Karena Allah

Karena Allah
Letak surga, bagi seorang anak.


__ADS_3

Seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandinya. sembari duduk di tepi ranjangnya. pikirannya mengingat kembali, pada kejadian siang tadi.


Ia menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. untuk menenangkan pikirannya.


"Untuk apa laki-laki itu, melakukan hal itu?" batinnya.


Segera tangannya, mengambil ponselnya yang berada didekatnya. tangannya menekan nomer seseorang untuk ia hubungi.


"Assalamualaikum, Zainab" salamnya. Nur ingin bertanya tentang ucapan Zainab. yang saat itu terhenti oleh kakaknya.


"Waalaikumsalam" Jawabnya. "Ada apa Nur?"


"Soal yang kau ucapkan tadi siang, apa maksutmu kabar baik untukmu dan untukku?" tanyanya penasaran.


"Nur, sejujurnya ini kabar baik. tapi sayangnya ini harus menjadi suprise untukmu" ujarnya dibalik telepon.


"Zainab, katakan saja. kau jangan membuatku semakin penasaran" desaknya.


Zainab tertawa kecil dibalik ponselnya. "Ya Allah, Sabar Nur. ini bukan saatnya kau tahu"


"Nur" Panggil seseorang. nur menoleh, mendapati Ummi yang berdiri di ambang pintu. seraya menghampirinya.


"Kau sedang bicara dengan siapa?" tanya Ummi penasaran.


Nur berdiri. "Aku berbicara dengan Zainab"


Ummi mengangguk mengiyakan. "Setelah ini, tidurlah" titahnya. Nur mengangguk. "Iya Ummi" akhir dari ucapan Nur, Ummi keluar dari kamar itu. Inilah, Ummi. ia sangat menghargai privasi anak-anaknya.


Namun, jika itu menyangkut pendidikan agama, Ummi sangatlah tegas.


"Baiklah, Zainab jika kau tak ingin mengatakan tidak apa-apa. aku tidak akan memaksa mu" ujarnya, melanjutkan kembali panggilan.


"Baiklah" akhir kata, Nur pamit untuk memutuskan panggilan, zainab langsung mengiyakannya.


๐Ÿ‘๏ธ


"Abang, tunggu!" ujar seorang wanita sambil melangkahkan kakinya lebar. pria itu patuh, ia berhenti seketika.


Tangannya menyodorkan sebuah rice box pada suaminya. "Bawalah ini" pintanya.


An melengos. "Kau pikir aku ini anak kecil" katanya, dengan suara sedikit meninggi.


Zahra menggeleng cepat. "Bukan seperti itu, Abang. Zahra tidak ingin abang makan diluar"


Di pertengahan perdebatan itu, sebuah tangan langsung mengambil paksa rice box itu, dari tangan Zahra.


Keempat mata suami istri itu, dibuat terkejut dengan kedatangan seorang wanita itu, yang tak lain adalah Kharisa. entah sejak kapan dia sudah berada dirumah itu.


"Zahra, biarkan suami mu makan diluar. kau tenang saja tempat dia makan itu, sudah terjamin kebersihannya." jelasnya.


"Aku tahu Kharisa, tapi aku hanya ingin memastikan suamiku makan-makanan sehat" jawabnya, lemah lembut.


"Astaga, apa kau yakin makanan yang kau buat ini sehat?" ujarnya, meragukan.


"In syaa Allah"


"Oke, baiklah" jawabnya. "Tapi, suamimu tidak mau makan yang kau buat. So, makan kau saja" kharisa menyodorkan rice box itu kepada Zahra.


Apa yang dikatakan kharisa benar, meskipun makanan yang ia buatnya sudah pasti makanan sehat dan halal. tapi, bagaimana pun suaminya enggan memakannya.


Zahra menerimanya dengan perasaan sedih sekaligus kecewa. padahal ia membuatnya susah payah, tapi makanan itu, sama sekali tak suaminya sentuh.

__ADS_1


"Jangan dibuang Zahra. kau harus makan, kalo dibuang sayang, kau kan membuat nya susah payah" titahnya.


