Karena Allah

Karena Allah
Ikatan batin.


__ADS_3

Prank...


"Astaghfirullah" istighfar ummi, sambil memegangi dadanya, yang terkejut.


Ia tak sengaja menjatuhkan secangkir kopi. yang baru saja ia buatkan untuk suaminya.


Ummi memunguti pecahan pecahan kaca itu. tapi, tak sengaja jari telunjuk nya tertusuk pecahan kaca itu.


"Astaghfirullah" serunya kembali.


"Ummi" ucap nur, yang baru saja tiba didapur. dan melihat jari umminya berdarah.


Segera ia mendekati umminya dan segera mengambil kotak p3k yang berada disalah satu lemari dapur.


Nur membersihkan darah yang mengalir dari jari umminya, lukanya tak cukup dalam. ia hanya perlu membersihkannya saja.


Setelahnya, nur membalut jari umminya yang terluka dengan plester.


"Terimakasih, nak." ujar ummi.


"Iya ummi. Ummi, apa yang terjadi?" tanya nur, penasaran.


"Tadi, ummi tak sengaja menjatuhkan cangkir kopi. lalu, ummi memunguti pecahan kaca itu untuk membersihkannya. tapi, tak sengaja jari ummi tertusuk pecahannya" jelas ummi.


"Nur, tiba-tiba saja ummi teringat kakakmu" ujar ummi. benar kata orang, ikatan batin seorang anak dan ibu sangatlah kuat.


Dimalam pertama zahra, ia mendapatkan permasalahan rumah tangga. dan ummi juga merasakan jika ada sesuatu yang terjadi kepada putrinya.


Mendengar penuturan umminya, membuat nur juga teringat kakaknya. "ummi, doakan saja, semoga kakak selalu di lindungi Allah" sejujurnya ia juga merasakan ada sesuatu yang terjadi kepada kakaknya.


Ummi mengangguk. ia sadar sekarang anaknya sudah berstatus seorang istri. dan tugas seorang istri tidaklah semudah yang kita pikirkan.


Ummi berdiri. dan mengambil cangkir kopi kembali. "ummi mau apa?" tanya nur juga ikut berdiri disebelahnya.


"Ummi mau membuat kopi lagi untuk abahmu, nur" jawabnya.


"Ummi biarkan aku saja yang membuat nya"


"Tidakpapa nur. biar ummi saja."


"Ummi, istirahat lah. biarkan aku saja. kasihan jari ummi" titahnya.


Ummi mengerti apa yang di inginkan putrinya. ia begitu khawatir dengan umminya. "Baiklah, nak" akhir kata ummi pergi, dari dapur itu.


dan digantikan oleh nur.


๐Ÿ‘๏ธ


Telinga zahra mendengar suara kumandang adzan shubuh. segera ia bangkit dari tidurnya, seraya duduk, untuk mengumpulkan kesadarannya.


Ia masuk kedalam kamar mandi, yang berada di dalam kamarnya. mengambil wudu.

__ADS_1


seraya mendirikan sholat.


seusainya, zahra menengadah kan tangannya. ia menutup kedua matanya.


"Ya Allah, berkahilah rumah tangga hamba. ya Allah, engkau maha mengetahui baik yang tersembunyi atau yang terang-terangan. ya Allah, mudahkanlah urusan kami, jadikanlah keluarga hamba, keluarga yang sakinah"


doa itu, dilantunkan jelas dihatinya. seusai berdoa, tangannya ia usapkan ke wajahnya.


๐Ÿ‘๏ธ


Dari atas balkon rumah. zahra hanya bisa menatapnya dari kejauhan. seorang pria yang tidur di sofa tanpa selimut.


Wajah suaminya itu, sangatlah tampan. hal itu mampu membuat zahra mengulas senyuman manis dibalik cadarnya.


An memang pria yang keras, tapi zahra tetap mencintai nya dalam diam. karna suatu alasan, seorang ibu. ya, an begitu mencintai ibunya. bahkan setiap perintahnya ia lakukan tanpa bantahan.


Seperti ibunya yang memintanya menikahi zahra, ia hanya bisa pasrah atas permintaan ibunya itu. begitu cintanya terhadap sang ibu.


"Ya Allah, dia memang tampak keras diluar. namun hamba yakin, hatinya memiliki kelembutan" . gumam zahra.


Meskipun begitu hati zahra tetap gelisah. apakah pertengkaran ini akan terus berlanjut?. pikirannya terus saja disibukkan dengan pertengkarannya dan suaminya.


๐Ÿ‘๏ธ


Seorang wanita memasuki bus yang berhenti di halte bus. ia mengurungkan niatnya, kala melihat seorang nenek yang menuju ke arah bus itu.


