Karena Allah

Karena Allah
Bukan keromantisan.


__ADS_3

Suara sesenggukan seseorang terdengar begitu keras di dalam kamarnya. ia berbaring memiringkan tubuhnya.


Air matanya menetes tak henti-hentinya. hingga membasahi bantal yang ia gunakan. bayang bayang dirinya dan kakaknya ketika sedang bersama terekam jelas dalam pikirannya.


"Kakak..." lirihnya, dibalik isak tangisnya.


Tak berapa lama, ummi memasuki ruangan itu. segera ia duduk ditepi ranjang di dekat wanita itu.


Tangannya mengelus lembut puncak kepala nur. "Nur" seru ummi lembut.


Nur tak menjawab, ia tetap menangis. "Bukan hanya kau saja yang merasa kehilangan, nak. ummi dan abah juga. tapi kita harus mengerti, kakak mu sekarang sudah menjadi seorang istri"


Nur menghela nafasnya, berat. ia menatap wajah ummi. "Ummi, apakah kakak akan berkunjung, kemari"


"Tentu saja, nak" jawabnya. "tapi, kakak mu tidak bisa setiap hari. karna dia sudah memiliki suami yang harus ia layani"


"Nur, suatu saat nanti kau juga akan mengalami hal yang sama seperti kakakmu. kau yang sabar ya, nur. harusnya kau bahagia karna kakakmu memiliki keluarga baru dan sangat baik" hibur ummi.


'Ummi benar'. batinnya.


Ia bangun dari tidurnya, seraya duduk. ia menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali guna menstabilkan.


Nur menyunggingkan senyuman tipis kepada umminya. juga dengan ummi. segera tangannya memeluk tubuh umminya.


"Ummi, aku akan merindukan kakak" serunya, dengan suara sendu.


Ummi mengelus lembut punggung putrinya dengan sayang. "ummi dan abah, juga akan merindukan nya, nak."


'Ya Allah, lindungi lah kakak ku' . doanya.


👁️


Sebuah mobil Alphard hitam memasuki sebuah rumah yang megah dan juga mewah. seberhenti nya, keluar tiga orang itu dari mobil hampir bersamaan.


Dan, seorang sopir mobil itu mengeluarkan sebuah koper, yang dibawa zahra.


Sebuah tangan menggandeng tangan zahra. wanita itu sedikit terkejut. dilihatnya tangan ibu mertuanya yang menggandengnya.


Asma mengulas senyuman manis kepada menantunya. balas zahra dengan hal sama. "Ayo masuk" titah asma.


Zahra mengangguk mengiyakan. an berjalan dibelakang kedua orang itu. dg ciri khasnya yang dingin.


Memasuki rumah itu, zahra dibuat terpana dengan keindahan dan kemewahan serta kemegahan ruangan itu.


'MasyaAllah. ya Allah padahal aku selalu meminta kepada mu yang biasa saja. tapi engkau berkehendak lain, engkau memberikan yang luar biasa. untuk hambamu' . batin zahra.


'Ya Allah lindungilah hambamu, dari gelapnya mata' . doa nya, secara sirri.


Maksut zahra, dia tidak ingin dibutakan oleh harta, atau sesuatu yang menyebabkan dirinya tenggelam dalam hawa nafsu.

__ADS_1


"Zahra" panggil asma, yang baru menyadari jika menantunya sedari tadi menunduk. ia sedikit mendongakkan kepalanya. "Iya, bu"


sahutnya halus.


"Bu, aku masuk dulu" ujar an. sembari melangkahkan kakinya.


"Tunggu, an" titah ummi. dan menghentikan langkah putranya.


"Zahra, kau masuklah ke kamar mu, bersama suami mu, sayangnya"


Zahra menatap suaminya. tapi, suaminya justru memalingkan wajahnya. "tapi, bu..."


"Tapi apa, kalian itu sudah menikah jadi kalian halal mau melakukan apapun" ujar asma tegas.


An membuang nafasnya kasar. pernikahan ini sungguh sangat membebani hidupnya.


"Ayo, zahra. ikuti suami mu, sayang." Suruh asma. zahra patuh.


Ia berjalan dibelakang suaminya, mengikuti langkah suaminya. karna hal ini, jantung nya berdegup kencang. ia tak tahu apa yang terjadi setelah ini?.


Lisannya tak henti hentinya mengucapkan kalimat dzikirullah. ia benar-benar kegugupan.


Karna kurang fokus dan kepala yang selalu menunduk membuat dirinya tak sengaja menabrak punggung suaminya.


"Astaghfirullah" istighfar nya langsung. refleks an membalik badannya. "Maaf, abang"


Pria itu yang awalnya berekspresi marah berubah terkejut mendengar panggilan dirinya dari sang istri nya. ia mengernyitkan alisnya. "kau bilang apa tadi?" tanya nya memastikan.


An menggeleng. "Bukan, itu. tapi setelahnya"


ia mencoba mengingat. "Abang?" jawabnya, setelah ingat.


