
Seorang pria memutar gagang pintu kamarnya, sembari di dorongnya perlahan. matanya bertemu mata istrinya. tetapi, An lebih dulu memutuskan kontak mata itu.
Ia melangkahkan kakinya, langsung berjalan ke kamar mandi yang berada di pojokan kamarnya. ia hendak membersihkan diri.
Sementara, Zahra hanya menundukkan kepalanya. entahlah, ia masih kepikiran dengan penuturan Bi Laila prihal suaminya yang memperintahkan Bu Laila untuk mengingatkan dirinya minum obat.
Apakah suaminya mulai membuka hatinya untuk dirinya?. tetapi, bagaimana dan kapan hal itu terjadi?, sementara sikap suaminya selalu acuh kepada dirinya.
👁️
Zahra menurunkan satu persatu tubuhnya, ia menahan rasa sakitnya. perlahan-lahan ia bangkit dari duduknya. sembari berjalan dengan langkah tertatih-tatih ke arah lemarinya yang berada di pojokan kamarnya.
Ia membuka lemari itu, dan mengambil pakaian suaminya. ya, ini sudah menjadi kewajiban dirinya melayani suaminya. ia tak peduli dengan rasa sakitnya. yang penting baginya ia bisa membahagiakan suaminya.
Karena ia yakin jika suaminya ridho kepadanya dirinya, maka Allah juga akan ridho kepadanya.
Ia meletakkan pakaian suaminya di atas ranjang. bersamaan dengan hal itu, An juga keluar dari kamar mandi, mengenakan bathrobe.
An menatap Zahra, lekat. bukankah ia sedang sakit? mengapa ia masih melayani dirinya?. An bingung.
An berjalan mendekati Zahra, berdiri. "Apa kau sudah sembuh?" tanya An penasaran.
"Aku tidak apa-apa, memangnya aku tidak boleh melayani suamiku?" tanya balik Zahra. membuat An langsung terdiam.
Ya Allah, padahal dirinya selalu mengacuhkan istrinya, tetapi mengapa ia masih melayani dirinya, bahkan di saat dirinya sakit pun ia masih melayani dirinya.
Zahra menyodorkan pakaian kepada An. "Pakailah ini" titahnya.
An menerimanya, dengan pandangan tak lepas dari Zahra. jika Zahra terus memberikan perhatian seperti ini, bisa-bisa dirinya jatuh hati.
👁️
Saat ini, Kharisa berjalan santai bersama Ryan. keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain.
Meskipun hubungan mereka telah berakhir. tetapi, mereka tetap menjaga hubungan baik. terkadang, kita banyak menjumpai sebuah hubungan yang berakhir, maka hubungan baik juga akan berakhir. tetapi tidak dengan keduanya.
Mata Ryan melihat seorang penjual es krim berada di pinggir jalan. "Kharisa, do you want to buy that ice cream?" tawarnya.
[Kharisa, apa kau ingin membeli es krim itu]
Kharisa mengulas senyum kepada Ryan sambil mengangguk mengiyakan tawaran Ryan. "Yes"
"wait here" titahnya, Kharisa mengangguk cepat.
[Tunggulah disini]
Akhir kata Ryan langsung berlari cepat. Mata Kharisa memandang tubuh mantan kekasihnya itu dari kejauhan. masih ada cinta yang tertinggal di hatinya, tetapi apalah daya dirinya.
Kharisa sangat mencintai Ryan, tetapi ia juga mencintai agamanya. begitu juga dengan Ryan.
"Sir, give me two ice creams" ujarnya kepada tukang es krim itu, setibanya. sambil mengisyaratkan menggunakan ke dua jari telunjuk dan tengah. mengartikan dua.
__ADS_1
[pak, berikan aku dua es krim]
Tukang es krim itu mengangguk mengiyakan. meskipun ia sendiri tak mengerti dengan ucapan Ryan. tetapi melalui bahasa isyarat dari Ryan membuat tukang es krim itu paham jika Ryan ingin membeli dua es krim.
Langsung, tukang es krim itu mengambil wadah es krimnya. "Rasa apa, tuan?" tanya tukang es krim itu.
"What?" tanya Ryan tak mengerti.
Tukang es krim kebingungan harus menjelaskan bagaimana agar pria itu paham. ia sendiri saja tak pernah belajar bahasa Inggris.
Beruntung lah, di saat genting seperti itu otak nya berjalan lancar. ya, di dalam otaknya terbesit sebuah ide cemerlang.
Tangan tukang es krim itu, menunjuk satu persatu gambar es krim yang bervariasi rasa. Ryan mengangguk paham. pikirnya, tukang es krim itu bertanya tentang rasa es krim yang ingin ia beli.
Astaghfirullah, seakan berbicara dengan orang bisu saja.
