesak.
"Nona kau makanlah" pinta bi laila. seraya meletakkan nampan itu diatas ranjang zahra, didekat wanita itu.
Zahra mengangguk. "Iya, terimakasih bu"
"Sama-sama, zahra."
"Apakah ini tidak merepotkan mu, bu?" wanita itu khawatir jika hal itu malah merepotkan pelayan itu. padahal hal itu memang sudah menjadi tugasnya.
__ADS_1
"Saya justru bahagia jika nona meminta bantuan kepada saya, ini sudah menjadi tugas saya zahra" jelasnya.
Akhir kata, bi laila mohon diri untuk pergi. ia masih mempunyai pekerjaan yang masih belum ia selesaikan. zahra mengiyakannya.
Pelayan itu keluar.
👁️
"What's wrong with you?" tanya Wanita itu. saat ini, an dan juga wanita itu berada disebuah cafe tempat favorit keduanya.
[Ada apa denganmu?]
An menghela nafas lalu membuangnya kasar. seakan ia memiliki beban hidup yang sangat berat. "hei, are you ok?" tanya wanita itu lagi.
An menggeleng pelan. "tapi, mengapa saya melihat. jika kau mempunyai suatu beban hidup yang memberangkatkan mu?" ujar wanita itu, penasaran.
"I am ok, kharisa" jawabnya.
Kharisa Laura, wanita yang hampir beberapa tahun ini menetep di London dan kembali lagi ketempat asalnya.
Sebenarnya, mereka tak memiliki hubungan yang serius. mereka hanya berteman sejak masih kecil. jadi, kalian tahu seberapa dekatnya kharisa dan an.
"Ok" ujarnya sambil mengedikan bahu acuh.
"By the way. bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Fine. kau? bagaimana kabarmu?" tanyanya balik.
"Just like you"
[sama seperti mu]
"Kita beda, kau perempuan dan aku laki-laki" ujarnya, bermaksud menggoda.
Spontan wanita itu tertawa terbahak-bahak, ketika mendengar candaan sahabatnya. dan an hanya tersenyum geli mendengar candaannya yang menggelitik.
"Kharisa, berhenti. semua orang menatapmu" ya, beberapa orang menatap aneh kharisa, karena wanita itu tak berhenti tertawa. bahkan tertawanya sangat keras.
"Aku tak peduli, an" katanya.
"Oh my god" ucapnya. lalu berhenti tertawa. "ternyata kau masih sama seperti dulu, dasar bodoh. aku pikir kau sudah berubah"
"Tapi, sepertinya. ada yang hilang" ujar wanita itu.
"Tidak juga, ketampanan ku masih melekat dalam diriku" ucapnya narsistik.
"No" katanya menggeleng. "ternyata narsistik mu masih ada. aku pikir. narsistik dalam dirimu hilang" akhir kata wanita itu terkekeh.
__ADS_1
Ia masih tak menyangka jika sahabatnya itu masih tak berubah sedikit pun.
Jazaakumullah Khairan ❤️Like ya!.