Zahra mengangguk, berusaha menahan air matanya. "Tentu saja"


"Siapa kau Kharisa?!" Tanya seseorang tiba-tiba dengan suara yang meninggi. entah sejak kapan ia berada disana, tapi yang jelas ia sudah berdiri dibelakang. semua mata ketiga orang itu menatapnya.


"Ibu" gumam An.


Asma berjalan mendekati ketiga orang itu berdiri. saat ini mereka berada diruang tengah.


"Aku bertanya kepadamu, siapa kau?" tanyanya lagi. "Berani sekali kau mencampuri urusan keluarga anak dan menantuku"


"Tante asma, aku tidak mencampuri urusan keluarga An. aku hanya ingin menyelesaikan permasalahannya"


"Bagaimana caranya? apa dengan cara merendahkan menantuku?" ucapnya, dengan suara meninggi.


"Tante kau salah paham, aku tidak merendahkannya, aku hanya menyuruhnya makan, karena An tak mau membawa rice box itu. jika, dibuang sayangkan Zahra sudah membuatnya susah payah" jelasnya.


Asma menatap putranya tajam. "Kenapa?"


"Aku malu bu, aku bukan anak kecil lagi yang harus membawa bekal ke sekolah" jawabnya jujur.


Asma langsung mengambil rice box itu dari tangan Zahra. lalu, memberikan paksa kepada putranya. An hanya pasrah dan menerimanya.


"Sekarang bawa ini" tegas asma.


"Tapi, bu_"


"Diam kau" timpalnya.


Matanya menatap tajam kembali kepada Kharisa. "Dan kau Kharisa, kau punya hak apa mencampuri urusan keluarga putraku. biarkan mereka saja yang menyelesaikan permasalahannya. kau tak perlu mencampurinya" ucapnya, penuh penekanan.


"Tante_"


"Ditambah kau seakan merendahkannya, kau juga wanita Kharisa. dan An, bukan lagi seorang bujang, yang harus menemani mu setiap saat. dia sudah beristri" tegasnya.


"Iya, aku tahu itu. Tapi cukup. Tante terlalu banyak bicara." Kharisa merasa sudah cukup dirinya di ceramahi oleh Nyonya Asma.


An tercengang, berani-beraninya Kharisa berkata tidak sopan kepada Ibunya. ia saja tak pernah berkata kasar kepada Ibunya.


"Astaghfirullah. dia lebih tua darimu Kharisa, hormatilah dia" Ujar Zahra, menasehati.


"Diam kau!" Tukasnya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kepada Zahra.


"Kharisa!" bentak Asma, tak terima menantunya di tunjuk oleh Kharisa.


"Tidak, tante. sekarang tante yang harus mendengarkan semua penjelasan diriku" ucapnya penuh penekanan.


Emosinya benar-benar tak bisa lagi di bendung. apalagi, ketika mendengar semua tuduhan Asma yang seolah memojokkan dirinya.


"Aku tidak mencampuri rumah tangga An, tapi aku hanya ingin menyelesaikan perselisihan mereka berdua. kau tahu, Zahra menyuruh An, membawakan rice box itu. dan An menolaknya. agar permasalahan cepat selesai. jadi, aku menyuruh Zahra untuk tidak memaksa keinginannya. lalu, aku menyuruhnya makan saja. karena aku tahu Zahra membuatnya susah payah."


"Lalu apa yang salah, karena aku tahu, An pasti malu. dia seorang CEO, tapi membawa kotak bekal. tante pikir dia anak paud" ujarnya, sedikit mencela.


"Tapi, tante tiba-tiba saja datang dan memperburuk masalah. satu lagi tante, tante itu jangan terlalu memaksa. An sudah menolak tapi tante tetap memaksanya" celanya.


"Tante itu egois" umpatnya.


Plak...


Satu tamparan keras melayang dipipi mulus Kharisa. ucapan Kharisa sudah melampaui batas dan membuat An sebagai seorang anak tidak rela Ibunya di hina di depan matanya sendiri.

__ADS_1


"Jaga mulutmu Kharisa, dia Ibuku" ujarnya, penuh penekanan sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Wanita itu memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan keras. Kharisa tertawa licik. "Ayo tampar lagi" pintanya menantang.


