Karena Allah

Karena Allah
Zahra pingsan.


__ADS_3

"Apa dia baik-baik saja, Dokter?" tanya An setengah khawatir. Dokter Jannah adalah Dokter kepercayaan keluarga An.


Dokter itu melakukan pemeriksaan fisik pada mata, Zahra. seraya bangkit dari duduknya, dan berhadapan langsung dengan pria itu.


"Dia baik-baik saja, tapi dia akan sedikit mengalami rasa sakit pada bagian tubuh tertentu. dan Pak An, wanita ini akan sedikit mengalami rasa sakit pada bagian pergelangan kakinya, mungkin karena dia tergelincir atau keseleo" jelasnya.


An sudah memberitahu prihal yang terjadi kepada, istrinya itu. sehingga dokter itu mengerti.


An mengangguk paham. "Baiklah, terimakasih Dokter Jannah"


"Iya sama-sama. mungkin sebentar lagi, dia akan bangun" ujarnya.


"Tapi, apa kau boleh jelaskan bagaimana dia bisa jatuh dikamar mandi?" tanyanya penasaran.


An mengedikan bahunya acuh. "Aku tidak tahu, aku hanya mendengar suara keras, dari kamar mandi" jawabnya.


Dokter jannah menatap Zahra, sekilas. lalu kembali menatap An. "Sebelumya saya maaf jika saya lancang Pak An. saya ingin bertanya, siapa wanita bercadar ini?" tanya dokter itu penasaran. pasalnya, Dokter itu tak mengetahui jika Zahra adalah istrinya.


An tampak kebingungan harus menjawab apa, ia sendiri tak ingin semua orang tahu dengan pernikahannya. ia hanya diam dengan wajah datar.


Dokter itu mengerti arti dari raut wajah pria itu. jika ia tak ingin menjawabnya, atau pun memberitahukannya. Dokter itu sadar, jika setiap orang pasti memiliki privatenya masing-masing.


"Tidak apa-apa. Pak An tak perlu menjawabnya. setiap orang memiliki privatenya masing-masing. saya minta maaf telah membicarakan hal diluar tugas saya" ujarnya, sembari berpamit pergi.


An hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Pria itu, juga ikut keluar. bukan untuk mengejar Dokter itu. melainkan ke dapur menemui Bi Laila, yang saat ini sedang duduk santai.


Pelayan itu yang menyadari kedatangan majikannya, segera bangkit. "Apakah Pak An, memerlukan bantuan saya" ujarnya spontan.


An mengangguk mengiyakan. "Iya bi"


"Bibi pergilah ke atas temani, Zahra" titahnya, lembut.


Bi laila mengerutkan keningnya, tak mengerti. "Nona Zahra? memangnya kenapa?"


Pria itu diam tak menjawab. ia memalingkan wajahnya sembarang arah. Bi Laila yang mengerti raut wajah itu segera berpamitan, naik keatas menemani Zahra.


👁️


Seorang pelayan memasuki sebuah kamar yang bernuansa putih. matanya menatap pada seorang wanita yang berbaring lemah diatas ranjang itu.


Segera ia mendekat, seraya duduk didekatnya. matanya menatap sedih. pikirannya terus bertanya ada apa?.


Tangannya mengusap lembut puncak kepala wanita itu. "Nona, ada apa denganmu?" ujarnya, dengan mata berembun.


"Nona, meskipun kita memiliki kedudukan yang berbeda. tapi, kau memperlakukan diriku layaknya seorang yang memiliki kedudukan sama dengan dirimu" ujarnya lagi.

__ADS_1


Tak disadari buliran air matanya menetes membasahi pipi pelayan itu. pun, tangan pelayan itu mengusap air matanya.


Suara deringan ponsel yang berasal dari atas nakas, membuat Bi Laila. mengalihkan pandangannya kepada ponsel itu.


Tertera jelas nama seorang yang menghubungi Zahra —Ibu Asma. "Nyonya Asma" gumamnya. "Ada perlu apa dia?"


Bi laila penasaran. hatinya berkecamuk, haruskah ia menjawab panggilan telepon itu, atau membiarkan saja. jika dibiarkan, ia khawatir ada sesuatu yang penting yang ingin Nyonya Asma katakan.


Pun, ia bertekad untuk menjawabnya. tangannya segera meraih handphone itu. namun, tangan seseorang lebih dulu mengambilnya.


"Biar aku saja yang menjawabnya" tutur An.


Bi Laila mengangguk mengiyakan permintaan majikannya itu. "Iya Pak An"


An sedikit menjauh dari Bi Laila, ia memutuskan menjawab telepon itu di balkon kamarnya. "Iya bu" ucapnya, setelah menjawab sambungan telepon itu.


