
Seorang pria menjatuhkan tubuhnya, begitu saja diatas sofa, seraya menghembuskan nafasnya kasar. lalu memijit pelipisnya. hari ini, sungguh melelahkan untuk dirinya.
Apalagi, ditambah dengan drama kharisa. yang terus saja tak mau disalahkan. ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan istrinya.
Namun, ia tak melihatnya disudut manapun. tenggorokannya kering membutuhkan air untuk ia minum. tumben sekali zahra tak membawakan air untuknya, padahal setiap kali ia pulang kerja, zahra langsung menyodorkan air minum untuknya.
Bugh!...
Pria itu refleks terkejut, ketika suara keras itu terdengar oleh telinganya. yang berasal dari kamar mandi, dari suaranya tampak jelas jika itu suara tubuh manusia yang terjatuh.
Ia segera berdiri, mendekati kamar mandinya. tangannya berusaha memutar gagang pintu itu, yang tampak terkunci dari dalam. ia memutar gagang pintu itu berulang-ulang.
Tangannya, mengetuk pintu itu. mungkin saja ada seseorang didalam kamar mandi itu, atau mungkin saja itu istrinya. tidak, semoga tidak. jika benar itu istrinya celakalah ia, ibunya bisa menyalahkan dirinya. karena lalai menjaga istrinya.
"Zahra, apa kau didalam?" ujarnya, setengah panik.
namun sayangnya, tak ada jawaban dari dalam.
Karena putus asa. akhirnya ia mendobrak pintu itu, ia keluarkan semua tenaganya. ia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membuka pintu itu.
terbuka. ia langsung masuk dengan wajah panik. matanya, mencari keberadaan asal suara itu.
Mata pria itu membulat sempurna, ketika di depan matanya berbaring tubuh istrinya itu tak berdaya. Ia melangkahkan kakinya lebar, menghampiri tubuh istrinya itu. wajahnya, semakin memucat melihat hal itu didepannya.
Seraya berjongkok disebelahnya. tangannya menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. "Zahra, bangun" titahnya, sambil menepuk-nepuk pipi wanita itu.
Tapi, wanita itu masih tetap dalam keadaan pingsan. entah apa yang terjadi kepadanya? mungkin saja wanita itu, terpeleset atau terjatuh?.
Pun, akhirnya an menggendong tubuh istrinya ala bridal style keluar dari kamar mandi itu.
Lalu, membaringkan tubuh istrinya, diatas ranjang dengan lembut. tanpa berpikir panjang, segera ia mengambil ponselnya didalam sakunya. dan menelpon seorang dokter.
🕊️
"Apa dia baik-baik saja, dokter jannah?" tanya an setengah khawatir. dokter jannah adalah dokter kepercayaan keluarga An.
Dokter itu, melakukan pemeriksaan fisik pada mata, zahra. seraya bangkit dari duduknya, dan berhadapan langsung dengan pria itu. "Dia baik-baik saja, tapi dia akan sedikit mengalami rasa sakit pada bagian tubuh tertentu" jelasnya.
An sudah memberitahu prihal yang terjadi kepada, istrinya itu. sehingga dokter itu mengerti.
An mengangguk paham. "Baiklah, terimakasih dokter jannah"
__ADS_1
"Iya sama-sama. mungkin sebentar lagi, dia akan bangun" ujarnya.
"Tapi, apa kau boleh jelaskan bagaimana dia bisa jatuh dikamar mandi?" tanyanya penasaran.
An mengedikan bahunya acuh. "Aku tidak tahu, aku hanya mendengar suara keras, dari kamar mandi" jawabnya.
Dokter jannah menatap zahra, sekilas. lalu kembali menatap an. "Sebelumya saya maaf jika saya lancang pak an. saya ingin bertanya, siapa wanita bercadar ini?" tanya dokter itu penasaran. pasalnya, dokter itu tak mengetahui jika zahra adalah istrinya.
An tampak kebingungan harus menjawab apa, ia sendiri tak ingin semua orang tahu dengan pernikahannya. ia hanya diam dengan wajah datar.
Dokter itu mengerti arti dari raut wajah pria itu. jika ia tak ingin menjawabnya, atau pun memberitahukannya. dokter itu sadar, jika setiap orang pasti memiliki privatenya masing-masing.