An, Zahra dan juga Asma merasa heran. bukannya merasa jera wanita itu justru semakin menantang.


"Kenapa? Ayo lakukan lagi" suruhnya. "Ayo, apa kau takut. Ayo lakukan lagi!"


An semakin dibuat jengkel dengan permintaan kharisa, yang menantangnya. "Nyonya Asma, ayo perintah anakmu untuk menamparku lagi" katanya, dengan maksud merendahkan.


Asma diam tak menjawab, matanya menatap tajam kharisa.


"An, kau tak pantas berstatus CEO. kau seperti anak bayi yang tak berdaya. kau selalu mematuhi perintah Ibumu. kau itu seorang CEO, kau berhak memiliki keputusan sendiri" akhir kata ia tertawa licik.


An mengangkat kembali tangannya, tapi Zahra lebih dulu menahannya. "Tidak Abang jangan lakukan itu" ucapnya, pun an menurunkan kembali tangannya.


Mata An menatap Zahra, bingung. padahal jelas-jelas kharisa sudah merendahkan dirinya, tapi mengapa Zahra tetap membelanya.


"Kharisa, Abang bukan anak bayi yang tak berdaya. dia hanya menghormati Ibunya. karena ia tahu dimana letak surganya" timpal Zahra yang tak terima suaminya dicela.


Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:


ุฑูุถูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุฑูุถูŽู‰ ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุณูุฎู’ุทู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุณูุฎู’ุทู ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ู


Artinya: โ€œRidha Allah ada pada Ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua.โ€


Asma menatap kagum, menantunya.


"Oh, kau membela suami mu. padahal dia tak pernah membela mu" ejeknya.


"Nyonya Asma, lihatlah. karena paksaan mu, mereka menjalani hubungan yang tak bahagia. bahkan aku melihat dimata An, tak ada cinta untuk Zahra"


"Kharisa kau salah. pernikahan itu bukan hanya tentang cinta tapi, menjadikan sebuah keluarga yang sakinah dan barokah" timpal Zahra.


Kharisa diam seribu bahasa, ia sudah tak punya lagi pertanyaan yang membuat mereka malu pada dirinya sendiri.


Ia lakukan itu, hanya karena tak terima An menamparnya. bagi Kharisa itu sebuah hinaan baginya.


Dalam sekejap, persahabatan itu terlupakan begitu saja. mereka lupa bagaimana mereka bersama selama kecil sampai menjadi apa yang mereka inginkan.


"Kenapa diam Kharisa?" ujar Asma, menertawai. Kharisa menatap tajam Asma.


"Tadi kau bertanya apa? oh, aku ingat. kau bertanya apa kesalahanmu?. kesalahanmu adalah kau tahu bahwa Zahra susah payah membuat makanan itu. tapi, kenapa kau menyuruh Zahra agar jangan memaksa suaminya? bukankah hal itu urusan mereka berdua. lantas mengapa kau mencampurinya?" ujar Asma.


Kharisa mendengkus kesal. nafasnya turun naik. Kharisa tak tahu harus jawab apa?. ia terjebak dengan ulahnya sendiri.


Kharisa mengacungkan jari telunjuknya. "Tante Asma, kau telah membuat harga diriku hancur. lihat saja, aku akan membuat keluarga kalian malu. sampai kalian tidak mau menampakkan diri kalian."


Sembari meninggalkan rumah itu, begitu saja.


Asma tampak lega dengan kepergian kharisa, begitu juga An dan Zahra.


"Ibu, kau tidak apa-apa?" tanya An khawatir.


Asma menggeleng. "Aku tidak apa-apa"


Asma menatap Zahra. "Kau tanyakan juga istri mu" suruhnya.


"Zahra" panggilnya. mulutnya terasa berat untuk menanyakannya. "K-kau tidak apa-apa?"


"Alhamdulillah, aku tidak apa-apa, Abang" jawabnya lemah lembut.

__ADS_1


Jazaakumullah khairanโค๏ธLike Ya!.


__ADS_2