Karena Allah

Karena Allah
Meminta seorang keturunan.


__ADS_3

Beberapa saat setelahnya, tanpa sengaja An melihat jemari Zahra tampak bergerak. segera ia duduk di dekatnya, sembari memegang tangan istrinya itu.


"Bu, baru saja tangan Zahra bergerak" tuturnya.


Asma menunjukkan wajah sumringah. bibirnya tersenyum lebar. "Benarkah?"


Sedikit demi sedikit mata wanita itu terbuka. matanya secara rabun, melihat seorang lelaki didepan matanya.


Karena hal itu, membuat Zahra terbangun seketika. dan langsung menghempaskan tangan suaminya kasar.


Mungkin karena dia kurang sadar, ia mengira itu bukan suaminya.


Sontak saja, An terjatuh kelantai. matanya menatap tidak suka kepada istrinya. Zahra yang baru menyadari jika itu suaminya segera membekap mulutnya. "Abang" lirihnya.


Asma hanya bisa diam melihat keduanya. meskipun sedikit tercengang dengan apa yang ia lihat.


An melengos. 'Kenapa gak pingsan seumur hidup aja sih' batinnya.


"Abang aku minta maaf, aku pikir itu bukan abang" tuturnya menyesal.


Zahra memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.


Melihat hal itu, Asma langsung menghampiri menantunya. "Berbaringlah" titahnya.


Zahra patuh.


Sekarang Asma mengerti mengapa Zahra melakukan hal sedemikian. karena ia pikir itu bukan suaminya.


Segera An bangkit. "Abang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Zahra khawatir.


An mengangguk acuh. "Kau jangan pedulikan suami mu itu, dia tidak apa-apa. dia sendiri tidak becus menjaga mu" umpat Asma pada putranya, sambil melirik sinis padanya.


An diam. ia tidak mempermasalahkan dengan umpatan Ibunya. "Tidak Ibu, suamiku tidak bersalah. aku yang terlalu ceroboh" ucapnya menjelekan diri sendiri.


"Ibu mendengarnya. aku sudah bilang, aku tidak tahu menahu soal dia jatuh" timpalnya langsung.


Asma senyum memiring. "Dasar payah" celanya. An pasrah.


👁️


Sebuah ketukan pintu itu, mengharuskan Bi Laila yang saat ini memasak di dapur menghentikan aktivitasnya.


Ia berjalan mendekati pintu, sembari membukanya. seorang wanita paruh baya yang berhijab menyinggungkan seulas senyuman kepada pelayan itu.


Sembari memberikan salam. dan Bi Laila langsung menjawab salam wanita paruh baya itu.


"Umminya Nona Zahra, ya?" ujar Bi Laila menerka.


Ummi mengangguk ramah. "Iya Bi"


"Silahkan masuk, Nyonya" titahnya. Ummi mengangguk mengiyakan titahnya pelayan itu. "Nyonya pasti ingin bertemu Nona Zahra, ya?" ujarnya menerka lagi.


Ummi mengangguk, membenarkan perkataan pelayan itu. "Ikuti saya, Nyonya" tuturnya.


👁️

__ADS_1


Setelahnya, Ummi dan juga Bi Laila sampai didepan pintu kamar itu. Bi Laila langsung memutar gagang pintu, lalu mendorongnya pelan.


Seraya memasuki kamar itu.


Asma yang melihat sahabatnya, langsung menyambut hangat kedatangannya. ia memeluk sahabatnya begitu erat. begitu juga dengan Ummi.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah.


"Alhamdulillah, aku baik" jawabnya lemah lembut.


Zahra yang melihat Umminya, hendak ingin menciumi punggung tangan Umminya. tapi, umminya lebih dulu menghampirinya.


"Tidurlah, Zahra" titahnya khawatir.


"Katakan kepada Ummi, bagaimana kau bisa seperti ini, Nak?" tanyanya penasaran.


"Aku hanya jatuh terpeleset, Ummi" tuturnya.


"Tapi, bagaimana bisa sampai kehilangan kesadaranmu, Zahra?" tanya Ummi lagi, penasaran.


"Aku terjatuh terpeleset, dan kepala ku terbentur lantai cukup keras setelah itu kepala ku pusing. setelahnya perlahan-lahan aku kehilangan kesadaran" tuturnya jujur.


Ya, saat itu Zahra sudah selesai mandi. ketika akan keluar kamar mandi. tak sengaja kakinya terpeleset akibat lantai kamar mandinya sedikit licin.


Dan kepalanya terbentur lantai cukup keras, membuat dirinya kehilangan kesadaran.


Zahra menatap suaminya yang berdiri disebelah ranjangnya, dengan sikap acuh. pria itu seakan tak peduli dengan keadaan istrinya.


Namun, Zahra berpikiran beda. ia merasa bahwa suaminya itu sangatlah memedulikan dirinya. ya, ketika dirinya baru saja terjatuh, ia masih mampu untuk melihat, tapi tidak begitu jelas.