"Tidak apa-apa. pak an tak perlu menjawabnya. setiap orang memiliki privatenya masing-masing. saya minta maaf telah membicarakan hal diluar tugas saya" ujarnya, sembari berpamit pergi.
An hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Pria itu, juga ikut keluar. bukan untuk mengejar dokter itu. melainkan ke dapur menemui bi laila, yang saat ini sedang duduk santai.
Pelayan itu yang menyadari kedatangan majikannya, segera bangkit. "Apakah pak an, memerlukan bantuan saya" ujarnya.
An mengangguk mengiyakan. "Iya bi"
Bi laila mengerutkan keningnya, tak mengerti. "Nona zahra memangnya kenapa?"
Pria itu diam tak menjawab. ia memalingkan wajahnya sembarang arah. bi laila yang mengerti raut wajah itu segera berpamitan, naik keatas menemani zahra.
🕊️
Seorang pelayan memasuki sebuah kamar yang bernuansa putih. matanya menatap pada seorang wanita yang berbaring lemah diatas ranjang itu.
Segera ia mendekat, seraya duduk didekatnya. matanya menatap sedih. pikirannya terus bertanya ada apa?.
Tangannya mengusap lembut puncak kepala wanita itu. "Nona, ada apa denganmu?" ujarnya, dengan mata berembun.
"Nona, meskipun kita memiliki kedudukan yang berbeda. tapi, kau memperlakukan diriku layaknya seorang yang memiliki kedudukan sama dengan dirimu" ujarnya lagi.
Tak disadari buliran air matanya menetes membasahi pipi pelayan itu. pun, tangan pelayan itu mengusap air matanya.
Suara deringan ponsel yang berasal dari atas nakas, membuat bi laila. mengalihkan pandangannya kepada ponsel itu.
Tertera jelas nama seorang yang menghubungi zahra —Ibu Asma. "Nyonya asma" gumamnya. "Ada perlu apa dia?"
__ADS_1
Bi laila penasaran. hatinya berkecamuk, haruskah ia menjawab panggilan telepon itu, atau membiarkan saja. jika dibiarkan, ia khawatir ada sesuatu yang penting yang ingin nyonya asma katakan.
Pun, ia bertekad untuk menjawabnya. tangan segera meraih handphone itu. namun, tangan seseorang lebih dulu mengambilnya.
"Biar aku saja yang menjawabnya" tutur an.
Bi laila mengangguk mengiyakan permintaan majikannya itu. "Iya pak an"
An sedikit menjaug dari bi laila, ia memutuskan menjawab telepon itu di balkon kamarnya. "Iya bu" ucapnya, setelah menjawab sambungan telepon itu.
"An. dimana zahra? kenapa kau yang menjawabnya?" tanya asma penasaran.
Lagi dan lagi, ia dibuat bingung dengan pertanyaan itu. ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm, zahra_"
An bingung harus apa. haruskah ia berbohong, tapi mana mungkin ia bisa berbohong pada ibunya. jika ia jujur, ibunya pasti menyalahkan dirinya.
"Zahra kenapa an?" tanya asma lagi, semakin dibuat penasaran.
"Aku tidak tahu dia kenapa, bu? aku hanya mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras berasal dari kamar mandi. kulihat, zahra pingsan" jawabnya, terang-terangan.
"Apah!" ujar asma dengan suara sedikit meninggi. "Apa istrimu jatuh terpeleset" tanyanya.
"Aku tidak tahu ibu, aku hanya mendengar suara keras yang berasal dari kamar mandi itu saja, selebihnya aku tidak tahu" jawabnya lagi.
"Baiklah, ibu sebentar lagi akan kerumahmu" tuturnya.
"Baiklah, aku akan menjemput ibu" ujarnya.
"Tidak perlu, kau jaga istrimu saja" tolaknya mentah-mentah.
"Jemput ibu? ada apa denganmu an, Kenapa kau bisa lalai menjaganya?" tanyanya geram.
"Aku juga manusia, ibu"jawabnya singkat.
Asma berdecak sebal. "Ck, baiklah. ibu tutup dulu" ujarnya.
Akhir kata asma mematikan sambungan telepon itu. tampak jelas dimata an, menyiratkan kegelisahan.
Ya Allah, apa lagi ini. setelah perdebatan dengan kharisa selesai. sekarang ia dihadapkan dengan ibunya.
Jazakumullah Khairan Ukhti wa akhi...
__ADS_1