
Sebuah deringan ponsel itu, mengharuskan seorang wanita paruh baya menghentikan aktivitasnya. yang saat ini ia sedang membersihkan ranjangnya.
Ia membersihkan ranjangnya, hendak ingin tidur. tetapi, deringan ponsel itu mengharuskannya menjeda aktivitasnya.
Tangannya segera mengambil ponsel itu, yang berada diatas nakas. Matanya menatap sebuah nama yang tertera jelas dilayar handphone nya—Zahra. sembari mengangkatnya.
"Assalamualaikum. ada apa, Zahra?"
"Waalaikumsalam, Ummi" jawabnya. "Ummi, kata suamiku, ummi tak perlu mencari pengacara. karena suamiku yang akan mencarinya" jelas Zahra.
Mendengar penuturan putrinya, ummi merasa lega. tetapi, bagaimanapun juga ia merasa tak enak hati, dengan menantunya. karena telah menyusahkannya.
"Tapi Zahra, apakah suamimu merasa tak keberatan dengan hal itu. Nak, Ummi tak ingin menyusahkan rumah tangga kalian" ujar Ummi, tak enak hati.
"Masya Allah, ini permintaan suamiku sendiri. bukan aku yang memintanya, Ummi" tutur Zahra, berusaha meyakinkan Umminya.
"Benarkah, ini permintaan suamimu Zahra?, bukan dirimu yang memintanya?" ujar, Ummi tak yakin.
"Iya ummi. aku mohon Ummi, terimalah tawaran suamiku" desak Zahra.
Ummi mengangguk. "Baiklah, Zahra. jika itu benar-benar permintaan suamimu" terima Ummi.
Setelahnya, sambungan telepon dimatikan dengan akhiran salam.
"Alhamdulillah" gumam ummi. "Terimakasih Ya Rabb."
Ummi sungguh-sungguh bersyukur. ia merasa saru persatu permasalahannya telah Allah, mudahkan dengan caranya.
👁️
"Ran, kau buatku aku jadwal untuk bertemu dengan Azmi" ujarnya, pada sekretaris nya. melewati sambungan telepon.
"Baiklah, Pak. saya akan persiapkan. kapan waktunya?" tanyanya, dibalik sambungan telepon.
"Nanti sore saja, ditempat biasanya" jelasnya.
"Baiklah, Pak"
Akhir kata, an langsung mematikan sambungan telepon itu.
Tak cukup lama, Zahra masuk kedalam kamar itu. sambil membawakan sarapan untuk suaminya, dengan sebuah nampan ditangannya.
Seraya meletakkannya diatas meja. An yang saat ini duduk di sofa segera bangkit dari duduknya. "Loh, Abang mau kemana? Abang tidak mau sarapan dahulu?" Tanyanya.
An melirik sekilas. ia mengacuhkan pertanyaan istrinya. ia berjalan kesebuah lemari yang berada dipojokan lemarinya.
Seraya membuka, dan mengambil dasinya. didepan cermin, ia langsung mengalungkan pada kerah bajunya.
Zahra dari tempat dirinya berdiri, hanya bisa diam. kali ini, suaminya sedang mengacuhkan dirinya lagi. Zahra pikir, hari itu An mulai membuka hati kepada dirinya.
Ternyata apa yang dipikirkannya salah. beberapa saat setelahnya, sebuah deringan ponsel membuat pikirannya buyar seketika, dari suara itu berasal dari ponsel an. yang ia tinggalkan diatas sofa begitu saja.
__ADS_1
Terlihat jelas tertera nama dilayar ponselnya itu— Kharisa. Zahra yang mengetahui hal itu mengernyitkan keningnya, penasaran.
"Kharisa" batinnya.
An langsung mengambil ponsel nya itu. sembari melihat nama orang yang menghubungi dirinya.
Ia tak menjawabnya melainkan menolaknya. setelah tahu orang yang menelponnya adalah wanita yang sudah menghina ibunya.
Meskipun An bersahabat dengannya. tetapi tetap saja, bagi An ibunya lebih utama daripada persahabatan.
"Kenapa ditolak?" tanya zahra tiba-tiba.
An memutar bola matanya malas. "Bukan urusanmu"
Zahra terdiam. mengapa suaminya kembali acuh kepada nya, padahal pada saat itu An cukup berbincang panjang dengannya?.
Pakaiannya sudah rapi, An hanya perlu berangkat ke kantornya. Ia melangkahkan kakinya keluar kamarnya.
"Abang" panggil Zahra. An menghentikan langkahnya, sembari menoleh sejenak. Wanita itu menghampiri suaminya, berdiri.
Tangannya mengambil tangan suaminya, sembari menciumi punggung tangannya. Melihat hal itu, An hanya pasrah. Lagipula, meskipun Zahra menciumi tangannya itu tidak membuat dirinya merugi, pikirnya.
"Assalamualaikum" salam Zahra, sembari menyunggingkan senyuman tipis di balik cadarnya.