An menarik nafas, dan membuangnya kasar. "siapa yang menyuruhmu memanggil aku, abang."


"Aku" jawabnya jujur. "Aku istrimu, dan aku ingin memanggil mu dengan kata-kata sayang. sesungguhnya Allah sangat menyukai bila sebuah keluarga dipenuhi dengan rasa sayang, karna hal itu bisa menciptakan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah"


"terserah, deh. kau mau apa?" pasrahnya, ia sudah malas berdebat. pernikahannya adalah beban bagi hidupnya.


👁️


An memasuki kamarnya yang bernuansa putih, di ikuti zahra dibelakangnya. pria itu berjalan menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya.


Jantung zahra berdegup begitu kencang, karna kencangnya suara detakan jantung itu hampir terdengar oleh telinganya.


Ya Allah, ia benar-benar gugup. segera ia duduk di tepi ranjang yang empuk. menundukkan kepalanya. sambil memainkan jemarinya.


Ia sedikit mengakat kepalanya, ketika melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi. langkah suaminya itu seakan mendekati dirinya.


MasyaAllah. jantungnya hampir saja meledek karena melihat suaminya yang mendekat.

__ADS_1


Tangan lelaki itu meraih sesuatu, ya sebuah bantal. melihat hal itu Zahra sedikit terbengong.


Ternyata suaminya tidak mendekati dirinya, melainkan ingin mengambil bantal.


"Kau tidak perlu khawatir. karna aku tidak akan menyentuh mu sedikitnya pun" tegasnya.


Zahra terdiam, ia tak mengerti apa yang dimaksud suaminya. "Apa maksud, abang"


An membuang nafas kasar. "kita menikah atas dasar perjodohan dan paksaan orang tua bukan cinta. jadi jangan berharap lebih dariku. bisa dibilang, pernikahan kita ini hanya sebatas di atas kertas"


Zahra bangkit dari duduknya menatap suaminya, keheranan. jika ia tak suka dengan perjodohannya mengapa ia menerimanya mengapa tidak menolaknya?.


"Jika seperti itu, lantas mengapa kau tak menolak perjodohan itu?"


"Karena aku tak ingin menyakiti hati ibuku. wanita yang telah melahirkan dan membesarkan diriku" ujarnya dengan suara sedikit meninggi.


Hati wanita itu bak teriris sembilu. sakit dan perih bercampur aduk. matanya mulai mengembun. tubuhnya dingin seketika.


Bagaimana bisa lelaki yang menjadi suaminya itu mempermainkan sebuah pernikahan?.


"Apakah menikah itu, harus didahului cinta. abang, pernikahan itu bukan tentang cinta, tapi menjadikan sebuah keluarga yang sakinah dan barokah"


"Baik, aku paham kita mengawali pernikahan karena paksaan, bukan cinta. tapi, abang bisakan belajar untuk mencintai diriku"


"Tutup mulutmu itu" bentak an. wanita itu sedikit terkejut. betapa mudahnya istrinya itu menyuruh dirinya untuk belajar mencintai dirinya. "kau pikir cinta itu apa? kau pikir belajar mencintai seseorang itu mudah"


Zahra menunduk. "cintai aku karena Allah. kita jalani pernikahan ini sebab ibadah kepada-nya. in syaa Allah, abang akan bisa mencintai diriku"


An mengernyitkan keningnya. ia semakin tidak paham dengan jalan pikiran istrinya itu. "Argh" pria itu mencengkeram kuat pundak istrinya.


Sontak saja zahra meringis kesakitan. tapi, ia tetap tenang menghadapi kemarahan suaminya itu.


"Apa kata cinta itu sangat mudah di artikan?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Cinta itu hanya sebuah kata sifat. dan sewaktu-waktu bisa hilang kapan saja. tapi, jika mencintai seseorang karena Allah cintanya akan kekal. karena kekurangannya akan dipandang kelebihan bagi seseorang yang mencintai karena Allah"


An termangu dengan jawaban istrinya. ia tak pernah mendengar sebuah sya'ir cinta seindah yang zahra katakan. sedikit demi sedikit ia melepaskan cengkeramannya.


Ia membuang nafasnya kasar. "terserah kau mau berkata apa. tapi, yang jelas aku tidak akan pernah mencintaimu" akhir kata an keluar dari kamarnya dengan raut wajah kesal.


Zahra hanya bisa diam, dan memandangi kepergian suaminya. pernikahannya dimalam pertama, bukan sebuah keromantisan yang ia dapatkan. tapi, pertengkaran yang ia dapati dimalam pertamanya.


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang begitu saja. hatinya hanya pasrah kepada Allah. ia yakin, suatu saat nanti suaminya akan mencintai dirinya.


"Ya Allah" lirihnya.


Dan tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah berkehendak. karena dialah yang maha membolak-balikkan hati.


Dari Abu Hurairah secara marfu': "Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta" (HR Tirmidzi)

__ADS_1


jazaakumullah khairan...


__ADS_2