"An. dimana Zahra? kenapa kau yang menjawabnya?" tanya Asma penasaran.


Lagi dan lagi, ia dibuat bingung dengan pertanyaan itu. ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm, Zahra_"


An bingung harus apa. haruskah ia berbohong, tapi mana mungkin ia bisa berbohong pada Ibunya. jika ia jujur, Ibunya pasti menyalahkan dirinya.


"Zahra kenapa An?" tanya Asma lagi, semakin dibuat penasaran.


"Aku tidak tahu dia kenapa, Bu? aku hanya mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras berasal dari kamar mandi. kulihat, Zahra pingsan" jawabnya, terang-terangan.


"Apa!" ujar Asma dengan suara sedikit meninggi. "Apa istrimu jatuh terpeleset" tanyanya menerka.


"Baiklah, Ibu sebentar lagi akan kerumahmu" tuturnya.


"Baiklah. aku akan menjemput, Ibu" ujarnya.


"Tidak perlu, kau jaga istrimu saja" tolaknya mentah-mentah.


"Jemput ibu? ada apa denganmu An, Kenapa kau bisa lalai menjaganya?" tanyanya geram.


"Aku juga manusia, Ibu"jawabnya singkat.


Asma berdecak sebal. "Ck, baiklah. Ibu tutup dulu" ujarnya.


Akhir kata Asma mematikan sambungan telepon itu. tampak jelas dimata An, menyiratkan kegelisahan.


Ya Allah, apa lagi ini. setelah perdebatan dengan Kharisa selesai. sekarang ia dihadapkan dengan ibunya.


👁️


Seorang wanita paruh baya melangkahkan kakinya lebar, dan tampak terburu-buru. dengan raut wajah yang gelisah.

__ADS_1


Tepat disebuah kamar ia menghentikan langkahnya, seraya memutar gagang pintu itu. lalu, ia mendorong pelan pintu itu.


Kedua orang yang saat ini berada didalam kamar itu, menatap pada wanita paruh baya itu.


Mata nyonya Asma menatap tubuh menantunya yang berbaring lemah. lalu mengalihkan pandangannya kepada putranya, yang saat ini berdiri disebelah ranjang, dengan ciri khasnya memasukkan tangannya kedalam saku, celananya.


Keduanya saling pandang satu sama lain. Asma melangkahkan kakinya mendekati putranya itu.


"Apa kau sudah menghubungi dokter, An?" tanya Asma khawatir.


An mengangguk mengiyakan pertanyaan Ibunya. "Sudah, Bu"


"Apa katanya?"


"Sebentar, lagi dia juga akan sadar" tuturnya.


Bi Laila segera bangkit, ia merasa segan didepan nyonya Asma. "Permisi, Nyonya" pamitnya.


"Eh, mau kemana, Bi? disini saja gak papa" titahnya.


Bi Laila menyatukan kedua tangannya didepan dada. "Maaf Nyonya, saya masih ada pekerjaan dibawah" tuturnya. ya, saat ini waktunya Bi Laila memasak.


"Baiklah" ucapnya. akhir kata dari Asma, Bi Laila langsung keluar dari kamar itu.


"An, apa kau sudah memberitahu prihal ini kepada, Umminya?" tanya Asma penasaran.


An menggeleng cepat. "Tidak"


"Tidak?" Asma mengerutkan keningnya keheranan. "Kau ini gimana sih? cepat hubungi Ibu mertuamu" titahnya, An patuh segera ia mengambil ponselnya didalam saku celananya. seraya menghubungi, Ummi.


Asma heran dengan putranya itu. bukannya mengabari orang tua istrinya malah membiarkan begitu saja.


"Assalamualaikum, Ummi" salamnya.


"Waalaikumsalam, ada apa Nak?" tanya Ummi diseberang telepon. yang saat ini duduk santai ditepi ranjangnya.


An menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf Ummi, aku mengganggu aktivitas Ummi" ujarnya tak enak hati.


Ummi menggeleng. "Tidak, Nak. memangnya ada apa?" tanyanya penasaran.


"E, Ummi" ia berhenti sejenak, menatap Ibunya. Asma mengisyaratkan melewati matanya untuk mengatakan secara terang-terangan. "Ummi, Zahra pingsan" ucapnya pasrah.


"Astaghfirullah, pingsan?" ujarnya terkejut, refleks berdiri. "Lalu bagaimana dia sekarang An?" tanyanya khawatir.


"Saat ini, Zahra masih belum sadar"


"Baiklah, aku akan kerumahmu" tuturnya.

__ADS_1


Akhir kata, ummi mematikan sambungan telepon diakhiri dengan salam.


Jazaakumullah khairan.❤️Like Ya!.


__ADS_2