"Okay, okay I understand. add vanilla and strawberry flavors."
[Oke, oke saya paham. berikan rasa vanilla dan rasa strawberry.]
Tukang es krim itu mengerti. jangan salah paham, yang ia mengerti hanya kata vanila dan strawberry bukan semua kata yang Ryan ucapkan.
Tukang es krim mengangguk, seraya membuatkan ke dua pesanan seorang pria itu.
👁️
Seraya memberikan pesanannya, Ryan langsung memberikan uang di dalam sakunya. sembari menerima es krim itu.
"Thanks" ucapnya. di angguki cepat oleh tukang es krim. "Iya" jawabnya singkat. hanya sebuah kata itu yang ia paham. itupun ia sering dengar dari anak muda yang berlalu lalang di depannya.
"Honey, this is your favorite ice cream, vanilla flavor" seraya menyodorkan es krim itu kepada Kharisa.
[Sayang, ini es krim kesukaan dirimu rasa vanila.]
Kharisa menerimanya. ia merasa ada yang salah dengan ucapan Ryan. "Honey?" tegurnya. ya, sebuah ucapan Honey. apakah Ryan lupa jika hubungannya sudah berakhir.
Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"sorry, I meant Karisa. i let go. I also forgot that our relationship is over" ucapnya memperbaiki.
[maaf, maksud ku Kharisa. aku kelepasan. aku juga lupa jika hubungan kita sudah berakhir.]
Kharisa menggeleng cepat. "No problem." ucapnya tak mempermasalahkan, ia juga senang mendengar kata sayang dari Ryan. tetapi ia juga harus sadar bahwa hubungannya sudah berakhir.
"Yes, can we have the ice cream now? or maybe this ice cream melted because too much talk."
[ya, apa boleh kita makan sekarang es krimnya? atau bisa-bisa es krim ini mencair karena terlalu banyak bicara.]
Kharisa tertawa kecil mendengar candaa dari Ryan yang sedikit menggelitik. "Sure."
"let's find a comfortable seat" ucapnya, dengan mata berkeliling mencari keberadaan kursi kosong.
__ADS_1
[ayo kita cari tempat duduk yang nyaman.]
Kharisa mengangguk mengiyakan, saat ini dirinya sudah tak banyak lagi bicara tak seperti dirinya saat masih memiliki hubungan dengan Ryan.
Matanya tak lepas dari memandang Ryan. cintanya masih benar-benar terukir jelas di hatinya. tetapi, sebuah tembok pembatas yang terlalu tinggi mengharuskan dirinya belajar untuk mengikhlaskan cinta Ryan.
"That's it, we sit there okay" ujarnya, membuat Kharisa sedikit terkejut dari diamnya. sambil menunjuk sebuah kursi yang tak jauh dari keberadaannya.
[itu dia, kita duduk disana ya.]
Kharisa menoleh dengan tunjukkan tangan Ryan. ia melihat sebuah kursi kosong yang menganggur.
Cepat di angguki Kharisa. "Yes, let's go there."
[ya, ayo kita ke sana]
👁️
Setibanya di kursi kosong yang berada di sebuah taman, cukup indah di hiasi bunga-bunga bermekaran menambah kesan indah sebuah pemandangan.
Bukankah hal ini romantis. keduanya hampir bersamaan menduduki kursi itu. mata Kharisa benar-benar tak bisa lepas dari Ryan.
"very beautiful scenery, isn't it?" ujarnya.
[pemandangan yang sangat indah, bukan?]
Kharisa tersadar kembali dari diamnya, semenjak hubungannya berakhir Kharisa lebih banyak diam dan melamun.
"Right Kharissa?" sambil menoleh kepada Kharisa.
"Are you okay!" tanya Ryan langsung, yang merasa ada perubahan dengan Kharisa.
Di angguki cepat oleh Kharisa. "I'm okey." sambil tersenyum memaksa.
"Are you sure?" tanya Ryan tak yakin.
[Kau yakin?]
Di angguki kembali oleh Kharisa. "yes I am sure."
"Ryan, what's that on your nose?" ujarnya sambil menunjuk hidung Ryan. mata Ryan langsung melihat hidungnya sendiri. tidak tahu saja bahwa Kharisa memiliki rencana licik.
[Ryan ada apa di hidung mu itu]
Di saat Ryan lengah, tangannya langsung mencoreti muka Ryan yang putih bersih itu dengan es krim.
Ryan yang merasa di bodohi tak terima. "You cheat" umpat Ryan.
[Dasar curang]
Kharisa menjulurkan lidahnya, mengejek Ryan. tawa Kharisa benar-benar lepas saat melihat wajah Ryan cemong es krim.
__ADS_1
Ryan tampak pasrah, ia justru bahagia melihat Kharisa tertawa lepas.
Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya!.