Ia segera mengahampiri dan membantu memapah nenek itu. kejadian itu, dilihat jelas oleh seorang penumpang pria, ia melihatnya dibalik kaca bus itu.


"Nenek mau kemana?" tanyanya penuh kelembutan. "apakah nenek sendirian?"


"Apa boleh, aku menemanimu nek?"


Nenek menggeleng. "tidak, nak. aku tidak mau menyusahkanmu"


"Tidak apa-apa nenek. aku lebih suka jika nenek menerima permintaanku"


Nenek itu mengangguk menerimanya. "Baiklah. jika kau tak keberatan dengan hal itu"


Wanita itu hanya membalasnya dengan senyuman.


Dengan ramah dan lembut. nur โ€”wanita ituโ€” dan juga nenek memasuki bus itu.


๐Ÿ‘๏ธ


"Disini benaran rumah putri nenek?" tanya nur memastikan. nur menatap rumah itu, yang berada didepan matanya. rumah itu sangat sederhana.


Nenek mengangguk. "Ya, nak. ini rumah putri nenek."


"Maaf nek. mengapa nenek tidak meminta putri nenek untuk menjemputnya?" tanya nur agak segan.


"Aku tak ingin menyusahkannya" jawab nenek itu singkat.

__ADS_1


Jawaban singkat nenek itu membuat hati nur trenyuh. padahal nenek itu bisa saja meminta putrinya untuk menjemputnya.


Nenek itu mengajak nur bertamu, namun nur menolak dengan halus. sejujurnya ia sudah terlambat. pun, nenek itu berpamitan untuk masuk lebih dulu.


"Wassalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, nak. kau sangat beradab. katakan kau putri siapa? dan siapa nama mu?" tanya nenek itu penasaran.


"Saya putri ahmad malik. dan nama saya nur Shiddiqi" jawab nur lembut.


"Ayah mu sangat beruntung memiliki putri seperti mu" ujar nenek itu. akhir kata ia berpamit dan berlalu menuju rumah putrinya.


jika adab kita baik yang ditanyakan pertama kali adalah orang tuanya. begitu juga sebaliknya, jika adab kita buruk, yang dipertanyakan pertama kali adalah didikan kedua orang tuanya.


๐Ÿ‘๏ธ


Zahra memberi salam kepada seorang wanita paruh baya pembantu dirumah an. yang sedang memasak. wanita paruh baya itu pun menjawabnya dengan senyuman lembut.


Laila, nama pembantu itu. ia sudah lama sekali bekerja dirumah pengusaha muda itu.


"Bu laila, kau sedang memasak apa?" tanya zahra penasaran.


Bi laila sedikit terkejut mendengar panggilan majikannya yang memanggil 'bu'.


"Nona zahra. kau jangan memanggilku ibu. panggil bibi saja." titah bi laila, merasa tak enak hati.


Meskipun begitu hatinya juga merasa senang, karena istri dari majikannya memperlakukannya dengan hormat.


"Kenapa bu?" tanya zahra tak mengerti.


"Nona, aku disini hanya sekedar pelayan. aku tak pantas di panggil dengan hormat"


Zahra sekarang mengerti mengapa pelayan itu menyuruh dirinya untuk tidak memanggil 'bu' kepadanya. ia menyunggingkan senyuman kecil dibalik cadarnya.


"Mengapa bu laila berkata seperti itu. mungkin di mata manusia kita berbeda karna kedudukan atau semacamnya. tapi dimata Allah. semuanya sama atau setara. tidak ada yang istimewa" jelas zahra.


"Hanya saja, yang membedakan mereka adalah ketaqwaan nya."


Bi laila menatap zahra lekat. "pak an sangat beruntung mendapatkan istri seperti dirimu, nona"


"Semoga keluarga kalian menjadi keluarga sakinah." doa bibi itu. dan zahra meng 'Aamin' kan doa bi laila itu.


"Apa boleh aku membantu mu, bu laila" tanyanya. "aku ingin memasakkan sesuatu untuk suamiku"


"Silahkan, nona"


"Pak an sangat menyukai nasi goreng. nona buatkan nasi goreng saja untuknya" usul pelayan itu.


"Benarkah" ucap zahra memastikan.


Bi laila mengangguk. "iya, apalagi jika nasi goreng itu buatan ibunya. hemm, dia bakalan sangat menyukainya. mungkin sekarang, kau adalah wanita kedua setelah ibunya. yang akan dicintai" ujar bibi itu.

__ADS_1


Zahra terdiam, ia mengingat kembali pertengkaran dimalam pertamanya dengan suaminya itu.


Jazaakumullah khairan...


__ADS_2