"Waalaikumsalam" jawab An, pelan.
"Abang sebelum berangkat, apa aku boleh meminta sesuatu?."
"Waktu ku tidak banyak. Jadi, cepat katakan" titahnya.
Zahra mengangkat kepalanya, menatap suaminya dalam-dalam. Seraya menunjuk dahi-nya kepada suaminya.
Iya, Zahra mengisyaratkan sebuah kiss, di dahinya.
An terdiam, ia berpikir sejenak. Apa maksud istrinya menunjuk pada dahinya, apakah dia ingin di?.
Argh!, tidak mungkin.
An mengerutkan keningnya pura-pura tak paham. "Apa maksudmu, katakan dengan jelas"
Zahra menunduk malu. "Sebelum Abang berangkat, apa Abang boleh menciumi kening ku?" tanyanya tersipu malu.
Ya, dugaannya benar. tapi, mana mungkin An melakukannya sementara ia tak mencintai dirinya. ia tak ingin terlalu memberikan harapan kepada Zahra.
An melengos. Ia tersenyum memiring. "Permintaan macam apa itu? Apa kau sudah tidak waras?" Umpatnya.
Zahra menunduk kecewa. Apa yang salah?, Bukankah dirinya adalah istrinya. Dan, sudah semestinya ia memiliki hak sebagai seorang istri.
"Dasar konyol" umpatnya. Akhir kata An melanjutkan langkahnya yang tertunda beberapa saat.
Sementara, Zahra masih mematung di tempatnya berdiri.
__ADS_1
👁️
Zahra menghampiri bi Laila, yang tengah duduk santai sendirian di dapur. seraya menyapanya dengan ucapan salam. dan, bi Laila langsung menyahutnya dengan ucapan salam juga.
Seraya duduk berseberangan dengan bi Laila. semua pekerjaan bi Laila telah selesai, jadi pelayan itu bisa mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah.
"Bu, Laila sedang apa disini?" Tanyanya penasaran.
Bi Laila melempar senyum pada majikannya. "Bibi hanya beristirahat sejenak. Nona sendiri sedang apa disini?" tanya balik bi Laila keheranan.
"Melihat bu Laila sendirian, jadi aku ingin menemani bu Laila" jawabnya.
"oh, Maksut Nona, Nona sedang kesepian gitu" ujar bi Laila memperbaiki.
Zahra tertawa kecil. "Mungkin saja begitu"
Kedua orang itu diam beberapa detik. "Menurut bu Laila, suamiku itu seperti apa?" tanyanya, dengan maksud mencari tahu tentang suaminya.
Bi Laila berfikir tentang majikannya yang muda itu. "Menurut bi Laila, pak An itu selain tampan dia juga berwibawa. yang tidak nona tahu dari sifat asli pak An adalah, ketika dia menyayangi seseorang maka dia akan menjaganya, semampu dia" jelas bi Laila.
Zahra mendengarkan dengan seksama setiap penuturan bi Laila. "Seperti dia menjaga ibunya. meskipun dia selalu bersikap acuh. tapi, dia memiliki hati yang tak sejahat sikapnya"
Aku juga berfikir seperti yang bu laila pikirkan. batin Zahra.
"Menurut Nona, pak An itu seperti apa?" tanya bi Laila, membuat wanita itu sedikit tersadar dari diamnya.
"Iya Bu, Bu Laila bilang apa tadi?" tanya Zahra, yang tak mendengar jelas, penuturan pelayan itu.
"Nona pasti sedang memikirkan pak An, ya" ujarnya, bermaksud menggoda. sambil menyunggingkan senyuman kecil.
Zahra tersenyum dibalik cadarnya. mengapa Bi Laila bisa tau apa yang dia pikirkan?. "Betulkan, Nona?" ujar pelayan itu lagi.
Zahra menggaruk tengkuknya, dengan pipi yang merah merona. ia tersipu malu kepada Bi Laila. Zahra tak bisa Berkata-kata.
👁️
Ditempat dimana ia biasanya, meeting penting dengan beberapa klien, disebuah restoran mewah nan megah. ditempat itu hanya orang kelas atas yang mampu duduk di kursi itu.
Tapi, ia tidak meeting dengan klien melainkan dengan seorang pengacara muda, yang sangat ia percaya.
Muhammad Azmi Mubarok, Nama pengacara itu. ia terkenal dengan ketampanannya. keadilan adalah satu-satunya, tujuan dirinya menjadi seorang pengacara.
"Baiklah, saya akan mempelajari kasus ini" ujarnya. An baru saja selesai menjelaskan tentang kronologi kasus yang menjerat adik istrinya itu.
"Pak An, izinkan saya menemui adik iparmu. saya juga ingin tahu, kebenarannya langsung darinya" pintanya.
An mengangguk mengiyakan permintaannya itu. "Tentu saja"
"Besok, kita akan membesuknya" tuturnya.
Azmi mengangguk. "Baiklah"
__ADS_1
Jazakumullah khairan❤️.Like Dulu.