"Ummi, tidak perlu khawatir. aku baik-baik saja" tuturnya meyakinkan.


"Zahra, jangan berbohong" timpalnya.


"Tidak, Ummi aku tidak berbohong" sanggahnya.


"Lidya" panggil Asma, wanita itu menoleh saat namanya di panggil. "Jangan bertanya kepada putrimu, tanyakan kepada putraku. bagaimana dia menjaga istrinya?" tuturnya lemah lembut.


Ummi menatap wajah menantunya dengan dengan wajah bertanya. tampak jelas dari wajah pria itu menunjukkan ke pasrahan.


"Ummi percaya atau tidak, itu terserah Ummi. tapi yang jelas aku tidak tahu menahu prihal jatuhnya Zahra" jelasnya tak terima. entahlah, An merasa dirinya seakan yang di pojokan prihal jatuhnya istrinya itu.


"Iya, Nak. Ummi percaya kepadamu, kau akan menjaga istrimu sebagaimana dirimu menjaga dirimu sendiri" ucap Ummi yakin.


An mengangguk mengiyakan. "Apa kalian tidak ingin cepat-cepat memberikan kami seorang keturunan?" tanya Asma menggoda.


Zahra menatap suaminya. bagaimana mau memiliki seorang keturunan, jika An saja tak sudi menyentuh dirinya.


An langsung melengos. "Kau benar, Asma." ucap Ummi membenarkan.


Zahra hanya tersenyum di balik cadarnya saat kedua orang tua itu meminta seorang keturunan darinya. tapi tidak dengan An, ia justru merasa risih dengan pembahasan ibu dan ibu mertuanya itu.


Tak terasa perbincangan itu, mengharuskan Ummi untuk pulang. segera wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya.


"Zahra, Ummi harus pulang. sebentar lagi mau menjelang Maghrib" pamitnya.

__ADS_1


"Lidya, biarkan An yang mengantarmu"


"Tidak perlu, Asma. Zahra lebih membutuhkan suaminya" tolaknya halus.


Asma mengangguk mengiyakan. apa yang di katakan Ummi ada benarnya.


Asma melihat jam tangan dipergelangan tangannya. dan, ternyata ia juga harus segera pulang.


Akhirnya, Asma mengajak sahabatnya itu pulang bersama dirinya. Ummi mengangguk mengiyakan tawaran Asma itu.


"Aku juga harus pulang. pulanglah bersama ku" pinta Asma, Ummi mengangguk mengiyakan.


👁️


Di dalam kamar, kedua pasutri itu ditinggalkan berduaan. suasana canggung menyelimuti ruangan itu.


An yang saat ini duduk di sofa. hanya diam seribu bahasa, ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Begitu juga dengan Zahra, ia duduk sambil menyenderkan punggungnya pada headboard , kepalanya menunduk.


An berdehem. "Hm" membuat istrinya mendongakkan kepalanya, dan menatap wajah suaminya itu.


"Abang tidak apa-apa?" tanya Zahra, penasaran dengan deheman suaminya itu.


An mengangguk acuh. ia membuang nafasnya kasar. "Abang, aku minta maaf soal tadi" ujarnya lagi menyesal.


An berdecak sebal, ketika Zahra mengingatkannya kembali pada momen di mana ia di dorong dengan kasar olehnya. dan hal ini sudah kedua kalinya.


"Saat itu aku pikir itu bukan, Abang" jelasnya, dengan wajah penuh penyesalan.


An memutar bola matanya malas. "Astaga, dikamar ini tidak ada seorangpun yang berani masuk. kecuali Bi Laila, itupun harus menunggu perintah" timpalnya.


An keheranan, padahal tak seorangpun masuk ke dalam kamarnya. kecuali Bi Laila, itupun masih harus menunggu perintah darinya.


"Kau pikir kamarku ini cafe. yang sembarang orang bisa keluar masuk gitu" gerutunya kesal.


Apa yang dikatakan suaminya itu benar. wajar saja jika ia kesal padanya, karena ini untuk yang kedua kalinya ia melakukan hal itu pada suaminya.


"Iya, maafkan aku. Abang mau kan maafkan aku?" tuturnya, berharap suaminya berkenan memaafkan dirinya.


An tak menjawab, ia menunjukkan sikap acuhnya. matanya menatap lurus ke depan.


"Aw..." rintih Zahra.


Membuat suaminya menoleh, tapi tak langsung berdiri. ia hanya diam tak bergeming.


Seolah tak peduli, tapi tampak jelas di matanya jika ia khawatir.


"Gak usah jadikan alasan sakitmu untuk mencari perhatian" ujarnya, menyindir. pria itu seakan tahu, jika istrinya hanya pura-pura.


Hal itu tampak jelas dari rintihan Zahra. bagaimana tidak, yang sakit kepalanya, tapi yang disentuh tangannya. ini hal bodoh bukan?.


Zahra tersipu malu, dengan penuturan suaminya. Ya Allah, dia tidak bisa berpura-pura meskipun hanya sedetik.


Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya!.

__ADS_1


__ADS_2